My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Batal



"Kenapa, butuh bantuan?”


Dia menawarkan bantuan tapi seolah meledek.


Tersungging senyum puas, sambil sesekali menaik turunkan alisnya.


[Bagaimana ini, pesta ulang tahun Vany sebentar lagi akan dimulai. Dan aku, masih di sini dengan kondisi motor yang tidak menyala alias mogok. Apa aku pesan ojol aja ya?] Gumamku.


Kulirik pria itu. Dengan terpaksa, aku meminta bantuannya lagi, apa boleh buat.


Kalau boleh jujur, melihat mukanya saja aku malas. Bukan karena dia tidak tampan, tapi ekspresi yang dia perlihatkan itu lho, kadang membuat aku illfeel!


Walau, kadang ngangenin sih. Kadang!


“Motorku mogok!” ucapku ketus.


“Jadi? Motorku bisa lho nganterin ke mana aja, Mi!” ujarnya dengan gaya songong.


[Kalau aku menunggu ojol, belum tentu langsung dapet. Tapi kalau minta anter Abi ke acara Vany sekarang, mungkin masih keburu. Haduh … ] Lagi aku bergumam dalam hati. Sungguh pilihan yang sulit.


“Bi—sa anterin aku lagi gak?” ucapku dengan suara yang agak ditahan.


“Pakek kata kuncinya dong, baru aku mau anterin."


Dia menggodaku dengan menaik nurunkan alisnya.


Menyebalkan!


Pandai sekali dia memanfaatkan situasi! Ih!


Kutarik nafas dalam, dan mencoba menuruti apa yang dia katakan. Dengan terpaksa tentunya.


Mental kusiapkan dengan sempurna. kekonyolan apa ini? huft!


“A—bi, bisa anterin aku lagi gak?” Kuucapkan kalimat itu dengan senyum getir dan mata yang melotot.


“Dengan senang hati, Umi … ” sahutnya.


Dia tersenyum. Aku geli sendiri melihatnya.


Owh, tuhan … apa benar yang ada di sampingku ini adalah managerku? Dia itu seperti bunglon. Di kantor, sikapnya sangat tenang dan berwibawa. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?


Apa harus di rukyah kali ya!


#*


Kami berangkat menuju rumah Vany. Lagi dia menarik kedua tanganku dan dilingkarkan di pinggangnya. Sok romantis banget sih!


Sesekali dia mainkan rem dan gas sehingga membuat laju motor tersendat-sendat.


Kupukul saja helm yang ia gunakan. Lalu mencubit perut dan pinggangnya saat melakukan hal konyol tersebut.


Dia meringis. Aku tidak mempedulikannya. Siapa suruh dia main-main di atas kendaraan.


“Aduduh Mi, sakit Mi!” ujarnya sambil mengusap-usap hasil cubitanku.


“Ya Abi sih, gak ada kerjaan! Ups!” reflex aku menutup mulutku sendiri.


Ada apa denganku? Kenapa aku malah ikut-ikutan alay seperti laki-laki ini. Ih!


Lama-lama, aku bisa ketularan gila ini sih.


Kutepuk jidak ini.


Baru setengah jalan, hujan seketika turun dengan derasnya. Membasahi helai demi helai kain yang membalut tubuh kami.


Abimanyu memarkirkan motornya di sebuah ruko yang tertutup. Kami berteduh.


Lama sekali hujan tidak kunjung reda. Bajuku pun sudah kadung basah kuyup.


“Kayanya, hujannya bakal lama deh. Kita ujan-ujanan aja yuk!” ujarku pada Abimanyu.


“Serius? Atau aku cariin jas hujan dulu deh, soalnya aku lupa gak bawa.”


Bingung juga sih, karena baju yang kukenakan sudah terlanjur basah. Aku memutuskan untuk menghubungi Vany.


“Yah, pake taksi online emangnya gak bisa ya? Pokoknya diusahain datang ya. Pllisss," ucapnya memohon.


“Aku usahain ya. Tapi, kalo gak reda juga, gak apa-apa ya?” ucapku meminta pengertian.


“Tapi usahain dulu ya, pokoknya harus dateng. Titik!” ujar Vany.


Hujan belum juga reda. Aku dan Abimanyu masih berada di tempat yang sama, belum beranjak.


“Kita ujan-ujanan aja yuk?” ajak Abimanyu.


Hujan kali ini seperti sudah terkontaminasi formalin saja, derasnya awet banget.


Lama-lama menunggu, aku kesal juga. Akhirnya, ide konyol itu terlontar lagi dari mulutku.


“Ya udah deh, kayanya hujan nya gak bakalan reda-reda,” sahutku.


Kami kembali menaiki kuda besi klasik milik Abimanyu. Dingin sudah tak dirasa. Basah sudah kadung dari tadi. Kami menerobos genangan air yang menutup jalan, dan jutaan tetes air yang menyerbu tak bisa menghadang kami lagi.


“Aku udah lama lho, gak ujan-ujanan," ujar Abi. Dia bertingkah seperti anak kecil.


“Apa?” tanyaku karena suaranya terkalahkan oleh derasnya hujan.


“Aku sudah lama gak ujan-ujanan … “ teriaknya lebih keras dari sebelumnya.


“Ngapain juga ujan-ujanan, kaya anak kecil!” Kubalas tak kalah kerasnya.


“Tapi aku suka ….” Dia berdiri sambil merentangkan tangannya. Kemudian membiarkan kemudi menjalankan tugasnya begitu saja. “Yeeeaaaahhhhh ….” Dia berteriak masih dalam posisi yang sama. Berdiri di atas motor yang melaju di bawah rinai hujan.


“Hati-hati Bi, duduk!” teriakku sambil menarik bajunya.


Dia kembali ke posisi semula, duduk didepanku dan memegang kendali.


“Jangan berdiri kaya gitu, bahaya!” ujarku masih dengan berteriak.


Dia memegang tanganku. Membuat diri memeluknya lebih erat.


Duh, Dylan Milea kali ah!


“Makanya, pegangin!" timpal dia, seolah membenarkan tindakannya itu.


Kali ini aku pasrah dengan apa yang dia katakan. Ada perasaan nyaman yang kurasa saat bersama dengannya. Sesuatu yang kurasa aneh, namun kini aku tahu perasaan itu apa.


Aaarrrgggh, tidak ...! batinku menjerit.


Aku terdiam. Semua ini malah membuat aku teringat pada Bimo. Kami pernah hujan-hujanan mengelilingi kota Bandung sampai demam dan jatuh sakit. Tapi karena takut dimarahi Ibu, aku tetap masuk kerja walau dalam keadaan sakit.


Aku masih ingat semua itu.


“Mi … Umi ….?” Dia menghentikan motornya dengan tiba-tiba. “Kok diem sih, ngelamun ya?” lanjutnya kemudian sambil menoleh padaku yang masih mendekapnya.


“Iya, ada apa Bi?” Aku seperti orang bingung. Aku tidak tahu apa yang Abimanyu bicarakan tadi, jujur aku tidak mendengarkan.


Netranya menatap nanar diriku, seperti terkejut namun lebih terlihat khawatir. Punggung tangannya ditempel di keningku. Berkali-kali dia lakukan hal yang sama. Memastikan kondisiku saat itu. Aku demam.


“Kamu pucat Mi, kamu demam. Kita ke dokter, ya!” ujarnya bergegas memacu kendali, namun aku hentikan.


“Antarkan aku pulang saja, aku mau pulang saja," ucapku lemas.


Bibirku bergetar, berwarna pucat. Badanku panas, namun menggigil. Mataku perih, kepalaku berkunang.


“Tapi kamu deman, liat tuh muka kamu pucat!” ujarnya lagi.


Aku belum pernah melihat dia se-khawatir itu.


terlalu sering aku dikerjainya dengan laporan-laporan, dan sudah terbiasa melihat wajah bengisnya.


“Gak apa-apa, cepet antar saja aku pulang. Di rumah ada obat. Aku bisa minum obat,” terangku.


Matanya sendu melihat keadaanku. Gurat khawatir terlihat jelas di sana.


Namun aku tetap bersih keras ingin pulang. Dan dia pun mengalah. Dipegangnya tanganku dengan sebelah tangannya, sebelah lagi memegang kendali.


Aku hanya pasrah, terkulai di punggungnya. Lemas.