
The Tirta Corp, adalah perusahaan yang mengontrak Dygta beberapa bulan ini. Gedung yang memiliki beberapa lantai dan juga anak cabang perusahaan dibeberapa kota.
Dygta tak habis pikir, kenapa perusahan yang bergerak dibidang jasa dan resort ini, tiba-tiba mengajukan kerjasama dengannya.
lni kali pertama Dygta bertemu langsung dengan pemiliknya. Waktu menandatangi kontrak kerjasama, dia hanya bertemu salah satu staf yang bekerja di The Tirta Corp.
Sebelumnya Dygta hanyalah penulis online dadakan disebuah group di sebuah aplikasi. Karena beberapa karyanya banyak diminati pembaca. Ada beberapa penerbit Mayor yang meminta kerja sama.
Suatu hari ada email anonim memintanya mengirim beberapa draf naskah baru yang telah dibuatnya, yang masih fresh dan belum pernah dipubliskasikan.
Awalnya, Dygta tidak mengubris email tersebut dan memblokir email itu. Namun email dengan user name Paul Jr, kembali mengirim email dengan isi yang sama.
Dygta akhirnya mengirim beberapa draf cerita, yang menurut gadis itu ceritanya biasa-biasa saja. Kalaupun itu adalah email iseng, dia tidak akan merasa rugi. Jadi, tanpa pikir panjang dia pun membalasnya.
Beberapa minggu berlalu, Dygta pun kembali asyik dalam imajinasinya. Mengisi waktu kosong sambil menunggu lamaran kerja. Dia pun sudah lupa prihal tentang email iseng itu.
Walaupun pundi-pundi yang dihasilkan menjadi penulis sebenarnya cukup membiayai kehidupan Dygta sehari-hari. Namun, gadis itu cukup jengah dengan pikiran ibunya, selalu membandingkan dia dengan sepupunya sendiri. Bahkan sang ibu pernah terang-terangan menganggumi Mira, yang sukses jadi pembawa acara di sebuah stasiun Tv Nasional.
Ibunya yang tinggal diluar kota sering kali mengingatkan, untuk mencari pekerjaan tetap, yang bisa menjamin masa depannya nanti.
Sudah cukup lama juga dia tidak berjumpa dengan ibunya itu.
#####
Seorang wanita menyambut Dygta setibanya di lobi The Tirta Crop. Senyum simpul dan ramah tak lepas dari bibir orang tersebut.
"Nona Dygta?" tanyanya sambil menyodorkan tangannya,"saya Hermini, salah staf sekretaris di sini."ucapnya ramah.
Dygta hanya mengangguk, lalu mengulurkan tangannya juga dan tersenyum simpul, menyambut uluran tangan Hermini.
"Silakan, Nona ikut saya," ajaknya. Mereka pun melangkah masuk ke dalam. Hati Dygta berdecak kagum melihat tiang yang diberwarna keemasan mungkin catnya dipesan khusus karena terkesan unik dan beda dari warna yang pernah dilihatnya. Kaca jendela yang besar, tak tembus padang.
Mereka memasuki lift dalam diam. Dygta melihat Hermini, menekan akan 10 di sana. Butuh beberapa menit untuk sampai di lantai yang akan dituju. Lalu melanjutkan langkah ke sebuah ruangan yang tepat di depan lift.
"Silakan, tunggu di sini," katanya berlalu pergi, meninggalkan Dygta di sana.
#######
Hermini naik ke lantai 15 setelah mengantar Dygta. Wanita itu menuju ke ruangan Ceo The Tirta Corp. Di lantai itu hanya ada 2 ruangan. Satu ruangan ceo dan satu ruangan meeting khusus.
Hermini mengangguk kepada dua resepsionis yang ada di depan ruangan. Mengetuk pintu tiga kali sebelum masuk.
"Nona Dygta sudah sampai dan sedang menunggu anda di ruang meeting di lantai 10, sesuai perintah anda," ucap Hermini sopan.
Tanpa menjawab apa yang diucapkan sekretarisnya. Pria yang duduk di balik meja dengan membelakangi Hermini, memutar balik kursi dan menyalahkan laptopnya.
"Dia masih sama seperti beberapa tahun yang lalu," gumannya menatap layar laptopnya.
"Apa surat kontraknya sudah kamu siapkan?" tanya Paul. Setelah puas mengamati Dygta dari kamera CCTV.
"Iya Pak, semua sudah saya siapkan," jawab Hermini.
Paul segera beranjak dari duduknya, sebelum terlebih dahulu mematikan laptop. Keluar dari ruangan diikuti Hermini dari belakang, membawa beberapa berkas.
Kedua resepsionis berdiri menyambutnya mereka, yang hanya dibalas dengan angkukan kepala, kemudian masuk ke lift.
#######
Walaupun hanya ada kursi, meja dan sebuah layar Lcd dan beberapa lukisan dari pelukis dari luar negeri. Namun cukup membuat Dygat tambah kagum.
"Gini iya, namanya kerja kantoran,"gumannya, tersenyum kecut membayangkan dimana dia selama ini 'bekerja' yang sering dijadikan senjata ampun ibunya.
"Selamat siang, Nona Dygta," sapa seseorang membuyarkan pikiran gadis itu.
"I... ya, sa--lamat siang," jawab Dygta spontan berdiri dari kursinya.
"Saya Paul, Ceo The Tirta corp,"ucap Paul memperkenalkan diri,"silakan duduk."
"Berikan berkas-berkas itu pada Nona Dygta, untuk dipelajari lebih lanjut,"ucapnya pada sekretarisnya.
Hermini memberikan lembaran kertas pada Dygta. Gadis itu membacanya secara seksama. Kata demi kata dicerna dengan baik. Guna meminimalkan kesalahpahaman di kemudian hari.
"Gimana? apa ada yang kurang?" Setelah cukup lama Dygta membaca lembaran-lembaran itu. Paul mengamati setiap ekspresi gadis itu, dan bisa memahami ada sesuatu yang mungkin atau kurang berkena tertulis di sana.
Paul melirik pada sekretarisnya. Memastikan apa yang yang ada dipikirinnya salah.
"Bagaimana Nona Dygta?" ulang Paul lagi.
"Secara keseluruhan menurut saya tidak ada yang salah, cuma ..." kalimat Dygta menggantung, apa dia harus melanjutkan kontrak itu atau mengutarakan poin yang masih mengganggunya.
"Cuma?" ujar Paul, menanti kelanjutan dari kalimat wanita yang duduk di depannya.
"Begini Pak Paul," jawab Dygta,"apa anda tidak berlebihan, membuatkan saya ruangan khusus hanya untuk membuat sebuah cerita," ucapnya.
"Kenapa? apa Nona Dygta kurang nyaman?" tanya Paul lagi.
"Tidak juga Pak," jawab Dygta cepat,"saya sudah nyaman menulis di apartemen, tempat tinggal saya. Meskipun tidak luas."
"Kalau itu masalah anda, gimana kalau ruangan itu kita buat sesuai selera Nona Penulis," canda Paul, mencoba mencairkan suasana di antara mereka.
"Bukan begitu maksud saya, Pak," potong Dygta cepat.
"Lalu ?"
"Apa saya juga harus masuk kantor seperti pegawai yang lain?" tanya Dygta. Bagaimanapun jam tidurnya selama ini sudah tidak teratur karena ritme menulisnya yang sering dilakukan selama ini.
"Itu bukan masalah, ruangan itu bisa anda pakai jika kantor atau nona penulis ada waktu ke sini," jawab Paul,"Bagaimanapun ini untuk kelancaran kerjasama kita ke depannya." sambungnya.
"Baik Pak Paul." jawab Dygta, dan menandatangani kertas kontrak itu, lalu menyerahkan kepada Paul untuk ditanda tanda tangani juga.
"Selamat bergabung Di The Tirta corp," ucap Paul kembali menyalami Dygta.
"Iya, sama-sama Pak," jawab Dygta.
"Sudah waktunya makan siang. Apa Nona penulis tidak keberatan buat makan siang bersama," ajak Paul.
"Panggil Dygta saja, Pak," ucapnya.
"Kalau gitu panggil Paul saja, tidak pake embel-embel Pak," tawar Paul.
"Oke, Pa.. Paul," jawab Dygta segan.
"Bisa pesankan tempat untuk kami," perintah Paul pada sekretarisnya.
"Baik Pak, saya akan pesankan tempat, ditempat biasanya Pak." Hermini segera mencari tempat untuk menelpon dan kembali ke ruangan.
########