Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 17. Sebuah Hukuman



Hebatnya. Di saat mereka semua saling mencemaskan, justru ada dua orang yang saling berbincang dengan santai. Bahkan Yoona Larasati, memakan camilan dengan santainya.


"Hebat sekali, Anda tidak takut padaku, Nona Yoona Larasati. Biasanya, ada banyak sekali orang yang takut dengan hantu abal-abal sepertiku," tanya hantu itu. Dia adalah salah satu staf yang bersolek, menjadi sosok hantu.


"Kenapa harus takut? Sudah jelas sekali, semua itu bohong. Ini siang, tapi disana seperti malam. Lalu jika itu darah sungguhan, tidak ada bau anyir dari darah. Harusnya manusia yang lain tahu, antara darah asli dan darah palsu," celoteh Yoona Larasati.


"Benar juga. Kalau begitu, temanmu yang menjerit itu tadi betapa bodohnya dia. Bukankah itu sangat lucu sekali?" staf hantu itu mencibir suara Airi Cyntia yang melengking.


"Haha, kau saja tahu itu. Tapi sayangnya, pria itu buta. Mereka hanya melihat, betapa cantiknya wanita licik itu. Ngomong-ngomong, terima kasih ya cemilannya. Kebetulan aku sedang lapar," ucap Yoona Larasati dengan santai.


"Santai saja. Aku jadi punya teman, disini. Kau memang harus berada disini, sampai ada yang datang mencarimu," pungkas staff hantu itu.


"Ah, akhirnya! Aku menemukan kalian!" deru napas Satria Hermawan tersengal. Pria itu sepertinya baru saja berlari.


"Ada denganmu, Tuan Satria Hermawan? Kau berlari dikejar oleh hantu?" ejek Haris Maulana.


"Benar! Ada hantu! Mereka menculik Nona Airi Cyntia. Ah, benar-benar menakutkan. Kita harus segera mencari Nona Airi Cyntia, secepatnya!" ajak Satria Hermawan.


"Dasar payah! Kekasihmu saja, juga menghilang. Kau ini sebenarnya kekasihnya siapa? Apa kau tidak lihat? Jika Nona Yoona Larasati, juga menghilang?" Dion Leonardo kini juga mencibir Satria Hermawan.


"Lo, Nona Yoona Larasati juga menghilang? Astaga! Kita harus mencari keduanya! Disini sangat menyeramkan, kita harus bergerak cepat!" kata Satria Hermawan dengan nada gusar.


"Halo, tes, tes. Bagaimana kabar kalian semua? Masih bersemangat, bukan? Yo, ada dua couple yang terpisah ya? Haha. Tenang-tenang. Misi baru telah di update. Silahkan kalian cari, dua orang yang terpisah itu. Benar, kalian harus cepat menemukan mereka. Karena aku, memberikan waktu selama satu jam." Suara sutradara Samuel Jo, begitu membahana karena memakai pengeras suara. Sepertinya sutradara itu, begitu puas dengan variety show kali ini.


Imbuh sutradara Samuel Jo, "jika kalian tidak bisa menemukan dua orang bintang tamu wanita tersebut, maka pasangan dari bintang tamu wanita, harus menerima hukuman. Dan hukumannya adalah, mereka yang pasangannya hilang, wajib meminum air cabe. Maka dari itu dalam satu jam, kalian harus menemukan pasangan kalian masing-masing." suara sutradara Samuel Jo, menghilang. Sepertinya, ia sudah selesai memberikan arahan.


"Apa? Minum air cabe? Argh! Kemana ini Nona Yoona Larasati pergi? Tidak. Aku harus segera menemukan Nona Yoona Larasati. Sialan, aku harus bergerak cepat mencarinya," ketus Satria Hermawan. Pria itu meludah seenaknya.


"Kebanyakan omong kosong. Kau sendiri itu payah. Sudah tahu, pasanganmu Nona Yoona Larasati. Kenapa kau repot-repot, menjaga Nona Airi Cyntia? Kau benar-benar pria terbrengsek, yang pernah aku temui." Haris Maulana menghina Satria Hermawan, secara terang-terangan.


"Apa maksudmu, brengsek?" bentak Satria Hermawan. Dengan tenang, Haris Maulana menyorot tajam Satria Hermawan.


"Itu urusanmu. Cari tahu sendiri. Jika saja pasanganku Nona Yoona Larasati, itu akan lebih baik. Yah, kau dan Nona Airi Cyntia itu, benar-benar cocok satu sama lain. Jadi wajarlah, kau tidak akan mengerti kata-kataku." Haris Maulana kembali berjalan. Ia akan mencari Airi Cyntia. Daripada ia harus menerima, hukuman yang tak masuk akal tersebut.


"Sialan kau, Haris Maulana! Cih! Terserah. Kau itu yang pengecut! Ah, brengsek! Aku harus mencari Nona Yoona Larasati, si bodoh itu. Dasar menyebalkan!" gerutu Satria dengan sangat kesal.


Pria itu berjalan menjauh dari tempat semula. Berbanding terbalik dengan arah yang Haris Maulana tuju. Sekarang, hanya tersisa Dion Leonardo dan Nana Maharani.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Nana Maharani.


Kedua orang itu berjalan beriringan. Tiba-tiba Dion Leonardo menggenggam tangan Nana Maharani. Sedikit membuat Nana Maharani tersentak. Rona jingga terlihat menghiasi kedua pipinya.


Di sisi lain, setelah kata-kata sutradara Samuel Jo terdengar. Yoona Larasati segera mencari tempat untuk bersembunyi. Gadis itu memulai rencana membalas dendamnya, dengan cara yang halus. Jika sudah begitu, bukankah dia tidak akan disalahkan? Benar sekali. Yoona Larasati tersenyum menyeringai.


"Hei, kau pergilah. Aku juga akan pergi," ucap Yoona Larasati kepada staff hantu tersebut.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Kau harus segera mencari pasanganmu. Kasihan, jika pasanganmu harus menerima hukuman. Babay." Perlahan staff hantu tersebut berlalu.


Kini tinggallah Yoona Larasati di sana. Gadis itu segera memutar otak. Jangan sampai, Satria Hermawan menemukannya dengan cepat.


"Ayo berfikir, Yoona Larasati. Ini benar-benar kesempatanmu."


Saat detik-detik buntu tersebut, Yoona Larasati melihat sebuah kotak yang seperti peti. Peti tersebut cukup besar. Mungkin itu adalah tempat untuk menyimpan barang-barang para staf hantu tersebut.


"Sepertinya langit sedang berpihak padaku," gumam Yoona Larasati.


Perlahan, Yoona Larasati masuk ke dalam peti tersebut. Tentu saja untuk seorang yang ceroboh seperti Satria Hermawan, sangat mustahil untuk mengecek apapun yang ada di sekitarnya. Mereka lebih cenderung terburu-buru. Lalu omong kosong yang begitu besar.


Waktu perlahan terus berjalan. Sepanjang perjalanan. Selain perasaan takut dan gelisah, Satria Hermawan mencari Yoona Larasati dengan berbagai caci maki yang selalu keluar dari mulut kotornya.


Padahal pria itu tidak berkaca untuk dirinya sendiri. Dirinya sendiri saja lebih buruk dari siapapun. Terlihat penampilan Satria Hermawan yang begitu kacau. Sesekali staf hantu, juga bermunculan setiap beberapa waktu.


"Astaga, dimana Yoona Larasati ini. Kenapa aku belum juga menemukannya? Argh! Kapan permainan konyol ini berhenti? Yoona Larasati, jika aku mendapat hukuman itu tidak lucu sama sekali! Sialan! Kemana perginya hantu brengsek itu! Argh!"


Satria Hermawan menjambak rambutnya sendiri. Pria itu berkacak pinggang dengan begitu angkuh. Sesekali Satria Hermawan mengusap wajahnya dengan kasar. Selain rasa takutnya dengan hantu, Satria Hermawan juga begitu takut jika ia harus meminum air cabe.


Waktu terus berjalan. Yoona Larasati bahkan tengah menikmati tidur siangnya. Di saat-saat Satria Hermawan akan menerima hukuman.


"Baiklah, semuanya berkumpul. Waktu telah habis. Haha, payah sekali. Kita menemukan korban. Ayo, semua keluar!" sutradara Samuel Jo, kembali menggunakan pengeras suara.


Kini para bintang tamu pria dan bintang tamu wanita berkumpul. Yoona Larasati, datang paling akhir. Satria Hermawan menatap nyalang pada Yoona Larasati.


"Maafkan aku, sutradara Samuel Jo. Aku takut. Jadi aku bersembunyi. Banyak sekali staf hantumu," celetuk Yoona Larasati. Ia memasang wjah yang memelas.


"Ya, masuk akal sekali. Nona Airi Cyntia, malah lebih parah darimu. Kalau begitu, ayo Tuan Satria Hermawan. Silahkan minum," ucap sutradara Samuel Jo dengan girang. Lalu seorang staf, membawakan satu gelas berisi air dan cabe. Terpaksa, Satria Hermawan meminumnya hingga habis tak bersisa. Sungguh konyol.