
"Ha-ha-ha. Astaga, Yoona Larasati memang yang terbaik. Dia benar-benar hebat sekali. Sudah cantik, pemberani, tenang, dan tidak menyusahkan."
"Benar. Airi Cyntia, lihatlah. Dia malah berjongkok seperti itu. Tapi Nona Yoona Larasati, bisa-bisanya dia meninju setan! Ha-ha-ha. Nona Yoona memang hebat kan?"
"Tapi Tuan Lee ini, hebat. Dia bisa memecahkan kode-kode, dengan cepat. Aku rasa, tuan Lee ini patutnya dipasangkan dengan Nona Yoona. Benar kan?"
"Iya benar. Nona Yoona dengan karakteristik yang dingin dan tenang, tetapi ia begitu ceria. Sedangkan Tuan Lee itu, dingin sekali. Patut disandingkan dengan orang yang bisa mencairkan suasana."
"Lebih-lebih, mereka adalah aktor dan aktris yang hebat. Pasti akan menjadi pasangan yang hebat."
"Aku setuju. Aktris dan aktor, yang nggak cari muka. Cuma nemu Tuan Lee dan Nona Yoona ini."
Keempat orang itu terlihat berjalan bersama. Meskipun Airi sesekali merengek dan memaki, seenak jidatnya. Akan tetapi Haris dan Yoona memilih bungkam. Melihat dua orang bodoh yang sok sekali. Terkadang, bahkan Yoona memutar kedua bola matanya kesal. Tentu saja membuat Haris terbahak tertahan, melihat hal itu.
Nona Yoona ini, benar-benar lucu. Ekspresi di wajahnya, selalu terlihat jujur. Kehadiran Nona Yoona ini, sedikit melegakan beban di hatiku. Setidaknya, Nona Yoona tidak pernah besar mulut. Dia lebih baik dari Nona Airi, dari segi manapun. Haris membatin kagum.
Tiba-tiba kabut tebal melanda keempat orang tersebut. Yoona pun memicingkan kedua matanya, agar bisa sedikit melihat ke depan. Akan tetapi, seseorang dari belakang justru mendorong ke depan.
"Arghhh! Hantu!" diiringi pekikan dari Satria. Mendengar suara Satria, Yoona yakin. Jika yang mendorongnya, adalah Satria.
"Argh! Tuan Satria, ayo kita pergi dari sini. Aku takut! Dari tadi Tuan Haris tidak melakukan apapun! Tolong, aku. Aku takut sekali. Argh!" begitu pula dengan Airi yang memekik heboh. Wanita licik itu, bahkan memejamkan kedua matanya.
"Nona Airi, ayo ikut denganku!" tukas Satria. Pria itu langsung menarik tangan Airi, sembari lari tunggang langgang.
Haris Maulana mengerutkan dahinya. "What?" begitu bingung dengan sikap Satria, yang justru lebih peduli dengan Airi. Ketimbang Yoona yang notabenenya, adalah kekasihnya. "Tuan Satria ini, bagaimana bisa? Sebagai seorang kekasih, harusnya dia menarik Nona Yoona Larasati. Bukan Nona Airi yang kampret itu! Astaga, Nona Yoona. Kau melihat kekasihmu lari dengan Nona Airi, tidak? Sepertinya, dia tidak tulus mencintaimu, Nona Yoona. Benar-benar Tuan Satria adalah seorang pengecut!"
"Tuan Haris, aku rasa mereka benar-benar cocok bukan? Sama-sama pengecut." Yoona terlihat santai dan biasa. Membuat Haris memicingkan kedua matanya. "Ada apa, Tuan Haris? Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Yoona. Saat gadis itu mendapati Tuan Haris menatapnya lekat.
"Bukankah, Tuan Satria ini kekasihmu? Kenapa kau begitu santai, Nona Yoona?" tanya Haris Maulana penasaran.
"Hanya sebuah status omong kosong. Tidak perlu dipikirkan. Ayo, kita ikuti mereka dari belakang." Yoona melangkahkan kakinya lebih dulu. Membuat Haris, mau tak mau mengikutinya dari belakang dengan penasaran.
Status omong kosong? Apakah tuan Satria ini memaksa Nona Yoona, untuk menjadi sepasang kekasih? Jika benar begitu, tuan Satria ini benar-benar bajingan! Haris membatin kesal. Saat ia mengingat tentang, betapa brengseknya sosok Satria.
"Nona Yoona, padahal jelas-jelas Tuan Satria telah membohongi kamu. Begitu pula, dengan Tuan Satria yang saat ini justru mengabaikan kamu? Nona Yoona, kau benar-benar luar biasa. Kau ikhlas sekali, melihat kekasihmu bersama wanita ulet bulu itu. Padahal jelas-jelas, Nona Yoona lebih baik dari Nona Airi yang licik itu." kata-kata dari Haris, membuat Yoona tersenyum.
"Begitulah. Dulu aku ini. Begitu buta, karena pernah mencintainya. Sekarang saja, dia bahkan berani mengabaikan aku. Lebih lagi, bersama wanita lain. Sudahlah. Biar dia puas-puaskan dulu," kekeh Yoona.
Yoona Larasati mengulum senyuman. "Di dunia ini, ada sistem hukum tabur tuai. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita panen. Biar saja, Satria berlagak seenaknya. Suatu hari nanti, toh akan berbalik padanya sendiri."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memilih dipasangkan dengan pria busuk itu? Kau kan bisa saja memilihku?" tanya Haris. Pertanyaan itu, telah sedari kemarin ingin ia tanyakan.
"Ya. Aku bisa memilih siapa saja. Tapi, yang aku takutkan Satria akan mendapatkan pasangan yang lain. Siapa yang tahu, akan merugikan pasangannya. Ah sudah. Ayo, kita kumpulkan kode atau jalan keluar dari sini," kata Yoona. Memilih mengakhiri pembicaraan.
"Ya ampun, kenapa tidak ada jalan keluar?" keluh Satria dengan perasaan yang takut-takut.
"Apa? Yang benar saja? Tuan Satria, carilah yang benar!" teriak Airi panik.
Wanita licik itu, bisanya hanya memerintah saja. Apa dia tidak berkaca? Dia bahkan tidak pernah tenang sedikitpun. Menyebalkan, hanya membuat beban saja. Haris membatin kesal.
Lalu pandangan Haris, ia tujukan pada sosok Yoona. Terlihat gadis itu, justru sedang mencari sesuatu. Seperti tidak ada ketakutan sama sekali pada dirinya. Haris berjalan mendekati Yoona.
"Kau mencari apa, Nona Yoona?" tanya Haris.
"Kita harus menemukan bos dari para hantu ini. Sepertinya, baru bisa keluar dari sini. Sepertinya kunci dari gembok di sana, ada pada satu orang hantu. Dimana itu adalah bosnya," ungkap Yoona.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Haris.
"Karena aku hanya mendapatkan kode potongan-potongan saja, ada hantu yang terkesan biasa. Kupikir, kunci utama dari ini semua adalah bos para hantu itu. Tapi, kurasa akan menunggu waktu yang lebih lama lagi," pungkas Yoona.
Haris menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Pria itu cukup kagum, dengan pemikiran Yoona yang tenang. Akan tetapi memiliki ketajaman. Tiba-tiba kedua mata Haris memicing. Menangkap sosok Yoona yang justru mendekati pintu yang digembok. Mata Haris membulat seketika. Mendapati sosok besar yang menyeramkan berada di samping Yoona.
"Astaga!" seru Satria kaget. Bahkan pria itu terjengkang ke lantai yang kotor.
"Argh! Memedi! Argh! Tuan Satria, tolong!" Airi memekik dengan lantang. Airi menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh besar Satria.
Dua orang ini, benar-benar serasi sekali. Ha, besar omong kosong saja. Menjijikkan. Dengus Haris.
Tiba-tiba terdengar suara benda yang bergesekan, dengan keras. Haris menoleh ke arah Yoona. Mata Haris membulat, mendapati Yoona merusak gembok.
"Loh, Nona. Kenapa Anda malah merusak gemboknya? Anda harusnya, mengumpulkan kode-kodenya terlebih dahulu. Kalau begini terus, Anda harus mengganti rugi," kata staff yang berdandan menjadi hantu tersebut.
"Tapi, bos yang menyuruhku untuk memeriksa kualitas gembok ini. Aku ini hanya membantu, bagaimana bisa aku harus mengganti rugi? Ini saja aku hanya membantunya, untuk memeriksa. Aku akan mengatakan, jika kau yang menghalangiku. Biar nanti, honormu dipotong oleh bos!" gertak Yoona.