Miracle of Love

Miracle of Love
Bab. 4 Pemuja rahasia.



Paul berbaring di atas kasur king sizenya. Membentangkan kedua tangannya, mencoba untuk mengenang kebersamaannya dengan Dygta tadi siang.


Dygta masih gadis yang dulu, tidak peka dan acuh tak acuh. Selama makan siang, gadis itu hanya menjawab seperlunya. Cuma yang berbeda dari Dygta yang dulu dikenalnya, hanyalah model rambutnya yang dipotong pendek, ala penyanyi lawas, Yuni Shara.


Paul bangun dari tidurnya, mencoba mengambil sesuatu dari dalam laci di samping tempat tidurnya. Sebuah album foto berukuran sedang, di sana ada beberapa foto Dygta yang dulu sering diambilnya secara sembunyi-sembunyi.


Rambutnya waktu itu sampai ke pinggang dan bando pink bergaris putih, salah satu hadiah dari Paul. Itulah Dygta, tampak manis dengan benda itu. Dia suka dengan ekspresi gadis itu, kala teman-temannya sibuk menggodanya.


Mulai saat itu, keisengan Paul mengirimi Dygta hadiah, menjadi sebuah candu bagi pria itu.


"Setidak spesialkan aku di hati Dygta, dia sama sekali tidak mengenalku," guman Paul, kembali menerawang jauh. Tatapan kosongnya menyiratkan ada kehampaan di sana.


"Gimanapun aku hanyalah satu dari penganggumnya," Tersenyum simpul,


mengembalikan album itu, lalu mulai bersiap-siap untuk tidur.


#####


flash back.


Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Langkah kaki ringan terdengar di lorong kelas sambil bersiul ringan, mengusir kesunyian. Terlihat seorang murid cowok masuk ke ruang kelas yang masih kosong itu. Waktu masih pukul enam lewat, masih terlalu pagi buat masuk kelas.


Mengeluarkan sesuatu dari ranselnya dan memyimpannya di salah satu meja di barisan depan, sebelum dia melangkah ke meja tempatnya duduk yang ada di belakang.


Hal itu tiap hari dia lakukan. Walaupun tidak ada perkembangan berarti. Melihat senyum Dygta, seolah tersenyum padanya. Sudah cukup bagi cowok itu.


Tapi tunggu," apakah dia tersenyum padaku tadi," tebak ragu Paul. Walaupun salah satu di sudut hatinya mencoba untuk menyadarkannya bahwa itu cuma khayalan saja, tapi sisi hatinya yang lain, sama sekali tidak peduli.


Dygta sekilas menoleh ke belakang. Menyadari seseorang tengah mengamatinya, secara diam-diam.


Setelah menemukan surat lagi dan benda di laci mejanya, Dygta selalu was-was dan merasa diawasi.


Hari ini pun Dygta menemukan lagi sekuntum bunga dan sepucuk kertas di sana,"Jangan lupa tersenyum hari ini, PR."


"Lo dapat surat lagi, Ta?" tanya Mira, teman sebangkunya.


"PR, kira-kira siapa sih?" tanya Dygta meski hanya seperti gumanan,"kurang kerjaan banget." Namun, dia tetap mengambil kedua benda itu dan menyimpangnya di dalam tas.


"Cie- cie mulai galau ni ceritanya ? PR ... bukannya," Mira mengedarkan matanya," Pekerjaan rumah, Ta," ledek Mira, yang di jawab dengan cubitan kecil di pinggang, yang diterimanya dari gadis itu.


Otak Dygta berpikir mencoba menerka, siapa yang tiba-tiba sering mengirimkannya bunga atau kadang hadiah kecil, seperti coklat atau makanan lainnya.


"Siapa iya pemuja rahasia itu," pikirnya," Pemuja rahasia, kan PR juga. Jadi gak mungkin kan dia pake inisial namanya, gak kreatif banget," gumannya lagi. Ada senyum tipis di sudut bibirnya. Entah kenapa ada sesuatu menariknya untuk menoleh ke belakang.


#######


"Aku sudah sejauh ini? sampai harus menerima posisi diperusahan The Tirta Corp, agar aku bisa membuka jalan untuk bisa lebih dekat dengannya lagi," guman Paul.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa bimbang?" batin Paul,"apakah ini namanya dipersimpangan jalan, entahlah," batinnya lagi.


Menatap langit kamar mencoba untuk memantapkan hati. Apa yang dia lakukan ini murni karena rasa cinta yang dulu dirasakan atau rasa penasaran semata.


Di umurnya yang sekarang, dia tidak mungkin lagi membuang-buang waktu hanya untuk menjadi pemuja rahasia seperti dulu yang sering dilakukannya.


######


"Lo masih kirimin Dygta surat," tanya teman, waktu itu.


"Kita kan udh kenal lama, tahulah kalau lo suka sama itu cewek," ledeknya, menunjuk Dygta di bawah pohon Akasia, bersama teman-temannya.


Paul hanya terdiam, membantah pun dia tidak akan menang. Matanya masih memandang dalam, wanita yang telah mencuri hati dan pikirannya akhir-akhir ini.


"Tapi sebagai teman nih, gue sarani mending lo bilang terus terang sekarang daripada loe cuma jadi secret admirer doang," pungkas teman sebangkunya itu,"mau sampe kapan coba? keburu cewek yg loe taksir diambil orang."


"Udahlah, kita ke kantin," ajak Paul,"hari ini aku lagi baik, jadi lo boleh makan sepuasnya, aku yang traktir." Menoleh sebentar, lalu menarik temannya pergi.


######


Mira duduk di ruang tunggu bandara. Merapatkan jaket kulitnya karena hawa dingin yang tiba-tiba menyerang tubuhnya.


Bandara MALPENSA cukup ramai. Walaupun sudah cukup malam buat melakukan penerbangan, namun Mira memilih lebih cepat untuk meninggalkan kota Milan.


Sebulan lebih di sini, serasa hampir setahun baginya. Mira rindu Indonesia, makanannya dan teman-temannya. Terlebih lagi dia tidak ingin perasaannya kembali goyah.


Mira salah harus memberikan hati pada seseorang yang sama sekali tidak memberinya ruang, untuk menepati sedikit celah di hatinya.


Pergi dan menyerah rasa yang sebenarnya sulit untuk Mira pilih saat ini, namun dia juga tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan pada kenyataan itu. Berada di sana sebagai teman atau sahabat, meski sakit dan mencoba berharap pada satu keajaiban.


Tapi sampai kapan?


Mira, bukanlah wanita setegar itu, dia pun berusaha untuk menerima, sebelum rasanya semaki dalam dan menuntut. Gadis itu harus pergi menjauh untuk bangkit kembali.


Mira mengaktifkan hapenya, serentetan notifikasi pesan dan sambungan telpon tak terjawab terus bergetat. Salah satunya dari orang yang membuatnya harus pergi lebih cepat dari rencana awalnya.


"Kamu ada dimana?"


"Tadi aku ke hotel, tapi katanya kamu udah pergi dari kemarin?"


"Dear, tolong jangan buat aku khawatir, cara kamu tidak lucu,"


"Tolong angkat telponnya."


Mira hanya membaca tak ada niat untuk membalasnya. Lagipula dia tidak ingin keberadaannya diketahui.


Mira mengusap kasar air mata di sudut matanya. Menghirup udara, menghembuskannya perlahan, mengatur ritme jantungnya yang tiba-tiba serasa sesak. Dia kembali menonaktifkan hapenya. Melihat jam di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu satu jam lagi," gumannya,"apa aku sebaiknya menunggu di dalam saja."


Suasana waiting room sudah penuh penumpang. Mira mengedarkan pandangan, mencari tempat kosong untuknya.


"Excuse me, boleh saya duduk di sini," kata Mira, pada seorang pria yang tengah asyik membaca business magazine.


Pria yang ditanya Mira, hanya menoleh lalu memberi ruang di sebelahnya tanpa menjawab. Kembali larut dalam bacaannya.


Karena tak ada jawaban atau penolakan Mira akhirnya memilih duduk, menarik dua kopernya samping kursi.


Menatap sekilas pada orang di sampingnya, yang sama sekali cuek, diamati sedemikian rupa, seolah pernah ketemu dimana tapi Mira lupa.


#######


Sabtu 27-juni 2020 ☺