Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 19. Pengecut



"Baiklah, sekarang bahan makanan telah datang. Siapa yang akan memasak?" tanya Haris Maulana.


"Aku bisa memasak. Biar aku saja," jawab Yoona Larasati. Gadis yang masih menenteng barang belanjaan, itu mulai beringsut. Akan tetapi, langkah kakinya terhenti, saat ia mendengar seseorang berbicara menyakitkan.


"Nona Yoona Larasati, masakanmu sangat tidak enak. Aku rasa, tidak akan cocok dengan lidah semua orang yang ada di sini," ejek Satria Hermawan. Seperti sebuah kode. Jika Yoona Larasati, pernah memasak untuknya.


"Kalau masakanku tidak enak, maka aku akan mentraktir kalian semua. Aku rasa uangku di ATM masih banyak, untuk sekadar mentraktir makan. Masih bisa. Bahkan untuk menampung hidup seseorang, juga masih sanggup. Maka dari itu, Tuan Satria Hermawan jangan risau. Bukankah begitu, Tuan Satria Hermawan?" balas Yoona Larasati.


"Baiklah. Jika kau nekat untuk tetap memasak, aku tidak akan sudi memakan masakanmu!" kesal Satria Hermawan dengan bersungut-sungut. Pria itu bangkit dan berlalu dengan emosi yang membuncah. Baru kali ini, Yoona Larasati membantahnya secara terang-terangan.


"Ya sudah. Kalau lapar, jangan menyesal!" teriak Nana Maharani.


"Nona Yoona Larasati, tenang saja. Aku akan membantumu memasak," celetuk Kiran Anggraini.


"Boleh, aku juga akan membantumu dalam memasak! Aku ini berguna!" sorak Nana Maharani.


"Terima kasih, semuanya. Ayo, kita ke dapur," ajak Yoona Larasati. Ketiga gadis itu berlalu menuju dapur.


"Oh hei! Tunggu aku! Aku ini juga berguna tahu!" teriak Dion Leonardo. Pria itu berjalan mengekor di belakang ketiga gadis itu.


Membantu? Ah, tidak. Ketiga orang itu, sungguh membuat dapur berantakan. Bahkan, mereka hampir meledakkan dapur karena ulah dari Nana Maharani. Untuk itulah, asap di kepala Yoona Larasati seakan membumbung tinggi.


Selang satu jam, entah mengapa keributan terjadi di dapur. Dengan suara bentakan dari Yoona Larasati, Dion Leonardo, Nana Maharani, dan Kiran Anggraini didorong keluar.


"Kalian bermain kartu saja! Jangan membuatku menangis. Dapur menjadi berantakan sekali! Seperti kapal pecah! Astaga, ini namanya bukan membantu. Akan tetapi, kalian mengacaukan dapur! Sudah, jangan merepotkan aku. Bermainlah kartu, dengan tenang." Yoona Larasati menutup pintu dapur dengan sangat keras. Membuat ketiga orang itu, nyengir kuda.


Pukul 8 malam, makan malam telah siap. Makan malam yang dibuat oleh Yoona Larasati, begitu harum dan beragam. Ada rendang daging, ayam geprek, ikan bakar, tumis kangkung, sup daging, dan ayam panggang. Semua bintang tamu wanita dan pria cukup terperangah. Kecuali Satria Hermawan. Pria itu mencebikkan bibirnya.


"Hanya makanan kampung? Kau tidak mengerti selera makanan, Nona Yoona Larasati!" bentakan dari Satria Hermawan ini, kembali menyulut mulut pedas para netizen. Bahkan Satria Hermawan, benar-benar tidak mencicipi makanan yang dimasak oleh Yoona Larasati.


"Dia itu sombong sekali. Padahal, apa yang dimasak oleh Nona Yoona Larasati terlihat enak dan menggiurkan."


"Yang dia masak adalah makanan khas Indonesia. Sangat jarang sekali, bisa ditemukan di restaurant ternama sekalipun."


"Satria Hermawan hanyalah sampah. Sudahlah. Ternyata sikap mereka sama saja ya. Benar-benar busuk. Tidak pantas, sama sekali mendapatkan Nona Yoona Larasati yang sempurna sekali."


"Benar. Nona Yoona Larasati, sangat sempurna. Sedangkan Satria Hermawan adalah sampah yang tidak berguna."


"Dulu, aku tidak menyukai Nona Yoona Larasati. Sekarang aku begitu mencintainya! Astaga! Dia cantik sekali. Belum lagi, dia sangat pandai memanjakan perut. Benar-benar contoh istri yang budiman."


"Baiklah! Sekarang sebuah acara yang akan mengakhiri, hari yang indah ini. Mari kita laksanakan misi terakhir. Semua bintang tamu pria tetap duduk di tempatnya. Sedangkan para bintang tamu wanita, silahkan memasuki kamar. Di kamar itu nantinya, kalian akan mendapatkan sebuah misi rahasia. Silahkan, para Nona-Nona!" sutradara Samuel Jo hanya nyengir kuda. Setelah ia mendapati ekspresi para bintang tamu pria dan wanita, secara bergantian.


Di dalam kamar itu, para bintang tamu wanita mengambil kertas yang telah diundi. Airi Cyntia tersenyum dengan sombongnya. Lalu ia segera merekam suara, sesuai dengan misi yang telah ia ambil.


"Dasar. Aku duluan ya. Bagiku, ini mudah sekali," kata Airi Cyntia dengan congkak. Gadis itu lalu keluar dari kamar.


Yoona Larasati dan Nana Maharani, menyadari ada sesuatu yang salah dengan Kiran Anggraini. Gadis itu justru berdiri dengan sempoyongan. Kiran Anggraini, menatap syok pada kertas yang bertuliskan misinya.


Nana Maharani dan Yoona Larasati mendekati gadis itu. Yoona Larasati merampas kertas misi itu. Dahi gadis itu berkerut.


"Kenapa kau takut sekali, Nona Kiran Anggraini?" tanya Yoona Larasati.


"Aku bukan takut pada misi itu. Aku hanya takut pada Tuan Lee Anggara Davidson! Bukankah, dia bukan pria yang sembarangan? Sedangkan aku harus mengagetkannya, dengan suara hantu! Aku takut sekali, Nona Yoona Larasati," ungkap Kiran Anggraini.


"Begitu ya. Kalau begitu, tukar saja denganku. Ini, dan ini untukku saja. Lihat, misi yang aku ambil. Hanya suara kucing saja. Kau bisa?" tanya Yoona Larasati.


Kiran Anggraini segera menghapus air matanya. "Benarkah boleh begini? Aku takut sekali, Nona Yoona Larasati. Tapi kalau hanya suara kucing, aku masih bisa. Apakah ini tidak apa-apa, Nona Yoona Larasati?" tanya Kiran Anggraini dengan perasaan takut-takut.


"Tidak apa-apa. Tenanglah. Ayo, kita rekam suara kita. Biar Nona Airi Cyntia, tidak terlalu sombong. Rasanya sebal sekali." Yoona Larasati segera merekam suara yang tertulis di kertas misi tersebut.


Yoona Larasati tersenyum smirk. Satria Hermawan. Sekalinya pengecut, tetaplah pengecut. Lihat bagaimana aku berbuat sesuatu yang kau sukai, Satria Hermawan.


Ketiga gadis tersebut telah selesai merekam suara mereka. Kini mereka satu persatu memperdengarkan rekaman suara mereka. Hingga tibalah, Yoona Larasati.


"Ihihihihi." suara Yoona Larasati terdengar melengking tinggi. Seketika membuat Satria Hermawan terjengkang ke belakang. Pria itu kaget.


Mungkin rasa sakit, tidak seberapa. Tetapi rasa malunya itu, luar biasa. Terlebih, ini adalah variety show yang disiarkan secara live. Ledakan tawa, pecah dimana-mana.