Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 6. Tarian Sebuah Pedang



Di sisi lain, di ruang tunggu ada empat bintang tamu pria. Selain Satria Hermawan, Lee Anggara Davidson, seorang aktor bernama Haris Maulana, dan seorang leader dari sebuah boyband D bernama Dion Leonardo.


Haris Maulana duduk di sebelah Lee Anggara Davidson, karakter dari Haris Maulana ini lebih aktif.  Sedari tadi dia terus mengomentari penampilan berbagai bintang tamu wanita. Membuat telinga Lee Anggara Davidson panas. 


"Tuan Lee, aktris yang bernama Airi Cyntia itu benar-benar luar biasa bukan? Selain cantik, ia juga begitu berbakat. Ah, seandainya ia berpasangan dengan Anda. Pasti kalian sangat cocok sekali!" ucap Haris Maulana ini tanpa mengenali ekspresi wajah orang yang diajak berbicara.


Memang, Lee Anggara Davidson tidak hanya memiliki banyak penggemar wanita. Tapi juga banyak aktor pria yang menjadi penggemarnya, salah satunya adalah si Haris Maulana ini. Aktor tersebut begitu semangat, tatkala mendapati aktor idolanya turut datang.


Aahh Lee Anggara Davidson ini. Benar-benar luar biasa. Ia pintar sekali dalam berbisnis dan di dunia hiburan. Memang sosok idola yang membanggakan. Haris Maulana membatin.


Meskipun Haris Maulana tidak tahu mengapa Lee Anggara Davidson, berpartisipasi dalam variety show semacam ini. Haris Maulana hanya berani mengambil kesimpulan di dalam hati. Apakah protagonis pria akan dipaksa menikah? Begitulah pemikiran Haris Maulana.


Selamanya mungkin, Haris Maulana tidak akan mengetahuinya. Namun sebenarnya tebakannya memang benar. Ibu Lee Anggara Davidson ini, diam-diam mendaftarkannya ke variety show ini. 


Ibunya berkata, bahwa Lee Anggara Davidson ini hanya tahu bekerja sepanjang hari. Jika tidak segera menjalin hubungan, kelak tidak akan ada yang ingin bersamanya lagi. Kini Lee Anggara Davidson memijit pelipisnya. Lee Anggara Davidson tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa datang dengan terpaksa, anggap saja untuk menenangkan ibunya. 


Sehingga selama di ruang tunggu Lee Anggara Davidson terus menopangkan dagu dengan tangan. Bahkan terlihat tidak fokus pada acara. Ketika dua bintang tamu wanita yang pertama tampil, Lee Anggara Davidson hanya melirik mereka sejenak. 


Pria itu hanya memperhatikan selama dua detik ketika Airi Cyntia bernyanyi. Akan tetapi, Lee Anggara Davidson tidak mengatakan apapun. 


"Baiklah, mari kita sambut Yoona Larasati! Bintang tamu wanita yang terakhir!" pembawa acara memberikan kode kepada Yoona Larasati untuk naik ke atas panggung.


Pikiran Lee Anggara Davidson yang sedang berkelana itu, tertarik kembali fokus pada acara. Pria itu lalu menatap ke arah layar. Haris Maulana mencondongkan kepala dan berbicara dengan Lee Anggara Davidson "Kakak, apakah kamu kenal orang ini? Dia ini hanya penghias, tidak ada yang menarik darinya." bisiknya pada Lee Anggara Davidson. Tentunya, membuat Lee Anggara Davidson melirik tajam dan nyalang kepada Haris Maulana.


Haris Maulana diam seketika. Ia merasa bahwa tatapan Lee Anggara Davidson agak menakutkan. Haris Maulana lalu terkikik sejenak dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.


Dion Leonardo melihat ke layar, "Wanita ini memang sangat cantik, tetapi gayanya sangat buruk." ucap Dion Leonardo dengan nada bicara yang ketus. Cukup untuk bisa didengar oleh mereka semua.


Ha, memang Yoona Larasati ini seorang sampah. Bahkan hingga detik ini, ia hanyalah pelengkap saja. Sayangnya wanita itu bodoh. Siapa lagi yang akan memilihnya, jika bukan aku? Tidak akan ada yang sudi, untuk berpasangan dengan si bodoh itu. Jadi, aku akan memvoting untuknya, dan dia juga akan memilihku. Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin sekali memilih Airi Cyntia. Takutnya Airi Cyntia yang justru tidak memilihku. Daripada aku menanggung malu. Sialan, kau Yoona Larasati. Tapi, lihat saja nanti. Satria Hermawan tersenyum penuh kemenangan. 


Di lokasi syuting, pembawa acara bertanya kepada Yoona Larasati, “Penampilan apa yang akan kamu tunjukkan?” nadanya terdengar ketus. Seperti meremehkan kemampuan Yoona Larasati.


Yoona Larasati berpikir sejenak, jika bernyanyi tentu saja tidak mungkin. Dewa perang seperti dirinya bisa bernyanyi? Jelas tidak. Selain itu, Yoona Larasati yang asli juga tidak memiliki kemampuan tersebut.


Aku hanya bisa menampilkan yang lain. Gumam Yoona Larasati dalam hati.


Yoona Larasati menatap Samuel Jo dan mengatakan, “Aku membutuhkan alat peraga.”


Pembawa acara sangat gembira, dia telah menyiapkan beberapa alat seperti piano dan biola. "Bagaimana? Kau mau pilih yang mana?"


"Bukan," sahut pendek Yoona Larasati.


Samuel Jo Pun pada akhirnya bertanya, "lalu alat peraga apa yang kamu perlukan?" pria itu menatap remeh pada sosok Yoona Larasati.


"Aku akan menampilkan pertunjukkan pedang. Jadi aku memerlukan pedang. Aku tidak membutuhkan yang kau srbutkan. Bagaimana?" tantang Yoona Larasati. Dalam nada bicaranya, sarat akan penegasan.


Hal itu juga membuat para bintang tamu pria di ruang tunggu terkejut. Ini adalah bakat yang sangat langka, jika benar Yoona Larasati bisa menggunakan pedang.


Samuel Jo mengerutkan keningnya, "Pedang? Yang seperti apa?"


Jawab Yoona Larasati. “Hanya pedang seberat 40 kg.”


Samuel Jo memandang sinis pada Yoona Larasati. Lantas ia mengibaskan tangannya untuk segera disiapkan.


Hanya 40 kg? Dia bahkan masih bisa mengatakan hanya? Batin Airi Cyntia dalam hati.


Airi Cyntia membelalakkan matanya. Cukup terkejut dengan permintaan dari Yoona Larasati. Dia tahu bahwa Yoona Larasati bukan orang biasa. 


Empat puluh kg, mungkin bukanlah apa-apa. Bagaimanapun berat tubuh Yoona Larasati 50 kg? Sangat tidak masuk akal.


Ketika Airi Cyntia ini mengingat bahwa berat Yoona Larasati hanya 50 kg, seketika dia merasa ingin menangis. Raut wajah Samuel Jo berubah menjadi sedikit suram.


Samuel Jo menatap ke arah tim properti, “Apa kalian memilikinya?”


Tim properti, “Tidak, tapi kami bisa menyiapkannya sekarang. Sebentar lagi akan siap.”


Sepuluh menit kemudian, tim properti membawa sebuah pedang. Tepatnya, dua orang pria yang membawa sebuah pedang. Membuat semua orang meremehkan Yoona Larasati. Pria yang memiliki tenaga lebih besar saja, harus membutuhkan dua orang untuk membawanya. 


"Bagaimana mungkin Yoona Larasati ini membawanya?"


"Dia hanya ingin mempermalukan dirinya sendiri."


"Atau dia hanya banyak bicara!"


Kasak-kusuk mulai terdengar. Sedangkan Yoona Larasati sangat tenang. Wanita itu mengangkatnya dengan satu tangan, bahkan menggunakan jari-jarinya untuk menyentuh bagian pisau. Hal itu cukup menyentak mereka semua. Bahkan beberapa dari tim properti berdiri seketika.


Dua pria kuat yang membawa pedang tersebut melongo seketika. Pedang tersebut asli. Dan mereka bahkan juga cukup bisa merasakan bagaimana berat dari pedang tersebut.


Samuel Jo bertanya dengan tegang, “Kapan kamu akan memulainya?”


“Sekarang sudah bisa dimulai.” Yoona Larasati mengulum senyuman.


Mendengar hal itu, Samuel Jo berteriak menggunakan pengeras suara, “Sekarang semua orang harap berpencar, berpencar!” teriakan membahana cukup memekakkan telinga semua orang.


Yoona Larasati masih berdiri tenang di tempatnya. Menatap datar ke arah kamera. Seakan suasana saat ini, tak membuatnya terusik. Orang-orang di dekatnya, langsung menjauh sejauh 30 meter.


Yoona Larasati memulai aksinya. Ia mengangkat satu kaki, dan menghunuskan pedang ke arah depan. Kemudian berputar meliukkan tubuhnya yang langsing. Dan sesekali menghunuskan pedang. Kakinya sesekali menghentak ataupun tubuhnya berputar. Seolah itu semua adalah tarian sebuah pedang.


Wanita itu menikmati saat-saat menarikannya. Membawa pedang, yang telah menjadi separuh nyawanya. Ya, Yoona Larasati benar-benar merindukan sebuah pedang. Sesekali wanita itu bersalto ria di udara dan menghunuskan pedangnya. Membuat semuanya larut dalam melodi tarian sebuah pedang. Yoona Larasati, benar-benar membuka mata semua orang!