
Masih cukup siang, kelasku sudah berakhir. Judul skripsi belum terpikir olehku, yang ada di benakku saat ini adalah, mencari pakaian yang akan ku kenakan ke pesta besok.
***
“Guh, Bunga ada di rumah?”
Aku masuk ke rumah Teguh, walau yang mpunya rumah belum mempersilahkan untuk masuk. Melemparkan tas di atas sofa, lalu melipir ke dapur.
Teguh memang sudah biasa dengan itu semua, rumah peninggalan almarhuman Ibunya ini, memang kerap di jadikan basecamp oleh-anak-anak.
Itulah kenapa, Bimo lebih senang ikut tinggal di sini daripada pulang ke rumahnya.
“Unge lagi ke rumah temennya,” jawab teguh, sambil tetap focus pada gambar di laptop. “Tumben nyari Unge, emang ada apa? Biasanya nya juga, kalo ke sini, cuma nyariin si Bimo?” lanjutnya bertanya. [Atau mungkin meledek?]
“Ah, Bimo sekarang susah di temui!” sungutku.
Ku teguk segelas air putih yang baru saja aku ambil di dapur. Lalu membawa segelas lagi menuju ruang tamu, berdiri, sambil melihat Teguh yang masih asik dengan laptopnya.
“Tahu tuh orang, sok sibuk banget!” Teguh masih mengotak-atik gambar yang ia buat di laptop.
“Bilangin dong, sama adik kamu tuh, jangan ngejar dunia terus, akheratnya juga sekalian!” ujarku sambil melengos ke dapur, menyimpan gelas yang sudah tak berisi.
“Emang kalau dia insyaf, lu masih mau sama dia?” Teguh menoleh ke arahku sambil terkekeh. Tangannya kini berhenti mengotak-atik benda di hadapannya itu.
Ku raih tas yang tadi ku lempar di atas sofa, “jangankan udah Insyaf, masih berandal aja, dulu aku mau!” timpalku sambil berlalu.
Teguh hanya tertawa mendengar jawabanku. Dan entah apa yang ia katakan lagi setelah itu, aku melengos pulang.
***
Masih belum tenang rasanya.
Apa yang harus di kenakan besok!
[Gaya dia ke kantor saja seperti itu, apalagi besok, dia pasti akan memakai baju yang akan mencuri perhatian banyak orang!] gumamku dalam hati, memikirkan Amanda.
***
“Assalamualaikum, Bu, aku pulang!” teriakku saat sampai di rumah.
Terdengar jawaban dari belakang. entah apa yang sedang ibu lakukan, aku langsung saja masuk ke kamar.
Dengan lemas, ku bongkar isi lemari. Mencari pakaian yang mungkin pantas aku kenakan besok. Namun, aku baru sadar, kalau pakaian ku semuanya hanya seperti itu saja modelnya.
Kalau bukan kemeja, hoodie, ya … t-shirt. Bawahannya pun, kebanyakan baggy pants dan beberapa jeans yang warnanya itu-itu lagi.
Bahkan, aku tidak punya dress sama sekali, rok pun Cuma ada satu. Itupun jarang sekali aku pakai!
Perempuan macam apa aku ini, pakaian pun aku tak punya.
Tapi … aku kan bukan Vany, yang kalau belanja pakaian, bisa ngabisin gaji satu bulan dalam satu kali belanja!
“Aaaarrrggghhhh …!”
Ku benamkan wajahku, diantara lipatan tangan.
[Masa iya, aku harus pinjam! Kalau beli dulu, sama saja, aku tak tahu mode. Ku telpon Zhe, dan Suci, mereka tidak bisa menemaniku. Bunga pun, tak ada di rumah. Kalau aku minta tolong Vany, bisa-bisa aku habis di ledeknya!]
“Ada apa Rin, kenapa berteriak?” Ibu masuk secara tiba-tiba. “Astagfirulloh … kenapa berantakan sekali? Memang kamu sedang mencari apa sampai semua isi lemari kamu keluarkan seperti ini?”
Ibu kaget, melihat kamarku. Semua pakaian yang ada di lemari berserakan di mana-mana.
Ku ceritakan, permasalahan yang sedang aku alami.
Wanita yang telah melahirkan diriku dua puluh tiga tahun lalu itu, hanya melempar senyum. Kemudian berlalu.
“Coba ini!” di sodorkannya sebuah pakaian dengan hanger-hangernya sekalian. “Itu baju yang ibu kenakan saat bertunangan dengan ayah!” sambungnya berujar.
[Ah, mana mungkin! Baju ini, ukurannya kecil, sementara tubuh ibu kan terlihat gempal!] kuperhatikan tubuh ibu, lalu beralih pada pakaian yang sedang ku pegang.
“Ko kecil? Badan ibu kan, montok!” ku pertegas kalimat di bagian montok.
“Emangnya kamu pikir, ibu tidak pernah langsing? Dulu, sebelum menikah, ya badan ibu, seukuran kamu lah! Kalau sekarang kan, sudah turun mesin dua kali, jadi wajar kalau lebih berisi, apalagi ayah sangat memanjakan ibu dengan perhatian!” terang Ibu, sambil mesem-mesem. “Sana coba dulu, sekalian sama hills nya, nanti Ibu ambilkan ya!” lanjutnya.
Kembali ku patutkan diriku, yang telah berbalut setelan kebaya, yang baru saja ibu berikan.
Kebaya Brokat berwarna abu, dengan rok kain batik yang menyempit di bagian bawahnya.
Ku putar tubuhku, ke kanan dan ke kiri.
[Lumayan juga!]
***
Keesokan harinya …
“Rin, Airin …” terdengar teriakan seseorang, yang mirip sekali dengan suara Vany.
Tiba-tiba saja pintu kamar di buka dari luar.
“Lho, Van, ko kemari? Bukannya janjian di lokasi?” ujarku pada gadis yang memasuki kamarku tiba-tiba itu.
“Gak tahu tuh Hilmy, dari pagi udah ada di rumah! Baru juga aku bangun, dia udah gerecokin aja!” sungut Vany.
Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku.
“Mau ngapain ke rumah kamu pagi-pagi?” tanyaku sekenanya.
“Ya, mau ngapain lagi, ngajakin ke acara Mas Fajar lah! Gak ada sabar-sabarnya tuh orang!” jawabnya sambil memajukan bibir beberapa centi. “Emang kalian udah baikan ya?” dia melanjutkan kalimatnya. Bangkit dan memicingkan matanya ke arahku.
Aku tak begitu menggubris pertanyaannya. Dan melanjutkan bersiap. Memakai kerudung, yang sudah hampir seperempat jam lalu, belum juga selesai.
Ganti model ini lah, ganti warna itu lah. Ribet!
“Udah, dari pada ngedumel terus, mending kita berangkat yu …!” ucapku sambil meraih tas tangan yang berwarna senada dengan pakaian yang aku kenakan.
“Tunggu-tunggu! Pakaiannya sih udah ok. Kerudungnya juga udah rapi, tapi … “ matanya memindai diriku dari atas hingga kebawah. “Em … kayanya ada yang kurang deh!”
Vany mendorong diriku sehingga terduduk di atas tempat tidur. Dia seperti mencari sesuatu. Satu per satu benda di atas meja rias, di telitinya.
“Kamu gak punya alat make up ya!” ujarnya, lalu membuka isi tasnya. Beberapa alat make up yang ia bawa, dia keluarkan lalu mulai mengaplikasikannya ke wajahku. “Diam ya, jangan banyak gerak!” ujarnya melanjutkan.
Aku pasrah dengan apa yang di lakukan Vany. Dan hanya menuruti apa yang dia katakan.
“Nah, ini lebih baik!” ujarnya.
Tanpa memberikan kesempatan untuk bercermin, dia menarikku ke luar.
Dia seolah tak mendengar, dan terus menarikku hingga ruang tamu.
Terlihat Hilmy dan Alex tengah duduk manis menunggu kami berdua. Alex bangkit, Hilmy pun ikut bangkit dari tempat duduknya.
Hilmy menatap diriku lekat, dan memaku pandangannya beberapa saat.
“Ayo .. ayo … berangkat!” ujar Vany, membuat Hilmy melepaskan pandangannya.
Aku memakai hills yang ibu berikan semalam. Rasanya susah sekali untuk berjalan, padahal hills yang aku pakai hanya 5cm tingginya. Tak sampai setengah kali dari yang Vany kenakan. Lalu berangkat setelah kami berpamitan kepada kedua orang tuaku.
Kami menaiki mobil masing-masing. Vany dengan Alex, dan aku bersama Hilmy.
Kemudian, berangkat beruntun, menuju tempat acara.
“Kamu terlihat cantik hari ini Rin,” puji Hilmy padaku. Berkali-kali dia menoleh dan melempar senyum.
“Owh! Jadi, kemarin-kemarin aku ga cantik gitu ya?”
“Gak gitu juga, polos pun kamu tetap cantik ko. Cuma hari ini beda aja, mungkin karena kamu dandan kali ya?” terangnya.
Aku hanya membalas dengan senyum simpul.
[Dia tidak tahu saja, kalau aku tersiksa dengan ini semua!]
***
Dari kejauhan, terlihat sebuah gedung dengan sebuah janur kuning melengkung di pintu masuknya. “NITA & FAJAR Wedding”
Kami mengikuti mobil Alex dan memarkirkannya bersebelahan. Berbagai jenis kendaraan pribadi, berjejer rapi di pelataran parkir. Ku perhatikan satu per satu, namun belum nampak mobil hitam yang biasa Abimanyu kendarai.
[Sepertinya, dia memang belum datang!]
Kami masuk, bersama beberapa tamu undangan lain, yang mulai berdatangan.
“Kak, jalannya pelan saja ya, aku susah jalan nih, rok aku sempit banget bawahnya!” bisikku pada Hilmy, sambil menggambit tangannya.
Berkali-kali, aku hampir terjatuh. Namun, Hilmy menahanku.
[Aku heran dengan perempuan-perempuan yang suka memakai hills, ko bisa ya mereka berjalan dengan sepatu yang mengharuskan kita berjinjit ini. Baru sebentar saja aku memakainya, rasanya sudah pegal!]
Setelah mengisi daftar tamu, kami melihat Vany dan Alex menghampiri photo booth lalu meminta untuk mengambil gambar mereka.
Hilmy membantu memotret mereka berdua. Tak cukup dengan satu gaya, Vany malah nagih bergaya sampai beberapa kali.
Hilmy melirik ke arahku yang dari tadi memperhatikan setiap tamu undangan yang masuk.
“Rin, mau berfoto juga gak?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum simpul. Vany yang melihat kami, lalu menarik diriku dan Hilmy ke sebuah spot, untuk di ambil gambarnya.
“Senyum dong, ko kaku gitu sih!” ujar Vany.
Aku mencoba mengembangkan senyum di bibir. Tiba-tiba, Vany mendekat dan mengambil tangan Hilmy lalu di letakkannya di pundakku.
Sontak aku dan Hilmy saling tatap, malu.
“Ok, sudah!” ucap Alex.
“Lho, kok udah lagi sih. Belum juga di kasih aba-aba!” protesku.
Alex hanya tersenyum jahil, dia lalu memperlihatkan hasil jepretannya pada kami.
[Ya, ampun. Ko fotonya pas banget saat kami saling tatap. Ini kan gak sengaja!]
“Wah, kamu memang berbakat Lex. Hasil jepretannya bagus.” Puji Hilmy. “Nanti kirim ke aku ya!” lanjutnya.
“Siap!” jawab Alex singkat.
Aku tak begitu mempedulikan hasil foto yang baru saja di ambil. Namun, kini mataku tertuju pada seseorang di pintu masuk. Seseorang yang tengah berdiri di dekat meja penerimaan tamu.
Dia menatap lekat ke arahku.
Namun tak lama, seorang perempuan bertubuh lenjang dengan rambut panjang di kepang kesamping yang diberi hiasan rambut dengan aksen mutiara, menggambit tangannya. Dress putih di atas lutut yang ia kenakan, sangat pantas berpadu dengan sepatu hill berwarna silver yang berkilauan, senada dengan tas tangan yang ia pegang.
“Udah yuk masuk!” ajak Vany.
Kami memasuki ruangan bernuansa putih silver, dengan dekorasi yang sangat elegan, yang menambah kesan megah itu.
Tanganku tetap menggambit Hilmy dengan erat.
Bukan apa-apa, rok dan sepatu yang aku kenakan, sangat membatasi pergerakanku.
Aku butuh bantuan Hilmy, agar bisa tetap berjalan tanpa terjatuh.
***
Terlihat, sepasang mempelai yang berdiri di atas pelamina bak ratu dan raja sehari. Gaun yang di kenakan sang mempelai wanita, menjuntai indah dengan hiasan kepala yang cantik.
[Kapan ya, aku berdiri di sana? Tapi dengan siapa?]
Pikiranku melayang, membayangkan diri yang tengah berdiri di samping seorang pria di atas pelaminan.
***
Berbagai prosesi kami lewati, kini acara pelemparan buckey bunga oleh kedua mempelai.
Yang paling antusias, sepertinya Vany. Dia berdiri di barisan paling depan, bersama Alex yang ikut di sampingnya.
Hilmy menatap diriku. Sepertinya, dia juga ingin ikut serta.
“Kalo Kak Hilmy mau ikut, ikutan saja sana! Aku tunggu di sini saja!” ujarku.
[Tak mungkin juga aku ikut, orang jalan saja susah! Padahal, kepengen juga sih, ikutan. Tapi, ya sudahlah, aku cari aman saja!]
Hilmy tersenyum, dia bergegas mendekati Vany dan Alex.
Beberapa kali, MC mengerjai dengan menghitung lambat, namun terus mengulur waktu dengan celotehannya.
Aku yang berdiri di belakang, hanya ikut tertawa melihat mereka.
“Jadi itu yang bernama, Bimo …”
Tiba-tiba seseorang berbisik di telingaku.