Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 9. Kekesalan yang bertumpuk



Airi Cyntia! Tenang. Meskipun Yoona Larasati ini dipilih semua orang, tentunya sisanya akan dipasangkan. Semoga saja, Lee Anggara Davidson bersamaku. Hanya sedikit lagi, kesempatan untuk menjangkaunya! Airi Cyntia tersenyum. Setidaknya kali ini ia akan lebih tenang.


"Baiklah. Karena 2 bintang tamu wanita telah terpilih, Tuan Lee Anggara Davidson bersama Nona Kiran Anggraini. Lalu sisanya, Wang Zeming bersama Nona Airi Cyntia. Tidak masalah bukan?" tanya Samuel Jo.


"Tentu tidak masalah!" potong Lee Anggara Davidson. Pria itu mengulum senyuman.


Itu lebih baik, daripada aku harus bersama … yah. Sudahlah. Yang jelas Nona Kiran Anggraini lebih baik. Lee Anggara Davidson berjalan mendekat kearah Kiran Anggraini. Gadis yang masih mematung diri, tak menyangka jika ia dipasangkan dengan sang raja film yang terkenal.


"Nona Kiran Anggraini, mohon kerjasamanya." Lee Anggara Davidson mengulurkan tangannya. Kiran Anggraini menata degup jantungnya. Lalu ia menyambut uluran tangan Lee Anggara Davidson.


"Ba-baik, terima ka-kasih!" Kiran Anggraini tergagap.


"Tidak masalah. Mari kita berjuang bersama! Semoga kita bisa menjadi partner yang menyenangkan!" ucap Lee Anggara Davidson.


Kata-kata dari Lee Anggara Davidson, membuat Kiran Anggraini sedikit merasa lega. Lee Anggara Davidson orang yang cukup bersabar diri. Perasaan Kiran Anggraini sedikit lebih baik.


"Ya! Semoga saja, saya tak membuat kesalahan selama menjadi partner Anda, Tuan Lee Anggara Davidson!" timpal Kiran Anggraini. Kini kegugupannya telah menghilang.


"Halo, Nona Airi Cyntia! Sepertinya, Anda tidak senang ya. Dipasangkan dengan saya?" bidik Haris Maulana.


"Ahaha. Mana mungkin! Tuan Haris Maulana ini, bisa saja. Baiklah, mohon kerjasamanya. Semoga kedepannya, saya tidak membuat kesalahan," sahut Airi Cyntia dengan senyuman lebar yang dipaksakan.


Sialan! Kenapa hari ini aku sial sekali! Ini karena Yoona Larasati ****** yang brengsek itu! Kenapa dia bisa membuat semua perhatian tertuju padanya? Tidak adil! Aku harus bersama Haris Maulana sialan ini. Argh! Yoona Larasati, kau ******! Airi Cyntia membatin kesal.


Haris Maulana tersenyum menyeringai. Ia tahu betul, ekspresi Airi Cyntia. Lalu senyum yang dipaksakan tersebut. Sudah cukup untuk memberikan alasan bagi Haris Maulana. Jika Airi Cyntia ini, tidak menyukai dipasangkan dengannya.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita ikuti mereka. Sepertinya waktu makan sudah tiba. Mari, Nona Airi Cyntia!" ajak Haris Maulana.


"Baiklah!" Airi Cyntia terpaksa mengiyakan permintaan dari Haris Maulana. Keduanya berjalan beriringan tanpa bersuara.


"Selamat siang semuanya, saya Lee Anggara Davidson. Mari kita berdo'a bersama, sesuai kepercayaan kita masing-masing." Lee Anggara Davidson memimpin do'a. Semua orang mengikuti perintahnya. "Baiklah. Do'a selesai. Dan silahkan Anda sekalian menikmati makan siang hari ini!" Lee Anggara Davidson melirik ke arah Yoona Larasati.


Gadis itu sendiri menatap ayam penuh ingin. Entah apa yang dipikirkannya, akan tetapi Yoona Larasati mulai mengambil satu potong ayam goreng. Lantas memakannya dengan asik. Mengabaikan pandangan orang-orang, yang merasa malu akan tindakannya.


"Ah, ini enak sekali!" celetuk Yoona Larasati.


"Sayang, pelan-pelan! Padahal dulu kamu bukan orang yang suka makan besar seperti ini." Suara Satria Hermawan terdengar cukup keras. Hingga membuat semua orang mendengar perkataannya.


"Hei, Satria Hermawan. Aku tidak memintamu untuk menemaniku! Harusnya, kalau kau tidak suka, silahkan pergi! Jangan membuatku kesal! Minggir sana!" gerutu Yoona Larasati di sela-sela makannya.


"Terserahku. Memangnya, aku harus bagaimana? Toh aku juga tidak meminta makanan dari mu. Kenapa kau yang harus repot, untuk memperingatiku? Maaf ya, Nona Airi Cyntia. Aku bukan orang munafik sepertimu!" sentak Yoona Larasati. Membuat kedua bola mata Airi Cyntia membulat.


"Kau!" desis Airi Cyntia.


"Nona Airi Cyntia. Jika kau tidak suka, maka saya mohon Anda pergilah. Jangan membuat Nona Yoona Larasati merasa tidak nyaman!" Lee Anggara Davidson kini berbicara dengan lantang. Menyentak kesombongan Airi Cyntia dengan hebat.


"Ma-maafkan aku, Tuan Lee Anggara Davidson." Airi Cyntia mengepalkan tangannya di balik meja.


"Bagi siapa saja, jika menurut kalian tidak menyukai acara makan ini, silahkan Anda sekalian untuk hengkang dari meja ini dan mencari meja yang lain!" Lee Anggara Davidson terlihat membela Yoona Larasati.


Sialan! Lee Anggara Davidson ini benar-benar, membuatku kesal. Mengapa ia justru membela Yoona Larasati sialan ini? Airi Cyntia-ku yang cantik dan anggun. Dia pasti sangat kesal karena dipermalukan secara terang-terangan! Ini semua karena Yoona Larasati! Awas saja kau, Yoona Larasati. Aku akan membuatmu menderita! Satria Hermawan membatin kesal.


Semua orang kini menatap sinis kearah Airi Cyntia. Membuat Satria Hermawan semakin iba dan membenci Yoona Larasati secara bersamaan. Sedangkan Lee Anggara Davidson, pria itu memang tetap makan. Akan tetapi, sesekali ekor matanya menatap Yoona yang tengah makan dengan santai. Kali ini gadis itu menyantap daging.


Yoona Larasati. Kau benar-benar tak terduga. Siapa yang tahu? Aku justru terjebak dalam jeratmu. Kau luar biasa apa adanya. Jika itu aktris lain, mungkin saja mereka sudah sombong disana sini. Satria Hermawan, sialan ini. Aku tidak akan bisa melepaskannya! Lee Anggara Davidson membatin. Lantas pria itu menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Sayang, pelan-pelan. Nanti perutmu bisa sakit," ucap Satria Hermawan. Kali ini ia berbicara dengan nada yang pelan.


Apa hanya perasaanku saja, atau memang benar. Jika Tuan Lee Anggara Davidson dari tadi membela Yoona Larasati dan sesekali ia melirik gadis itu? Kiran Anggraini menghela nafas. Ia Pun melanjutkan makan siangnya.


Setelah makan siang selesai, para bintang tamu wanita dan pria dipersilahkan beristirahat di villa yang telah disediakan. Satria Hermawan yang merasa Yoona Larasati tak lagi patuh dan lebih cenderung keras kepala, memilih mengejar Yoona Larasati. Ia berkali-kali berteriak memanggil Yoona yang terus saja berjalan tanpa menoleh ke arahnya.


"Yoona Larasati! Dengarkan aku! Kita perlu berbicara, okay!" Satria Hermawan mencekal tangan Yoona Larasati. Gadis itu berbalik, dan seketika menghempaskan tangan milik Satria Hermawan dengan kasar.


"Ada apa? Dari tadi di meja, kau itu berisik sekali! Membuat kepalaku pusing, jadi aku membutuhkan istirahat yang cukup! Apa kau tidak lelah, menggangguku terus-terusan?" ketus Yoona Larasati. Membuat Satria Hermawan mengepalkan tangan dan mengeratkan lehernya.


"Sayang, kenapa kamu menjadi mudah marah begini?" tanya Satria Hermawan. Kini justru Yoona Larasati memijit pelipisnya.


"Tentu saja itu karena kamu! Kamu akhir-akhir ini, selalu berisik! Apa kau tidak bisa, sedikit saja tidak merengek ini itu padaku? Aku semakin pusing mendengarnya!" Yoona Larasati menatap nyalang pada Satria Hermawan.


"Sayang, sepertinya kita perlu waktu untuk berbicara berdua. Kita juga sudah lama, tidak jalan-jalan bersama. Bagaimana kalau-," belum sempat Satria Hermawan menyelesaikan kata-katanya, Yoona Larasati terlebih dahulu memotong pembicaraannya.


"Dengar, Satria Hermawan. Aku lelah, dan aku harus pergi beristirahat. Jangan banyak celoteh!" Yoona Larasati segera memutar tumitnya dan berlalu begitu saja.