My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Ke ultah Vany



Kami keluar. Ada kecanggungan yang terjadi.


“Emm, kita ma—u makan dimana?” tanyanya dengan suara agak terbata.


“Kayanya kita pulang aja deh, ini udah terlalu malam,” ujarku.


“Kalau gitu, aku punya hutang makan malam ya sama kamu.” Ucapnya kemudian.


Kami benar-benar menjadi canggung dan kaku. Seperti anak SMA yang baru pertama kali ngedate.


Aku cuma mengangguk. Dia mengantarkan aku pulang.


Di perjalanan kami hanya diam. Seribu bahasa.


Sampai di sebuah jalan yang cukup ramai terutama di malam hari …


“Eh, di ujung jalan situ ada kue cubit enak deh. Mau mampir dulu sebentar?” ajaknya padaku.


“Ga usah deh, pulang aja.”


“Ya udah di bungkus aja, buat nyemil. Kamu belum makan lho dari tadi,” desaknya.


Akhirnya kami mampir sebentar membeli kue cubit yang dia katakan. Cukup lama kami menunggu pesanan, karena antrean yang lumayan panjang. Sempat kesel sih, tapi akhirnya pesanan datang, kami pun melanjutkan perjalanan pulang.


setengah jam kemudian …


Kami sampai di depan gang rumahku.


“Ga usah mampir ya, udah malem. Langsung pulang aja,” ucapku ketus setengah mengusir.


“Boro-boro nawarin minum, nyuruh masuk aja nggak. Malah ngusir! Ya udah deh, aku balik,” dia pasrah, memutar motornya kemudian berlalu sambil melambaikan tangan.


Membuang nafas kasar. Membiarkan dia berlalu begitu saja.


Hal yang tak terduga yang sudah ku lakukan. Aku menikmati kebersamaan kami yang singkat. Ini tidak benar!


“Assalamualaikum,” ku ucap salam saat memasuki rumah.


Sudah pukul sebelas lewat. Ibu keluar dari kamar, dan menghampiriku.


“Ko pulang ga kedengeran suara motornya,” Tanya Ibu.


Astagfirulloh, motorku masih terparkir di kampus. Aku lupa.


“Owh itu Bu, tadi motor aku mogok. Jadi motornya di simpen di kampus. Besok deh aku ambil, sambil bawa ke bengkel, “ jelasku memberikan alasan pada Ibu.


“Ya udah besok biar Ayah aja yang ambil,” ucapnya.


“Gak usah, besok aku aja yang ambil. Sekalian mau ke acara ulang tahun Vany,”


Aku masuk ke kamar, ibupun kembali ke kamarnya.


Kejadian di bioskop, masih terbayang di mataku. Kenapa aku jadi memikirkan Abimanyu? Dia benar-benar membuat hati ini jadi kacau.


Ah, apa ini! Aku tidak boleh berpikir macam-macam!


Perutku keroncongan. Ku lihat kue cubit yang kami beli tadi. Aku memakannya sambil membuka laptop.


Ku sambungkan koneksi ke internet. Dan mulai berselancar di beberapa social media. Sudah hampir pukul dua belas malam dan aku belum mengantuk.


Gawaiku berbunyi. Abimanyu mengiriku sebuah pesan.


[Udah tidur belum? Aku baru nyampe,] bodo amat! Pikirku.


Aku bingung, antara membalas atau tidak. Tapi lebih baik tidak usah.


Ku matikan laptop, dan menuju ke pembaringan.


“Pagi Bu,” sapa ku pada ibu yang sudah sibuk di dapur pagi-pagi.


“Hari minggu itu waktunya istirahat, udah lah jangan terlalu rajin. Mending pergi jalan-jalan sama Ayah,” usulku pada Ibu.


“Ayah sama Ibu udah sering jalan-jalan berdua. Sekarang mending kamu mandi sana, bukannya mau ngambil motor?” ujar Ibu.


“O iya, aku lupa,” aku bergegas ke kamar mandi lalu bersiap.


“Rin, hape kamu bunyi tuh. Angkat dulu lah,” teriak ibu saat mendengar hape ku berbunyi.


Sebenarnya sengaja tak ku angkat dari tadi.


[Iya halo,] sapaku pada si penelepon


[Mi, kamu lupa ya. Motor kamu masih di kampus kan?] ujar Abimanyu.


[Ya udah, aku jemput ya?] pintanya.


[Ga usah, aku pesen ojol aja,] tolakku.


[ Aku udah di depan gang rumah kamu nih, cepet keluar.]


Ya ampun, ada apa dengan pria ini? Dia tidak henti-hentinya mengangguku. Apa sih maunya!


Aku keluar dengan wajah di tekuk. Menatap nanar dirinya.


Abimanyu tengah duduk di atas kuda besinya. Dia mengenakan sweeter biru dengan celana pendek selutut serta sandal jepit yang membalut kakinya. Terlihat santai sekali.


Aku menghampirinya. Duduk di jok belakang.


Tanpa basa-basi, kami langsung melesat menuju kampus.


Sepanjang jalan dia terus berceloteh. Tak sedikit pun ku hiraukan. Ku pasang headset dan mendengarkan lagu disana. Biarkan saja dia ngomong sendiri. Apa peduliku!


“Sarapan dulu ya, “ dia menghentikan motornya di depan sebuah warung bubur ayam.


Dia menengok ke arahku, aku pun menengok.


“Pantes aja dari tadi di ajak ngobrol ga nyaut.” Dia menarik headset yang terpasang di telingaku.


“Sarapan dulu, aku laper!” ujarnya setelah berhasil melepaskan headset dari telingaku.


Aku turun dari motor. Dan mengikutinya dari belakang.


Dia memesan dua bubur ayam.


Kebetulan memang aku tidak sempat sarapan pagi ini.


Tak ada obrolan saat kami menyantap bubur ayam di hari minggu yang mendung ini.


“Kamu suka emping?” Tanya-nya padaku saat melihat emping punyaku nyaris habis.


Di tuangkannya emping dari piringnya ke piringku.


Aku tetap tidak berkata apapun. Bahkan sampai kami selesai, aku tetap diam.


Ku perhatikan, sesekali dia melirik ke arahku tapi tak berani menegur. Kami meneruskan perjalanan.


Gerimis mulai terasa sesaat setelah kami meninggalkan warung bubur.


Cuacanya sangat tidak bersahabat. Mendung cenderung gelap. Awan hitam menyelimuti langit yang tak menampakan kebiruannya.


“Mendung ya,” ucapnya padaku yang lagi-lagi tak ku gubris.


[bukan mendung lagi, ini kan udah gerimis] gumamku dalam hati


“Tau gitu, tadi aku jemputnya pake mobil saja. Maaf ya Mi,” lagi-lagi dia memanggilku dengan panggilan alay itu.


Kami mulai memasuki pelataran kampus. Aku minta dia berhenti di depan, namun dia memaksa untuk ikut masuk.


“Udah turunin aku disini aja, Bapak pulang aja.” Kataku dengan nada yang lagi-lagi setengah mengusir.


“Eh, berapa kali sih aku harus bilang. Panggila aku ABI. A—B—I, A—bi! Kalau nggak, kamu kena denda. Dendanya kamu punya hutang sama aku,” ujarnya.


Apa-apa jadi hutang, enak bener dia membuat peraturan sendiri.


Dia pikir ini di kantor apa! Dia tidak bisa membuat peraturan sepihak seperti itu. Seenaknya saja!


Aku menatap tajam ke arahnya. Rasa kesal sudah membuncah di dadaku.


“Terserah Bapak deh!” ujar ku benar-benar malas.


“Pinalti, Aa—bbiii. Ingat A—bii! Susah bener sih di bilangin!” lagi dia berkata hal yang tak aku mengerti. Dasar aneh!


Aku berlalu masuk menuju parkiran kampus tempat motorku di parkir kemarin.


Sial!


Sepertinya aku kena karma dari Ibu, karena berbohong. Kini motorku tidak bisa di nyalakan. Dan benar-benar mogok.


Tak ada seorang pun yang bisa membantuku membawakan motor ke bengkel. Hanya ada laki-laki menyebalkan itu berdiri di sana. Dia perlihatkan gigi nya yang rapi, nyengir.


"Oh God!"


Aku menepuk jidatku sendiri.