Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 20. Ancaman



Senja di kaki bumantara telah digantikan oleh, pekatnya sang dewi malam. Setelah kenyang, Yoona Larasati memilih untuk segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Hingga malam kian beranjak larut, kedua mata Yoona Larasati tidak juga bisa terpejam. Entah mengapa, ia tidak bisa tidur.


"Kenapa aku tidak bisa tidur? Ya Tuhan, ini sudah sangat malam. Aku ngapain kalau begini? Oh!" Yoona Larasati segera bangun dari ranjangnya. "Benar juga. Si pengecut itu, pasti kelaparan. Tidak mungkin, Satria Hermawan bisa tidur dengan nyaman dalam keadaan perut yang kosong."


Yoona Larasati berdiri dengan antusias. Ia berjalan menuju dapur. Dimana ada lemari es. Yoona Larasati segera bersembunyi, dengan membawa sebuah sapu. Beberapa menit, tidak ada orang masuk. Hingga hampir 30 menit, baru terdengarlah langkah kaki seseorang berjalan masuk ke dalam dapur.


"Sialan, aku benar-benar lapar sekali. Ini semua karena Yoona Larasati yang brengsek itu! Huh, aku harus menemukan makanan. Harusnya, aku sudah tertidur sejak tadi."


Satria Hermawan segera membuka pintu lemari es. Pria itu terlihat meminum air es, terlebih dahulu. Mungkin, karena tenggorokannya terasa kering.


"Ah, leganya."


Saat Satria Hermawan hendak mengambil makanan, tiba-tiba saja ada yang memukulnya dengan gagang sapu. Satria Hermawan mendengar, seseorang menuduhnya sebagai seorang pencuri.


"Dasar pencuri! Rasakan ini! Kau ini, ada banyak pekerjaan tetapi memilih pekerjaan mencuri! Kau tidak malu? Mencuri hak orang lain? Kau benar-benar telah salah! Beraninya mencuri makanan, yang aku masak!" jerit Yoona Larasati.


"Hentikan! Hentikan! Aku bukan pencuri!" teriak Satria Hermawan.


"Mana ada pencuri mau mengaku? Jika pencuri mengaku, penjara penuh dong? Ada-ada saja!" Yoona Larasati menekan tubuh Satria Hermawan ke meja. Lalu terus saja memukulnya tanpa ampun.


Suara berisik yang cukup mengusik. Membuat banyak orang, mulai mencari tahu. Bahkan Lee Anggara Davidson, ikut keluar untuk melihat keributan. Pria itu tersenyum puas. Melihat Satria Hermawan dipukuli habis-habisan, oleh Yoona Larasati.


"Yoona Larasati. Kau begitu menarik. Bahkan, tanpa sungkan kau memukul dia yang pernah ada di hatimu. Kau semakin menarik bagiku." Lee Anggara Davidson justru hanya menatap kedua orang tersebut. Tak ada keinginan, untuk membantu, atau menghentikan kegiatan memukul Yoona Larasati.


"Astaga! Ada apa ini?" sutradara Samuel Jo menyalakan lampu yang ada di dapur. "Ya ampun! Nona Yoona Larasati! Kenapa Nona memukul Tuan Satria Hermawan?" tanya sutradara Samuel Jo.


Yoona Larasati, berpura-pura terlonjak kaget. "Astaga! Ah, Tuan Satria Hermawan, maafkan aku! Aku tidak sengaja! Aku pikir, aku pikir dia maling! Aku takut sekali!" cicit Yoona Larasati.


Satria Hermawan mengangkat wajahnya. Wajahnya kini sungguh kacau. Banyak sekali lebam-lebam di pelipis maupun kedua pipinya. Bahkan sudut bibirnya, terlihat sedikit robek. Terlihat dari, noda darah di sudut bibirnya.


"Nona Yoona Larasati! Aku tahu, kau berbohong! Kau pasti sudah tahu itu aku, kan? Makanya kau bertindak seenaknya! Argh! Sakit." Satria Hermawan meringis kesakitan.


"Alah! Kau pasti bohong! Kau ingin balas dendam padaku kan? Karena aku hari ini, bersama dengan Nona Airi Cyntia selalu?" Satria Hermawan tak ingin kalah. Ia terus beralasan, tentang Yoona Larasati yang sedang memendam sebuah dendam kepadanya.


"Kau ini! Kenapa berpikiran buruk sekali padaku? Aku sungguh tidak tahu. Lagi pula, mengapa aku melakukannya? Untuk apa? Tuan Satria Hermawan, tolong jangan fitnah aku!" terus saja Yoona Larasati menyanggah kata-kata Satria Hermawan.


"Benar itu! Aku yakin, Nona Yoona Larasati mengatakan yang sebenarnya. Kita semua tahu, Tuan Satria Hermawan selalu saja mencari gara-gara. Nona Yoona Larasati, sudah cukup sabar untuk menghadapi kegilaan Tuan Satria Hermawan ini," potong Haris Maulana. Aktor tersebut cukup kesal, dengan karakter Satria Hermawan yang terlalu pengecut itu.


"Kau! Beraninya kau! Argh! Nasibku sial sekali! Bagaimana mungkin, orang sepertiku ini pencuri?" dengus Satria Herlambang dengan kesal.


"Baiklah. Sudah jangan ribut lagi. Nanti dokter Anneth akan datang kesini. Masuklah ke kamarmu. Tuan Dion Leonardo dan Tuan Haris Maulana, saya meminta tolong. Bawa Tuan Satria Mahesa masuk ke dalam kamarnya," titah sutradara Samuel Jo.


Dion Leonardo dan Haris Maulana, pasrah. Kini keduanya memapah Satria Hermawan, menuju ke kamarnya. Meskipun dalam hati Haris Maulana dan Dion Leonardo, cukup dongkol dengan kelakuan Satria Hermawan.


"Nona Yoona Larasati?" panggil sutradara Samuel Jo.


"Maafkan aku, Tuan Samuel Jo. Aku benar-benar tidak tahu. Aku baru saja mau ke dapur. Aku lupa tidak menyiapkan air minum. Lalu karena aku ketakutan, aku langsung saja memukulnya tanpa ampun. Jika itu hantu, aku tidak akan takut. Tapi kalau pencuri, bagaimana? Takutnya, barang-barang teman-teman yang lain juga ikut amblas," sahut Yoona Larasati. Ia menatap sutradara Samuel Jo, dengan tatapan mengiba. Tentu saja membuat sutradara Samuel Jo, tidak tega.


"Baiklah. Tidak usah dibahas. Tidurlah, Nona Yoona Larasati. Anda tenang saja, disini tidak akan ada pencuri. Aku jamin di tempat ini, akan aman. Istirahatlah. Besok kita memiliki agenda yang padat," tutur sutradara Samuel Jo. Pria itu menepuk bahu Yoona Larasati dengan lembut. Memberikan semangat ada gadis itu.


"Huh. Untunglah. Mereka tidak sadar, akan kebohonganku," gumam Yoona Larasati.


Satria Hermawan, pria yang merasa tidak terima. Merencanakan sesuatu. Pria itu mencari ide, untuk segera membalaskan dendamnya pada Yoona Larasati.


"Sialan! Wanita sinting itu! Mencoba bermain api, secara terang-terangan? Oh, patut kita coba!" pada akhirnya Satria Hermawan, menemukan sebuah rencana yang licik. Ia segera mengambil ponselnya.


To: Yoona Larasati


Aku harap, besok kau akan meminta maaf padaku. Saat kita semua, sedang siaran live. Aku tidak mau tahu. Lau harus meminta maaf, secara terbuka padaku. Jika tidak. Aku akan menyebarkan, chat antara kau dan aku. Kau tahu kan, isi pesanmu? Kalau lupa, aku ingatkan ya. Chat itu berisi tentang kata-kata menjijikkanmu. Dimana kau selalu mengejarku. Selalu mengatakan, jika aku ini adalah orang yang paling kau cinta. Bagaimana? Balaslah, chat ini!


Send.