
Hari itu juga mamih Rita memutuskan untuk pulang dan hari itu juga ia langsung menghubungi keluarga Rena. Memberitahu soal lamaran yang akan dilakukan oleh keluarganya besok lusa.
Mamih Rita sangat antusias mempersiapkannya, ia mengatur semuanya sendiri.
"Ga, besok antrin mamih ke toko perhiasan sama butik iya." Ucap mamih Rita
"Sama Gita aja lah mih, aku kan mesti kerja." Jawab Rega malas
"Kan kamu yang mau lamaran Ga, sekalian nyobain cincinnya."
"Aku percaya sama mamih, mamih pasti tau ukurannya, mamih kan ahlinya, lagian besok aku ada rapat penting." Ucapnya beralasan.
"Iya udah deh sama kamu iya Git." Ajak mamih Rita.
"Iya siap mih." Jawab Gita.
"Aku tidur duluan iya mih. Mamih jangan terlalu cape kan baru sembuh. Aku gak mau mamih sakit lagi gara-gara ngurusin ini." Ucap Rega.
"Iya sayang."
"Mih..mih.." panggil Gita heboh.
"Kenapa ?" Tanya mamih Rita.
"Sini deh, kita besok ke butik ini iya." Gita memperlihatkan ponselnya yang sedang menunjukkan gambar Butiq dan baju-baju yang sedang dipajang.
"Bagus-bagus iya bajunya." Ucap mamih Rita sambil melihat-lihat gambar d ponsel Gita.
"Iya mih, lagi trending topik loh mih. Apalagi di kalangan anak muda, sesuai selera anak-anak gahul. Hhe."
"Ini butiq baru iya ?" Tanya mamih Rita
"Iya mih, baru buka sekitar dua tahunan. Sebenarnya butiq ini udah terkenal di Surabaya, pusatnya di sana, yang disini cuma cabangnya."
"Pantes aja mamih baru liat. Disana juga ada kebaya iya ?
"Iya mih, mulai dari baju casual, muslimah, kebaya sampe baju pengantin juga kita bisa pesen disana. WO-nya juga ada mih. Liat deh dekorasi sama konsepnya, sederhana, unik tapi tetep keliatan elegan."
"Wuuiiihhh.. bener iya.. mamih suka nih sama WO-nya." Mamih Rita masih fokus melihat-lihat gambar di ponsel.
"Gimana kalau kita pake WO ini ?" Tanya mamih Rita.
"Mamih lupa iya, Rena juga kan punya WO. Dia pasti pengennya pake WO dia lah." Jawab Gita.
"Owh iya mamih lupa. Hhe." Sambil menepuk jidatnya.
"Emang umur gak bisa di bohongin iya mih."
"Iya....." Mamih Rita terdiam cukup lama merespon perkataan Gita
Gita terkekeh melihat ekspresi mamihnya.
"Kabur....." Teriak Gita sambil berlari ke kamarnya..
"Hehehe... I Love You mamih Rita yang cantik.. mmuuaacchh.. mmuuaacchh.." Goda Gita sambil melakukan "kiss bye"
"Dasar anak nakal.. jangan lupa besok kita ke butiq." Teriak mamih Rita
"Okeee..." Balas Gita berteriak.
"Apaan sih nih, teriak-teriak aja kaya di hutan." Ucap Papih Rian yang tiba-tiba muncul dari belakang sambil menutup telinga.
"Aduh papih bikin kaget aja." Ucap mamih Rita sambil mengelus dadanya.
"Ayo tidur mih udah malem." Ajak papih Rian.
"Iya ayo. Papih abis ngapain ?" Sambil berjalan mendekati papih Rian yang hendak masuk ke kamar.
"Abis ngobrol sama Regi di halaman belakang. Dia akhir-akhir ini sering ngelamun. Kenapa iya mih ?"
"Itu kan tadi papih ngobrol sama Regi, kenapa gak ditanya langsung ?"
"Udah mih. Tapi jawabnya cuma gak apa-apa. Lagi pengen menikmati waktu sendiri aja katanya."
"Berarti kalau gitu dia lagi ada masalah asmara tuh pih. Biasanya kalau masalah temen tau kerjaan pasti dia selalu ngomong."
"Coba mamih ngobrol sama Regi. Kasih perhatian juga ke Regi, papih perhatiin mamih lebih sering perhatian sama Rega."
"Regi kan anaknya gitu pih, lebih pendiem dibanding Abang sama adeknya. Regi juga kayanya lebih nyaman curhatnya ke papih deh. Soalnya kalau mamih ajak ngobrol, dia jawabnya cuma satu kalimat, itu juga terdiri dari empat kata paling panjang. Beda kalau sama papih, suka panjang dikali lebar."
"Iya gitu mih ?"
"Iya pih, mamih kan suka perhatiin kalau kalian lagi ngobrol. Asyik banget Ampe berjam-jam."
"Pemikiran kita tuh sejalan mih, dia lebih dewasa ketimbang Rega dan Gita. Sifat manjanya udah diabisin sama mereka. Hahaha.."
"Papih ini.." sambil memukul dada papih Rian manja.
"Yuu mih". Elus papih Rian nakal.
"Apaan sih pih.." mamih Rita malu-malu
"Ayolah mih, udah lama nih gak itu.." ucap Papih Rian sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka sampai ke atas kepala.
Biarpun usia mereka sudah lebih dari setengah abad, mereka masih tetap harmonis dan romantis. Layaknya anak muda yang tariris (kedinginan). Tak heran jika mereka terlihat awet muda, karena itulah kuncinya. BAHAGIA.
Di kamar yang lain, Rega masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih memikirkan soal lamaran yang akan dilaksanakan besok lusa.
Rega merasa andilau makan buah simalakama ( antara dilema dan galau, maju mundur kena, kanan-kiri atas-bawah mentok ). 😅