
Perawakan tinggi besar dengan otot yang terlihat di antara kaos ketat yang mereka kenakan, tak menciutkan diri untuk menolong Bimo.
“Owh, kamu pacarnya ya?” teriak salah satu dari mereka.
Mereka menghampiriku. Aku mundur, entah apa yang akan mereka perbuat padaku.
Keringat mulai berjatuhan. Berharap ada seseorang yang melintas dan menolong kami.
Aku mencoba berteriak meminta tolong, namun mereka membekap mulutku dengan tangan mereka yang bau. Dan memegangi diriku yang meronta-ronta.
“Diam kau nona manis, jangan coba-coba untuk berteriak. Atau kamu akan tahu akibatnya,” ujarnya mengancam diriku.
Aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ada yang menolong saat ini.
Air di pelupuk mata mulai menetes.
“Jangan sakiti dia kawan. Gadis manis seperti ini harusnya kita belai,” ujar salah satu preman seraya mengusap wajahku.
'Tolong, siapa saja. Bantulah aku tuhan.' Terus hati berujar, memohon doa.
Air mata terus saja mengalir, melewati pipi, dan terjun bebas ke tanah. aku takut sekali.
Mata ****** mereka terus saja memindai tubuhku dari atas hingga ke bawah. Aku yang memakai baju longgar berhijab saja mereka perlakukan seperti ini, apalagi wanita-wanita di luar sana yang hanya memakai rok mini.
Mata terpejam, doa terus kupanjatkan. Tak ada pertolongan yang lebih nyata selain dari pertolongan Alloh SWT. Maka tak ada sesiapa lagi yang bisa aku mintai pertolongan.
“Hey, lepaskan gadis itu!” teriak seseorang pada kedua preman.
Kubuka mata, Hilmy berdiri di hadapanku. Entah dari mana dia datang, namun aku sangat bersyukur dia datang menolongku.
Terima kasih tuhan.
“Owh, ada yang mau jadi pahlawan kesiangan ternyata,” ucap preman itu.
Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik pakaiannya.
“Awas Kak, mereka bawa pisau!” teriakku pada Hilmy.
Terlihat Hilmy berkelahi dengan kedua preman tadi. Aku takut Hilmy kenapa-kenapa. Preman itu terlihat kuat.
Saat sedang bertarung, dompet Hilmy terhatuh.
Diambilnya oleh salah satu preman itu.
“Wah, uangnya banyak juga. Kenapa gak bilang dari tadi kalau kamu punya uang sebanyak ini. Sudah kita tinggalkan mereka." Kedua preman itu pergi sambil melempar dompet kosong yang telah mereka ambil uangnya. Dan meninggalkan kami.
“Kak Hilmy gak apa-apa?” tanyaku mencoba memastikan.
“Udah gak apa-apa, aku antar kamu pulang.”
Kami beranjak menuju mobil Hilmy yang diparkir sembarangan di seberang jalan.
“Kenapa kamu bisa berada di tempat ini, selarut ini pula?” tanya Hilmy.
Sebelum menjelaskan kenapa aku bisa ada di sini, tiba-tiba pandanganku teralih pada kemeja biru langit yang ia kenakan. Kemejanya terkoyak, dan darah segar merembes ke celah kain yang yang sudah tidak utuh itu.
“Kakak terluka? Perut Kakak berdarah. Kita kerumah sakit saja, biar aku yang membawa mobilnya,” ujarku.
Kubawa Hilmy ke rumah sakit terdekat dari sana, dan mencoba memberitahukan kejadian ini pada Vany. Akau tidak tahu harus mengabari siapa, Vany adalah sepupunya.
Sampai di rumah sakit, Hilmy langsung di tangani tenaga medis. Dia di bawa ke ruang IGD.
Vany datang kerumah sakit sekitar satu jam kemudian. Dia terus mencecar diriku dengan beribu pertanyaan.
“Kok bisa sih kalian bertemu preman di jalanan, emang kalian habis dari mana?” tanya Vany saat sampai di rumah sakit, sambil langkahnya terus diayun menuju ruang IGD.
Setelah operasi kecil yang di jalani Hilmy selesai, dia dipindahkan ke ruang inap rumah sakit tersebut.
“Udah ya, aku jelasinnya nanti. Aku masih lemes nih,”
“Ya udah, sebentar lagi om sama tante nyampe sini. Mereka lagi di perjalanan, terus apa yang harus aku katakan pada mereka nanti?” ujar Vany.
Aku terdiam, lalu Hilmy yang mulai sadarkan diri mengatakan sesuatu.
“Bilang saja kami kena begal,” ucapnya.
“Ok, gampang kalau itu. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa kalian bisa jalan bareng? Setahuku kamu lagi tugas luar kantor 'kan, sama Pak Abi? Kok sekarang bisa kena begal sama Hilmy? Emm, pasti ada yang kalian sembunyikan ya dari aku?” Dia melirik ke arahku dan menaik turunkan alisnya.
Vany lantas keluar ruangan saat gawainya berbunyi.
“Bentar ya, aku angkat telpon dulu,” ucapnya sambil berlalu keluar ruangan.
“Maafkan aku ya Kak, gara-gara aku Kakak jadi masuk rumah sakit,” ucapku penuh sesal.
“Gak apa-apa, justru aku bersyukur bisa nolongin kamu. Karena kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku gak akan pernah memaafkan diriku sendiri,” ujarnya mengisyaratkan sesuatu.
Hanya bisa terdiam dan tak bisa menanggapi apa yang Hilmy katakan. Pikiranku masih tertuju pada Bimo.
“Iya gak apa-apa tante. Aku sudah ada di ruangannya, tante gak usah khawatir. Ada Airin juga di sini.” Terdengar obrolan Vany sebelum ia mengakhiri telponnya.
“Om sama tante udah di bawah, menuju kemari,” terangnya.
Kami lanjut mengobrol. Sesaat sebelum orang tua Hilmy datang, aku pamit untuk menelpon seseorang.
“Aku permisi ya, mau nelpon dulu." Aku keluar dan mencoba menelpon Teguh.
Teguh adalah salah satu teman terbaik yang dimiliki Bimo. Usianya hanya terpaut satu tahun, namun Teguh bisa ngemong Bimo seperti kakaknya sendiri.
Selain mereka berteman karena satu almamater, Bimo dan Teguh juga bertetangga. Rumah nenek Bimo dekat dengan rumah Teguh, di daerah Pasteur. Bandung.
“Halo Guh, ini Airin. Kamu lagi di mana?”
“Airin? Airin pacarnya si Bimo bukan?”
Aku sedikit tersentak mendengar ucapan Teguh. Aku dan Bimo sudah putus dua tahun yang lalu.
“Kamu lagi di mana? Aku mau minta tolong, ini soal Bimo." Aku mencoba meminta tolong pada Teguh. Karena hanya dia yang bisa aku andalkan di saat seperti ini. Beruntung nomornya masih yang dulu, jadi aku bisa menghubunginya.
“Bimo kenapa?” tanyanya.
“Tadi dia dipukuli sama preman di deket rumah kamu. Tak jauh dari bengkelnya Peno. Tadi dia dipukuli sampai pingsan dan tergeletak di pinggir jalan sebelum BTC. Pokoknya gak jauh dari bengkelnya Peno deh. Tolong liatin keadaan dia ya, aku khawatir banget,” jelasku.
“Ok, ok. Gua ngerti. Sekarang juga cek ke lokasi deh, nanti gua kabarin."
Kami mengakhiri perbincangan. Sedikit lega setelah melepon Teguh.
Aku kembali ke ruangan tempat Hilmy di rawat. Orang tua Hilmy sudah ada di sana.
“Malam Om. Tante,” sapaku pada kedua orang tua Hilmy.
“Apa kabar Rin, udah lama ya kita gak ketemu,” ucap mamanya HIlmy.
“Ya gimana gak bikin Hilmy merelakan perutnya, orang Airin ko yang … Aduduh. Kok papa di cubit sih,” ujar papanya. Dia meringis, karena Hilmy mencubitnya sebelum berhasil menyelesaikan kalimat.
“Udah deh Pa, Ma. Kasihan tuh Airin cape dari tadi, ngurusin aku ke sana ke mari. Biarin dia pulang dulu, biar dia bisa istirahat,” ucap Hilmy pada kedua orang tuanya.
“O iya, kamu istirahat saja. Kasihan lho nanti orang tua kamu nyariin."
“Cie… perhatian sekali ya pasien kita ini,” celetuk papanya, hampir kena cubit untuk kedua kalinya.
“Ya udah Rin, pulang bareng aku aja,” sahut Vany. “Aku sama Airin pulang dulu ya Om, Tante,” ucap Vany sambil berpamitan pada Hilmy dan kedua orang tuanya.
“Pamit dulu Om, Tante. Moga Kak Hilmy cepet sembuh,” ucapku.
Aku dan Vany pulang bersama. Kami pulang menggunakan mobil Hilmy.
“Motor kamu kemana Rin? Bukannya tadi kamu ke kantor pakek motor?” tanya Vany.
“Motor aku masih ada di kantor Van. Sekarang anterin aku ambil motor dulu ya,” pintaku.
“Ya udah aku anterin.”
Vany mengantarku sampai kantor. kami berpisah di sana. Dia langsung pulang setelahnya.
“Mbak Airin, ko malam-malam kemari, ada apa?” tanya pak Atmo, security yang kebetulan jaga malam ini.
“Iya Pak, mau ambil motor. Tadi abis kunjungan ke luar sama Pak Abi,” jelasku.
“Lho, Pak Abi sudah kembali dari tadi. Beliau malah masih dikantor, belum pulang,” terang Pak Atmo yang membuat aku cukup terheran.
“Pak Abi masih di kantor, selarut ini?” tanyaku heran.
“Betul Mbak, tuh mobilnya masih terparkir." Kulihat mobil hitamnya memang masih ada di tempatnya.
‘Aku ambil motor terus langsung pulang, atau nyamperin Pak Abi dulu ya?’ gumamku dalam hati.
‘Kalo aku pulang tanpa pamit, nanti dia tetap denger suara motornya. Tapi kalaupun dia denger suara motornya, bisa jadi dia hanya akan mengira itu karyawan lain. Ok, mending langsung pulang saja. Aku gak mau berurusan dengan orang itu lagi. Sudah cukup hari ini aku dibikin kewalahan, apa lagi dengan kejadian Bimo dan Hilmy tadi. Aku pengen membersihkan badan lalu merebahkan tubuhku.
Aku cape!’
Sampai di rumah, aku langsung mandi dan merebahkan tubuhku di kasur. Nyaman sekali. Tak terasa mataku terpejam dan terlelap.