Miracle of Love

Miracle of Love
"Andilau"



Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang santai. Rega dan kedua adiknya sedang bermain Ludo di handphone Gita. Mamih dan Papihnya menonton TV. Tiba-tiba mamih Rita memberi kode kepada Papih Rian.


"Pih.." Bisik mamih Rita.


"Ga, papih mau ngobrol sama kamu." Ucap Papih Rian sambil mematikan televisi.


"Iya gimana, pih ?" Jawab Rega yang masih fokus ke permainannya.


"Kamunya kesini dong, duduk deket papih." Ucap mamih Rita.


"Iya mih.." jawab Rega masih fokus ke permainannya.


"Rega Wijaya Utomo." Ucap Papih Rian tegas.


Rega langsung meninggalkan permainannya dan duduk di hadapan papihnya. Suasana berubah menjadi serius. Regi dan Gita pun ikut duduk di samping Mamihnya, Rega terlihat seperti terdakwa yang sedang dihakimi.


"Iya pih, gimana ?" Tanya Rega


"Mana calon istri yang mau kamu kenalin ke kita?" Tanya balik Papih Rian.


"Belum ada pih." Jawab Rega


"Kenapa ? Ini udah dua tahun loh, sesuai janji kamu, kamu bakal ngenalin calon istri."


"Belum sempet pih, dua tahun terakhir ini kan aku sibuk ngembangin bisnis keluarga kita."


"Belum sempet tau gak nyempetin ?"


"Belum sempet pih. Kan aku mau buktiin dulu keyakinan papih sama aku. Jadi aku gak ada waktu buat ngurusin itu.


"Terus bisanya kapan ?" Sela mamih Rita.


"Iya sabar mih, emang nyari calon istri tuh gampang. Kita mau beli baju aja harus pilih-pilih." Jawab Rega


"Iya udah kita bantu kamu buat nyari calon istri." Ucap Papih Rian.


"Ga usah Pih. Aku bisa sendiri." Ucap Rega


"Ini pernyataan yang gak bisa di bantah, Rega." Ucap Papih Rian tegas.


"Tapi pih, buat urusan yang satu itu aku harap kalian gak ikut campur. Ini urusan hati dan perasaan aku." Ucap Rega kesal


"Kalau kami gak ikut campur, kamu gak bakal buka hati buat perempuan lain. Karena kamu masih mikirin perempuan itu kan." Ucap mamih Rita.


Rega diam tidak menjawab, karena memang benar apa yang mamihnya ucapkan.


Deg..


"Renata ?" Tanya Regi tanpa sadar.


"Iya, Renata anaknya Pak Arya dan Bu Anita, tetangga kita, teman kalian waktu kecil." Jelas mamih Rita.


"Aku gak mau mih." Ucap Rega dengan menahan emosinya.


"Kamu gak bisa nolak Ga, karena Rena dan keluarganya udah setuju." Ucap Papih Rian.


"Gak bisa gitu dong pih. Gak bisa asal jodoh-jodohin aja. Yang jalanin nantinya kan aku. Kalian harusnya nanya aku dulu." Ucap Rega marah.


"Itulah alasannya kita gak nanya dulu sama kamu, kita tau jawaban kamu. Kamu tuh harus nyoba buka hati buat perempuan lain. Mamih pengen kamu menata masa depan kamu dengan berumah tangga, punya anak, dan bahagia." Ucap mamih Rita sambil berurai air mata.


"Sampai kapan kamu mau nunggu perempuan itu Ga ? Sampai kapan ? Kamu pengen mamih sama papih cepet meninggal gara-gara mikirin kamu yang gak mau move on?" Sambungnya.


"Miihh.." ucap Rega dengan nada memperingati.


"Kamu gak tau kan keberadaan perempuan itu sekarang dimana, gimana kabarnya, mungkin aja dia udah nikah, punya anak dan hidup bahagia. Kamu tuh harus sadar Ga, dia udah bikin kamu frustasi, sampai kamu kecelakaan dan hampir kehilangan nyawa kamu. Kamu gak tau kan usaha yang dilakuin sama kedua adik kamu, supaya kamu bisa bangkit lagi seperti sekarang. Kamu gak tau gimana usaha saudara dan teman-teman kamu dalam mencari keberadaan perempuan itu. Kamu juga gak tau kan betapa hancurnya perasaan kami, ngeliat anak yang begitu disayangi dan dicintai hancur begitu aja gara-gara seorang Keyla. Kalau kamu kaya gini terus, berarti kamu gak ngehargai usaha mereka Ga. Mereka juga pasti kecewa sama kamu."


"STOP MIH..." bentak Rega sambil berdiri mengeluarkan segala emosi yang dia pendam sejak tadi.


Mamih Rita terus menangis, sampai akhirnya ia pingsan..


"Mih.." teriak Gita dan Regi yang berada di sampingnya.


"Git, cepat ambil minyak angin." Perintah papih Rian.


Bugh..


Regi meninju pipi Rega sampai ia tersungkur di lantai, dan hidungnya mengeluarkan darah.


"Dasar anak durhaka Lo bang. Lo gak seharusnya bentak mamih sampai nangis dan pingsan kaya gitu. Mereka ngelakuin itu cuma buat kebahagiaan Lo bang."


"Ini pih.." Gita memberikan minyak anginnya..


"Udah Gi, tahan emosi kamu. Biarin dia berpikir dulu dengan kepala dingin. Sekarang mending kita bawa mamih ke rumah sakit, mamih belum sadar juga." Perintah papih Rian.


"Pikirin tuh baik-baik. Sebelum terlambat dan Lo menyesal untuk seumur hidup." Ucap Regi sambil menunjuk-nunjuk Rega.


Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit dan meninggalkan Rega sendirian di rumah.


"Maafin aku mih.." ucap Rega sambil menangis.