My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Abimanyu, manager aneh



"Ma—af,” ucapku yang tak mendapat respon sama sekali. Dia berlalu begitu saja.


Wah, sepertinya dia sudah sembuh. Pasti hari ini dia sudah minum obat.


Abimanyu terlihat tidak peduli dengan keberadaanku. Saat papasan saja dia cueknya minta ampun. Ini sedikit membuat ku lega. Berarti apa yang dia katakan subuh tadi, hanyalah lelucon semata. Efek telat obat saja sepertinya. Hahaha.


Kembali ke rutinitas, ku nyalakan computer dan mempersiapkan pekerjaan yang akan di kerjakan.


Pekerjaan yang biasa ku lakukan dari pagi, kini di kerjakan mulai siang hari. Ini pasti akan membuat diri sangat sibuk untuk mengejar ketertinggalan.


Saat koneksi internet di nyalakan, seketika chat messenger langsung masuk. Dari Abimanyu.


Dilihat dari chat yang dia kirim, sepertinya dia sedang kesal. Ini benar-benar tidak bagus.


Ku lihat dia sedang online juga. Chat baru kembali dia kirim.


[ke ruangan saya, sekarang!] begitulan isi chatnya.


Aduh, ada apa lagi ini. Berhubungan denga pria itu, lebih menegangkan dibanding naik wahana extrim sekalipun. Mau apa lagi sih dia!


Aku bergumam dalam hati sambil sesekali menarik nafas mencoba mempersiapkan mental.


Ku ketuk daun pintu berbahan dasar kaca itu, ”Permisi Pak,” ucapku sambil masuk.


Pria itu tidak menjawab sama sekali. Dia tetap focus pada laptopnya.


“Maaf … ” sebelum aku menyelesaikan kalimat, dia langsung beralih ke telpon di hadapannya.


“Wan, coba kamu ke ruangan saya. Bawa laporan yang kemarin, “ dia menelpon tanpa mempedulikan aku yang tengah berdiri di hadapannya.


Tak lama, Pak Wawan masuk setelah mengetuk pintu sebelumnya.


Mereka membahas laporan yang di bawa Pak Wawan. Dan aku masih tak di acuhkannya.


“Ya sudah, kita meeting saja hari ini. Siapkan saja semuanya, saya menyusul sepuluh menit lagi. Ingat ya, deptstore termasuk showrooms juga,” ujarnya pada Pak Wawan selaku sales eksekutive senior.


Yang pegang showroom kan aku, harusnya dia ajak bicara juga dong. Kenapa malah ngomong ke Pak Wawan sih? Wah, ada yang ga beres nih.


Aku masih berdiri di hadapannya, tak di persilahkan duduk sama sekali. Padahal Pak Wawan tadi langsung di persilahkan untuk duduk. Entah apa yang ada di pikirannya.


Dia terlihat sibuk mengotak-atik laptopnya, kemudian berlalu tanpa berkata apa pun.


“Ih! Maunya orang itu apa sih. Tadi nyuruh ke rungannya, sudah disini malah di cuekin. Di tinggalin pula. Dasar orang aneh!” aku keluar sambil menggerutu.


Belum berapa lama aku duduk di kursi kebanggaanku, Pak Wawan langsung meminta untuk ikut ke ruang meeting sesuai intruksi Pak Abi tadi.


Sebenarnya tidak usah dikasih tahu pun, aku sudah mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam. Pastinya.


“Rin, yuk sekarang meeting,” ajaknya.


Aku membawa berkas-berkas yang sudah ku buat seadanya, lalu mengekor di belakang Pak Wawan.


“Ok,kita akan bahas masalah event yang akan di buat di showroom. Yang akan di mulai, akhir pekan ini. Kemarin, saya sudah malakukan kunjungan ke Mall Bandung dan Mall Java. Sepertinya, event nya akan cukup besar. Karena, kita membuka flooran juga di depan showroom dan juga di lantai dasar. Yang jadi masalah adalah, barang di showroom terbatas. Saya minta, data barang-barang yang bisa kalian rolling ke showroom. Dan untuk layout flooran dan display serta apa-apa saja yang akan kita buat di event nanti, bisa kalian minta ke Airin,”


Panjang lebar Abimanyu menjelaskan. Dan soal laporan hasil kunjungan kemarin, jujur belum sempat aku kerjakan. ******!


Semua orang di ruangan ini melihat ke arahku, dan meminta salinan dari laporan yang baru saja Abimanyu katakan.


Dia melihat ke arahku tajam, setajam silet. Seketika muka ini langsung memucat, tak bisa berbuat apa-apa. Kali ini ia berhasil mempermalukan diriku di muka rapat. Shit!


“Mana Rin, aku minta salinannya,” ujar Pak Heru.


Pak Wawan dan yang lainnya pun meminta hal yang sama. Aku kehilangan kata-kata.


Ini memang fatal. Aku lupa soal laporan yang Abimanyu minta sebelum kami pulang kemarin. Tapi seingatku, dia mengatakan untuk di kerjakan seselesainya, bukan hari ini juga harus selesai. Oh God!


Aku berdiri. Wajahku semakin memucat seperti tak berdarah. Keringat dingin mulai terasa bercucuran. Ruangan ber Ac ini tak cukup dingin untuk sekedar menghempas gerah di hati. Ku kumpulkan semua nyali, dan ….


“Ma—af. untuk laporan hasil kunjungan kemarin, belum rampung saya kerjakan.” ucapku pada semua anggota rapat. Aku tertunduk, lemah. Tak berani rasanya menoleh siapa pun yang ada di ruangan ini. Aku panic, sumpah!


“Ok, ga masalah. Sekarang kamu jelasin saja hasil kunjungan kita kemarin. Biar mereka mencatat masing-masing dan besok kita kembali untuk membahas apa yang akan kita buat untuk event di deptstore. Bisa jadi, kita akan ikut acara diskon yang dia adakan deptstore. Makanya penting untuk mengetahui, berapa kuantitas produk yang kita punya. Dan item mana saja yang akan kita ikutkan acara,” kembali Abimanyu menjelaskan.


Mendengar apa yang dikatakan Abimanyu barusan, sedikit membuat diriku lega. Aku jadi tidak perlu membuatkan mereka laporan, cukup menyiapkan laporan inventory showroom ter upgrade saja.


Orang ini! Apa sebenarnya yang dia inginkan? Sebentar dia membuat aku malu sampai mati kutu. Dan sekarang, dia seolah membelaku dan justru meringankan pekerjaanku. Aneh!


Dengan penuh percaya diri, aku menjelaskan hasil kunjungan kami kemarin, di muka rapat. Rapatpun berjalan dengan lancar. Aku seperti baru mandapat transfuse darah, sehingga pucatku memudar dan rona wajah kembali seperti semula.


Ku lirik Abimayu setelah selesai dengan tugasku. Dia tersenyum, walau wajahnya tidak menoleh padaku. Hanya ku lihat lirikan di ujung matanya, yang dia tujukan padaku. Namun begitu, dia mengangkat jempolnya tanda puas dengan pekerjaan yang baru saja aku selesaikan.


Deg! Kenapa aku merasa ada yang aneh saat melihat Abimanyu. Ada sesuatu yang menjalar dalam diri saat melihat reaksinya yang sebenarnya tidak berlebihan.


Dia yang menyebalkan itu, ternyata tidak semenyebalkan yang aku pikir.


Secara tidak langsung, dia meringankan pekerjaan yang harusnya aku tuntaskan. Padahal, tadi dia seperti sangat kesal bahkan tidak berbicara sepatah katapun padaku. Apa sebenarnya yang ia rencanakan? Kenapa aku selalu suudzon terhadap pria itu? Ah, sudahlah.


Rapat selesai, kami kembali ke meja masing-masing. Abimanyu terlihat memasuki ruangan.


“Gimana rapatnya,? Tanya Vany.


“Alhamdulillah lancar,” jawabku.


Mataku kembali tertuju ke layar computer dan menyelesaikan pekerjaan yang tadi terpotong.


_tring_


Chat baru di Yahoo messenger masuk.


Sebenarnya, di semua pc di kantor ini sudah ada aplikasi khusus untuk menyambungkan satu pc ke pc lainnya dengan media chat. Tujuannya, agar setiap karyawan bisa berkomunikasi dengan divisi manapun, tanpa mengganggu pekerjaan masing-masing. Di harapkan, pekerjaan akan lebih efektive dan efisien. Tapi, layanan itu bisa di pantau oleh IT. Sehingga, kami lebih memilih chat di akun pribadi kami, seperti yang ku gunakan sekarang.


[God job,] begitu chat dari Abimanyu.


[Makasih Pak, berkat bantuan Bapak.] ku balas cepat.


[O iya? Kalau begitu aku boleh minta imbalan?]


Kali ini tak langsung dibalas. Aku terdiam, apa maksud pria ini. Dahiku mengernyit.


[Imbalan seperti apa maksud Bapak?] ku balas setelah cukup lama berpikir.


Dia tidak membalas chat nya lagi. Dia offline. Mungkin karena terlalu lama menunggu balasan dariku. Pede sekali ya.


Pria ini penuh teka-teki. Sepertinya aku harus menjaga jarak aman dengannya. Lengah sedikit, dia bisa menggigit dan menyebarkan virus rabiesnya padaku.


Doggy kali ah. Tapi DIA memang ANEH!


Sebelum pukul 17:00, pekerjaanku sudah selesai. Meja yang berantakan, mulai ku rapikan. File-file, dan semua laporan yang beserakan dimasukan ke dalam laci. Kini, aku beralih pada isi tas yang dibereskan.


Saat tengah menutup program di computer, tiba-tiba muncul chat dari Abimanyu. Lagi.


[Kamu punya satu hutang yang akan aku tagih nanti, siapkan saja untuk membayarnya!]


Apa maksud dari chat nya ini? Kenapa aku merasa, kalau dia jadi menyeramkan lebih dari biasanya? Mungkinkah dia meminta sejumlah uang dariku? Tapi tidak mungkin, uangnya tentu lebih banyak dari yang ku punya. Atau mungkin, dia akan memintaku untuk jadi ART di rumahnya selama seminggu full? Ah, itu sih hanya ada di sinetron siang saja. Jadi apa yang akan dia minta dariku?


Tak ku balas pesan itu. Pc langsung ku matikan. Dan bergegas untuk pulang secepatnya.


Ini kantor, jadi jangan pernah memikirkan hal lain selain pekerjaanmu. Dan Abimanyu? Dia harus memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mungkin saja, ada keluhan saat dia di lahirkan. Sehingga otaknya sedikit goyang, seperti saat ini.


“Rin, kamu mau kemana. Kok buru-buru amat. Katanya mau nengokin Hilmy,” ujar Vany.


Aku menengok ke arahnya, namun sedikit tersentak saat melihat pria itu ada di belakang Vany.


Abimanyu berdiri di belakang Vany. Dia melihat ke arahku. Tetap dengan tatapan tajamnya. Kalau di perhatikan, tatapannya tidak seseram yang biasanya. Entah kenapa tatapan itu lebih terlihat seperti mata elang yang membidik sasaran dari jarak jauh. Menukik tepat di matakku. Untung saja tidak menghujam hatiku. Lho.


“Ayo, ko malah bengong. Tadi buru-buru, sekarang malah diem,” ujar Vany sambil menarik tanganku.