Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 21. Cocok?



Picture, by pinterest



Hari ini Yoona Larasati telah bersiap, sejak pukul 4 pagi. Gadis itu memakai pakaian serba hitam. Sweater tipis, lalu sebuah rok lipit, berwarna hitam. Memang, di zaman dulu ia sering mengenakannya dalam perang. Sedikit menonjol, untuk kehidupan sekarang. Terlebih, Yoona Larasati adalah gadis berparas cantik. Bertubuh ideal, serta perut yang rapi. Bisa dikatakan, tubuh Yoona Larasati ini adalah impian semua wanita. Sayangnya, ia selalu menonjolkan sikapnya yang aneh. Sehingga, membuat netizen dan perusahaan, selalu menghina dan memandangnya sebelah mata.


"Memang, udara pagi hari terasa sejuk," gumam Yoona Larasati.


Gadis itu menggerakkan kedua tangannya. Sesekali menghirup udara segar, dan menghembuskannya perlahan. Di sana Yoona Larasari, nampak sekali menjadi perhatian para pria yang tak sengaja melintasinya. Sungguh, membuat para pria itu bisa mencuci mata. Sayangnya, ada pria bodoh yang begitu tidak mensyukuri apa yang dimilikinya. Yaitu, Satria Hermawan. Pria busuk itu, justru tergila-gila dengan Airi Cyntia yang kerap mengumbar kemolekan tubuhnya.


"Ah, benar. Nona Yoona Larasati!" Sebuah suara bariton, mengagetkan Yoona Larasati.


Yoona Larasati menoleh. Spontan saja, ia memutar kedua bola matanya. Menggerutu dalam hati, mengapa ada seseorang yang membuat mood baiknya jatuh.


"Nona Yoona Larasati! Hei, ayolah. Di kompleks ini, hanya Anda yang saya kenal. Ayo, kita jogging bersama," ajak Lee Anggara.


Yoona Larasati tak menjawab. Ia begitu enggan, untuk sekedar menanggapinya. Jogging bersama Lee Anggara, tentu saja sangat mencolok.


"Apakah, Nona Yoona Larasati setiap hari jogging?" tanya Lee Anggara. Bahkan kini, ia telah mensejajarkan langkah kakinya dengan  langkah kaki Yoona Larasati.


Tiba-tiba, Yoona Larasati menghentikan langkah kaki. Menoleh ke arah Lee Anggara. Pria itu juga melakukan hal yang sama, dengan Yoona Larasati.


"Tuan Lee Anggara, bisakah kita jogging sendiri-sendiri? Rasanya risih, karena kita tidak saling mengenal. Jadi, tolong. Saya permisi!" Yoona Larasati berlari kembali. Meninggalkan Lee Anggara Davidson, termangu di tempatnya.


"Wah? Apa aku baru saja ditolak? Hei, aku ini seorang raja film. Pemilik perusahaan terkenal. Biasanya, para wanita akan berlomba melemparkan dirinya kepadaku secara suka rela. Tapi sekarang aku sadar. Yoona Larasati ini, sangat berbeda. Sungguh bodoh sekali, Tuan Satria Hermawan meremehkan Yoona Larasati. Ah, Yoona Larasati. Bagaimana aku bisa membuatmu, setidaknya membiarkan aku bersamamu sebentar?" Gumam Lee Anggara Davidson. Pria itu menggelengkan kepala.


Ah, hatiku sungguh sakit. Batin Lee Anggara seraya meremas dada bidangnya. Untuk pertama kalinya, pria itu ditolak mentah-mentah.


Lee Anggara tidak mundur begitu saja. Pria itu malah membeli air mineral 2 botol. Kemudian dia berlari menyusul Yoona Larasati di belakangnya. Setelah bisa menyusul Yoona Larasati, Lee Anggara Davidson segera menyodorkan 2 buah botol air mineral.


 "Astaga! Mereka berdua cocok sekali!"


"Benar, lihat mereka romantis sekali."


"Mana yang satu tampan dan satunya cantik. Benar-benar pasangan yang serasi!"


"Ah, benar. Mereka berdua cocok sekali. Indahnya romansa gejolak kaula muda."


"Gentle sekali pria itu ya. Mau deh, jadi pacarnya."


"Benar. Miskinpun tak apa. Asal dia benar-benar perhatian kepada kita."


Pada akhirnya, Yoona Larasati memilih pulang. Karena telinganya terasa panas, saat mendapati kasak-kusuk para netijen yang budiman. Sedangkan Lee Anggara Davidson, terlalu muka tembok. Pria itu mengekor di belakang Yoona Larasati, seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya. Baru saja kaki Yoona Larasati dan Lee Anggara Davidson, sutradara Samuel Jo meminta Yoona Larasati untuk mendekat kepadanya.


"Baiklah. Aku ke kamar dulu," pamit Lee Anggara. Terlihat sekali, Yoona Larasati begitu acuh. Membuat sutradara Samuel Jo, menahan tawa susah payah.


"Ada apa, Tuan Samuel Jo?" tanya Yoona Larasati. Hal itu membuat sutradara Samuel Jo, menjadi salah tingkah.


Yoona Larasati menimbang sejenak. Aku punya kesempatan, untuk mempermalukan Satria Hermawan. Bukankah, rekamanku berisi suara kuntilanak? Yoona Larasati mengulum senyuman.


"Baiklah, sutradara Samuel Jo. Aku bersedia membantumu. Kalau begitu, aku akan memulainya sekarang. Permisi." Yoona Larasati membungkukkan tubuhnya. Lalu berjalan dengan senyum liciknya.


Yoona Larasati lalu berjalan menuju kamar pria pertama. Yaitu, Dion Leonardo. Yoona lalu menyalakan kamera. Pertama Yoona Larasati membuka kunci pintu kamarnya. Lalu berjalan mengendap-endap, masuk ke dalam kamar Dion.


Ternyata, alarm untuk Dion Leonardo adalah suara si Nana Maharani yang menyanyikan lagu anak-anak. Nada yang salah itu, seketika menyentak Dion Leonardo. Pria itu mengusap wajah dengan kasar.


"Astaga!"  Dion mendesah kaget.


"Selamat pagi, Tuan Dion Leonardo. Waktunya bangun!" sapa Yoona Larasati.


"Ah, Nona Yoona Larasati. Anda membuatku pusing," keluh Dion Leonardo.


Yoona tersenyum. "Hanya menjalankan tugas. Segeralah mandi, Tuan!" teriak Yoona Larasati.


Gadis itu berjalan menuju kamar bintang tamu pria kedua. Yaitu, Haris Maulana. Yoona lalu membuka kunci kamar Haris secara perlahan. Lalu Yoona Larasati memutar rekaman suara milik Airi Cyntia.


"Sayang, bangun. Ini sudah pagi. Bangun, yuk."


Yoona Larasati mengerjapkan kedua matanya. Suara mendayu itu, terdengar begitu menjijikkan di telinganya. Melihat Haris Maulana belum bangun juga, Yoona Larasati memutar kembali rekaman itu.


"Astaga! Pagi-pagi begini, kenapa berbicara dengan nada yang menjijikkan begitu? Siapa sih? Lagi gatel ya?" suara Haris Maulana terdengar sinis. Pria itu bangun dan membuka kedua matanya. "Ah, Nona Yoona Larasati?"


Yoona Larasati tersenyum. "Maaf, Tuan Haris Maulana. Tapi ini rekaman suara milik Nona Airi Cyntia. Selamat pagi! Dan segeralah mandi!"


Yoona Larasati berlalu. Gadis itu berjalan menuju kamar milik Lee Anggara. Sebenarnya ini, percuma. Mengingat pria itu telah bangun sebelumnya. Bahkan, Lee Anggara sudah lari pagi bersamanya. Dengan malas, Yoona melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Lee Anggara. Benar dugaannya. Pria itu telah mandi dan kini sudah berpakaian rapi. Aroma maskulin tercium di hidung Yoona. Terasa memabukkan.


"Selamat pagi, Nona Yoona," sapa Lee Anggara.


"Oh, selamat pagi, Tuan Lee Anggara. Maaf, aku perlu menjalankan tugas." Yoona Larasati memutar rekaman lagu yang dinyanyikan oleh Kiran Anggraini.


"Suaranya indah. Hanya saja, dia terdengar kurang percaya diri. Aku rasa, Nona Kiran Anggraini akan lebih sukses ke depannya. Bila ia bisa menghilangkan rasa kurang percaya dirinya," ucap Lee Anggara.


Yoona Larasati terdiam. Dia memang tak seberapa mengenal Lee Anggara. Akan tetapi, Yoona sedikit kagum akan penilaian dari Lee Anggara yang terdengar tulus itu. Hatinya tersentuh. Pasalnya, Lee Anggara ini orang hebat. Akan tetapi, ia rendah hati. Bersedia menilai orang yang jauh tertinggal di belakangnya.


"Baiklah, Tuan Lee Anggara. Selamat pagi, dan selamat beraktifitas!" Yoona berlalu, sebelum ia mendapatkan sahutan dari Lee Anggara.


Di depan pintu kamar Satria Hermawan, Yoona Larasati mencebikkan bibirnya. Cukup malas, pagi-pagi harus berurusan dengan Satria Hermawan.


"Mungkin nasibku saja yang sial," gumam Yoona Larasati.


Gadis itu masuk ke dalam kamar Satria Hermawan. Kedua matanya membulat sempurna mendapati Satria Hermawan yang tidur dalam keadaan yang berantakan. Terlebih, pria itu bahkan mendengkur!


Astaga! Bagaimana bisa pemilik tubuh asli menyukai pria model begini? Rutuk Yoona Larasati dalam hati.