My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Abimanyu dan Amanda



Aku keluar dari ruangan Abimanyu. Membayangkan apa yang ia lakukan barusan, membuat diri geli sendiri. Namun, entah kenapa aku suka.


Hari ini, tanpa di sadari aku jadi suka tertawa sendiri. Mungkinkah … ? Ah, jangan!


Aku tidak boleh memikirkan hal itu.


Ku lihat beberapa petinggi perusahaan datang besama-sama.


Bos besar,bersama dua orang laki-laki paruh baya dan seorang perempuan yang ku taksir, usianya sekitar 27 atau 28 tahun.


Terlihat perempuan itu, bersama seorang laki-laki paruh baya tadi, memasuki ruangan Abimanyu. Dan lainnya mengikuti Pak Siswandi, yang tak lain adalah big bos kami, menuju ruangannya.


[Siapa mereka? Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya? Mungkin, itu klien, karena dari penampilan mereka, terlihat jelas kalau mereka orang berduit.]


Abimanyu, menelponku agar meminta Mbak Sum untuk membuatkan tamunya itu minuman.


[Kenapa harus lewat aku, kan bisa dia menelpon sendiri ke pantry!] hanya menggerutu dalam hati, tidak berani untuk mengatakannya. Bibirku di bulatkan.


Ku coba menelpon Mbak Sum, tapi tidak di angkat. Jam, menunjukan pukul 11: 45. [Pantas saja tidak di angkat, sepertinya Mbak Sum sedang sibuk menyiapkan makan siang.]


Ku hampiri dia ke pantry. Terlihat seorang wanita paruh baya, berbadan tambun sedang bergelut dengan masakannya.


“Mbak, tadi Pak Abi minta di buat kan minum untuk tamunya, dua orang.”


“Iya Mbak Rin, saya sibuk banget nih. Boleh minta tolong lagi gak? Bikinin ya?” pinta Mbak Sum masih dengan tangan yang bermain dengan penggorengan.


“Ya sudah, saya bikin apa Mbak?”


“Bikin teh saja, itu di sana,” telunjuk Mbak Sum mengarah pada beberapa toples di lemari.


Ada banyak jenis the, tersimpan apik, dalam beberapa toples yang berbeda. Dan semuanya sudah ada tulisannya. “THE HIJAU, ABIMANYU”, “THE TURKEY PAK SIS”, the merah, the melati, the hitam, dan ada juga beberapa jenis kopi. Semuanya berupa serbuk murni, tak ada yang instan.


Ku buatkan mereka minuman yang Mbak Sum katakan, lalu membawakannya ke ruangan Abimanyu.


Ku ketuk pintu, lalu masuk ke dalam, tanpa menunggu untuk di persilahkan.


Aroma parfum menyeruak di seantero ruangan, aroma parfum mahal tentunya, karena wanginya kuat namun lembut di cium inderaku.


Yang pasti, bukan ini wangi khas Abimanyu.


“Permisi … “


Pandanganku seketika tertuju pada dua orang di dalam ruangan. Abimanyu dan perempuan tadi.


Perempuan itu sedang asik melihat-lihat isi ruangan, sementara Abi, dia masih sibuk dengan laptopnya.


[Terus, pergi kemana tamu yang satunya lagi? Ah, mungkin beliau pergi ke ruangan Pak Sisi.]


“Owh, simpan saja di situ!” Abimanyu menunjuk meja tamu yang ada di ruangannya.


“Bi, sini deh. Ini lukisan yang kamu beli di Bali waktu itu kan?” Perempuan yang terlihat sedang asik melihat lukisan itu, memanggil Abimanyu dengan manja.


“Owh, itu. Iya, yang waktu di Bali,” Abimanyu beranjak mendekat kepada wanita itu.


Mereka terlihat tidak canggung. Sambil memperhatikan lukisan yang menempel di dinding. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, ku lihat mereka sedang membahas sebuah lukisan yang tidak jelas bentuknya. Mungkin wajah, atau mungkin sebuah benda, entahlah!


Yang pasti, kini mereka berdiri sangat dekat.


[Sebenarnya siapa perempuan ini? Jadi mereka pernah ke Bali bersama? Apa mereka …?]


Aku hanya berdiri mematung, memperhatikan mereka, tanpa disadari.


Dadaku panas, AC di ruangan ini sepertinya harus di perbaiki. Karena aku merasakan gerah di sekujur tubuhku, walaupun AC nya sudah menyala.


“Saya permisi kalau begitu!”


Abimanyu menoleh.


Aku tak sanggup melihat pemandangan itu lebih lama. Lagipula, untuk apa jadi penonton adegan mesra mereka. Gak ada kerjaan saja!


“Tunggu Rin, kamu bisa bawakan makan siang ke sini, sekalian. Ini sudah masuk jam makan siang kan? Aku ingin makan siang berdua dengan Manda, di ruangan ini,”


“Gak apa-apa kan, kita makan di sini saja? Kalau makan di luar, takut gak keburu, sebentar lagi kita kan mau meeting,” lanjutnya bertanya pada perempuan yang ia panggil Manda itu.


“Iya gak apa-apa, asal makannya berdua sama kamu, aku mau kok,” jawab Manda sok manja.


Sekarang aku jadi pelayan buat mereka, ok!


Aku keluar dengan kesal. Dadaku masih membara, melihat kedekatan mereka berdua.


Kembali ku temui Mbak Sum, dan menyampaikan permintaan dua sejoli itu.


“Mbak, tahu ga sih Manda itu siapa? Mbak kan udah lama kerja di sini, pasti tahu kan?” tanyaku pada Mbak Sum.


“Manda? Maksudnya Mbak Amanda ya? Yang tinggi, putih, rambutnya panjang, bibir nya seksi itu kan Mbak?”


Ya ampun, Mbak Sum ini, perkara bibir saja sampai di bahas. Tapi memang benar sih yang di katakan Mbak Sum. Kalau artis, bibirnya itu, mungkin mirip dengan bibirnya Angelina Jolly.


“Iya Mbak Sum, kayanya yang itu deh bener, siapa sih Mbak?”


“Ya sudah pasti, itu Mbak Amanda. Anaknya Pak Budiawan. Pemilik saham di sini! Temannya Pak Sis!” ujar Mbak Sum.


Hmm, pantas saja!


“Dia itu, temannya Pak Abi juga. Teman waktu SMA kalau gak salah. Cuma, Mbak Amanda kuliah ke luar negeri. Dan baru kembali beberapa waktu yang lalu. Setahu Mbak sih gitu,” lanjut Mbak Sum.


Jadi mereka seumuran? Tapi tidak heran, kalau Amanda terlihat lebih muda dari usianya, orang anak bos. Pasti perawatannya juga mahal!


Hufh …!


Ku tarik nafas dalam. Rasa sesak masih terasa di dada.


Haduh! Kenapa dengan diriku!


Ku bawa makanan di nampan dengan lemas.


Ingin rasanya ku lempar apa yang ku bawa ke wajah mereka, tapi atas dasar apa?


Memang apa salah mereka?


Kenapa aku yang jadi gusar!


Ku ketuk pintu, dan tak langsung ku buka. Aku jadi segan, takut mengganggu mereka. Aku tak tahu, kalau melihat Abi berdekatan dengan seorang wanita, akan seberat ini!


“Iya, masuk …!”


Terdengar suara dari dalam, mempersilahkan.


Aku masuk dengan hati yang bercampur aduk. dadaku berdebar, panas dingin hamper menyerang sekujur tubuh.


“Ini makanan nya Pak, saya … “ mataku tertuju pada dua makhluk berbeda jender itu.


Alangkah kagetnya aku, melihat pemandangan yang nampak di depan mata. Perempuan itu, terlihat merapikan rambutnya. Sementara Abimanyu, dia terlihat mengancingkan kemejanya.


Entah kenapa, aku jadi berfikir aneh-aneh.


[Apa yang baru saja mereka lakukan … ? Ah, mana mungkin mereka melakukan hal itu di sini.]


Aku mencoba berfikir positif.


“Maaf saya permisi!”


Aku keluar dengan terburu-buru. Setelah makanan di simpan di atas meja.


Nafasku tersenggal. Tubuhku serasa tak bertenaga, lemas rasanya, melihat apa yang baru saja tertangkap inderaku. Andaikan aku bercermin, mungkin wajahku seperti kehilangan darah, pucat.


Mataku tiba-tiba saja berembun, namun tak ku biarkan menggenang, apalagi menetes.


“Rin, sedang apa kamu di situ? Makan yu!” ajak Vany.


Dia mengkerutkan alisnya, namun enggan bertanya.


Entah kenapa, selera makan ku jadi lenyap seketika. Masih kepikiran, apa yang Abimanyu lakukan tadi.


Masa semudah itu dia mengacuhkan aku. Padahal, baru beberapa jam yang lau, sikap nya masih biasa saja kepadaku.


Bukannya aku kegeeran, tapi, perhatiannya selama ini, mungkin wajar bila ku artikan lebih.


Aku menuju ruang makan. Hari ini, Mbak Sum memasak ikan kembung, sayur asem, oseng cumi mercon, dan kerupuk udang.


Makanan yang sederhana, namun pasti nikmat melahapnya. Itu yang ada di benakku tadi pagi.


“Hey, ko cuma dimainin sih makanannya. Di makan dong, nanti pingsan lagi kaya waktu itu?”


“Iya, Vany cerewet! Ini juga aku makan ko,”


Ku masukan makanan yang tersaji di piring, sesuap demi sesuap. Rasanya, nyesek banget. Makananku nyangkut di tenggorokan, seperti hambar semua, aku benar-benar tak berselera.


“O iya Rin, untung ketemu di sini. Nanti ikut meeting ya, sama Pak Sis,” ujar pak Wawan.


Ku selesaikan makan siangku, walau sulit untuk bisa habis.


Kemudian melanjutkan dengan sholat dzuhur, sebelum akhirnya kembali ke meja untuk menyiapkan berkas-berkas untuk rapat.


Kami memasuki ruang rapat. Namun, kali ini, sangat berbeda, karena akan di hadiri oleh bos-bos perusahaan ini.


Kursi yang tersedia, satu per satu terisi oleh setiap peserta rapat.


Mereka duduk bersebrangan, dan saling melempar tatap.


Aku, yang duduk berjarak cukup jauh dari mereka, hanya bisa memperhatikan apa yang mereka lakukan.


Biasanya, Abi akan mencuri pandang ke arahku. Namun kini, pandangannya tak lepas dari Manda.


*****


Tiga orang yang di tunggu sudah datang. Pak Siswandi, Pak William, dan Pak Budiawan, menempati tempat duduk yang sudah di sediakan.


Rapat pun dimulai.


Aku tidak begitu menyimak apa yang di bahas di rapat kali ini. Pandanganku lebih terfokus, pada Abimanyu dan Amanda.


Amanda benar-benar telah menyita perhatian Abi. Aku seakan tidak pernah ada dalam kehidupannya.


Eh, kenapa aku jadi baper gini sih.


“Baiklah kalau begitu, kebetulan semua berkumpul, jadi saya akan memperkenalkan direksi baru yang akan mewakili perusahaan kita di pusat. Jadi, kalau kita ada urusan dengan pusat, beliau lah yang akan menghandel. Tidak perlu mengejar-ngejar orang pusat lagi, cukup hubungi beliau. Nanti beliau yang urus. Silahkan Amanda, perkenalkan diri kamu!”


Pak Sis, memperkenalkan Amanda kepada kami semua. Berarti benar, namanya adalah Amanda.


Dia memperkenalkan dirinya. Pembawaannya tenang, terlihat sekali intelektualitas tinggi yang ia miliki. Wajar saja, kalau Manda bisa mencuri perhatian Abi.


Rapat pun di lanjutkan, kini Amanda yang menguasai rapat. Dia banyak mengulas mengenai pekerkembangan perusahaan, mulai dari target, pencapaian, dan juga strategi yang akan di lakukan perusahaan ke depan.


Pembahasan yang dia sampaikan cukup padat, namun tetap dalam suasana santai.


Ku lihat, Abi terpesona dengan Manda. Matanya tak lepas dari pergerakan wanita itu.


Ya, kalaupun aku seorang laki-laki, tentu akan mengagumi dia seperti Abi.


Melihat pemandangan itu, aku merasa ada yang hilang.


Kenapa, kita merasa kehilangan, saat dia jauh. Padahal kemarin, aku sangat jutek terhadap Abi. Namun kini, bisa memandang nya dari jauh saja, aku sudah merasa beruntung.


Ah!


“OK, izinkan saya mempresentasikan hasil penjualan seminggu terakhir di showroom. Berdasarkan pantauan saya, event yang di buat, cukup berhasil. Selain meningkatkan penjualan, kita juga bisa mengurangi stok barang yang sudah lama di gudang. Untuk data lengkapnya, silahkan Airin, di bagikan.”


Abimanyu memintaku untuk membagikan hasil penjualan event di showroom selama seminggu terakhir.


Dia memang sudah memintaku sebelumnya untuk mengcopy sebanyak lima belas rangkap, ternyata untuk rapat kali ini.


Ku bagikan satu per satu pada peserta rapat. Termasuk Amanda tentunya.


Kini, posisiku ada di samping Amanda, dan mataku tertuju pada Abimanyu.


Entah kenapa, aku merasa ingin membandingkan diriku sendiri dengan Amanda yang jelas jauh di atasku. Aku semakin merapat kepada Amanda, dan berharap Abi akan memperhatikanku juga.


Tapi ternyara, tidak!


Aku kembali ke tempat dudukku. Namun, saat hendak melintas di belakang Abi, tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku.


Aku kaget, dan melihat si mpunya tangan itu.


Abimanyu melirik dengan ujung matanya, dan mengembangkan senyum di bibir tipi situ.


Ku tepis tangannya, yang menggenggam tanganku. Lalu bergesa menuju tempat dudukku.


Rapat berakhir, kami kembali ke meja masing-masing kecuali mereka. Abimanyu, Amanda, dan ketiga bos tadi.


*****


“Kamu yang benama Airin kan?”


Manda tiba-tiba berdiri di hadapanku. Selesai rapat, aku memang langsung kembali ke meja kerja, meneruskan pekerjaanku.


“Owh, Iya betul Bu, saya Airin,” jawabku agak kaget.


“Berhubung Abimanyu tidak punya sekertaris saat ini, dan kamu yang memegang data showroom, jadi besok kamu ikut ke pusat ya!”


“Baik Bu,” ku jawab singkat. Tak mungkin juga aku menolak.


Amanda berlalu, menuju ruangan Abimanyu.


Aku hanya terdiam, Vany menepuk pundakku. Dia menaik turunkan alisnya, mengisyaratkan sebuah tanya. Aku hanya melempar senyum, tak berkata apapun dan kembali meneruskan pekerjaan.


*****


Keesokan harinya …


Beberapa berkas yang mungkin akan di butuhkan, dirapikan menjadi satu dalam sebuah map. Beruntung, pekerjaanku sudah terselesaikan. Selebihnya, Vany bisa membantuku nanti.


Abimanyu datang di ikuti Amanda di belakangnya.


Ku lirik mereka, hanya dengan ujung mata.


Tak lama berselang, telponku berdering


“Iya, Airin disini …” sahutku.


“Kamu sudah siap? Kita berangkat sekarang!” ujar seseorang di seberang.


Itu suara Abimanyu.


Telpon di tutup. Tanpa jawaban dariku.


Mereka keluar dari ruangan, Abimanyu berjalan terlebih dahulu. Di susul oleh Amanda.


“Airin, yuk kita berangkat,” ajak Amanda.


Aku berdiri dan mengikutinya dari belakang, Amanda mempercepat langkahnya. Kini mereka berjalan berdampingan. Sementara aku, hanya mengekor.


Kami memasuki mobil Abimanyu, mobil Pajero hitam yang biasa ia gunakan.


Amanda membuka pintu depan, dan duduk di samping Abimanyu.


Hanya berdiri mematung, aku merasa kehilangan moment-moment itu. Tiba-tiba, dadaku terasa sesak, bukan karena asma.


“Rin, ayo masuk. Kenapa hanya berdiri saja!” ucap Amanda.


Aku berjalan menuju pintu belakang mobil, dan duduk di jok belakang.


Sepanjang jalan, ku lihat mereka mengobrol akrab sekali. Bahkan mungkin, mereka tidak mempedulikan keberadaanku.


Aku tak ubahnya seperti obat nyamuk untuk mereka, kambing conge, atau apalah itu namanya.


Nyesek!


Sampai di kantor pusat. Kami menunggu di lobby, tepatnya hanya aku yang menunggu. Abi dan Amanda pergi menemui beberapa orang di sana.


[Rin, ke ruangan Pak Tony!] Abi mengirimiku sebuah pesan.


Aku tahu ruangan Pak tony, karena pernah ke sini sebelumnya bersama Abi.


Sampai di depan ruangan Pak Tony, ku ketuk pintu, lalu masuk.


“Nah ini dia, mana berkas-berkas punya showroom?” Abi mengulurkan tangannya.


Ku serahkan map yang sudah ku siapkan. Dan berdiri di belakang mereka.


Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.


Apalah aku, yang hanya staff biasa, diantara para manager ini.


Bahkan untuk duduk pun, tak ada yang mempersilahkan.


“Ya sudah, kita keruang meeting sekarang ya. Ibu, sudah meminta kita untuk berkumpul di sana.” Ujar Pak Tony setelah menerima pesan singkat di gawainya.


Mereka bergegas menuju tempat yang di katakan Pak Tony, sementara aku?


“Rin, kamu tunggu dulu ya!” ucap Amanda sebelum berlalu.


‘Tunggu? Aku harus menunggu di mana?’gumanku dalam hati.


Aku keluar dari ruangan itu, dan berjalan perlahan, mencari tempat duduk.


Ingin rasanya aku menangis. Untuk apa ikut ke mari, kalau hanya untuk membawakan sebuah map.


Terlihat sebuah sofa, tak jauh dari pintu masuk tadi. Ku duduk di sana, dekat lemari kaca, yang penuh dengan pajangan di dalamnya. Ada beberapa foto pemilik perusahaan, sample-sample produk, dan juga beberapa beberapa piagam penghargaan.


Tak ada yang menawariku minum seperti waktu pertama kali kemari bersama Abi. Sedih sekali jadi diriku.


Ku putuskan untuk memainkan gawai saja, untuk membunuh bosan.


“Ini …” seseorang menyodorkan sebotol air mineral dan sebuah cokelat.


Ku lirik ke arah orang itu, ternyata Abimanyu.


Gurat kesal nampak di wajahku.


“Aku lupa, ada ini di kantong. Gak mungkin juga kan, aku ngemil ini di dalam. Nih, kamu makan saja!” lagi dia menyodorkan apa yang ada di tangannya.


Tak langsung ku ambil, namun dia meraih tanganku dan menyerahkan paksa apa yang di pegangnya, lalu kembali ke ruangan bertuliskan “MEETING ROOM” itu.