
Di bawah pohon rindang, taman di sebuah Sekolah menengah atas. Terlihat segerombolan anak cewek tengah menikmati waktu istirahat mereka.
Menikmati angin semilir ditemani berbagai macam cemilan dan minuman. Bercanda, bersenda gurau, mengomentari apa saja yang bisa membuat tawa mereka, seketika meledak.
Tak peduli tatapan aneh, siswa yang lain yang tidak sengaja lewat di taman tersebut.
"Hey.... itu minuman gue, Ta," protes Angel pada Dygta.
"Ya elah, coba dikit, Jel," ujar Dygta sambil memilin rambut Angel. Gemes, akan rambut ikal temannya itu.
"Jel.. Jel, emang nama gue Jelly," Protes Angel, menarik paksa rambutnya. Memilin rambut ikalnya sudah jadi kebiasaan teman-temannya, tak kecuali Dygta
Sontak kedua teman yang lainnya, tertawa melihat dua teman mereka yang emang dari dulu sudah seperti Tom and Jerry .
Keakraban Dyta dan Angel bukan lagi rahasia. Mereka berdua sudah kenal dari taman kanak-kanak hingga SMA, keduanya satu sekolah. Berbeda dengan kedua temannya yang lain yaitu Mira dan Leony
Baru berteman dan akrab, sejak SMP.
"Hay, guyz. Bentar lagi kita tamat nih. Kira-kira kita bisa gak sih seperti ini lagi," ujar Leony sambil terus berselanjar di android nya.
"Iyalah, Lili. Kitakan cuma beda kampus, bukan beda planet, pastilah kita bakal gini terus," potong Mira. Leonya memang sering dipanggil Lili oleh mereka.
"Emang loe lagi gak ada masalah kan?" tanya Dygta, menatap tajam pada Leony.
"Gak kok, cuma iseng tanya saja," Tersenyum simpul pada teman-temannya.
"Atau loe gak bakal langsung married'kan? cerca Mira penuh selidik.
"Apa-apaan si, Ra,"potong Leony cepat,"seharusnya halu itu Dygta bukannya, Loe." ledeknya cepat.
"Kok bawa-bawa nama gue sih, Lili," protes Dygta tidak terima, memasang muka ditekuk dengan kedua tangannya di depan dada.
"Hahaaa, loe lupa, Ta. Loe itukan ratu Halunisasion," bela Angel.
Semua tertawa mendengar kalimat Angel. Lempar-lemparan rumput pun tak terhindari di antara mereka.
"Ta .. ta," panggil ketiga temannya. Namun Dygta pura-pura tidak dengar, melangkah menjauh sambil bersenandung lirih.
"Kebiasaan banget, main tinggal saja tuh anak,"ujar Angel mulai mengumpulkan plastik-plastik, sisa jajan mereka, dan memasukan ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi.
"Udah, udah... gak usah protes, inikah salah kita juga,"potong Mira. Ketiganya berjalan lagi ke tempat sampah.
"Aduhhh," teriak Mira, Angel dan Leony. Mereka bertiga dipeluk seseorang dari belakang, membuat tubuh ketiganya saling berhimpitan satu sama yang lain.
"Kalian, pada ngomongin gue iya," Dygta dalam mode jahilnya menatap satu persatu temannya. sambil mempererat pelukannya, persis teletubies.
"Ngomogin elo, pede amat,"ejek Angel dengan pura-pura mendorong tubuh Dygta.
"Iya, siapa juga ngomongin pembelok kayak loe, mending ngomongin Kak Leo," tambah Leony.
"Kak Leo?" Ketiga temannya menatap tajam padanya.
"Uups," guman Leony."mati gue bentar lagi giliran gue nih jadi korban dibully habis-habisan sama mereka,"batinnya. Cewek berkacamata itu, melirik temannya.
Bunyi bel istirahat, menyelematkan Leony dari tingkah konyol teman-temannya. Terkadang kadar kepo an mereka di atas rata-rata, bahkan mengalahkan wartawan sekaligus.
"Guys, udah bel tuh,"kata Dyta,"D'Miracle, selalu ...." sambil menjulurkan tangannya ke depan.
"Bersama selamanya," sambung ketiga temannya, tidak lupa mengenggam tangan satu dengan yang lainnya.
Keempat gadis remaja, dengan latar belakang dan cita-cita yang berbeda. Di bawah pohon Akasia yang menjadi saksi persahabatan mereka. Berbagi cerita, suka, duka, dan canda.
Akankah persahabatan mereka kekal?
akankan janji di bawah pohon Akasia itu? menjadi usang di makan zaman.
T'he Miracle, telah jadi lukisan absrak di pohon Akasia, berkat kejahilan mereka dan menjadi saksi, kenangan mereka dikemudian hari.
###############################