Miracle of Love

Miracle of Love
Bab. 1 Kenangan Dyta.



Suara senda gurau anak-anak yang sedang menikmati, waktu istirahat. Ada yang main jungkir balik, pelosotan, kejar-kejaran atau sekedar duduk di bangku melihat sekeliling.


Ada juga memilih memakan bakal yang telah di bawah dari rumah masing-masing, sendiri atau bersama temannya.


Seorang gadis kecil dari balik pohon, tampak malu-malu, diam-diam melihat seseorang duduk sendiri, menatap sekeliling.


Anak lelaki berambut agak pirang itu sudah hampir sebulan ini, jadi murid baru. Dari gerak tubuhnya, dia tampak tidak tertarik sama sekali untuk ikut dengan aktivitas teman-temannya.


Perawakannya tinggi dari teman seusianya, membuatnya mencolok dan membuat temannya yang lain mungkin segan untuk bergaul dengannya.


"Anak itu lucu banget."gumannya,"deketin gak iya." Sejenak gadis kecil itu berpikir, menatap objek yang sama sesekali acuh tak acuh dengan keadaan di sekelilingnya. Kadang gadis itu mengalihkan pandangan matanya pada dua cup es krim yang tadi dibelinya.


Es krim yang dibelinya, hampir meleleh. Karena udara yang mulai panas. Gadis cilik yang bernama Dygta itu masih ragu untuk mendekatinya.


"Ta, kamu lagi bikin apa dibalik pohon," suara seseorang mengagetkan gadis berkucir kuda itu, untung saja tidak membuat es krim yang dipegangnya jatuh ke tanah.


"Angel, kebiasaan bikin kagetin saja, hampir saja es krimnya jatuh," jawab Dygta kesal.


"Es krim? kamu kok gak bagi aku si Ta, kan ibu guru bilang kita gak boleh pelit sama teman sendiri,"celoteh Angel, tanpa meminta persetujuaan Dygta, mengambil salah satu es krim dari tangannya, dan melahapnya dengan rakus.


"Eee, itu bukan buat kamu, Angel,"protes Dygta manyun, namun sama sekali tidak menghentikan Angel untuk membuka dan menikmati es krim hasil kudetanya.


"Ya elah, Ta. Salah sendiri ngapain coba, es krimnya didiemin, nanti mencair keburu masuk kelas, Ta," jawabnya tanpa merasa bersalah, sambil terus menyuapin es krim masuk ke dalam mulutnya.


"Emang, es krimnya buat siapa sih, Ta?" tanya Angel ingin tau. Dygta terdiam tidak tahu mau jawab apa.


"Itu bel sudah masuk, ayo gel masuk kelas." Ditariknya tangan Angel tanpa niat untuk menjawab pertanyaannya.


*********


"Mimpi yang sama, disetiap aku baru putus cinta," guman Dygta. Dia menatap sekelilingnya, laptop yang masih menyala, beberapa botol kosong minuman soda dan cemilan masih ada di atas meja.


"Ahhh, badanku terasa remuk semua, berapa jam aku tertidur di kursi ini?,"ujarnya lirih. Dygta merenggangkan otot-ototnya sejenak, mengumpulkan sisa tenaga untuk membereskan kekacauan yang ada di depannya, lalu melanjutkan tidur di atas ranjang empuknya.


Melihat sejenak rentetan draf cerita yang ditulisnya yang sudah dekat tanggal deadlinenya. Sebelum mematikan laptop.


Mengumpulkan bungkusan plastik dan kaleng yang sudah kosong, lalu ditaruh di keranjang sampah yang ada di samping meja.


Sejenak matanya melihat jam, sudah jam dua lewat. Tidak jauh dari jam dinding terdapat beberapa figura foto.


Foto Dygta bersama kedua orang tuanya pas wisuda berapa bulan yang lalu. Ada foto Dygta bersama Angel. Juga foto bersama kedua temannya yang lain pas lulus SMA beberapa tahun yang lalu.


Langkah kecilnya, seolah tertarik magnet dan mendekat mengambil foto kelulusannya. Dygta mengganti cahaya lampunya, dengan lampu tidur, dan beranjak mendekati ranjang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kayaknya baru kemarin kita, bercanda, saling ejek, merangkai mimpi di bawah pohon Akasia," guman Dygta menyusuri satu demi satu wajah para sahabatnya. Membayangkan semua hal yang pernah dilakukan bersama keempat sahabatnya.


"Angel,,,, dengan keluarga kecilnya sekarang," tersenyum simpul, mengingat candaan di bawah pohon Akasia,"ternyata diantara kita berempat lo, yang married duluan Jelly," gumannya, membayangkan Angel, teman yang menemaninya dari awal mengenal arti sebuah sahabat. Meski kadang ada cekcok diantara mereka. Mengingat ekspresi Angel setiap salah satu dari mereka bertiga memanggilnya dengan nama Jelly.


"Leony, tapi lebih suka dipanggil Lili dengan coffe shopnya sekarang," guman Dygta lagi,"masih betah dengan kacamata berbingkai tebalnya."


"Benar katamu, Li. Ketika usai kian bertambah kita akan dihadapkan pada masalah-masalah kita sendiri, sibuk dengan mimpi masing-masing,"kenang Dygta lagi.


"D'miracle selalu untuk selamanya," guman Dygta lirih, mendekap erat figuran itu.


"Kalau deadlineku sudah selesai, aku pengen kumpul bareng kalian," sambungnya lagi, dan kembali terlelap pada mimpi-mimpi bersama ketiga temannya.


######


Suara dering telpon yang kesekian kalinya, baru bisa membuat Dygta bangun. Sinar matahari menerobos masuk di sela-sela ventilasi, memberi kesan hangat.


Dygta melangkah gontai dengan malas, sesekali menguap karena masih didera rasa ngantuk.


"Siapa sih, kurang kerjaan pagi-pagi nelpon, gak tahu apa badan masih pegel gini,"omelnya, namun mau tidak mau diangkatnya telpon yang mengganggunya tersebut.


"Gel? ngapain sih tuh orang nelpon jam segini," omel Dyta,"iya Angel ada apa?" tanyanya malas, sesekali menguap.


"Ada apa .... ada apa? udah jam segini masih molor?" cerca Angel,"itu matahari udah tinggi, Ta. Katanya kamu ada meeting hari ini. Makanya aku telpon, ingatin kamu?" ujarnya panjang lebar.


"Aduh, aku hampir lupa, Gel," jawab Dygta seketika rasa ngantuk yang menyerangnya hilang,"makasih sudah ingatin. Hemm, mau hadiah apa nih?" tawar Dygta.


"Mau apa iya,"ujar Angel dari seberang,"Baby G kamu mau hadiah apa dari tante Dygta," tanya Angel pada bayi yang masih belajar berdiri itu.


"Am amm,"bunyi suara Glenn yang samar-samar didengar Dygta.


"Halo, Ta. Baby G mau makanan enak katanya," ujar Angel menterjemahkan gumanan tidak jelas anaknya.


"Hahaaa, itu maunya kamu. Udah dulu aku mau siap- siap doakan semoga hasil meetingnya sukses,"ujar Dygta.


"Iya sudah, hati-hati Ta. Kalau sudah selesai mampir ke rumah, udah lamakan kita tidak kumpul. Baby G juga udah kangen banget nih sama kamu," sambung Angel.


"Iya ... Salam dan peluk hangat tante Dygta buat Baby G. Titip cium super hot buat Glen." ujarnya Dygta ditambah dengan tawa isengnya. lalu segera menutup telponnya lebih dulu.


Dygta beranjak membuka jendela semilir angin menerpa wajahnya. Dia menatap sejenak pemandangan di bawah sana.


Hilir mudik mobil beraneka jenis, mulai terlihat. Kesibukan awal pekan, selama lima hari ke depan akan seperti itu. Dygta sangat suka dengan suasana di bawah dan sering kali dia menemukan inpirasi di sana. Jadi bahan cerita yang kerap ditulisnya.


Ada saja hal yang bisa jadi bahan tulisan, saat dia tidak mempunyai ide.


#####


Story nya update satu atau dua kali seminggu. Semoga reader suka sama ceritanya ☺