
Nando Wijaya terlihat kesal, saat ia keluar dari dalam ruangan pimpinan. Ia merupakan manager dari Satria Hermawan. Hal yang begitu mengesalkan, ia ditegur karena Satria Hermawan yang pengecut. Pria berotak udang itu, telah mendorong dua kali Airi Cyntia.
"Pria pengecut itu, bisa-bisanya dia berlaku seenaknya! Bisa-bisa aku kehilangan pekerjaanku," sesal Nando Wijaya. Ia segera menyambar ponselnya, dan menghubungi Satria Hermawan.
Sesekali Nando Wijaya mengumpat dan memaki. Gara-gara kekonyolan Satria Hermawan, ia hampir saja kehilangan pekerjaannya. Yang ada, dia bisa dibuang oleh istrinya. Padahal sudah jelas, jika itu bukan kesalahannya.
"Halo, Tuan Nando." suara di seberang telah terdengar.
"Dasar bajingan! Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak tahu, jika itu adalah variety show secara live?" bentak Nando Wijaya.
"Aku tahu. Maafkan aku, aku hanya,-"
"Hanya apa? Gara-gara kau, aku hampir dipecat! Kau itu pria yang pengecut! Bagaimana bisa, kau mendorong Nona Airi Cyntia? Apa kau lupa, siapa Nona Airi Cyntia? Dia itu anak emas, di perusahaan! Kau membuat dirimu, menjadi pencarian teratas di internet!" sekali lagi, Nando Wijaya membentak.
"Astaga! Maafkan aku. Aku berjanji, akan menjaga sikap," ucap Satria Hermawan. Kepalanya seolah mendadak pusing.
"Baiklah! Ingat, semua perkataanku. Jika tidak, aku akan menyeretmu keluar dari perusahaan ini!" ketus Nando Wijaya. Pria itu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Malam hari, mereka harus membeli bahan makanan mereka sendiri. Yoona Larasati dan Nana Maharani beranjak pergi. Keduanya sangat senang sekali, karena bisa keluar untuk mencuci mata.
"Suasana malam ini terasa sejuk ya, Nona Nana Maharani?" Yoona Larasati membuka suaranya. Saat ini, keduanya sedang berjalan santai beriringan. Sesekali Yoona Larasati memejamkan kedua matanya. Menikmati hembusan angin yang merasai kulit.
"Benar. Padahal tadi pagi hingga siang, kita berdua berada dalam suasana yang tegang. Sekarang begitu menyejukkan. Ngomong-ngomong, kita akan memasak apa?" tanya Nana Maharani. "Em, aku ini sedikit ceroboh. Mungkin, tidak bisa memasak juga."
Yoona Larasati tersenyum tipis. Gadis itu lalu berkata, "aku yang akan memasak. Aku ingin makan rendang daging, ayam geprek, ikan bakar, tumis kangkung, sup daging, dan ayam panggang. Aku rasa, menu khas Indonesia itu akan laris dicicipi orang-orang. Sebenarnya, aku tidak bisa masak menu yang modern. Hanya beberapa saja."
"Wah, hebat sekali. Kurasa, itu saja sudah hebat. Aku tidak mempunyai keahlian itu. Berbeda denganmu. Padahal aku pikir, kau juga tidak bisa memasak. Ternyata aku telah salah," ucap Nana Maharani sembari terkekeh pelan.
"Malam ini, adalah malam yang indah. Ayo kita berbelanja banyak!" Yoona Larasati berseru. Terlihat sekali ia benar-benar bersemangat.
"Aku mau beli cemilan juga! Astaga, benar juga! Minuman soda!" jerit Nana Maharani dengan bahagia.
Kedua gadis itu saling bercerita banyak. Sesekali diselingi dengan gelak tawa, yang lepas. Keduanya menjadi sangat akrab, dengan waktu yang singkat. Yoona Larasati begitu bahagia. Kehadirannya, ternyata disambut baik oleh sosok Nana Maharani.
Sementara itu, Airi Cyntia dan Nona Kiran Anggraini berada di rumah yang disewa tim produksi. Airi memperhatikan gerak-gerik dari Kiran Anggraini. Mencari kesempatan untuk bisa berbincang-bincang dengannya.
"Aduh. Aku kalah terus. Kalian saja yang bermain!" ucap Kiran Anggraini, seraya melemparkan kartu-kartu kepada Dion Leonardo dan Haris Maulana.
"Wah. Mentang-mentang kalah, kau ngambek ya, Nona Kiran Anggraini?" ledek Dion Leonardo.
"Eh, aku dari awal sudah bilang ya! Aku tidak bisa bermain kartu. Kalian ini, memaksaku! Kalian saja yang bermain. Seharusnya tadi, aku ikut Nona Yoona Larasati dan Nona Nana Maharani saja," gerutu Kiran Anggraini.
"Hei, kami ini kekurangan orang. Ayo, kita main lagi," bujuk Haris Maulana.
Gadis itu bangkit. Diiringi tatapan kecewa dari Haris Maulana dan Dion Leonardo. Semenjak dari rumah hantu tersebut, mereka berlima menjadi sedikit lebih akrab.
"Ini kesempatanku!" lirih Airi Cyntia. Ia bangkit, mengikuti Kiran Anggraini ke toilet.
"Nona Kiran Anggraini!" panggil Airi Cyntia.
Kiran Anggraini menoleh. Dahinya mengerut seketika. Pasalnya, ia dan Airi Cyntia tidak pernah dekat sama sekali.
"Ada apa, Nona Airi Cyntia. Saya rasa, kita tidak pernah dekat," ketus Kiran Anggraini.
"Ya ampun, Nona Kiran Anggraini. Kenapa kau ini kaku sekali?" kekeh garing Airi Cyntia. "Begini apa kau tidak tahu jika Yoona Larasati itu, memakai jalan pintas?" kata Airi Cyntia dengan nada yang setengah berbisik.
"Apa maksudmu?" tanya Kiran Anggraini. Alis gadis itu pun menukik dengan tajam.
"Aku lihat-lihat, kau dan Tuan Lee Anggara Davidson begitu dingin dan kaku. Padahal kalian ini adalah couple. Apa kau tidak ingat? Bahkan, Tuan Lee Davidson memuji Nona Yoona secara terang-terangan. Padahal, jelas-jelas Nona Kiran Anggraini adalah pasangan Tuan Lee Anggara Davidson. Aku rasa Nona Yoona Larasati itu, memiliki sesuatu yang membuat Tuan Lee Anggara Davidson menghindarimu." Airi Cyntia tersenyum smirk.
Aku yakin, dia akan percaya padaku. Jika dilihat dari ekspresi Kiran Anggraini, dia pasti akan kecewa pada Yoona Larasati. Rencanaku berhasil. Setidaknya setelah ini, aku memiliki teman untuk menyingkirkan Yoona Larasati. Semakin lama, dia semakin menjadi batu sandungan terbesarku. Airi Cyntia membatin penuh kemenangan.
"Sudah selesai bicara omong kosongnya?" pungkas Kiran Anggraini. Ekspresi wajahnya terkesan datar. Acuh.
Loh? Airi Cyntia mengernyitkan dahinya. Mengapa ekspresinya biasa?
"Aku tanya sekali lagi, sudah selesai bicaramu?" kali ini nada bicara Kiran Anggraini mulai ketus.
"I-iya sudah," sahut Airi Cyntia dengan sedikit tergagap.
"Aku rasa, aku tahu apa maksudmu. Kau membenci Nona Yoona Larasati, bukan? Karena selama ini tidak ada yang lebih baik darimu. Bukankah begitu? Lalu karena kau merasa tersaingi, kau mencoba menjatuhkan Nona Yoona Larasati bukan?" desak Kiran Anggraini.
"Hei, Nona Kiran Anggraini. Aku hanya bicara kebenarannya! Aku ingin membantumu. Apa aku salah? Kenapa kau malah memojokkanku, sekarang? Lihat perbedaan dari perlakuan Tuan Lee Anggara Davidson padamu, dan kepada Yoona Larasati sangat berbeda jauh! Aku ini sedang bicara kebenaran. Kenapa kau bisa malah mengajakku berdebat?" Airi Cyntia tidak ingin kalah. Sedikitpun dan dari siapapun.
"Sayangnya, Nona Airi Cyntia lupa satu hal. Bahkan ini adalah poin terpenting."
"Apa?" tantang Airi Cyntia.
"Bukankah kita sebelumnya tidak pernah dekat? Atas dasar apa, kau seolah-olah ingin memperingatkan aku? Sedangkan kau sendiri, selama bertahun-tahun tidak pernah menyapaku?" Kiran Anggraini berhenti sejenak. Mengamati wajah Airi Cyntia lamat-lamat menjadi pias.
Lanjut Kiran Anggraini, "Bukankah kau pernah bilang, jika aku ini hanya seorang yang tidak berguna? Seharusnya kau yang paling paham, betapa liciknya dirimu Nona Airi Cyntia! Kau iri, karena penampilan Nona Yoona Larasati jauh lebih baik dari penampilanmu bukan? Ah, sungguh luar biasa. Bahkan kini kau memfitnah Nona Yoona Larasati? Anda luar biasa, Nona yang terhormat! Berkacalah pada cermin. Siapa tahu, kau sadar jika kau ini sampah yang sebenarnya!" ejek Kiran Anggraini. Ia menubruk tubuh Airi Cyntia yang mematung di tempatnya. Rencananya telah gagal total.