
“Assalamualaikum …” ucapku lemah.
“Akhirnya yang di tunggu datang juga! Kemana saja sih? Anak gadis ko ngelayap aja!” ujar Kak Radit, kakak kandungku satu-satunya itu.
“Tumben kakak pulang? Ada angin apa?” tanyaku ketus.
Kakakku ini memang suka ikut campur terhadap kehidupan pribadiku. Apalagi menyangkut masalah pasangan.
Memang baik sih, tapi aku tidak suka.
Terakhir, aku pacaran sama Bimo saja, dia ikut campur, sampai kami putus.
“Mumpung besok libur, jadi main kesini. Udah lama juga kan gak pulang!” jawab kak Radit. “Emangnya lu gak kangen apa sama kakak lu yang ganteng ini?” sambungnya sambil memainkan alisnya.
[O iya, besok tanggal merah, aku bisa berleha-leha tanpa memikirkan laporan yang menumpuk di atas meja!]
Aku melengos ke kamar, tanpa mempedulikan Ibu dan Kak Radit yang sedang membuka oleh-oleh yang ia bawa dari Malang, kota tempat Kak Radit bekerja saat ini.
***
“Rin, ayo sini, kita makan malam bareng!” teriak Ibu.
Aku beranjak dari tempat tidur. Handphone, sudah ku matikan dari tadi. kalau-kalau ada yang mencari, aku tidak mau mempedulikan.
Terlihat Ibu, Ayah, dan Kak Radit sudah berada di meja makan, akupun ikut serta.
“Sudah lama ya, kita gak kumpul kayak gini?” Ayah membuka suara. “ Besok jadi ya, anterin Ayah ke pasar burung, anakan anis yang baru netes itu udah harus punya kandang sendiri kayaknya,” sambung Ayah kepada Kak Radit.
“Siap Yah, nyantai aja! Besok pasti di anter kok,”
Aku hanya terdiam mendengarkan apa yang mereka obrolkan. Sampai, ibu membuka suara.
“Kemarin, kok nak Hilmy langsung pulang Rin? Gak mampir dulu gitu?”
Pertanyaan Ibu, membuat aku tersedak air putih.
Dan itu menimbulkan tanya baru untuk Kak Radit.
“Hilmy siapa?”
“Itu, pacar barunya Airin!” timpal ibu. “Ingat gak, sepupunya Vany, nah Hilmy yang itu! Kemarin, mereka pergi kondangan bareng lho!” lanjut ibu menjelaskan.
[Ya ampun, ibu apa-apaan sih. Aku kan gak ada hubungan dengan Hilmy.]
“Baguslah, satahu gue kan si Hilmy itu anak baik-baik,” tukas Kak Radit.
“Kak Radit ini, kayak punya adik gimana aja! Yang penting baik kan? Gak usah muluk-muluk deh!” sungutku.
“Heh, kamu itu perempuan, adik perempuan gue satu-satunya. Jadi gak boleh sembarangan kalo pilih pasangan! Jangan yang kayak si Bimo lu pilih. Madesu tahu!” ujarnya.
“Bimo sekarang sudah berubah kok, dia bukan tukang sound lagi, tapi jadi bos rental sound!” timpalku.
[Lho, kok jadi bahas Bimo sih!]
“Sudah-sudah! Kalian makan lah dulu, baru ketemu sebentar, sudah berantem! Kayak kucing sama anjing saja! Makan … makan!” potong Ayah.
Aku langsung pergi ke kamar, setelah menghabiskan makan malamku.
Malas, kalau harus berdebat dengan Kak Radit lagi!
***
“Mau ke mana Rin?” tanya Ibu saat melihat aku membawa kunci motor dan mengenakan helm.
“Mau ke supermarket bentar Bu. Sabun mandi, odol dan beberapa perlengkapan lainnya habis. Aku mau belanja bentar!” jawabku menjelaskan.
“Owh, ya sudah. Jangan lama-lama! Nanti ayah sama Kak Radit pulang, nyariin lagi,”
Aku hanya menjawab pernyataan ibu dengan sebuah senyum siimpul.
[Aku kan sudah gede!] gumamku dalam hati.
“Ya udah, berangkat ya bu… assalamualaikum!”
Pagi itu aku berangkat menuju supermarket terdekat dari rumah.
Sampai di supermarket, langsung mengambil keranjang, lalu memasukan barang-barang yang aku perlukan.
“stttt…stttt,…”
Aku celingukan, seperti ada suara? Namun tidak begitu jelas. Aku kembali dengan kegiatanku berbelanja.
“Hey Rin … Airin …?”
Kini suaranya lebih jelas, walau setengah berbisik memanggil namaku.
Aku menoleh ke kiri, lalu ke kanan …
Dan saat pandanganku sampai di ujung rak ini, mataku seketika terbelalak.
“Astagfirulloh …! Pak Abi?”
Tepat di sebelah kakanku, Abimayu sedang berdiri di balik rak yang penuh dengan sabun dan perlengkapan mandi lainnya.
“Bapak sedang apa?” tanyaku dengan alis yang bertaut.
[Rumah dia kan, jauh dari sini. Mana mungkin kami secara tidak sengaja bertemu di sini?]
“Kamu pasti heran, kenapa aku bisa ada di sini? Secara, supermarket ini jauh dari tempat tinggal aku, ya kan?” ucapnya. “Bisa kita ngobrol dulu gak? Sambil ngopi-ngopi mungkin?” dia melanjutkan.
Sebenarnya, aku ingin menolak. Tapi… ya sudahlah. Aku penasaran juga, apa yang membawa dia sampai kemari, karena ini tidak mungkin hanya kebetulan semata.
“Boleh, tapi, gak bisa lama ya!” tegasku.
Setelah selesai dengan belanjaanku dan membayar di kasir, kami menuju foodcourt yang masih dalam supermarket tersebut.
“Jadi mau ngomongin apa?” tanyaku tanpa berbasa basi.
“Em … soal kemarin. Kenapa kamu langsung pulang? Kamu gak berantem kan sama Bimo pacar kamu?”
“Owh, kemarin. Nggak kok, nggak kenapa-napa!” jawabku santai.
[Emangnya kamu berharap banget ya, aku berantem sama Bimo? Lagian itu kan Hilmy, bukan Bimo!] gerutuku dalam hati.
“Owh, ya syukurlah kalo begitu,” suaranya terdengar melemah.
Aku tidak tahu, apa yang ada di pikirannya.
Yang pasti, kejadian kemarin itu, telah membuatku sulit untuk tidur semalam. Dan sumpah, aku tidak mau membahasnya. Karena itu, sangat memalukan.
Aku sendiri tidak tahu, kenapa semua itu bisa terjadi.
Lama kami saling diam sampai minuman yang kami pesan tersaji di atas meja.
Ku lihat, sesekali dia melirik ke arahku. Seperti ada hal yang ingin dia ungkapkan, namun tidak ia utarakan.
“O iya, jadi bagaimana bisa kita ketemu di sini? Tadi belum di jawab kan?” aku kembali bertanya.
Dia menyunggingkan sebuah senyum simpul, “aku ngikutin kamu! Dari kemarin! Pagi ini juga!”
Mataku membulat, mendengar apa yang ia katakan. Walau sebenarnya, hal itu tidak begitu membuat aku kaget. Dia kan orangnya aneh!
“Kemarin, aku mau masuk, cuma, takut kamu malah marah. Jadi balik lagi deh. Beruntung pagi ini, kamu keluar. Jadi aku bisa nemuin kamu,” sambungnya.
Ku tatap dia lekat, “apa yang kamu sukai dari aku?” ucapku setengah berbisik.
“Apa? Apa yang barusan kamu katakan?”
Pertanyaannya membuat aku gelagapan. Sepertinya dia tidak menagkap jelas perkataanku barusan. Baguslah!
“Owh, itu. Emm … kenapa Bapak memesan minuman itu, aku pernah beli, dan kurang suka aja sama rasanya!” jawabku mengalihkan, sambil menggaruk tengkuk ku sendiri. “Ya sudah, saya duluan ya Pak!”
Aku beranjak dari tempat duduk, namun aku urungkan saat melihat dua orang pria yang aku kenal memasuki swalayan.
Kembali ke tempat duduk, aku langsung mengambil buku menu yang ada di atas meja, untuk menutupi wajahku. Wajahku memucat, mungkin.
“Lho, kamu kenapa? Mau pesan lagi? Atau mau di bungkus?” tanya Abimanyu heran.
“Em… ini Pak, saya baru ingat, kalau waffle di sini tuh enak banget. Mungkin Bapak mau nyoba? Bapak belum sarapan kan?” aku berkelit. Dan menjawab sekenanya.
Ini sudah lewat dari jam sepuluh, waktu sarapan pun sudah lewat tentunya.
“Owh, boleh kalau kamu mau,”
Dia memanggil Mbak-mbaknya lalu memesan dua waffle yang ku maksud.
“Jangan Mbak, satu saja!” timpalku saat mendengar dia memesan dua porsi waffle.
“Lho, kenapa cuma satu?”
“Ya, kan kita bisa sharing Pak. Wafflenya cukup besar kok. Sayang, takutnya gak habis kalau pesannya satu-satu! Lagian, saya sudah sarapan tadi di rumah,” ucapku mencoba memberi penjelasan.
Senyum tersungging di bibir tipis itu, “ya sudah Mbak, wafflenya satu saja, tapi garpu sama pisaunya yang dua ya …” ucapnya menyelesaikan pesanannya.
Aku masih dengan buku menu yang menutupi wajah, saat ku lihat Kak Radit dan Ayah sudah masuk ke dalam dan tidak terlihat lagi, aku kembali bangkit dan bergegas untuk pulang.
“O iya, Pak, aku lupa! Tadi ibu minta di belikan bahan kue, dia pasti nungguin. Kalau gitu, aku pamit saja ya Pak!” aku langsung melengos tanpa menunggu jawaban dari Abimanyu. Dia terlihat heran.
Langsung ku nyalakan motor, saat sampai di parkiran. Namun, ceroboh sekali diriku, karena belanjaanku tertinggal di meja.
“Ah,sial! Masa harus balik lagi sih!”
Saat aku sedang menggerutu atas kecerobohanku, terlihat Abimanyu menghampiri dengan membawa kantong belanjaan di tangannya.
“Belanjaan kamu ketinggalan, nih!” ujarnya.
Aku mengambil tanpa bertanya lagi. Namun, lagi-lagi aku melihat Kak Radit dan Ayah, kini mereka keluar dan menuju parkiran.
[Owh Tuhan, kalau sampai mereka melihat aku bersama seorang pria, terutama Kak Radit, bisa habis di cecar dengan berbagai pertanyaan nanti]
“Aduh, gatel!” aku berpura-pura menggaruk kakiku, dan membenamkan wajahku di balik motor.
“Kamu gak apa-apa? Mau aku belikan salep gatal?” tawar Abimanyu.
Aku terus memperhatikan Kak Radit dan ayah dari celah-celah. Celingukan dari balik motorku, memperhatikan mereka. Tanpa mempedulikan apa yang Abimanyu katakan.
Kini ku lihat, mereka sudah keluar dari area parkir.
“Ah, syukurlah!” aku kembali pada posisiku semula.
“Kamu kenapa? Seperti sedang menghindari seseorang deh!” Abimanyu melihat ke kanan dan kirinya, dia sepertinya merasakan gelagat aneh pada diriku.
Aku hanya melempar senyum simpul. Tanpa menjawab pertanyaannya.
“Ya sudah Pak, aku pulang ya…”
Dia menatapku dalam. Sebelum aku berhasil menarik gas dan melaju, tiba-tiba, tangan Abimanyu menggenggam tanganku. Aku menoleh.
Tatapannya lekat, dan tajam ke arahku.
Kalau aku kegeeran, tatapannya itu bisa ku artikan sebagai pengganti ucapan “I love u”. karena, lekat dan dalam, nyaris membuat jantungku meronta.
“Ada apa Pak?”
Dia melempar senyum, “tidak apa-apa, hati-hati!”
Dua bola matanya berbinar. Dan kini, kami malah saling tatap satu sama lain.