
Sekarang mereka sedang berada di taman belakang rumah keluarga Rena.
Terdapat sebuah kursi panjang yang menghadap ke kolam ikan. Mereka berdua duduk berdampingan.
Awalnya Rega ragu untuk duduk disamping Rena tapi tidak ada pilihan lain, karena tidak ada kursi lagi disana.
"Aku mau ngomong serius sama kamu." Rega memulai pembicaraan. Mereka tidak saling menatap muka, sama-sama menatap ke depan, ke arah kolam.
"Jujur, aku gak ada perasaan sedikit pun sama kamu, aku gak bisa membuka hati untuk perempuan lain. Aku ngelakuin ini semata untuk kebahagiaan keluargaku, jadi aku gak bisa nolak. Cuma kamu yang bisa nolak dan ngebatalin pernikahan kita. Sekarang masih ada waktu untuk kamu ngebatalinnya. Aku yakin kamu juga gak mau kan nikah sama laki-laki yang gak mencintai kamu. Aku ngomong kaya gini biar kamu gak kecewa aja nantinya." Aku Rega panjang lebar
Rena menggeleng.
"Aku tau masa lalu Kaka kaya gimana, aku juga ngerti perasaan Kaka. Tapi maaf Ka, aku juga gak bisa nolak perjodohan kita. Jujur Ka, aku udah lama suka sama Kaka, sejak kita masih bertetangga dulu. Jadi aku mau melanjutkan perjodohan ini.
"Aku gak sangka, ternyata kamu orang yang egois, hanya mementingkan perasaan kamu sendiri." Ucap Rega mengejek
"Aku bukan egois ka, aku mau bantu Kaka ngelupain masa lalu Kaka. Aku mau bantu Kaka supaya bisa ngebuka hati Kaka untuk aku."
"Aku gak ada niatan untuk ngelupain masa lalu aku, karena disana ada sosok perempuan yang sangat aku cintai. Aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali, karena cinta kita berdua sangat kuat. Apapun yang terjadi sekarang sama dia, aku tau dia masih mencintaiku, jadi aku tidak mau menghianatinya." Rega bersikeras dengan pendiriannya tentang Keyla.
Deg.
Seperi ada ribuan batu yang menghantam jantungnya. Rena menggenggam jemarinya, menguatkan dirinya sendiri.
"Aku tetap pada pilihanku Ka, aku akan tetap menikah dengan Kaka. Karena aku juga yakin, cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan kebersamaan kita."
"Kamu jangan berharap terlalu tinggi soal cinta aku. Karena cinta aku cuma buat Keyla seorang." Rega mulai terpancing emosi
Rena menunduk dan menangis dalam diam. Rena berusaha tegar dan memandang wajah Rega.
Rega yang merasa di tatap, menatap balik Rena. Mata mereka saling baeradu.
"Aku juga bakal berusaha supya Kaka bisa membuka hati Kaka untuk aku. Aku akan pastikan itu. Karena cinta yang Kaka punya untuk Keyla sekarang hanya sebuah lingkaran setan yang akan menjerumuskan kaka ke dalam penderitaan dan keputusasaan."
"Aku harap kamu mau memikirnya sekali lagi. Aku punya dua adik yang seumuran dengan kamu, pemikiran kalian sama, masih kekanak-kanakan. Kamu terlalu muda untuk mengerti arti cinta yang sesungguhnya."
"Aku tidak akan berubah pikiran Ka. Aku percaya Tuhan akan melihat usahaku dan memberikan hasil yang terbaik buat hubungan kita. Aku bertekad untuk meyakinkan Kaka bahwa cinta Kaka pada Keyla itu salah." Rena pun tetap bersikeras akan perasaannya kepada Rega.
Rena segera menghapus air mata dan pergi ke kamar untuk memperbaiki make up-nya, menghapus jejak air mata di wajahnya.
Rena terdiam cukup lama dikamarnya sambil memainkan cincin pertunangan yang terpasang di jari manisnya.
Yaa Allah.. jika dia jodohku, lembutkan lah hatinya, bukalah hatinya untuk ku. Karena hanya engkaulah yang mampu membolak-balik kan hati manusia. Amin.. Doa Rena dalam hati.
Setelah menenangkan hatinya Rena langsung bergabung dengan keluarga yang lainnya.
"Abis dari mana Ta ?" Panggilan sayang dari keluarganya untuk Renata, Tata.
"Abis dari kamar yah, ngambil ponsel." Jawab Rena sambil menunjukkan ponsel yang digenggamnya.
"Oh iya Ren, waktu itu kan kamu pernah bilang punya usaha butiq sama WO kan ? Tanya Mamih Rita.
"Iya Tan..."
"Mamih, mulai sekarang kamu harus biasain buat manggil Tante dengan sebutan mamih. Kamu kan sekarang udah jadi mantu mamih." Sela mamih Rita.
"Hhe.. Iya mih..
Soal WO-nya nanti, kalau kalian percaya, aku pengen pake Jasa WO aku. Emang sih belum terkenal, tapi aku bakal usahain yang terbaik dan gak bikin keluarga mamih malu." Ucap Rena
"Kami percaya Ren. Iya kan Ga ?" Ucap mamih Rita.
"Iya, ini kan pernikahan kamu, jadi untuk urusan itu aku serahin sama kamu." Ucap Rega ramah tapi terdengar seperti sindiran bagi Rena.
Rena hanya bisa tersenyum.
Karena waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, keluarga Rega akhirnya pamit pulang.
Setelah keluar dari rumah Rena, Gita terus saja menggoda Rega dengan menyanyikan sebuah lagu dangdut.
"Pacarku memang dekat.. lima langkah dari rumah.. tak perlu kirim surat.. SMS juga gak usah.."
Terus saja Gita mengulang liriknya karena hanya itu yang dia hapal, yang di goda hanya menutup kupingnya dengan tangan.