
Mira menoleh saat mendengar panggilan penerbangan tujuan Indonesia dengan pesawat Qatar airways akan segera berangkat. Dia pun menarik dua kopernya untuk segera beranjak ke arah pintu.
Untungnya untuk memasuki badan pesawat, menggunakan pintu langsung, jadi Mira tidak perlu memakai jasa bagasi yang cukup merepotkan kalau sudah sampai di Indonesia nanti. Dia pun memutuskan membawa serta kopernya ke kabin penumpang saja.
Laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya pun terlihat sudah bersiap-siap di depan pintu masuk pesawat. Memperlihatkan tiket pada paramugri yang bertugas. Membawa satu koper dan sebuah majalah di tangannya.
"Apa dia juga mau ke Jakarta?" pikir Mira,"setidaknya dalam perjalanan mataku bisa sedikit terhibur, semoga saja dia duduk setidaknya dekat dengan kursiku," tersenyum simpul. Sejenak melupakan kegalauan hatinya.
"Good night, have nice trip to your destination thanks for trusting our flight schelude," ucap pramugari setelah mengecek ticket, paspor dan surat-surat penting lainnya.
Mira hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Melangkah memasuki badan pesawat yang akan lepas landas.
Mira mencari tempat duduknya, yang ternyata berapa di bagian tengah. Dari jauh dia bisa melihat laki-laki itu berada satu baris dengannya.
Mira tampak kesusahan menyimpan kopernya karna letaknya terlalu tinggi, meski tubuhnya bisa dibilang tidak pendek juga.
"Apa anda perlu bantuan? Laki-laki yang sejak tadi menjadi pusat pikiran gadis itu, menawarkan diri untuk bantu mengambil ahli koper dari tangannya.
Tubuh lelaki itu tinggi menjulang, bahkan Mira yang cukup percaya diri dengan tinggi badannya hanya sampai di telinga lelaki itu.
"Thanks," ucap Mira singkat. Lelaki itu kembali duduk di tempatnya sambil tersenyum.
"Mira, nama anda kalau saya boleh tahu?" tanya Mira basa-basi.
"Panggil saja Londo," jawab singkat. Kembali larut dalam bacaannya.
"Cakep sih, tapi sedikit sombong," guman Mira dan memilih menatap jendela. Menikmati kota Milan di malam hari dan untuk terakhir kalinya.
#####
Leony tengah melayani pembeli di kasir mencatat lalu mempersilahkan untuk menunggu di meja. Jam istirahat siang, biasanya kafe shopnya memang ramai, karena tempatnya memang berada di pusat kota, ada banyak kantor pemerintah dan swasta.
"Selamat siang, saya pesan coffelate dan pastry dua," ucap Joe santai. Menarik salah satu kursi dan memilih duduk di meja patry.
Sejak kedatangan waktu itu, Joe sudah sering mampir di kafe. Kadang datang sendiri atau bersama temanya.
"Tumben sendiri, teman-temannya mana?" tanya Leony basa-basi, memilih duduk di pantry. Diteguknya air mineral dingin, rasa segar meresap di tenggorokannya.
"Mereka lagi pada sibuk, Ly. Ada proyek lapangan jadi iya gitu," menjawab sambil mengangkat bahunya. Menikmati kopi, sesekali melihat jam di tangannya.
"Emang kamu tidak sibuk?" selidik Leony.
Joe hanya tersenyum kecil, lalu beralih pada patrynya yang tinggal sepotong.
Kak Bubu datang dan memperhatikan pria yang sedari tadi diajak Leony bicara. Merasa tidak suka dengan keakraban yang diperlihatkan keduanya
"Maaf, Ly ... kita bisa bicara sebentar," bisik Bubu, menarik tangan Leony ke suatu ruangan di kafe itu.
Joe tampak terkejut. Entahlah, merasa keberadaannya di kafe, membuat Bubu tidak nyaman.
Joe bahkan tidak yakin dengan ekspresi wajah lelaki itu, sangat datar tapi menusuk. Apa lagi semenjak kedatangannya tadi, karena dia dan Bubu sempat papasan tadi, pandangan matanya tidak pernah lepas menatap Joe.
######
"Saya udah beberapa kali bilang, jangan terlalu dekat dengan ... Joe? namaya Joe kan?" tanya Bubu to the point.
"Emang kenapa? apa ada yang salah? kami hanya berteman ... tidak lebih," jawab Leony tegas.
"Iya, iya... aku tahu kalian hanya berteman, tapi ... kamu tidak lihat cara dia menatap kamu, beda," terang Bubu," Beberapa kali aku dapati dia tengah memperhatikanmu diam-diam," tambahnya.
"Apanya yang salah? jangan terlalu dipikirkan," jawab Leony lagi,"dia tahu kamu tuh pacar aku,,, lagi pula mana mungkin dia suka perempuan seperti aku," kata Leony.
"Itu cuma feeling kamu saja ..., kecurigaan kamu tidak mendasar, coba lihat, sikapnya sama sekali tidak berbeda, dia bisa akrab dengan yang lain, meskipun itu hanya karyawan," tegas Leony lagi.
"Oke, tapi kamu harus ingat ..."
"Iya, aku tahu. Aku sudah punya pacar, yaitu kamu,"potong Leony," udahlah kita bukan remaja lagi, yang bertengkar hanya masalah seperti ini."
Bubu bukannya cemburu, tapi sudah tahun-tahun berlalu, dia belum bisa mendapatkan hati Leony sepenuhnya.
Melihat Joe, Bubu seakan melihat Lee. Di mata Leony, dia pun bisa melihat binar bahagia yang sering dilihat Bubu dulu, saat Leony sering bercerita tentang Lee.
"Astaga... maaf, Joe." Ucap Leony, meninggalkan Bubu di sana, tidak ingin memperpanjang masalah.
"Gak apa-apa kok, Ly ... lagi pula kamu kan sibuk, jadi iya, aku maklumin saja." Cuma kalimat konyol itu yang muncul di otak Joe.
Bubu keluar tanpa menoleh sedikit pun. Leony hanya menggeleng, membiarkan Bubu masuk ke dapur. Baru keluar dari sana, beberapa menit setelah Joe pergi.
######
"Ta, malam ini loe ada acara," Sebuah pesan menganggu konsentrasi Dygta. Tidak biasanya Leony mengirim pesan.
"Lo kenapa Ly? ada masalah?" tebaknya. Waktu masih menunjukkan pukul delapan, belum terlalu malam untuk keluar.
"Emang Lo gak mau ketemu, kalau gue gak ada masalah," dengan emotion orang nangis bombay.
"Lo gak kangen apa sama gue," rengeknnya lagi.
"Kangenlah, Ly. Pake banget lah."
"Buruan kalau gitu, gue udah bosen nih di sini sendiri."
"Lo udah ada di bawah? kenapa gak naik saja sih." Dygta membuka jendela dan melihat Leony yang sedang ada di halte di seberang apartemennya.
Leony melambaikan tangannya, mengajak Dygta untuk turun. Dygta hanya menjawab lambaian tangan Leony dengan memberika jempolnya.
######
"Soto dua sama es jeruk dua, Mang," pesan Leonya. Menghampiri Dygta yang sudah duduk di dalam tenda.
"Udah lama iya, kita gak kesini," ujar Leony, membuka kerupuk yang ada di depannya.
Dygta hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Dygta. Pesanan mereka pun datang. Mengobrol ringan sambil menikmati sensasi makan di pinggir jalan, yang sering mereka lakukan pas masih sekolah dulu.
Kriinggg.....
Dering telpon mengalihkan keasyikan mereka, mengenang masa- masa sekolah.
"Angel, Ly," ucap Dygta. Leony hanya memberi pandangan ke hape Dygta, seolah menyuruhnya untuk mengangkatnya.
"Wekkkkk, kalian tega makan soto gak ajak-ajak aku," omelan Angel ditambah tangisan samar Baby G, memekakkan telinga Dygta.
Leony dan Dygta saling berpandangan bagaimana Angel tahu. Suara notifikasi di hape Leony, menjawab rasa tahu mereka.
Angel mengirim foto, entah didapatnya dari mana. Walaupun dari belakang Dygta maupun Leony tahu itu adalah foto mereka.
Mungkin mereka tidak sengaja, kefoto sama salah satu pelanggan di sini juga dan menguplodnya ke sosmed dan dilihat Angel.
######