
Aku memasuki rumah sakit. Menghampiri meja reseptionis, mencoba mencari tahu di ruangan mana Bimo di rawat.
“Maaf Mbak, boleh tahu gak. Pasien yang bernama Bimo, di rawat di ruangan mana ya?”
“Bimo? Boleh tahu nama lengkapnya, saya akan coba cari …”
“Nama lengkapnya … “
“Rin, sedang apa lu di sini?” tanya seseorang tiba-tiba.
Aku menghentikan kalimatku, orang yang di cari sudah ada di depan mata.
“Iguh! Kamu dari mana saja. Mana Bimo? Dia kenapa?”
“Bimo? Maksud lu dia kenapa? Dia gak apa-apa, ngasal aja! Dapat info darimana?” jawab Teguh.
“Lho, tadi Erwin sama Sena yang … ah sial!, jangan bilang kalau kalian ngerjain aku lagi Guh?”
Ku sipitkan mataku, mencoba mencari kebenaran.
Pria di hadapanku ini hanya menaik turunkan bahunya, berbarengan dengan alis yang melakukan hal yang sama.
“Ih! Kalian tuh jahat banget sih, gak habis-habisnya ya ngerjain aku! Terus, kalau Bimo tidak di sini, dia kemana? Dari tadi aku gak liat batang hidungnya pun. Sama kayak kamu tuh, ngilang!” cerocosku pada sahabat Bimo ini.
“Nah itu dia, tadi Bimo ada urusan mendadak. Dia balik duluan jadinya. Ntar gua suruh orang deh, buat nganterin lu balik!”
“Kamu sendiri, mau kemana? Kita balik lagi ke sana kan?”
“Gua juga ada urusan penting nih, gua saranin, lu langsung balik ke Bandung aja. Gak apa-apa kan?”
Dengan berat hati, aku mengikuti saran dari Teguh.
Tahu akan seperti ini, sudah saja aku ikut pulang barsama Abi tadi.
Hmm … dia sudah sampai mana ya?
Karena waktu sudah sangat larut, sekitar pukul dua dini hari. Akhirnya, teguh meminta salah satu temannya, yang pasti sudah ku kenal juga, untuk mengantarkan aku pulang ke Bandung.
“Sorry ya Rin, lu diantar sama Ilham ya. Tenang aja, dia ini bisa di andalkan ko. Udah kenal kan, gimana Ilham? Jadi gua tenang deh, kalo lu pulang dianterin dia!”
Aku hanya membalas dengan senyuman. Ilham itu bisa di bilang, ustad ya anak-anak motor, aman deh kalau sama dia.
Ilham menjemputku di rumah sakit, kami berangkat dari sana.
*****
“Kiriman … !”
Terdengar suara Mas-mas pengantar paket berteriak. Membuat tidur nyenyakku menjadi terganggu.
Mataku yang masih lengket, tak bisa di ajak kompromi. Kembali meneruskan tidurku yang baru beberapa jam yang lalu aku mulai.
“Rin, ada paket tuh!”
Ibu sama berisiknya dengan tukang paket tadi. Kepalaku jadi keleyengan.
Kalau sudah terbangun begini, pasti susah lagi untuk tidur. Walaupun kantuk menyerang dengan hebatnya.
“Paket apa sih Bu? Aku gak ada pesen apa-apa kok!” sahutku dengan nada malas.
“Gak tahu, makanya liat dulu sana!”
Aku keluar, mas-mas ojol itu terlihat membawa sebuah kantong. Dia menyodorkannya padaku. Ternyata sebuah paket makanan. Tepatnya cokelat.
“Maaf Mas, tapi aku gak pesen ini kok. Mas salah alamat kali, coba cek lagi deh!” ujarku.
“Benar kok Mbak, alamat dan penerimanya sudah benar kok. Mbak yang bernama Airin Permesta kan? Ini di kirim dari toko cokelat, saya hanya di minta untuk antarkan pesanannya saja. Silahkan di ambil, Mbak!”
Siapa yang mengirimkan ini? Ah sudahlah, paling tukang ojolnya nanti datang lagi, dan bilang kalau dia salah kirim!
Aku kembali ke kamar. Membuka laptop dan memainkannya sebentar. Berharap, kantuk akan kembali datang.
Sudah beberapa jam, namun kantuk tak juga muncul. Perutku malah meronta minta di isi.
Ku lihat jam, menunjukan pukul 11:05. Mau makan siang, belum waktunya. Sementara sarapan, sudah terlewat jauh.
“Kiriman paket … “
Lagi terdengar suara itu. Ku intip dari jendela, sepertinya kemari?
Dan benar saja, lagi sebuah paket tanpa nama, yang di tujukan untukku.
Apa mungkin ini hanya kebetulan? Tapi sampai dua kali seperti ini?
Ku buka, isinya sebuah tiramisu, kue kesukaanku.
Sepertinya tidak mungkin kebetulan, dan karena lapar, ya sudah, aku makan saja!
Potongan demi potongan tiramisu, mendarat di perutku. Sambil internetan.
Ku buka beberapa sosmed yang ku punya, dan secara tiba-tiba sebuah notif masuk.
[Pulang jam berapa tadi? Kamu sudah di rumah?] Abimanyu.
[ … ]
Langsung ku matikan koneksi internet.
Entah kenapa, hatiku selalu berdebar saat berurusan dengannya. Tapi sayang, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Seharian itu, aku berada di dalam kamar. Aku sampai di rumah sekitar pukul lima pagi. Setelah sholat, aku langsung tidur. Dan baru terbangun pukul Sembilan, saat paket pertama datang.
Tapi, siapa yang mengirimiku paket sampai dua kali? Ini benar-benar bukan salah kirim kan ya? Karena, sudah seharian, tidak ada lagi yang mengambil. Lagi pula, tiramisunya sudah kadung aku makan.
Baru sekitar pukul lima sore, aku keluar kamar untuk mandi.
Lalu kembali lagi ke kamar. Aku masih punya separo dari tiramisu. Jadi, aku tidak akan ikut makan malam bersama ayah dan ibu. Akan ku habiskan saja tiramisu yang tersisa tadi.
“Kiriman paket… !”
Apa? Masih ada lagi?
Aku jadi penasaran, apa yang kali ini di kirim.
“Ini Mbak, ada kiriman untuk Mbak Airin Permesta, betul ini alamatnya?”
“Iya Pak, saya sendiri,”
Ku lihat, isinya masih berupa makanan. Beberapa buah surabi yang biasa aku beli, di dekat kantor.
Surabi …?
Jangan-jangan, yang mengirim semua ini, Abimanyu?
Aku tersipu sendiri, membayangkan laki-laki itu.
“Abi memang so sweet!”
****
“Pagi semua … “
Akhirnya Abimanyu masuk kantor juga. Dia terlihat sumringah hari ini, padahal beberapa hari yang lalu, dia terlihat kusut.
“Hey, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Vany menyenggol tanganku.
Tanpa sadar, aku tersenyum sendiri saat melihat Abimanyu masuk hari ini. Sepi juga rasanya, kalau di kantor tidak ada bos yang selalu mengawasi kami setiap saat, apalagi ganteng dan baik seperti Abimanyu.
Eh, kenapa aku jadi berfikir seperti itu.
Ku lirik, Vany yang ada di sebelahku. Untung saja, dia tidak curiga. Dia terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
[Ini, laporan yang kemarin kamu email bukan?]
Isi chat dari Abimanyu.
[Iya Pak, itu print out nya.]
[Ya sudah, buat salinannya sebanyak.lima belas rangkap ya, terima kasih.]
Dingin sekali isi chat nya. Tapi, ini kan kantor, chat seperti apa memang yang aku harapkan dari seorang Abimanyu?
Haduh!
Ku ambil sebuah kotak makan di dalam tasku. Entah apa yang merasuki ku, tapi aku membawakan ini untuk Abi. Tiramisu yang dia kirimkan untukku.
Hanya saja, aku bingung bagaimana aku memberikan nya.
‘Lagian, masa pemberian dari dia aku bailikin kasih ke dia. Nanti dia tersinggung lagi’ gumamku dalam hati.
Aku beranjak menuju dapur. Dengan berdalih membantu Mbak Sum, ku racik teh hijau yang biasa di sajikan untuk Abimanyu.
“Mbak Sum sepertinya kerepotan, aku bantuin ya, mumpung belum terlalu sibuk. Sekalian aku anterin ke ruangan Pak Abi ya Mbak?”
“Wih, baru beberapa hari Pak Abi gak masuk, sepertinya sudah pada kangen ya,” ledek Mbak Sum.
“Ih, Mbak Sum. Di bantuin, kok malah meledek sih. Ya sudah kalau gak mau di bantu,” ku pasang muka kesal, sambil membulatkan bibir.
“Kok gitu aja marah to Mbak. Yo wis, bantulah. Saya Cuma bercanda kok,” dia menimpali sambil terkekeh.
“Ya sudah, kalo Mbak Sum maksa,” sahutku sambil menahan senyum.
Ku bawa, secangkir teh hijau itu menuju ruangan Abimanyu. Deg-degan sih, aku tidak tahu respon dia akan seperti apa.
“Permisi … “ ku buka pintu tanpa mengetuknya.
Pria itu melirik ke arahku. Aku masuk dengan senyum termanisku.
“Maaf, saya bawakan teh untuk Bapak,” ucapku.
“Kenapa kamu yang bawa? Memangnya Mbak Sum kemana, dia masuk kan?” jawabnya dingin.
Kini, pandangannya hanya tertuju pada layar laptopnya saja.
Jujur, aku sedikit kesal. Untuk melakukan hal ini, aku sudah mengumpulkan nyaliku, dan berharap dia akan senang dengan ini semua. Namun, aku salah. Dia sama sekali tidak menyukainya.
“Mbak Sum nya sedang sibuk Pak, kebetulan tadi saya ke pantry. Dan dimintai untuk membawakan itu untuk Bapak,”
“Ini Mbak Sum yang bikin?” dia menyeruput teh yang baru saja aku bawakan.
Aku tidak tahu, apakah rasanya akan sama dengan yang biasa Mbak Sum buatkan atau tidak. Tapi, aku racik sesuai dengan apa yang Mbak Sum beritahu, harusnya sih sama saja.
“Memangnya kenapa Pak, apa rasanya tidak enak?”
Kembali dia meminum isi di dalam cangkir itu, sementara matanya teruju padaku.
Entah kenapa, aku menjadi tegang. Lebih tegang, dari saat dia meminta di buatkan laporan yang super kilat. Namun, melihat dia kembali menyeruput teh yang aku buat, sepertinya tidak begitu buruk.
“Kalau begitu saya permisi, mau melanjutkan pekerjaan saya,” aku pamit dan melangkah menuju pintu.
Saat ku raih gagang pintu …
“Teh nya enak, makasih!”
Ku balikan badan, dan melihat dia yang terus saja menyeruput teh nya, sambil menyunggingkan sebuah senyum, yang tentunya ku balas dengan senyuman kembali. Dia melirik ke arahku, sambil mengerlingkan sebelah matanya, genit!