My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Airin bertengkar dengan Abimanyu



Dicaci, dimaki. Aku sudah kebal dengan itu semua. Aku memaklumi dia yang seperti itu. Aku tahu kenapa dia bisa menjadi begitu.


“Maaf kalo gua udah sering bikin lu sakit. Tapi, lu tetap ada di samping gua. Bahkan di saat kondisi lu lagi kaya gini pun, lu masih aja merhatiin gua.” Dia mengusap halus pucuk kepalaku.


Genggaman tangannya makin erat kurasa.


Matanya nampak memerah, bukan karena sakit mata atau sehabis meminum minuman beralkohol. Tapi itu karena dia tidak dapat membendung air mata yang tumpah ruah, saat melihat kondisiku yang memburuk.


“Sampai kapan? Kapan lu akan berhenti?” Lagi dia bertanya.


“Berubahlah, tinggalkan semua kebiasaan burukmu. Kalau tidak untukku, setidaknya sayangilah diri kamu sendiri,” ucapku lemah.


Dia tidak menjawab, netranya menatap diriku lekat.


“O iya, tadi ada yang hubungin lu,” ujarnya kemudian. Menghindar dari menjawab pertanyaanku.


Ada yang menghubungi diriku, siapa? Jangan sampai, Abi menelponku tadi dan membuat Bimo berpikir yang enggak-enggak nantinya. Ya, ampun!


Tubuhku seketika panas dingin bukan karena sakit.


“Iya, tadi ada yang nelpon dari kantor. Baru gua ngomong beberapa kalimat, hape lu mati. Lowbat!” terangnya.


Jadi, dari tadi hapeku mati. Syukurlah. Nafasku sedikit lega.


“Em … terus?” selidikku penuh tanya.


“Ya gak terus! Tuh hape nya masih gua charge! Belum penuh,” ujarnya.


Aku lega. Kalau hape nya mati, berarti tidak ada yang bisa menghubungi diriku. Aman!


Kondisiku sudah lebih baik. Bimo mengantarku pulang menjelang sore.


Sudah lama semenjak dua tahun yang lalu.


Ini kali pertama setelah waktu itu, dia menginjakkan kaki di sini lagi. Di depan rumahku.


Keesokan harinya ….


Walau badan masih terasa lemas, namun kondisiku sudah jauh lebih baik. Kuda besi yang biasa mengantar bekerja, masih belum selesai juga di-service.


Kembali, ojol jadi alternative untuk mengantarku pergi ke kantor.


“Pagi Van … “ sapaku lemas, pada temanku yang terlihat sedang serius menatap layar computer.


“Airin … Syukurlah kamu masuk hari ini. Gimana, udah baikan?”


“Udah mendingan, makanya bisa masuk.” Jawabku dengan suara yang masih bindeng.


“Maaf ya, gara-gara belain mau dateng ke acara aku, kamu jadi harus hujan-hujanan sampe sakit,” ujarnya sambil membulatkan bibir kecilnya itu. Dia mencebik.


“Iya, sama. Aku juga minta maaf, karena gak bisa dateng kemarin,” timpalku.


“Gak apa-apa. Udah sarapan belum? Aku bawa risol nih.” Disodorkannya sebuah kotak berisi empat buah risol yang menul-menul.


Kami melahap keempatnya sambil lanjut berbincang, sampai Abimanyu melintas di hadapan kami.


Dia melirik ke arahku. Tak menanyakan sesuatu apapun. Bahkan kuingat, dari kemarin, saat hape dinyalakan. Tak ada satu notif pun yang berasal dari nomornya.


#*


Pekerjaan yang harusnya aku kerjakan kemarin, harus diselesaikan hari ini. Apalagi di beberapa toko sedang diadakan event, penjualan pun meningkat dari sebelumnya. Dan aku harus membuatkan laporan tentang itu. Bagaimana hasil penjualan di tiga hari petama di minggu ini, pun dengan inventory nya.


Huh! aku mendengus.


***


Menurut pengamatan kami, yang hanya sepintas saat menonton film kemarin, sepertinya event itu berhasil. Melihat pengunjung yang membludak di stan kami.


Laporan masih kukerjakan, dan baru rampung setengahnya. Sementara jam sudah menunjukan pukul sebelas, satu jam menjelang makan siang. Namun, Abimanyu belum sekalipun menanyakan atau memerintahkan diriku untuk menyiapkan laporan itu untuknya.


Aku melihat gurat khawatir yang teramat dalam, saat dia mengantarku pulang hari minggu kemarin. Tapi sudah dua hari ini, dia malah terlihat cuek padaku.


'Ah, kenapa jadi memikirkan dia?'


Sudahlah. Ini akan baik untukku. Aku tidak usah repot-repot menjauhinya. Dia sendiri yang menjauhiku. Pikirku seperti itu.


Saat membuka pintu, kita akan melihat sebuah kaca besar dengan washtofel di bagian dalam toilet utama. Dan di sana kita bisa melihat dua pintu kabin. Tidak dibedakan untuk laki-laki atau perempuan, karena toiletnya free gender. Pokoknya, toilet khusus penghuni lantai dua saja.


Aku masuk ke salah satu kabin, kebetulan dua-duanya kosong.


Setelah selesai, aku keluar dan menuju washtofel. Kucuci tanganku dengan sabun dengan air yang kubiarkan mengucur.


Suara pintu yang terbuka, membuat aku melirik ke kaca besar yang ada di hadapanku.


Deg!


Ternyata iti Abimanyu.


Kupercepat mencuci tanganku dan bergegas keluar.


Namun, sebelum aku berhasil meraih pintu toilet, tanganku ditarik hingga mendekat ketubuhnya.


Mata kami saling beradu tatap. Tajam matanya menatap ke arahku. Lekat dan dalam.


Tak bisa kugambarkan, apa yang ditampakan oleh netranya. Aku tak sanggup membalas tatapan itu. Aku menunduk seketika, menghindar.


“Ma—af, tanganku sakit!” ujarku setengah berbisik. Aku tidak mau membuat keributan di sana.


“Siapa pria itu?”


Deg!


Dia menanyakan hal, yang aku sendiri tidak mengerti. Pria mana yang dia maksud?


“Maksud Bapak?”


“Jangan panggil aku Bapak!” ujarnya.


“Maaf Pak, saya banyak pekerjaan!”


Kutepis tangannya yang mencengkeram tanganku erat. Mencoba menghindar.


Melihat dari perangainya, aku tak yakin dia dalam keadaan normal. Dengan ragu, kutatap netra itu, dia terlihat tidak sedang bercanda. Aku tidak menyangka, kalau dia akan seemosi ini.


Sebelum aku berhasil meloloskan diri, lagi dia menarik tanganku.


“Jawab dulu pertanyaanku!” tatapannya tepat menusuk mata.


“Saya tidak mengerti, apa yang Bapak maksud?”


Kali ini, aku tidak dapat mengelak dari tatapnya. Sorot matanya tajam. hampir saja menciutkan nyali.


“Kemarin, aku menelpon dengan menggunakan nomor kantor. Tapi, yang mengangkat waktu itu, seorang laki-laki. Siapa dia? Pastinya, bukan ayah kamu 'kan! Suaranya terdengar masih muda!”


Kalimatnya, ia ucapkan dengan penuh penegasan. Matanya tetap tak berpaling dari mataku.


Deg!


Apa yang kemarin Bimo katakan itu, Abimanyu yang menelpon dengan nomor kantor?


Jadi mereka sempat ngobrol?


Tidak! Kubalas tatapannya dia lekat.


“Sebelum aku sempet ngomong, telponnya terputus. Siapa dia?” Terus dia menanyakan hal yang sama. Aku menghela nafas. Syukurlah.


“Itu bukan urusan Bapak. Lepaskan saya!” Aku mencoba membebaskan tanganku dari cengkramannya, yang begitu erat.


“Jangan lupa, kalau kamu adalah pacarku saat ini!” Ujarnya


“Bukan! Itu kan Bapak yang bilang. Saya tidak merasa. Dan maaf, saya memang sudah punya kekasih. Namanya Bimo! Bukan Abimanyu!” Kutepis dan berlalu.


Aku tidak bisa lebih lama lagi menghadapi Abimanyu.


Jujur, aku takut melihat perangai dia hari ini.


Kubuka pintu toilet, mataku terbelalak, aku tertegun. Sejenak, mematung di depan pintu toilet yang terbuka. Kaget bukan kepalang. Vany berdiri di depan toilet saat aku membuka pintu. Netranya menatap nanar kepadaku.


Apa yang dia lakukan di sana? Jangan sampai dia mendengar percakapan kami tadi!