
Selepas acara, aku kembali ke kamar. Membersihkan badan, lalu merebahkan tubuhku di atas kasur hotel yang empuk.
Dengan posisi terlentang, dan kedua tangan yang di rentangkan, memenuhi seluruh tempat tidur single ku.
Saking lelahnya, tak terasa mataku terpejam, dan terlelap.
Drrrttt …drrtttt … drrrttt … drrrttt …
Handphone ku bergetar, bergesekan dengan nakas yang menghasilkan bunti yang khas.
Dan itu cukup membuatku terbangun dari tidur.
Tanganku meraba-raba gawai yang terus bergetar di atas nakas, namun mataku tetap terpejam.
[Ya Halo, assalamualaikum … ] ku sapa orang di seberang.
[Rin, cepet turun! Kita sudah siap untuk makan malam! Kamu lupa ya? Kan mau makan malam sama Siskan dan keluarga!] cecar seorang perempuan yang suaranya mirip dengan Ibu itu. Ku buka mata, dan melihat nama di layar.
Yup, itu memang Ibu.
[Owh, iya Bu maaf, aku ketiduran. Aku turun sekarang ya!]
[Kalau habis tidur, jangan lupa cuci muka dulu, jangan langsung turun!]
[Iya!] jawabku singkat namun dengan nada kesal.
Ku tutup sepihak panggilan tersebut, melangkah menuju kamar mandi.
Ku tatap wajahku sendiri di cermin.
[Apa aku cantik?] gumamku dalam hati.
Sebuah bentuk bulan sabit, terukir di bibirku. Air yang mengalir, ku tadah dengan tangan, lalu membilaskannya ke wajah.
Segar rasanya!
Aku turun ke restoran, dan bergabung dengan keluargaku dan juga keluarga Mbak Siska, calon Kakak iparku.
Sepanjang makan malam, aku tak banyak bicara. Walau, sesekali, aku di goda oleh beberapa kerabat dari keluarga Mbak Siska, yang menanyakan perihal kapan aku menyusul.
Semuanya cukup ku jawab dengan senyum satu per satu.
Eh, mereka malah memuji diriku. Katanya, aku anak yang sopan, senyumku manis, dan bahkan, ada yang mau mengangkatku jadi mantu.
Terserahlah! Hubungan percintaanku saja membingungkan!
Selepas makan malam, mataku tertarik melihat ke sebelah kiri dari tempatku duduk.
Ada sebuah balkon, yang menampakan pemandangan yang sangat indah I luar sana.
Dari tempatku sekarang pun, terlihat keindahan yang hakiki.
Kakiku tergelitik untuk melangkah ke sana.
“Bu, aku ke sana dulu ya!” bisikku pada Ibu yang masih asik berbincang.
Ibu hanya mengangguk pelan.
“Permisi … !” ucapku pada semua seraya bangkit dari tempat dudukku. Tak lupa, ku bubuhkan senyum manisku pada mereka.
Semakin kaki di ayun, semakin nampak keindahan malam kota Batu yang menurutku, hampir mirip lah dengan lembang di malam hari.
Sejauh mata memandang, lembah dan bukit yang tersamar warna hitam pekat malam, berhiaskan kelap kelip lampu yang di tabur merata di penglihatan.
Ku hirup udara, lalu ku hembuskan …
Ku hirup lagi, dan ku hembuskan …
Mataku terpejam sejenak, menikmati udara yang sejuk. Lalu ku buka setelahnya.
Pandanganku menyisir setiap titip yang nampak indah pada indera.
Sampai di sudut kanan balkon ini, mataku terpaku sejenak.
Entah sudah lama di situ, atau baru saja ada di situ. Yang pasti, netraku menangkap seseorang tengah berdiri di sudut kanan balkon.
Dengan tangan yang di lipat di dada, pandangannya menerawang jauh ke depan.
Entah dia sedang melihat apa, atau mungkin sedang memikirkan sesuatu? Yang pasti, dia tidak terusik dengan kehadiranku sedikitpun. Tetap berdiri tegak, dengan pandangan lurus ke depan.
[Abimanyu?] hatiku berbisik.
Sepertinya, dia juga menginap di hotel ini.
Nafasku berhembus kasar.
Ku turunkan pandangnku, melangkah menjauh.
***
Aku pamit pada semua, untuk naik ke kamar duluan.
Ini malam terakhir kami di Malang. Besok pagi, kami sudah harus kembali ke Bandung.
***
Tak ada waktu untuk membeli oleh-oleh, namun info dari Mama Mbak Siska yang juga akan mengantar kami ke bandara, beliau mengetahui sebuah pasar yang khusus menjual oleh-oleh khas Malang, yang juga akan kami lewati nanti. Jadi, kami akan mampir dulu sambil menunggu penerbangan.
Kami tak membuang waktu lagi, selepas sarapan, kami langsung minta di antar ke tempat yang di maksud.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ketempat oleh-oleh, hanya 30 menit dari hotel, kami sudah sampai ke tempat tujuan.
Ada jenang, kripik tempe, lapis Malang, dan tentunya kripik buah, serta banyak lagi makanan khas kota apel, yang di jajakan di tempat ini.
Sepertinya, aku ambil yang paling praktis saja untuk di bawa pulang. Aneka kripik buah. Camilan itu akan lebih di sukai oleh teman-teman kantorku.
“O iya Rin, hampir Ibu lupa. Ibu mau nanyain ini dari kemarin, Cuma perhatian Ibu teralihkan sama acara pertunangan, jadi lupa deh!” ucap Ibu saat kami sedang sibuk memilih oleh-oleh. “Siapa pria yang kemarin menarik tangan kamu di pesta?” lanjutnya.
Aku tertegun. Sempat terpikir di benakku, hal itu akan luput dari perhatian orang-orang karena kesibukan di acara kemarin, namun ternyata tidak! Ibu malah menanyakannya sekarang!
“Em … itu … em …” aku kehilangan kata-kata, ibu melihat herah ke arahku. “Owh yang kemarin … ! Itu … salah narik tangan Bu!” aku berkelit.
“Salah narik tangan gimana?” sepertinya Ibu tidak puas dengan jawabanku.
“Jadi, dia pikir, aku tuh temennya. Eh, pas dia sadar, ternyata malah tangan aku yang dia tarik. Ya sudah, dia minta maaf. Terus, aku kembali deh ke dalam!” terangku sambil menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal.
“Owh …!” Hanya itu respon yang ibu berikan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Bandara, setelah keranjang belanjaan kami terisi penuh dengan aneka camilan yang akan kami bagikan untuk tetangga, saudara dan teman kami.
Sampai Bandara, kami berpamitan pada Mbak Siska dan keluarga. Juga Kak Radit, yang tak ikut pulang bersama kami, karena pekerjaan dan tempat tinggal dia saat ini memang di sini, di Malang.
Aku, Ibu dan Ayah masuk untuk melanjutkan chek in, dan beberapa prosedur lain, sampai akhirnya pesawat kami lepas landas.
Sama seperti di saat kami datang, aku pun tertidur di sepanjang perjalanan pulang.
***
“Hai Van …” sapaku pada Vany saat sampai di kantor.
“Hai Rin, sudah pulang?” tanyanya ga penting.
Ku tatap gadis itu tajam, “Ya sudahlah, makanya ada di sini juga! Gimana sih!” aku bersungut-sungut. “Aku pulang kemarin, nyampe rumah sore!” sambungku.
“Iya … iya …! Gitu aja ngambek!” ujarnya sambil membulatkan bibir. “O iya, kemarin, Pak Abimanyu juga izin lho, sehari setelah kamu izin. Gak tahu deh hari ini masuk atau nggak!” lanjutnya.
[Ya, aku tahu. Karena dia juga pergi ke Malang kemarin!] batinku bergumam.
“O iya? Terus kemarin, kamu udah sampein izin aku sama dia kan?” selidikku.
“Udah lah! Malah, sebelum aku sampein izin kamu, dia yang nanyain duluan!” ujarnya.
“Nanya gimana?” aku penasaran.
“Jadi, pas liat meja kamu kosong, dia nanya ke aku. Katanya gini ‘Van, Airin ke mana?’ terus aku jawab, kamu ke Malang. Eh, dia nanya lagi, ‘mau ngapain ke Malang?’ terus, aku jawab lagi, mau lamaran!” jelas Vany, menceritakan kembali kejadian tempo hari.
“Terus gimana?”
“Nah,sebelum aku menjelaskan, kalau kamu menghadiri acara lamaran Kakak kamu, eh, Pak Abimanyu sudah melengos aja ke ruangannya!” terang Vany.
[Hm … pantas saja, dia salah faham!]
Aku terdiam, sedikit melamun.
Namun, saat menengok kearah Vany, terlihat gadis itu sedang menatapku tajam. Dia memicingkan matanya dan membulatkan bibir kecilnya.
“Kamu kenapa?” ujarku kaget melihat ekspresi yang ia perlihatkan.
“Kamu lupa, atau pura-pura lupa sih?”
“Maksudnya?”
“Biasanya, kalau orang abis dari luar kota itu, seenggaknya dia pasti bawa sesuatu kan?” kalimatnya penuh dengan penekanan.
Kini, alisnya ikut di mainkan.
“Owh, soal itu. Ada kok!” jawabku “Tapi aku titip di Mbak Krista, karena aku datangnya telat, jadi niatnya mau di bagiin nanti siang aja, biar gak gaduh!” sambungku kemudian.
“Sama punya aku juga? Masa punya aku di samain sih sama yang lain!” kini bibirnya tidak hanya membulat, tapi semakin maju beberapa senti.
“Ya nggak lah Vanessa sayang … punya kamu special, dalam kotak terpisah! Puas?” ujarku.
“Asik …! Aku ambil sekarang ya!” ujarnya sambil melengos.
[Ckck, dasar anak itu!]
Saat Vany baru saja berlalu menuju reseptionis, tiba-tiba pandanganku terarah pada seseorang yang melintas di hadapan.
Aku tak berani melihat langsung ke arahnya, hanya ujung mata yang ku biarkan merekam apa yang dia lakukan.
Dia berhenti, tepat di hadapanku.
“Rin, ke ruangan saya!”