Modern God Of War

Modern God Of War
Bab 10. Pertikaian



"Yoona Larasati! Kau sekarang begitu sombong! Aku ini kekasihmu!" teriak Satria Hermawan.


Nana yang mendengar, sekaligus melihat kejadian itu segera bergegas ke tempat Satria Hermawan. Ia merasa tidak terima. Lantaran, dari tadi Satria Hermawan seakan mencari masalah dengan Yoona Larasati.


"Eh, Nona Nana! Kau mau kemana?" tanya Dion Leonardo khawatir. Pria itu mengikuti Nana yang berjalan menjauh darinya.


"Dasar brengsek!" maki Nana seraya menumpahkan camilan yang sengaja ia bawa.


"Dasar ******!" umpat Satria Hermawan. Merasa tidak terima, Satria Hermawan menyambar minuman yang dibawa oleh Dion Leonardo. Lantas menyiramkannya ke tubuh Nana. "Kenapa kau berani ikut campur? Sialan kau, ******!" Satria Hermawan berapi-api menatap Nana.


"Eh, brengsek! Kau hanya berani pada wanita saja! Apa kau tidak tahu, jika kau itu seperti seorang banci?" ejek Dion Leonardo. Ia benar-benar marah melihat Nana diguyur minuman.


Bugh!


Dion Leonardo melayangkan tinjuan tepat mengenai wajah Satria Hermawan. Hingga membuat Satria Hermawan terjungkal ke lantai. Ia menjadi sorotan orang-orang di sekitar. Baiklah. Saat ini, Satria Hermawan telah benar-benar murka.


Satria Hermawan juga melayangkan tinjuan beserta tendangan. Akan tetapi, Dion Leonardo yang selalu berolahraga itu bisa menghindar setiap pukulan dari Satria Hermawan. Sebaliknya, justru berulang kali Satria Hermawan terkena entah itu pukulan atau tendangan dari Dion Leonardo.


Wah. Satria Hermawan ini benar-benar sampah sekali. Dari tadi masa iya, terkena pukulan dan tendangan terus? Astaga! Memalukan sekali. Sebenarnya aku malas sekali melerai Satria Hermawan. Akan tetapi Dion Leonardo melakukannya untuk Nana. Dan Nana, melakukannya untukku. Ini tidak adil. Batin Yoona Larasati.


"Eh, hentikan!" Yoona Larasati mencoba melerai. Akan tetapi, gadis itu menyikut wajah Satria Hermawan dengan sengaja. Membuat Satria Hermawan tersungkur.


"Pengecut!" Dion Leonardo merasa belum puas memberikan pelajaran pada Satria Hermawan. Ia segera mendekati Satria Hermawan dan menendang tubuh pria itu hingga terguling.


"Bajingan!" meledak sudah emosi Satria Hermawan. Pria itu bangkit lalu melayangkan tinjuan.


Dengan cepat, Dion Leonardo menghindar. Sebagai seorang yang masih muda dan bertenaga, Dion Leonardo sepatutnya bisa bergerak lebih lincah.


"Aduh, hentikan! Tuan Dion Leonardo! Satria Hermawan! Kalian berhenti! Jangan seperti anak-anak!" seru Yoona Larasati.


Yoona Larasati mendekati keduanya. Lantas di tengah keributan, Yoona Larasati menendang salah satu kaki milik Satria Hermawan. Lagi, Satria Hermawan terjungkal ke lantai. Nana yang melihatnya, hanya terkekeh geli. Yoona Larasati seolah-olah sedang berniat menolong, akan tetapi justru malah menyakiti Satria Hermawan.


"Ah Satria Hermawan! Aku sudah mengatakan untuk berhenti, maka berhentilah! Kamu jadi begini kan?" Yoona Larasati memasang ekspresi iba.


"Brengsek!" Satria Hermawan bangkit kembali. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit perih. Terlihat bercak darah. Membuat Satria Hermawan kembali naik pitam.


Berulangkali kejadian tersebut terjadi. Semakin lama, semakin membuat ramai sekitar. Menyedot perhatian orang-orang. Membuat Samuel Jo harus melerai mereka.


"Astaga! Apa-apaan kalian ini?" ujar Samuel Jo. Pria itu berjalan mendekati keduanya. "Berhenti! Ini hari pertama kita syuting! Dan kalian berdua, justru berbuat onar begini?" lerai Samuel Jo.


 


"Ceritakan padaku, ada apa ini?" tanya Samuel Jo.


"Gadis sialan itu, Nona Nana. Dia tiba-tiba saja menumpahkan makanan padaku. Padahal aku sendiri, tidak mengganggunya sama sekali!"  Satria Hermawan menggerutu. Pria itu sesekali berdecih pelan.


"Apa benar itu, Nona Nana?" tanya Samuel Jo kepada Nana.


Nana menundukkan kepalanya. Lantas gadis itu mengangguk. "Tuan Satria Hermawan juga menyiram Non Nana!" sela Dion Leonardo. Ia merasa tidak terima.


"Itu karena gadis sialan itu yang terlebih dahulu menumpahkan makanannya padaku! Aku jelas tidak terima itu! Itu adalah penghinaan!" intonasi nada bicara Satria Hermawan terdengar membahana.


"Baiklah. Nona Nana, boleh saya minta Anda untuk minta maaf kepada Tuan Satria Hermawan?" desak Samuel Jo.


"Tuan Satria Hermawan, saya meminta maaf atas sikap saya tadi. Saya telah lancang! Tetapi hal itu terjadi, karena saya tidak terima Anda berteriak menjelekkan Nona Yoona Larasati. Anda memaksa Nona Yoona Larasati. Padahal jelas-jelas, Nona Yoona Larasati sudah menolak!" papar Kim Nana.


"Terserahku! Karena aku dan Yoona Larasati ini memiliki sesuatu yang harus kami bicarakan! Apa aku tidak boleh berbicara Nona Yoona Larasati? Jadi lain kli berhati-hatilah. Karena aku telah menandaimu!" kata Satria Hermawan. Hingga akhirnya pria itu berlalu dengan kekesalan yang tertumpuk di hatinya.


"Nona Nana, terima kasih! Tetapi lain kali, jangan nekat. Takutnya, justru kau yang akan mendapatkan masalah. Biar aku yang akan mengurus Satria Hermawan ini. Terima kasih ya, kau sudah peduli padaku. Em, kalau begitu aku permisi ya. Aku lelah. Lebih baik, kita semua bubar!" ucap Yoona Larasati seraya berlalu.


"Baiklah, sudah cukup. Ayo semuanya bubar! Dion Leonardo, obati lukamu!" Samuel Jo berlalu. Sebelumnya pria itu menepuk bahu Dong Feng. Memberikan semangat kepada pria itu.


"Tuan Dion Leonardo, maafkan aku. Aku tidak berfikir panjang." sesal Nana.


"Hei, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, okay! Lain kali, jangan bertindak gegabah. Takutnya, saat aku tidak ada, kau akan mendapati dirimu celaka," ujar Dion Leonardo. Pria itu sesekali meringis kesakitan.


"Nona Nana! Kau tidak apa-apa?" tanya Kiran Anggraini khawatir.


"Aku hanya sedikit basah. Sisanya, Tuan Dion Leonardo yang terkena masalah. Aku yang salah, karena terlalu nekat," cicit Nana seraya menundukkan kepala.


"Syukurlah, jika tidak apa-apa. Tuan Satria Hermawan memang terkenal pemarah. Harusnya kau bisa menghindarinya. Aku tadi takut sekali!" desis Kiran Anggraini yang merinding saat mendapati Satria Hermawan diliputi amarah.


"Dasar pria bajingan! Sangat memalukan. Untung saja, aku tidak pernah menerimanya menjadi kekasihku. Sangat cocok sekali dengan Yoona Larasati sialan itu." Airi Cyntia menggumam lirih. Kemudiam Airi Cyntia berlalu menuju kamarnya.


Airi Cyntia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Menatap sejenak langit-langit kamar. Pikirannya menerawang di banyak momen yang terjadi hari ini. Lebih tepatnya, momen sialnya.


"Kenapa Yoona Larasati bisa berubah? Seharusnya hari ini menjadi hari indahku. Gara-gara Yoona Larasati, ia unjuk kebolehan bermain pedang itu. Ah, sialan! Aku membencimu, Yoona Larasati! Aku bersumpah, aku akan membalas kejadian hari ini!" maki Airi Cyntia.


Ia tiba-tiba teringat. Jika dirinya belum melihat ponsel dan berita terpanas apa hari ini. Saat melihat di internet pencarian terpanas, kedua mata Airi Cyntia membola seketika. Berita terpanas, diduduki oleh Yoona Larasati.


"Ini tidak mungkin!" pekik Airi Cyntia. Hingga tanpa sadar, ia menjatuhkan ponselnya.