
Malam harinya, kini Alea tengah bermain dengan baby Mey bersama Regantara. Mereka terlihat bahagia sekali karena baby Mey yang sudah mulai bisa di ajak bicara bahkan bayi mungil itu sudah bisa tertawa seolah mengerti jika ia sedang di ajak bermain.
"Udah malam sayang, biarin dia bobok." kata Regantara.
"Iya deh." ucap Alea dengan menciumi semua bagian wajah baby Mey dengan gemasnya sehingga membuat bayi itu hampir saja menangis
"Di, susunya udah aku siapin 3 botol ya. abis ini langsung kamu kasih aja." kata Alea pada baby sisternya
"Iya Bu. Oh ya Bu, Pampers sama perminyakan habis." kata Dian yang membuat Alea mengangguk.
"Ya besok aku sekalian belanja bulanan kok. aku ke kamar dulu ya." kata Alea dengan menciumi lagi anaknya yang membuat Regantara hanya menggelengkan kepalanya saja.
Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya dan meregangkan otot-ototnya tapi tiba-tiba saja Regantara langsung menindihnya yang membuat Alea tidak bisa bernafas karena pria itu sangatlah berat
"Aaakhhh Rey, aku nggak bisa nafas." kata Alea dengan berusaha mendorong tubuh pria itu
"Iya iya maaf." ucap Regantara dengan terkekeh saja
"Udah ah tidur." kata Alea dengan membelakangi Regantara.
"Kan aku udah bilang, aku nggak suka di belakangi." kata Regantara dengan menarik Alea sehingga gadis itu menghadapnya
"Kenapa?" tanya Regantara ketika melihat tatapan Alea yang tak biasa.
"Mau apa?" tanya Alea dengan menatap Regantara curiga, karena ia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Katanya suruh minta maaf." kata Regantara.
"Yaudah cepetan minta maaf." kata Alea.
Cup...
Regantara mengecup kening Alea singkat membuat gadis itu hanya menatapnya saja. Kemudian beralih ke mata, pipi, hidung, dan ke bibir gadis itu.
"Ini yang kamu maksud minta maaf?" tanya Alea heran.
"Iya lah." kata Regantara
"Agak laen ya." kata Alea dengan memutar bola matanya dengan malas.
"Kenapa? Mau lagi?" tanya Regantara dengan menaik turunkan alisnya.
"Aku tau akal bulusmu ya." kata Alea yang membuat Regantara Tersenyum kecil.
"Jadi gimana? Mau nggak?" tanya Regantara.
"Mau apa?" tanya Alea .
"Ya mau apa enggak?" tanya Regantara.
"Ya mau apa? Aku nggak tau lah." kata Alea yang membuat Regantara kesal.
"Udahlah nggak jadi." kata Regantara yang terdengar kesal.
"Kok marah. mau nggak nih? kalau nggak aku tidur loh." kata Alea tapi Regantara seperti masih kesal.
"Mau nggak? Aku hitung sampai 3. kalau nggak mau A...." belum sempat Alea menyelesaikan ucapannya, Regantara langsung menindihnya dengan tersenyum senang.
"Mana mungkin aku nolak, inget ya, ini kamu ya nawarin, bukan aku yang minta." kata Regantara.
"Lahh...." ucap Alea dengan herannya tapi setelah itu Regantara langsung mencium bibirnya dengan lembut.
"Perut kamu gimana?" tanya Regantara di sela-sela ciumannya karena jujur saja ia sudah puasa terlalu lama dan sudah tidak menahannya lagi.
"Ya nggak papa." kata Alea.
"Serius nggak papa?" tanya Regantara.
Kini Regantara pun langsung memperdalamnya ciumannya dan memulai permainannya yang sudah sangat lama tidak memainkan semua itu. Keduanya sama sama menginginkan lebih dan lebih, hingga kini keduanya akhirnya benar-benar sudah menyatu dan menikmati setiap hentakan yang di berikan oleh Regantara.
"Rey..." panggil Alea di sela-sela permainannya.
"Hmm kenapa sayang? Sebentar lagi." kata Regantara.
"Nggak papa. Gue mau coba di atas, boleh?" tanya Alea yang membuat Regantara menatapnya dan berhenti kemudian mengeluarkan miliknya.
"Nggak usah terlalu cepet, aku takut perut kamu kenapa-kenapa." kata Regantara yang kini mulai terlentang.
"Udah nggak papa loh." kata Alea.
"Yaudah. Cepetan gih." kata Regantara.
Dalam beberapa menit kemudian, Alea jatuh di atas tubuh Regantara dengan lemasnya begitupun juga pria itu yang berhasil mencapai puncaknya.
"Makasih..." ucap Regantara dengan memeluk Alea.
"Janji jangan tinggalin aku." kata Alea
"Nggak akan sayang. udah berapa kali aku bilang sih, aku nggak akan ninggalin kamu sampai kapanpun kecuali kematian yang memisahkan kita." kata Regantara dengan mengecup kening Alea. Lo
"Aku takut kamu kamu tiba-tiba ninggalin aku, sementara anak kita masih kecil." kata Alea.
"Udah nggak usah khawatir, kita pasti sama-sama terus kok. Yang penting kita saling percaya aja." ujar Regantara.
.
.
.
Memikirkan bagaimana peran mereka sekarang, membuat pasangan sejoli yang kini sudah menyandang status sebagai orang tua di usia masih sangat muda itu harus benar-benar bisa menempatkan diri mereka di posisi yang berbeda dan tepat. mengingat bagaimana masalah yang akhir-akhir menimpa kedua juga membuat mereka menjadi lebih paham dan tentunya kedepannya akan lebih tegas lagi untuk menyikapi segala sesuatunya.
Bagi Alea sendiri, peras seorang ibu ternyata benar-benar sangat besar dan membuat dirinya tahu bagaimana artinya sebuah kasih sayang yang tiada tara. anaknya adalah sumber energi dan kekuatannya sekarang, bahkan bisa di bilang jika hari ini adalah kematian anaknya, ia sangatlah bersedia untuk menggantikannya.
Di sudut pandang Regantara, ia benar-benar sangat menikmati peran ganda yang tengah di jalani. mempunya seorang istri dan anak yang sangat ia cintai adalah impiannya sejak dulu.
Karena hari ini mereka tidak bersekolah, akhirnya Regantara menemani Alea untuk berbelanja kebutuhan rumah untuk satu bulan ke depan. Ia ingin sekali mengajak anaknya, tapi karena usianya yang belum memungkinkan untuk di ajak berbelok akhirnya dia pun hanya bisa sabar saja menunggu sampai baby Mey setidaknya sudah bisa berjalan
3 troli besar pun kini penuh dengan barang belanjaan Alea. Kini mereka mengantri di kasir untuk melakukan pembatalan, setelah semuanya selesai, mereka langsung saja pulang karena hari ini Alea benar-benar akan menghabis waktu bersama baby Mey untuk bermain.
"Di, sekarang kamu usia berapa?" tanya Alea pada Dian.
"18 Bu." jawab Dian yang membuat Alea terkejut karena ibunya tidak memberitahu berapa usia Dian
"Berarti kita seusia dong. Tapi kenapa kamu nggak sekolah?" tanya Alea.
"Faktor ekonomi Bu. Sebenarnya saya sempat sekolah SMA tapi cuman 6 bulan aja setelah itu saya keluar dan ikut kelas jadi suster selama 3 bulan." jawab Dian.
"Orang tua kamu?" tanya Alea.
"Saya tinggal sama adik dan ibu saya. ayah saya udah meninggal 5 tahun yang lalu." jawab Dian yang membuat Alea merasa tidak enak.
"Karena usia kita yang sama, jadi bicaranya nggak usah seformal itu, anggap aja aku teman." ujar Alea.
"Ehh mana mungkin Bu, saya sudah terbiasa kok. " ujar Dian.
"Yaudah senyamanya aja." kata Alea dengan mengangguk.
Ketika melihat anaknya, Alea benar'merasa sangat gemas dan ingin sekali mengigitnya, hingga akhirnya ia pun menggigit pelan jari anaknya yang membuat bayi mungil itu menangis sementara Alea hanya terkekeh saja.
"Aduh aduhh, maafin mama sayang, abisnya kamu gemesin kan mama jadi nggak tahan buat nggak gigit kamu." ucap Alea dengan menggendong anaknya.