
"Sangat menjijikkan pria ini. Sepertinya aku harus berbuat sesuatu. Memberikan sedikit hukuman kepada pria brengsek, bukankah tidak masalah? Aku hanya perlu ponselnya mati." Yoona Larasati membatin.
Tak lama kemudian, sebuah ide melintas di otak Yoona Larasati. Wanita itu bergerak. Kamera masih merekam Satria Hermawan yang tidur dengan begitu jeleknya. Membuat para netizen cukup membuka mata, bagaimana buruknya Satria Hermawan.
Selang lima menit kemudian, Yoona Larasati menekan tombol alarm. Menyentak Satria Hermawan untuk segera bangun. Bukan hanya suara alarm yang cukup mengagetkan. Satria Hermawan sudah dalam keadaan basah kuyup karena tersiram air dingin sebanyak satu ember.
"Ha ha ha! Sial sekali Tuan Satria Hermawan. Mandilah sana, biar tidak menjadi muka bantal!"
"Bukankah ini cukup menghibur?"
"Ha ha ha. Lihat ekspresi wajah Tuan Satria Hermawan. Kurasa dia sedang bermimpi berhujan ria."
"Ha ha ha. Perutku sakit."
Begitulah netizen menilai. Tentu saja Satria Hermawan menatap nyalang pada Yoona Larasati. Dada pria itu terlihat naik turun menunjukkan betapa Satria Hermawan tengah menahan emosinya.
"Nona Yoona Larasati! Apa yang kau lakukan?" gertak Satria Hermawan.
"Maafkan aku, Tuan Satria Hermawan. Tetapi semua orang yang mengikuti variety show ini, semua mendapatkan jatah alarm untuk membangunkan Anda-Anda sekalian. Jika Anda ingin protes, silahkan protes kepada sutradara kita." Yoona Larasati tersenyum sinis.
"Kau…" Satria Hermawan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
"Selamat pagi, Tuan Satria Hermawan. Semoga pagimu menyenangkan. Saya pamit undur diri. Karena saya memiliki tugas yang lainnya. Bukan hanya Anda yang harus saya bangunkan. Jadi, saya harap kebesaran hati Anda untuk memaklumi kejadian pagi hari ini." Lagi, Yoona Larasati tersenyum menyeringai. Wanita itu berbalik hendak pergi.
"Sialan! Wanita ini sedang mengejekku! Dasar jal*ng! Aku tidak akan melepaskanmu! Jangan harap, kau bisa berlaku seenaknya setelah apa yang kau lakukan padaku! Ponselku mati? Argh!" rutuk Satria Hermawan dalam hati.
"Nona Yoona Larasati! Tunggu! Nona Yoona Larasati!" teriak Satria Hermawan. Pria itu berlari keluar kamarnya.
Yoona Larasati menoleh. Dengan cepat melemparkan kacang ke kaki Satria Hermawan. Membuat Satria jatuh terjungkal di lantai dengan begitu kerasnya. Satria Hermawan bahkan berlutut dan disaksikan oleh semua netizen.
"Ha ha ha! Betapa sialnya Tuan Satria Hermawan ini. Lihatlah, dia bahkan terjatuh di lantai."
"Benar sekali. Sungguh sial. Pagi-pagi sudah tersiram air dingin satu ember. Eh sekarang, malah jatuh ke lantai. Sudah sakit, memalukan diri sendiri lagi."
"Nona Yoona Larasati! Kau pasti sangat ingin mempermalukan aku bukan?" ketus Satria Hermawan.
"Mempermalukan Anda? Bagaimana mungkin? Saya hanya diberikan tugas oleh tuan sutradara. Jika Anda tidak terima, silahkan Anda mengadu ke tuan sutradara sendiri," sahut Yoona Larasati.
Yoona Larasati tersenyum menyeringai. Seolah menantang Satria Hermawan yang tengah menatapnya tajam. Sedangkan Satria Hermawan, hanya bisa mengerutkan dahinya. Sikap Yoona Larasati jauh berbeda dengan sebelumnya.
"Mengapa Yoona Larasati tak takut denganku? Dia bahkan seperti sedang menantangku!" Satria Hermawan membatin. Sorot mata Satria Hermawan begitu menyiratkan kemarahan.
"Tuan Satria Hermawan, kenapa Anda marah padaku? Apakah Anda masih tidak terima, karena aku memergoki Anda saat Anda mencuri makanan di dapur tadi malam?" sindir Yoona Larasati.
"Apa? Bahkan Tuan Satria Hermawan ini mencuri makanan di dapur?"
"Bukankah kalian semua dengar kemarin? Jika Tuan Satria tidak sudi makan dari apa yang dimasak oleh Nona Yoona Larasati?"
"Hei, Tuan Satria Hermawan kan juga manusia. Tentu saja dia tetap akan kelaparan, jika tidak makan! Ha ha ha!"
"Bukankah itu namanya menjilat ludah sendiri?"
"Ha ha ha! Benar sekali!"
"Nona Yoona Larasati! Jangan lancang!" jerit Satria Hermawan.
"Lancang? Dari mana lancang? Bukankah Tuan Satria Hermawan sendiri yang telah lancang, ke dapur? Lalu mencuri makanan? Dari mana saya lancang, Tuan?" desak Yoona Larasati.
"Huh! Sombong sekali kau, Yoona Larasati! Hanya karena aku tak menyukaimu dan tak membalas perasaanmu, kau membalas dendam padaku? Ini sungguh tidak etis, Nona Yoona Larasati!" Satria Hermawan berdiri dengan pongah. Pria itu bahkan membusungkan dadanya.
"Apa?"
"Bagaimana mungkin?"
"Apa ini benar hanya balas dendam?"
----
...Para pembacaku, silahkan berkomentar ya. Bagi 3 pembaca terpilih, akan saya bagi novel Elegi Buana. Buat pemenang, hanya dikenakan biaya ongkir sampai rumahnya ya. Bukan cuma dapat buku Elegi Buana, tetapi dapat novel Kapten Rojali, I love You! Silahkan ikutan ya. Caranya mudah, hanya selalu komentar di setiap author update! Terima kasih!...