
Leony turun dari motor Bubu. Selama perjalanan dari toko, mereka hanya terdiam. Dia memilih diam karena tahu betul, itu pilihan yang baik.
Jarak dari toko ke apartemen Leony, hanya ditempuh 30 menit makin terasa lama sekali. Karena suasana yang Dia hanya melihat punggung Bubu, yang seperti biasa memakai jaket yang di beberapa bagian tangan dan belakang, ada sobekan kecil. Tidak berani mamandang pria yang sudah lama bersamanya itu, meski lewat kaca spion motor.
Mata Leony terus menatap motor gede berwarna biru yang melaju dengan kecepatan tinggi, yang membuatnya menghela napas berat. Hingga akhirnya dia pun memutuskan masuk dan naik ke lantai di mana kamarnya berada.
Mungkin bagi sebagian orang. Leony gadis yang sangat beruntung memiliki kekasih seperti Bubu.
Pria tampan, mapan, dan super perhatian, tapi di balik kesempurnaan yang melekat padanya, Bubu tetaplah pria pada umumnya. Rasa cemburu dan sikap possesif yang berlebih, kadang membuat hubungan keduanya, merenggang.
*****
"Ly, kamu lihat cowok-cowok itu?" Mira menunjuk ke arah tiga orang pria terlihat asyik bercakap-cakap dengan beberapa wanita juga. Tampang mereka lumayan dan sepertinya orang kantoran.
"Iy... kenapa? Teman kamu, Ra?" tanya Leony sekilas. Acuh, masih asyik dengan pikiran tentang Bubu.
Sudah beberapa hari ini, tidak ada kabar. Ke toko pun paling sebentar, cuma sekedar cek keadaan di sana. Menghilang menghindari Leony secara tidak langsung.
"Yang pakai setelan dan kacamata itu memandang ke arah sini,"bisik Mira girang dan mencoba memasang senyum terbaiknya.
"Oya, aku mau ke Bali, Ly. Besok lusa. Ada sedikit perkerjaan, kamu nggak apa-apa, kan?" Mira menoleh ke meja melambaikan tangan pada salah satu cowok yang tadi kami bicarakan.
'mulai lagi nih, guman Leony. Kembali melamun dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Mengaduk asal minuman dingin yang ada di depannya.
"Leonyaaa ... Kamu dengerin aku nggak sih dari tadi ngomong?" teriak Mira yang membuat Leony sedikit berjingkat dan hampir jatuh.
"Denger, Ra. Suara hatimu aja aku tahu, bahkan semilir angin sering membisikkan rindumu akan sosok Arjuna yang selalu engkau rindukan siang malam." Jawab Leony sok puitis namun dengan nada usil.
Mira menangkup kedua pipi Leony, dengan jemari dan mengeratnya sangat gemas.
"Issh, Apa-apaan, Ra." Leony melepas tangan Mira yang masih fokus sama seseorang di hadapannya. Tidak peduli tatapan jijik dan jengah Leony, karena apa yang dilakukannya barusan, sedikit menarik orang yang lewat di meja mereka.
"Li .., mereka datang," bisik Mira, merapikan pakaian dan mencoba tampak biasa saja. Pura-pura asyik dengan hapenya.
"Hay, Kamu Leony, kan?" tanya salah satu pria yang menghampiri mereka.
Leony yang sedari awal memang tidak peduli dengan keadaan. Kalau bukan paksaan Mira, dia memilih makan siang di toko kuenya saja.
"Iya," jawab Leony, melihat lawan bicaranya,"Hai, Joe kok bisa ketemu di sini," lanjutnya antusias.
"Kebetulan tadi habis meeting di hotel sebelah, dan berakhir makan di sini," terang Joe,"Ini Mario,"lanjut Joe.
"Mario," jawab Pria berkacamata itu memperkenalkan diri.
"Ini teman aku, namanya Mira," kata Leony,"aku Leony," sambungnya.
"Mira," jawab Mira menyambut tangan Joe dan Mario.
"Boleh gabung dengan kalian, Nona manis," ucap Mario.
"Haha, gula kali manis, silakan saja, "jawab Mira.
Suara dering hape menghentikan mereka ngobrol.
"Bentar aku terima telpon dulu," kata Mira, menjauh dari meja untuk mengangkat telpon.
"Iya, ini lagi makan siang," jawab Mira,"Bukannya lusa, kok besok," terangnya.
"Baik, habis ini aku siap-siap."
Setelah mengakhiri telpon secara sepihak Mira menghampiri Leony yang masih asyik ngobrol dengan Joe dan Mario.
"Maaf ... aku cabut duluan,"kata Mira dan menghabiskan sisa minumannya.
"Makanannya belum habis," potong Leony,"lagipula kita kan udah janjian mau ke rumah Angel, bawain oleh-oleh buat Glenn."
"Ini mendadak banget, Ly," jawab Mira,"tadi habis terima telpon, besok siang aku sudah harus ada di Bali, karena ada orang harus aku wawancarai di sana," terang gadis itu.
"Mario juga ada rencana mau ke sana, ada kerjaan juga dan sekalian ketemu sama saudaranya," jawab Joe,"benar kan, Ri."
"Okelah, kalau gitu ... Kita berangkat bareng saja," potong Mira,"Ly ..., gimana gak mau ikut jalan-jalan ke Bali, biar aku bayarin?" tawarnya.
"Gaklah, lagi banyak kerjaan aku," kata Leony menolak ajakan Mira. Tidak mungkin dalam situasi seperti ini dia meninggalkan toko shopnya.
*****
Keesokan harinya Joe menyempatkan diri mengantar Mario ke bandara. Sebelum ke bandara keduanya singgah ke apartemen Mira.
Di loby Mira dan Leony sudah menunggu keduanya. ada dua koper, satu berukuran besar dan satunya berukuran kecil.
Mario membantu membawa koper Mira ke bagasi mobil.
"Udah beres, tidak ada yang ketinggalan?" tanya Joe di depan setir mobil, melihat kedua wanita yang duduk di bangku belakang, sedang Mario duduk di sampingnya.
"Udah gak ada Joe, kita berangkat," Jawab Mira memasang kacamata bercorak belang.
"Tumben pake kacamata,"sindir Leony.
"Kali aja ada yang ke suka," candanya,"lagi pula sayang saja jadi pajangan."
"Iya mbak Mira cantik lo pake kacamata," puji Mario.
"Hemm." Joe melirik Mario sekilas dan kembali konsentrasi mengemudi.
"Apa sih, panggil embak segala, apa aku setua itu," protes Mira.
"Sory ..." Mario mengaruk kepalanya yang tidak gatal,"Kalau panggil Kak Ira gimana? boleh," tanya Mario.
"Iya terserahlah, yang penting jangan panggil mbak, hilang pamor aku nanti."
"Jadi Joe, lo beneran gak mau ikut? kan bisa minta ijin," tawar Mario mencoba tidak memperpanjang perdebatan antara dirinya dan Mira.
"Gaklah lagi banyak kerjaan aku,"jawabnya,"lagipula takut mengganggu yang lagi pedekate."
"Maksudnya?"
"Gakkk , usah didengerin, nih orang lagi ngaco," potong Mario cepat.
"Leony ini punya pacar belum?" tanya Mario, sambil melirik Leony dari kaca spion, lalu melihat Joe dan Mira.
"Apaan sih, pertanyaan tidak berbobot," jawab Mira.
"Udahlah, Ra... nih bocah lagi kumat, gak usah diladeni," ujar Joe," kamu ngapain tanya-tanya, bukannya ...."
"Habis jalan ini, Joe tolong singgah di toko," jawab Leony.
"Kok singgah ke toko, tidak jadi antarin aku ke bandara," protes Mira.
"Ini anak-anak kabar, ada sedikit masalah di sana," jawab Leony.
"Bukan gegara bocah ini, kan?" ujar Joe, menatap Mario dengan tatapan mengintimidasi.
"Gak kok, ini murni karena ada masalah di toko," ucapnya,"kalau tidak percaya, baca saja chatnya." Leony menyodorkan ponselnya ke arah Joe, Mario dan Mira.
"Iya, kami percaya kok," jawab Joe akhirnya," kami berangkat ke bandara, nanti kalau sempet aku mampir."
"Hati-hati," kata Mira.
"Yang harus hati-hati kamu kali, Ra," jawab Leony melirik Mario,"bye Hati-hati Joe, titip teman aku, awas jangan macam-macam."
"Siap Bu Eko, laksanakan."
"Kalian berdua apa-apaan sih, norak tahu,"protes Mira,"bye Lili, see you."
*****