Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 13. Sebuah Misi



Airi Cyntia bergidik ngeri di depan rumah hantu tersebut. Haris Maulana melirik dengan senyuman mengejek. Terlebih, hari ini penampilan Airi Cyntia memang terkesan heboh. Haris Maulana pun memutar kedua bola matanya.


Dasar. Dia ini mau apa sih? Pake acara ngatain Yoona Larasati segala. Padahal penampilan dia sendiri saja, seperti orang bodoh. Dia yang perlu diberi cermin. Haris Maulana melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Nona Airi Cyntia, ayo kita masuk. Ada apa denganmu?" tanya Haris Maulana. Berpura-pura tidak mengetahui, betapa bodohnya Airi Cyntia.


Airi Cyntia menatap ngeri, sekali lagi pada asrama berhantu tersebut. Cahaya yang remang-remang, banyaknya ruangan dan juga hawa dingin yang menyeruak masuk ke tulang.


Wanita licik itu meneguk saliva. Bagaimana jika nanti ada yang menyeret tubuhnya? Atau, seseorang yang menikam tubuhnya dari belakang? Pikiran Airi Cyntia semakin kacau.


"Tuan Haris Maulana, bi-bisakah Anda nanti melindungi saya?" Airi Cyntia berbalik bertanya kepada Haris Maulana. Airi Cyntia bahkan mendekap tubuhnya sendiri. Ia merinding seketika.


"Okay, Nona Airi Cyntia. Ayo, kita masuk. Jangan membuang waktu. Nanti kelompok yang lain, malah mendahului kita," ajak Haris Maulana.


Siapa yang sudi, melindungi ondel-ondel begini? Ah, memang Yoona Larasati ini. Dibandingkan dengan Airi Cyntia, Yoona Larasati malah lebih segar untuk dipandang. Haris Maulana melirik remeh kepada Airi Cyntia, yang masih berdiri ketakutan.


Tiba-tiba saja, Lee Anggara Davidson berjalan terlebih dahulu. Pria tampan itu, memasuki rumah hantu dengan santai. Diikuti dengan Kiran Anggraini, yang sedikit menjaga jarak dengan Lee Anggara Davidson.


Aku lebih takut dengan Tuan Lee Anggara Davidson, daripada rumah hantu. Argh! Tatapan matanya, benar-benar mengerikan. Terlebih, ketika dia sedang marah. Kiran Anggraini mengekor di belakang dengan perasaan takut-takut.


"Baiklah. Sekarang, lebih baik kita memilih kelompok selanjutnya. Ayo, kalian ambil undian di dalam kotak!" Sutradara Jo Samuel, memberikan pengarahan.


Selanjutnya, tiga kelompok yang tersisa melakukan pengundian nomor. Kelompok kedua adalah Airi Cyntia yang licik, bersama Haris Maulana.


"Aduh. Kenapa kita yang kedua? Argh! Menakutkan sekali di dalam sana. Bagaimana ini Tuan Haris Maulana?" tanya Airi Cyntia dengan nada yang serak.


Selanjutnya, kelompok ketiga Yoona Larasati dan Satria Hermawan. Terakhir, Nana Maharani dan Dion Leonardo. Setelah melakukan pengundian tersebut, kini waktunya kelompok kedua yang harus memasuki rumah hantu. Akan tetapi, Airi Cyntia mau tak mau harus masuk ke rumah hantu.


"Haris Maulana, tugas kita ngapain? Kita harus lebih cepat, agar bisa dengan cepat keluar dari sini!" keluh Airi Cyntia. Ia memegang ujung baju, milik Haris Maulana dengan tangan gemetar.


"Kita harus mengumpulkan kode-kode, untuk membuka gembok yang terkunci," jawab Haris Maulana dengan malas.


"Ba-bagaimana caranya?" tanya Airi Cyntia dengan tak sabar. "Argh! Apa itu?"


Dia ini! Hanya besar omong kosong saja! Menyebalkan! Gerutu Haris Maulana dalam hati.


"Wah hebat! Tuan Lee Anggara Davidson dan Nona Kiran Anggraini, berhasil keluar! Luar biasa! Mereka telah lebih dulu memecahkan kode-kode yang sangat susah, untuk dikumpulkan! Kalau begitu, mari kita lihat. Kelompok mana, yang bisa keluar lebih dahulu!" terdengar suara Sutradara Jo Samuel mengumumkan. Lee Anggara Davidson dan Kiran Anggraini, berhasil keluar dari rumah hantu tersebut.


"Ck! Kalau begitu, kau harus cepat memecahkan kode itu! Biar kita, menjadi kelompok kedua yang telah berhasil keluar dari tempat ini!" Airi Cyntia merengek. Haris Maulana memilih bungkam, daripada harus menjawab ocehan dari Airi Cyntia. Padahal wanita itu saja, justru ketakutan dan tidak melakukan bantuan apapun. 


"Argh!" Airi Cytnia memekik. Tatkala menemukan sebuah tangan palsu, yang tiba-tiba jatuh di depannya. Airi Cyntia justru berjongkok, seraya memegang kedua telinganya. 


Airi Cyntia memejamkan kedua matanya. Mencoba menghalau pemandangan apalagi yang menakutkan itu. Ia benar-benar ketakutan. Wanita licik itu, bahkan jantungnya berdebar tak karuan. Seumur hidupnya ia baru pertama kali ini mengikuti variety show, yang sangat menakutkan ini.


Belum cukup sampai di sana, Airi Cyntia kembali dikejutkan oleh sosok yang menyerupai genderuwo. Sekali lagi, Airi Cyntia menjerit histeris. Tubuhnya bergetar hebat. Ingin sekali melarikan diri.


Dia ini benar-benar menyusahkan! Haris Maulana mendengus. Pria itu cukup sulit, mempertahankan emosinya. Malah kini, ia dihadapkan untuk diuji dengan sikap Airi Cyntia yang menyebalkan.


Haris Maulana ingin bergerak. Akan tetapi, Airi Cyntia benar-benar keterlaluan. Wanita licik itu, memegang ujung baju Haris Maulana dengan sangat erat. Menyulitkan Haris Maulana untuk bergerak bebas.


"Nona Airi Cyntia, kau tidak bisa begini. Aku harus menemukan kode-kode yang terpisah itu. Biar secepatnya, kita keluar dari sini!" keluh Haris Maulana.


"Ta-tapi aku takut!" rengek Airi Cyntia.


"Baiklah! Kelompok ketiga, silahkan masuk ke dalam asrama berhantu! Kelompok Nona Yoona Larasati dan Tuan Satria Hermawan, silahkan Anda berdua memasuki asrama berhantu." Lagi, sutradara Jo Samuel meminta Yoona Larasati dan Satria Hermawan untuk masuk ke dalam asrama berhantu.


Ketika baru berjalan beberapa langkah, Yoona Larasati dan Satria Hermawan melihat Airi Cyntia yang begitu histeris. Melihat orang yang dicintainya histeris, Satria Hermawan bergegas mendekati Airi Cyntia.


"Ada apa? Kenapa kalian tidak jalan? Tuan Lee Anggara Davidson, bahkan sudah keluar dari asrama berhantu ini. Kenapa kalian malah, baru saja sampai di titik ini?" tanya Satria Hermawan khawatir. Ia mendekati Airi Cyntia, tanpa memperdulikan Yoona Larasati yang mencari kode-kode.


"Tuan Satria Hermawan, apa Anda tidak melihat jika Nona Airi Cyntia ini ketakutan? Ngomong-ngomong, mengapa Anda tidak bersama Nona Yoona Larasati saja? Lihatlah Nona Yoona Larasati, dia sedang mencari kode-kode itu. Kenapa malah Anda mengkhawatirkan, orang yang bukan dari kelompok Anda sendiri?" ledek Haris Maulana. 


Apa pria ini buta? Yoona Larasati itu adalah yang terbaik! Mengapa dia harus mengkhawatirkan, Nona Airi Cyntia? Dasar Satria Hermawan bodoh! Jika aku berada di posisinya, aku sudah jelas akan memilih Yoona Larasati. Ah, brengsek! Haris Maulana membatin dalam hati. Cukup kesal dengan ekspresi khawatir yang ada di wajah Satria Hermawan untuk Airi Cyntia.


"Argh! Apa itu? Pergi! Pergi!" Airi Cyntia berteriak histeris. Airi Cyntia semakin mendekap tubuhnya sendiri.


Haris Maulana melirik ke arah Yoona Larasati yang masih tenang. "Anda tidak takut, Nona Yoona Larasati?" tanya Haris Maulana penasaran.


Yoona Larasati mendongakkan kepalanya. Lalu meninju hantu yang mencoba menakutinya, hingga hantu tersebut pingsan seketika. Satria Hermawan, Haris Maulana, dan Airi Cyntia melotot tak percaya dengan tingkah dari Yoona Larasati. Terlebih Airi Cyntia. Ia kaget setengah mati, saat mendapati orang tersebut telah pingsan.


Sialan! Lagi-lagi Yoona Larasati!