
Ricky dan Yoona hari ini memiliki janji bertemu di restoran VIP. Di mana keduanya akan membahas perihal kerjasama. Saat ini, Yoona baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi. Sedikit menunggu kedatangan Ricky, sang manager Lee Anggara. Gadis itu membuka masker dan kacakata hitamnya. Mengingat kini ia berada di privat room tentu membuat Yoona tenang dan tak gelisah jika sewaktu-waktu netizen bertemu dengannya.
"Nona Yoona Larasati?" Sebuah suara menyentak lamunan Yoona. Gadis itu menoleh, tampak seorang pria mengulurkan tangannya.
"Ah, Tuan Ricky? Senang berkenalan dengan Anda." Yoona bangkit dan menyambut uluran tangan Ricky. "Sebenarnya saya cukup kaget mendengar penawaran Anda tentang kerjasama itu. Akan tetapi, terima kasih. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan yang langka ini."
Ricky tersenyum. "Anda sudah pesan minum?"
"Belum. Saya baru saja sampai." Mendengar kata-kata Yoona, Ricky mengangkat tangan dan memesan dua minuman. "Bisa kita langsung berbicara pada pokok permasalahan kita, Nona?"
"Tentu, silahkan." Yoona menganggukkan kepala memberikan izin kepada Ricky untuk berbicara. Raut wajah pria itu mulai serius.
"Boleh saya tahu bagaimana langkah Anda seharusnya? Ini tentang pemutusan kontrak Anda."
Yoona terdiam. "Itu yang menjadi permasalahan saya. Saya tentu saja lebih tertarik dengan agensi di bawah Anda ketimbang agensi yang sekarang menaungi saya. Akan tetapi, seperti yang Anda bilang jika saya masih terikat kontrak. Mungkin, mereka bisa menuntut saya jika saya tiba-tiba berganti agensi."
"Maka dari itu, saya mengajak Anda bertemu di sini." Ricky memberikan sebuah USB.
Sejenak Yoona Larasati menatap Ricky dengan wajah yang bingung. Dalam satu tarikan napas Yoona pun mengetahui jika ada sesuatu yang besar di dalam USB tersebut. Sedangkan Ricky tersenyum penuh kemenangan.
"Sesuai dengan rencana Tuan Lee Anggara. Sejauh ini tidak ada masalah." Ricky membatin. Seolah sudah mempersiapkan sesuatu yang besar.
Yoona Larasati pergi ke perusahaan agensi yang menaungi Yoona. Saat berjalan menuju ruangan bos agensi Yoona Larasati, banyak sekali mata yang memandang Yoona dengan tatapan aneh dan meremehkan.
"Selamat siang, Tuan Barnad." Yoona Larasati menyapa pria angkuh yang duduk di kursi kebesarannya.
Senyuman sinis dilontarkan oleh Barnad, pria yang disapa oleh Yoona. "Selamat datang, Nona Yoona. Ah, Anda sekarang menjadi trending topik dan menjadi pembicaraan yang hangat. Luar biasa, Anda bisa menjadi tenar dalam sekejap. Mengapa tidak dari dulu saja? Dengan begini, Anda sudah terkenal dari dulu."
"Saya tidak ingin membuang waktu. Bisa saya meminta pemutusan kontrak kerjasama?" Tanpa basa-basi Yoona berbicara pada intinya.
Saat itu juga terdengar gelak tawa yang membahana memenuhi ruangan. Yoona menatap dingin sosok Barnad yang seolah meremehkannya. Yoona tak peduli. Asal dia bisa segera lepas dari agensi memuakkan ini.
"Saya tetap menginginkan pemutusan kontrak kerjasama itu. Saya harap Anda memberikan apa yang saya minta. Sebelum ... Sesuatu yang besar akan membalikkan hidup Anda dalam sekejap mata. Saya tak ingin membuang waktu. Segera saja, kita akhiri kontrak yang mengikat saya."
"Baiklah. Saya akan memberikan apa yang Anda mau, Nona Yoona." Barnad mengambil dokumen berisi kontrak Yoona Larasati. Lalu Barnad kembali bersuara, "Akan tetapi, Anda harus membayar denda sejumlah dua puluh milyar." Barnad tersenyum penuh kemenangan.
Yoona Larasati membaca pasal-pasal yang tertera di dalam kontrak tersebut. Senyum mengembang di bibirnya. Gadis itupun memberikan kembali dokumen itu kepada Barnad.
"Saya rasa Anda perlu melihat ini. Saya punya salinannya beberapa untuk berjaga-jaga jika Anda merusaknya. Saya rasa ini akan membuat Anda berubah pikiran." Yoona menyodorkan USB kepada Barnad.
Pria itu memandang USB yang disodorkan Yoona tanpa ingan segera mengambilnya. Alis Barnad menukik tajam serta kedua mata itu menyorot Yoona dengan intens. Setelah beberapa waktu, Barnad pun mengambil USB tersebut. Pertama-tama alis Barnad bertaut hingga beberapa waktu, kedua matanya melebar. Wajah Barnad memerah berikut rahangnya mengeras.
Bagaimana Barnad tidak emosi? Ketika mendapati video kejahatan manager Yoona Larasati yang dirasa Barnad merugikan pihak Yoona Larasati. Barnad menatap Yoona dengan raut yang sulit dijelaskan.
"Jadi karena ini Anda meminta pemutusan kontrak?" Pertanyaan Barnad dijawab Yoona dengan anggukan kepala. Menarik napas dalam-dalam, Barnad membuka suara lagi, "Baiklah. Aku akan memutuskan kontrak kerjasama ini dan Nona Yoona tak perlu membayar denda apapun." Barnad menyobek kontrak tersebut.
Lalu Barnad menulis di kertas kosong, jika ia sebagai pemilik agensi memutuskan kontrak Yoona tanpa meminta Yoona membayar denda sepeserpun. Barnad pun mengambil materai dan menandatanganinya. Kemudian memberikan kepada Yoona dan gadis itu pun menandatanganinya juga.
Senyum Yoona terkembang. "Terima kasih, Tuan Barnad. Anda sangat berwibawa sekali. Semoga kita bisa bertemu di kesempatan yang lebih baik lagi."
Yoona pun melenggang tanpa beban keluar dari ruangan Barnad. Setelah keluar gedung perusahaan agensinya, Yoona masuk ke dalam mobil. Di sana terdapat Ricky telah menunggunya. Begitu Yoona masuk ke dalam mobil, tanpa kata Ricky membawa Yoona menuju agensinya.
Yoona mengerjapkan kedua mata berulang kali ketika Ricky menyodorkan surat kontrak kerjasama Yoona di perusahaan Lee Anggara. Tanpa Yoona tahu, jika itu adalah perusahaan Lee Anggara. Salah satu cara mengikat Yoona tentu saja dengan memberikan kontrak kerjasama dengan bayaran yang sangt menggiurkan untuk gadis itu.
"Anda tidak salah? Kurasa ini terlalu menggiurkan untuk aktris baru seperti saya?" Pertanyaan Yoona membuat Ricky terkekeh. Ah, cukup berwibawa sekali Ricky di mata Yoona.
"Kontrak kerjasama ini kami tawarkan sekali saja untuk Anda. Tidak akan ada kesempatan yang lain lagi." Ricky tersenyum menatap Yoona yang masih kaget dengan semua keuntungan yang ada di depan mata.
"Tentu saja saya akan mengambil kesempatan ini." Yoona akhirnya menandatangani surat perjanjian itu hingga membuat Ricky bersorak dalam hati.
"Kelinci sudah masuk ke dalam perangkap Anda, Tuan Lee Anggara." Ricky membatin lega. Tugasnya telah berakhir.