
Seperti embun menyapa, sebelum pagi yang indah menyonsong. Rindu pelangi, kala hujan membasahi bumi.
Seperti gemuruh ombak memecah sang karang. Begitulah perasaanku saat ini.
Seorang pria begitu terperanjat membaca sebuah quotes akun sosmed yang diikutinya selama ini. Beribu tanya menguasai benaknya.
Otak Paul seperti berhenti pada satu titik yaitu Dygta, gadis yang mencuri hatinya selama ini.
Mobil yang membawanya pun ikut berhenti saat lampu rambu lalu-lintas, berwarna merah. Semua laju transportasi, mematung serentak meski deru mesin tetap dibiarkan menyala oleh pemiliknya.
Para pengguna jalan tak melepaskan pandangnya dari tiang lampu lalu lintas. Seolah memalingkan pandangan dari sana, hal yang dilarang.
Beberapa detik lagi lampu akan berubah menjadi hijau. Seluruh kendaraan akan kembali melaju. Pria itu mengembalikan pandangnya pada akun tersebut.
Terkadang sulit meraba arahnya cinta. Di saat satu jiwa hanya tertuju pada satu hati, namun jiwa yang mendamba tidak tahu, cara untuk memulainya.
Saat dinding gelisah mulai runtuh. Rasa ego menghilang ditelan waktu, kemudian tergantikan rasa rindu yang kian memburu. Dia terus menggoda kalbu hingga menjadi candu yang membunuh jiwa dalam sendu.
"Ada apa dengan dia?" batin Paul mencoba mencerna kalimat terakhir dari akun tersebut. Beribu tanya mulai bermunculan di pikirannya.
Semetara mobil yang membawanya, terus melaju lagi, pelan menyisir jalanan kota, yang padat meski hujan merajai Ibukota.
Mobil memasuki area parkir khusus buat para pemegang jabatan penting The Tirta Corp. Paul bergegas keluar dari mobil. Agar tidak basah, dia berlari kecil untuk segera masuki bangunan megah yang ada di depannya.
Tidak menunggu waktu, hanya berharap salah satu stafnya, segera tiba dengan pertolongan. Ahh, dia bukan tipikal atasan manja hanya takut kena air hujan.
Terlihat wanita setengah baya datang menghampiri Paul, seraya membawa payung. Tapi terlambat Paul sudah memasuki loby gedung The Tirta Corp, diikuti bawahannya tersebut.
Keduanya masuk ke lift, sebelum pintu tertutup sempurna. Terdengar teriakan seseorang dari jauh untuk menghentikan lift.
Paul dengan sigap menghentikan lift. Dygta dengan rambut sedikit basah, berlari ke arah lift. Sejenak langkahnya terhenti.
Gadis itu ragu untuk masuk ke dalam dan apa tadi-- dia berteriak untuk menghentikan lift, tanpa tahu siapa yang ada di dalamnya.
"Dasar gadis bodoh," makinya dalam hati, pada diri sendiri.
"Nona penulis, kenapa diam?" Suara wanita dari dalam lift menyadarkan Dygta dari perang batin.
"Maaf, aku tunggu lift selanjutnya saja," jawab Dygta sungkan, merapikan rambutnya, dengan tangan.
"Tidak masalah, aku kira lift ini cukup menampung kita bertiga ... bukan begitu Pak," kata wanita itu lagi. Meminta persetujuan bosnya, seraya mundur beberapa langkah.
Paul tidak menjawab, lelaki itu hanya bergeser beberapa senti memberi ruang untuk Dygta berdiri di sampingnya.
Tidak mau mendapat kesan buruk, akhirnya Dygta masuk ke dalam lift. Berusaha menjaga jarak aman dari sang bos, Paul.
Deg ... Deg ... Deg ...
Suara degup jantung Paul berpacu kencang, kala Dygta sudah berdiri di sampingnya. Entah mengapa saja bertemu untuk pertama kalinya, setelah sekian tahun keduanya berpisah.
Rasa ingin memiliki Dygta semakin kuat. Andai saja dulu dia berani mendekati gadis itu, mungkin ceritanya lain.
Dulu dia adalah pecundang, sekarang pun dia tetap seorang pecundang. Paul berusaha mengatur ritme jantungnya, supaya kembali normal.
"Bapak kenapa?" Dygta tidak sengaja melihat gelagat aneh pada Paul yang berdiri mematung di sampingnya. Gadis itu merasa ada yang tidak beres dengan atasannya tersebut.
"Bapak tidak kenapa-kenapa?" tanya Hermini yang juga berada dalam lift. Dia pun ikut khawatir.
"Tidak ... apa-apa...," jawab Paul mengusap kasar bulir peluh yang ada di wajahnya, memalingkan diri dari tatapan ingin tahu kedua orang yang ada di dekatnya.
"Sebaiknya kita singgah di pantry lantai 10 saja," saran Hermini, merasa takut terjadi apa-apa dengan bosnya itu.
"Iya Pak, mungkin masuk angin, nanti bapak minum coklat panas saja," tambah Dygta,"cuaca sekarang tidak menentu, membuat daya tahan tubuh kita, kadang menurun."
Kedua wanita itu dengan sikap membantu Paul yang tak lain adalah bosnya berjalan menuju pantry.
Beberapa pasang mata penasaran menatap ke arah mereka, dan itu cukup membuat Paul malu. Sekali lagi dia merasa betul-betul jadi pecundang.
****
Setelah Hermini membantu Dygta membawa Paul ke pantry. Staf seketarisnya itu pamit untuk mengatur ulang beberapa rapat.
Hermini merasa Dygta bisa diandalkan untuk menjaga bosnya, agar bisa merasa lebih baik.
Dari apa yang dia tahu ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Melihat dari riwayat pendidikan mereka. Sama-sama sekolah di SMA Tirta Bangsa.
Tinggallah Dygta dan Paul di pantry, karena OB pun meminta ijin untuk mengantar pesanan beberapa pesanan karyawan lain.
Dygta terlihat sedang memasak air, dan menyiapkan dua cangkir. Satu untuk Paul dan satu lagi untuk dirinya.
Paul diam-diam mengamati gerak geriknya. Sesekali mengambil gambar gadis itu tanpa sepengetahuan Dygta.
Keputusannya untuk kembali ke Indonesia dan mengejar cintanya. Tidak bisa diganggu gugat. Meski dirinya masih lelaki pengecut. Tapi kali ini dia tidak akan jadi pemuja rahasia lagi.
Tidak lama dua coklat panas dan sepiring kue kering sudah ada di meja. Aroma gurih tercium oleh Paul, mengodanya untuk mennyesap minuman Dygta.
'Coklat panas pertama dari gadis manis,' batin Paul. Lelaki itu masih sibuk dengan ponselnya.
"Bapak sedang apa?" tanya Dygta, tadi gadis itu melihat lelaki di depannya menatap foto di ponselnya sambil mengetik sesuatu.
"Tidak ... apa--ap aa," gagap Paul mematikan ponselnya.
"Lagi kangen sama pacar?" tanya Dygta penuh selidik.
Paul hanya menyesap minuman tanpa berniat untuk menjawabnya.
"Haaa, udah deh Pak, tidak usah dijawab. Anggap saja tadi aku salah ucap," ucap Dygta canggung.
"Tidak, itu tadi foto ..., saudara," jawab Paul berbohong,"gimana apa betah kerja di kantor?" tanya Paul mencari topik lain.
"iyya, dibetahi-betahi sih Pak," Jawab Dygta tersenyum.
"Iya, Tuhan. Dygta tersenyum dan dia tersenyum padaku," batin Paul, tidak sadar dia pun tersenyum.
"Kok senyum, Pak," ucap Dygta.
"Ee tadi kan kamu juga tersenyum, jadi ..."
"Udahlah, Pak. Itu kan hak bapak ... tapi senyum bapak manis lo," goda Dygta, mencoba bersikap akrab dan santai.
Paul semakin melebarkan senyumnya. Matanya menatap dalam pada Dygta. Hal itu membuat keduanya jadi salah tingkah sendiri.
"Pak ...," Hermini datang di saat keduanya hanya bisa terpaku dan terdiam dalam pikiran masing-masing.
Wanita itu menyelamatkan duanya dalam kecanggungan yang mendadak tercipta.
"Mbak ... mau minum coklat juga, tawar Dygta, segera bangkit dari duduknya mengambil coklat satu cangkir.
"Habiskan dulu minumnya, lalu kita ke ruanganku," sambung Paul setelah bisa menguasi diri dari kecanggungan tadi.
Hermini tanpa disuruh kedua kali menyesap coklat buatan Dygta. Matanya menatap dua orang yang ada di hadapannya.
*****
Jangan lupa vote 🙏🙏🙏