
Spontan aku menoleh ke arah sumber suara.
Kini wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja. Hidung mancungnya, hampir saja bersenggolan dengan hidungku.
Kedua bola mata kami, saling mendekap, erat. Tak mampu menjauh walau hanya sekejap kerlingan mata.
“Jadi benar, itu yang namanya Bimo?” lagi dia menanyakan hal yang sama. Tatapannya masih tak bergeming, terpaku pada diriku. Mengikat pandangku hanya padanya, hanya dia.
Di matanya, kini, hanya ada diriku. Mematutkan diri, dalam bingkai bola mata indahnya.
Dadaku meronta, berunjuk meminta kepastian rasa. Bergemuruh, bersorak sorai menghakimi diri yang tak mampu berpaling.
[Tidak! Aku tidak akan sanggup. Bisakah aku menghindar? Tatapannya melumpuhkan nalarku!]
Suara musik dengan lantunan lagu yang indah, mengalun lembut menerobos di pendengaran kami. Menggeliatkan rasa, membuat senyap lara yang hinggap.
Sepasang tangan, merayap, melingkar di pinggang ramping, membelit manja tubuhku.
Didekapnya tubuh ini, membuat jarak semakin tak berbatas.
Seiring lantunan nada yang teruntai, tubuh kami, meliuk ke kiri dan kanan mengikuti alunan irama lagu yang menderu.
“I love Airin … “ bibirnya membisikan sebuah kalimat yang menerobos pendengaranku manja, menyeruak hingga membuat hati luluh lantah.
[Tidak! Tidak boleh!] nalarku berbisik, namun asa tak dapat berdusta.
Ke kanan, ke kiri. Langkah terayun beriringan, membentuk sebuah koreo yang harmonis.
Semua seakan menjadi semu, hanya kami berdua yang nyata. Hanya kami berdua.
Music berhenti, berganti riuhnya tepukan tangan dari para sesiapa yang hadir. Membangunkan kami, dari mimpi yang indah.
Deg!
Seketika, kami mematung. Melirik sekitar, dan terbangun dalam kenyataan.
[Apa? Apa yang terjadi? Apa yang kami lakukan?]
Seketika, aku memejamkan mata. Menurunkan pandangan, dan menghela nafas perlahan. Malu rasanya.
Sorak sorai, tepuk tangan, membangunkan kami dari fatamorgana asa yang menutup pandangan bak kacamata kuda.
Tangan kami saling terlepas dari genggaman. Tubuh kami, menjauh satu langkah kebelakang masing-masing.
Puluhan, bahkan ratusan tatap mata menguliti kami yang tak menyadarinya sedari tadi.
Ku tatap, di samping kami, bahkan nampak sepasang pemilik acara yang tak henti memberikan tepukan tangan dengan senyum yang merekah di keduanya.
Kini, suara seseorang yang sengaja di gaungkan lewat pengeras suara, membuat kami semakin kehilangan muka.
Sebelum pria berjas hitam dengan mic di tangannya, menghampiri kami, aku berusaha tersadar.
[Ini tidak benar!]
Ku tepis tangan, dari genggaman Abimanyu.
Membuka sepatu, menarik rok dan menaikan sedikit ke atas, lalu berlari sekencang yang aku bisa.
Aku meninggalkan pesta, dengan perasaan tak menentu.
***
“Rin, tunggu!”
Terdengar suara seseorang memanggil, ku lihat, dia mengejarku dari belakang. namun, tak menghentikan kakiku berayun.
Hingga sampai di pinggir jalan, sebuah mobil angkutan berhasil aku stop.
Orang-orang di dalam angkutan umum yang kira-kira ada lima orang itu, menatap ke arahku serempak. Pandangan mereka menguliti diri, dari atas sampai bawah.
Mungkin karena penampilanku yang terlalu mencolok, dan dengan bertelanjang kaki, sedangkan sepatu yang tadi ku kenakan, sekarang tertenteng di tangan.
***
“Assalamualakium … “ teriakku saat memasuki rumah.
Namun, tak ada satupun yang menjawab, mungkin penghuni rumah yang lain sedang pergi ke luar.
Aku langsung menuju kamar mandi, pakaian yang ku kenakan hari ini, sungguh sangat menyiksa diri.
Ku lempar hills yang tertenteng di tangan di ruang tengah dengan sembarang.
Ku biarkan tubuh yang sudah terpisah dari pakaian, mematung di bawah guyuran air yang menerjunkan diri dari saluran mandi. Butiran demi butiran bening membasuh tubuh, memberikan kesejukan yang hakiki. Merontokan kepenatan yang ku tahan dari tadi.
Terdengar suara orang membuka pintu, sebelum aku selesai dengan mandiku.
“Lho, ko sepatunya di geletakin kaya gini sih! Rin, Airin … sudah pulang nak?”
Terdengar samar suara ibu memanggil diriku.
[Ah, berarti ibu sudah pulang.] bisikku dalam hati.
“Lho, sudah pulang? Nak Hilmy nya kemana?” tanya ibu saat aku keluar dari kamar mandi.
aku tak menggubris pertanyaannya, dan melengos ke kamar.
***
Ku rebahkan tubuhku di atas pembaringan, membayangkan apa yang terjadi di acara pernikahan Mas Fajar tadi.
[Apa yang aku lakukan dengan Abimanyu? Ah, sangat memalukan! Sampai-sampai kedua mempelaipun memandang ke arah kami sambil memberikan tepuk tangan, ini gila!]
Sebuah bantal ku raih, lalu ku gunakan untuk menutup wajahku sendiri.
Harapku, aku akan terlelap dalam mimpi indah. Namun, itu tak terjadi. Setiap mata ditutup, maka bayangan kejadian tadi, muncul tiba-tiba.
“Aaaaarrggghhh … !” aku bangkit. Ku kenakan kerudung segi empatku, lalu meraih sebuah tas selempang kecil kesayangannku yang sudah ku isi dompet dan hape.
“Bu, aku pergi dulu ya …!” teriakku, kemudian berlalu keluar.
“Mau kemana Rin?” tanya ibu, sambil memalingkan wajahnya dari layar TV.
“Ke rumah teman sebentar!” jawabku sekenanya. Mengambil kunci motor dan helm, lalu pergi.
“Hati-nati …!” terdengar jawaban ibu, setengah berteriak saat melihat diriku sudah berada di luar.
Ku susuri jalanan siang itu.
Sebenarnya, di bilang siang, sudah lewat juga. Di bilang sore, belum masuk waktu sore, karena jam masih menunjukkan pukul 14:00.
[Zhe, ada di rumah gak? Aku main ya …] ku kirim sebuah pesan singkat pada sahabatku Zhe.
[Aku lagi di tempat sodara, Bang Chandra, kamu tahu kan rumahnya? Ke sini aja!]
Aku tahu rumah Bang Chandra, karena waktu SMA sering mengantar Zhe kesana, kalau di rumah Zhe sedang tidak ada orang.
Tapi malas ah, tidak akan leluasa nanti.
Ku coba menelpon Suci, “Ci, lagi di mana? Ada di rumah gak?”
[Ada, emangnya kenapa? Kamu main ke sini yuk, aku lagi nonton drakor ni! Uhh, sedih tahu ini tuh ya … blab la bla] Suci kembali mereview drakor yang sedang dia tonton tanpa jeda, merepet seperti petasan.
Aku menghentikan laju kendaraanku.
[Dua anak itu, selalu tak bisa di andalkan dalam situasi sulit seperti ini! Huft!]
Kembali ku pacu kendaraan roda dua kesayanganku di tengah kemacetan yang tak terelakkan lagi. Bising, panas, dan polusi di mana-mana.
Setelah cukup lama bergelut dengan polusi, akhirnya sampai juga.
“Assalamualaikum …” ucapku kala memasuki rumah bercat biru itu.
Terlihat yang mpunya rumah sedang asik dengan laptopnya, selalu seperti itu. “Waalaikum salam …”
“Hari minggu, di rumah aja nih!” tanyaku pada kakak beradik yang tengah sibuk dengan gawai mereka.
Tiba-tiba, Bimo keluar dari dapur dengan segelas air bening di tangannya.
“Buat aku ya! Aku haus..!” ujarku mengambil gelas di tangannya, lalu meneguk habis semua isi yang terkandung.
“Haus banget ya!” ujar Bimo sambil kembali ke dapur.
“Iya, abis tadi di jalan macet banget! Panas lagi! Tahu macetnya kayak gitu, males deh buat keluar!” gerutuku, sambil menjatuhkan diri di atas sofa. “O iya, tumben Bimo ada di rumah, biasanya juga so—si—buk!” sambungku.
“Bukannya kemarin lu bilang ke gua, supaya bilang ke Bimo agar dia gak ngejar dunia terus? Noh, dia ada di rumah noh!” sahut Teguh sambil terkekeh, meledek diriku.
Spontan, aku menoleh ke arahnya, sambil membulatkan mata.
Bimo, kembali dari dari dapur dengan gelas yang sudah terisi kembali. “Kenapa, lo nanya-nanya! Kangen ya sama gue!”
“Gak juga, biasa aja!” jawabku ketus.
“Eh Bim, noh si Airin bilang, kalo lu mau Insyaf, dia mau tuh balikan sama lu lagi!” timpal Teguh.
Kini tawanya pecah.
Unge yang tengah asik dengan gawainya pun, jadi ikutan tertawa.
“Ih, Teguh Adiguna! Aku baru tahu ya kalau kamu tuh lemes banget!”
Seketika, bantal kecil berbentuk kotak yang ada di atas sofa, melayang dan tepat mengenai wajah Teguh.
Kini, aku yang tertawa terbahak-bahak.
Ku lihat, Bimo tidak terlalu banyak bicara. Entahlah! Dia malah terlihat asik dengan pekerjaannya.
***
Sekitar pukul 18:30, lewat maghrib. Aku kembali ke rumah.
Dengan tergesa, ku parkirkan motor tepat di teras rumah.
[Aku belum sempat sholat maghrib, kalau tidak buru-buru, bisa telat nanti!] gumamku dalam hati.
Namun alangkah terkejutnya diriku, saat memasuki ruang tengah.
Terlihat, ibu sedang asik menonton serial TV kesukaannya dengan seorang pria.