Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 11. Sebuah Kelicikan



Drtt. Drtt. Drrt.


Ponsel milik Airi Cyntia yang terjungkal di lantai, kini bergetar. Wanita yang licik itu, melirik ponselnya. Nama tertera di panggilan tersebut adalah, Satria Hermawan. Membuat dahinya berkerut heran.


"Satria Hermawan, pengecut ini? Kenapa dia menelponku, di saat-saat seperti ini?"  Airi Cyntia menggumam pelan. Meski hati masih saja dongkol, ia meraih ponselnya dan menekan tombol hijau. "Halo!" ketus Airi Cyntia.


"Nona Airi Cyntia. Aku yakin kau pasti sangat kesal dengan penampilan dari Yoona Larasati tadi, bukan?" Satria Hermawan berusaha untuk menebak apa yang dipikirkan oleh Airi Cyntia.


Sedangkan Airi Cyntia sendiri, memijit pelipisnya. Kepalanya sangat berdenyut, saat ia mendengar nama Yoona Larasati. Dengan menggertakkan gigi, Airi Cyntia lalu menjawab, "kalau kau sudah tahu, mengapa masih bertanya lagi? Kau ingin aku semakin kesal, ha?"


Satria Hermawan brengsek! Apa dia ingin mengejekku? Dasar sialan, pria ini. Benar-benar membuatku emosi saja. Awas, kalau dia justru mau membuatku semakin marah. Airi Cyntia membatin penuh emosi.


"Oh. Tidak, tidak, tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin, menghibur Nona Airi Cyntia saja. Aku ini pria yang setia. Mana mungkin aku bisa terpesona pada Yoona Larasati, begitu saja. Dengar Nona Airi Cyntia, aku akan membantumu. Aku yakin si Yoona Larasati itu, pasti telah melakukan kecurangan. Tidak mungkin, dia bisa mengangkat sebuah pedang seenaknya begitu." kata-kata dari Satria Hermawan, membuat Airi Cyntia terdiam. Apa yang diucapkan oleh Satria Hermawan ini, seperti dugaannya.


"Lalu aku harus bagaimana?" ketus Airi Cyntia.


Dia ini aneh sekali. Bukankah dia kekasih Yoona Larasati? Dia kenapa malah ingin membantuku? Tapi ini justru kesempatan bagiku! Aku bisa mengorek apapun itu tentang Yoona Larasati, sialan. Airi Cyntia tersenyum penuh kemenangan.


"Tenang saja. Aku akan membantumu, untuk menguaknya. Tentu saja menemukan bukti yang kuat dan akurat, tentang penampilan dari Yoona Larasati itu. Aku yakin, jika itu semua hanyalah tipuan semata. Apa Nona Airi Cyntia bersedia, aku bantu?" tanya Satria Hermawan sedikit basa-basi. Ia ingin membuat Airi Cyntia mengerti, jika hanya dirinya saja yang peduli padanya.


Di seberang telepon, Satria Hermawan menanti dengan gelisah. Aku harus membuatnya percaya padaku. Jangan sampai, kesempatan emas ini terlewatkan begitu saja. Ya, Airi Cyntia harus bersimpati padaku. Airi Cyntia yang sempurna! Aku begitu mencintaimu dengan sangat dalam. Batin Satria Hermawan dengan senang.


"Baiklah, Tuan Satria Hermawan. Mohon bantuannya. Kupikir, Tuan Satria Hermawan ini telah berpindah hati secepat itu. Tapi, sepertinya aku telah salah beranggapan. Terima kasih, Tuan Satria Hermawan. Oh, ini sudah malam. Boleh Airi Cyntia, beristirahat?" pamit Airi Cyntia. Ia sudah cukup muak dengan drama menjijikkan itu.


"Baiklah, Nona Airi Cyntia. Selamat beristirahat. Selamat malam." Satria Hermawan pun mematikan panggilan teleponnya.


"Ah, dia benar-benar pria menjijikkan!" kesal Airi Cyntia. Ia segera melemparkan ponselnya, dan berlalu menuju kamar mandi.


Drrtttt drtt drtt.


Ponsel Lee Anggara Davidson bergetar. Pria itu segera menyambarnya, setelah keluar dari kamar mandi. Dahi pria itu mengerut. Managernya menelpon malam-malam begini? Pasti ada sesuatu yang penting.


"Halo, Tuan Ricky. Selamat malam, ada apa?" tanya Lee Anggara Davidson.


"Astaga, kau ini tidak ingin berbasa basi rupanya. Baiklah. Aku hanya ingin mengatakan, videomu saat kau mengatakan Nona Yoona Larasati menarik, ini menjadi sangat ramai di internet. Apakah kami perlu membayar media, untuk menurunkan berita ini?" manager tersebut akhirnya mengatakan  hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi.


"Tidak usah. Bukan sesuatu yang besar. Aku memang mengatakan kebenarannya. Yoona Larasati ini, dia benar-benar menarik. Aku bisa merasakan, suatu saat ia akan menjadi bintang. Sudah malam, Tuan Ricky. Selamat malam!" Lee Anggara Davidson segera mematikan panggilan teleponnya sepihak.


Lee Anggara Davidson kembali memikirkan penampilan yang ditampilkan oleh Yoona Larasati. Begitu indah dan elegan. "Dia benar-benar luar biasa. Yoona Larasati, aku menunggumu menampilkan hal yang lebih mengejutkan lagi."


"Mohon maaf, apa maksud Anda mengajak untuk bertemu dengan saya?" tanya Xixi tanpa basa-basi. 


Pria di hadapannya, tak langsung menjawab. Ia tersenyum smirk, lalu membenarkan letak kacamata miliknya. Pria itu tak langsung menjawab, melainkan ia justru menyodorkan sebuah amplop coklat di atas meja. Dahi Xixi mengerut.


"Apa lagi ini maksudnya?" sorot mata Xixi mengintai nyalang.


"Cari tahu, apakah penampilan Yoona Larasati kemarin benar atau tidak," ucap pria tak dikenal tersebut. "Buat Yoona Larasati mengatakan, bahwa penampilannya itu hanya sebuah tipuan. Kau bisa melakukannya?" imbuh pria asing itu.


"Baiklah. Aku akan menanyakannya, terlebih dahulu!" Xixi segera mengambil ponsel miliknya. Memencet nomor Yoona Larasati dan menelponnya.


Tuut tuutt tuut.


Telepon tersambung. Seseorang mulai mengangkatnya. "Ada apa?" suara ketus dari Yoona Larasati, membuat kedua alis Xixi menukik tajam.


"Begini, apa benar yang diberitakan itu? Kau bisa memegang pedang asli?" tanya Xixi.


"Untuk apa kau menanyakan itu? Aku malas menjawabnya!" nada kesal Yoona Larasati terdengar jelas di telinga Xixi.


"Yoona Larasati! Aku hanya bertanya tentang kebenaran dari penampilanmu itu! Penampilanmu itu, palsu atau bukan? Jawab aku, Yoona Larasati! Aku ini managermu. Kau harus menghormatiku!" kali ini nada ketus dilontarkan oleh Xixi.


"Aku bilang, aku malas membahasnya. Cari tahu sendiri. Aku sibuk! Kau tahu aku sedang ada variety show, 'kan? Sudah, lupakan!" Yoona Larasati mematikan sambungan teleponnya.


"Ini acara live, jangan membuat masalah ya! Ayo, segera naik bus. Jangan membuang waktu." Sutradara Samuel Jo memberikan aba-aba. Semua bintang tamu pria dan wanita, kini bersiap untuk masuk ke dalam bus yang telah berada di lokasi syuting 


Kiran Anggraini bimbang dan gelisah. Pasalnya, pasangannya memiliki aura yang begitu dingin. Gadis itu ragu, hingga akhirnya ia memilih untuk duduk di kursi yang masih kosong. Ia sadar, raja film memang begitu terkenal. Tidak sembarangan orang, bisa berinteraksi dengannya.


"Cari aman saja, Kiran Anggraini!" gumam Kiran Anggraini lirih. Gadis itu bernafas lega.


Lee Anggara Davidson duduk dengan tatapan yang datar. Ia memilih melirik ke luar jendela. Seakan-akan disana, memiliki sesuatu yang menarik. Airi Cyntia baru saja naik ke dalam bus. Melihat kursi di samping Lee Anggara Davidson, Airi Cyntia yang gila popularitas berencana untuk duduk di sana.


"Tuan Lee Anggara Davidson, kursi di sebelah Anda masih kosong. Bolehkah, saya duduk di sini?" suara Airi Cyntia dibuat-buat. Begitu manja dan mendayu-dayu.


"Sekalipun tidak ada orang, aku juga tidak ingin duduk bersamamu! Jadi, saya minta maaf, Nona Airi Cyntia. Lebih baik, Anda segera pergi dari sini. Sebelum saya, benar-benar telah kehabisan kesabaran!" Lee Anggara Davidson bahkan memberikan tatapan nyalang pada Airi Cyntia. 


Airi Cyntia tidak terima kekalahan ini. Pria ini, jika bukan aktor terkenal aku juga tidak sudi mendekatinya!