
Alea terbangun karena merasakan perutnya yang begitu sakit. Ia menggeliat tapi ternyata tangannya di ikat di belakang dengan begitu eratnya. Ia mencoba berteriak tapi ternyata mulutnya di sumpal menggunakan kain dan di ikat ke belakang kepala sehingga membuat ia kesulitan bergerak ataupun berteriak.
Segala usaha sudah ia kerahkan tapi semakin ia bergerak perutnya semakin sakit, tapi jika ia tidak berusaha untuk melepaskan ikatannya, yang ada ia malah mengkhawatirkan kandungannya.
Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sepasangan kaki jenjang dengan sepatu hitam. Ia berjalan menghampiri Alea dan menundukkan kepalanya.
"Hahaha udah bangun cantik." ucapnya dengan suara berat.
"Emmmhhhh...." Alea terus menggeliat dan berusaha untuk berteriak tapi tidak bisa
"tenang aja nggak bakal aku sakitin kecuali kau nurut dan nggak banyak tingkah." ucapnya lagi.
Di sisi lain, saat ini Regantara baru saja pulang dari kantornya. Ia merentangkan tangannya dan memejamkan matanya sebentar sambil duduk di sofa. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Alea sehingga langsung menghubunginya tapi tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu.
Entah kenapa sejak tadi ia merasa gelisah dan tidak bisa fokus pada pekerjaannya, di tambah lagi sekarang istrinya tidak bisa di hubungi sama sekali.
"Halo ma...Alea aku telpon nggak di angkat, dia lagi ngapain kalau boleh tau?"
"Loh, Alea nggak disini Rey....emang sekarang kamu lagi dimana?"
Sontak saja Regantara terkejut mendengar jawaban dari mertuanya. Perasaannya pun semakin gelisah dan khawatir.
"Aku baru sempet pegang hp sekarang ma karena kerjaan ku di luar kota banyak banget, ada sedikit masalah jadi aku ke luar kota beberapa hari. Aku udah nyuruh Alea buat nginep di rumah mama."
"Nggak Rey, Al nggak di sini kok. Mungkin di rumah mama mu kali. Aduh kok mama jadi khawatir ya. kamu serius nggak?"
"Masa aku bohong sih ma. Yaudah ma Rey telpon mama dulu."
"Yaudah nanti kabarin mama ya, mungkin nginep di rumah mama mu."
"Iya ma."
Dengan segera ia pun menghubungi ibunya, tapi jawabnya tetap sama jika Alea tidak ada di sana. akhirnya ia pun menelpon Lila karena gadis itu selalu bersama dengan istrinya. Perasaannya sudah sangat gelisah dan khawatir jika saja sesuatu terjadi dengannya.
"Alea sama Lo nggak?"
"Enggak lah. Dia bilang dia mau nginep di rumah orangtuanya, mau gue anter nggak mau. kenapa emang?"
"Lo jangan bercanda deh sama gue, Lo sekarang lagi sama Alea kan?"
"Apaan sih, gue nggak bercanda, ini gue lagi di kamar sendiri. Lagian buat apa gue bohong kalau Alea lagi sama gue."
Akhirnya untuk meyakinkan Regantara, Lila pun melakukan video call dengan pria itu dn menunjukkan semua sudut ruangan yang mana memang tidak ada Alea sama sekali.
"Nggak ada kan. Di rumah Lo kali."
"Nggak ada. Mangkanya gue nanya Lo, kan Lo selalu bareng sama dia." kata Regantara dengan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Yang bener dong Lo kalau ngomong!!!"
"Udahlah thanks, kalau Alea ngehubungin Lo kabarin gue." Regantara pun mematikan teleponnya sepihak membuat Lila juga ikut khawatir.
"Al, Lo dimana sih!!!" ucapnya dengan terus berusaha menelponnya tapi tidak mendapatkan jawaban
Pukul 2 malam hp Regantara berbunyi, karena memang pria itu belum tidur sama sekali, ia langsung membukanya dan merasa lega karena itu adalah pesan dari Alea. Ia mencoba menelponnya tapi nomornya mendadak tidak aktif kembali. Ia merasa heran dan bingung karena tidak biasanya Alea akan seperti ini.
.
.
.
"Ck siall salah kirim." umpat pria yang saat ini tengah duduk sambil memperhatikan Alea yang masih pingsan
Lila langsung memeriksa galerinya dan ternyata fotonya masih ada. Untung saja ia selalu menyalakan fitur penyimpanan otomatis. Ia langsung menghubungi Regantara dengan paniknya. Raut wajah khawatirnya tidak bisa ia tutupi. Alih-alih ia masuk ke kelas, ia lebih memilih berlari keluar dan menuju ke rumah orang tua Alea.
"Regantara!!!! Lo kenapa nggak jawab telpon gue sih!!!!" makinya dengan kesal sambil terus berlari.
Sementara di sisi lain, tepatnya di kantor cabang luar kota milik Regantara, pria itu saat ini tengah meeting penting tentang masalah yang terjadi baru-baru ini tapi yang membuat benar-benar kesal karena hp nya selalu berbunyi sehingga mau tidak mau ia menunda meeting nya.
Keterkejutan Regantara membuat semua orang yang hadir di ruangan meeting tersebut saling tatapan karena kebingungan.
"Ada apa pak? Apa ada masalah?" tanya salah satu karyawan dengan penasarannya.
"Meetingnya sampai di sini dulu." kata Regantara dengan beranjak keluar dengan berlari.
"Halo Lil, Lo sekarang dimana? Foto yang Lo kirim, itu bukan Alea kan??" tanya Regantara.
Kakinya terasa lemas tapi hati dan pikiran pria itu menunjuk kemarahan yang luar biasa. hari itu juga ia langsung memesan tiket pesawat dan pulang. Ia menghubungi orangtuanya terutama ayahnya, sehingga membuat pria paruh baya itu juga terkejut.
"Lepasin saya tolong!!!" ucap Alea dengan lemahnya karena dua hari ini ia tidak makan ataupun minum. Entah apa alasannya pria itu menculiknya.
"Lo siapanya Regantara?" tanya pria itu.
"kau siapa? Ada masalah apa sama Regantara? lepasin tolong..." ucap Alea dengan lemasnya
"Bos, kayaknya mereka udah tau." seorang pria masuk yang membuat Alea menoleh.
"Lepasin guee!!!" seru Alea
"Diam!!!" bentak pria itu dengan marahnya
"Oke, sekarang saatnya." kata pria itu dengan tersenyum smrik.
Regantara yang saat itu baru saja turun dari pesawat langsung mengangkat teleponnya dan betapa terkejutnya ketika suara yang terdengar itu adalah suara Alea, tapi setelah itu sebuah suara yang tidak asing di telinganya pun terdengar tertawa.
"Gilang!!!! Jangan Lo sentuh istri gue sedikit pun atau Lo bakal tau akibatnya." kata Regantara dengan marahnya.
"Ohh ternyata istri Lo hahaha gue pikir cuman pacar doang. Emang apa yang bakal Lo lakuin? Lo nggak liat apa yang terjadi sama perusahaan Lo?"
"Jangan sentuh dia!!!!!" bentak Regantara ketika suara Alea kembali terdengar.
"Tenang tenang. santai dong hahaha. Lo tau kan selama ini gue nggak mau ada yang lebih unggul dari perusahaan gue. Gara-gara Lo gue jadi..... aaarrrghhhh sialll!!!"
"Lepasin istri gue." kata Regantara
"Nggak sabaran banget sih Lo, kayaknya Lo sayang banget deh sama istri Lo ya. Gua punya penawaran bagus buat Lo. Gue bakal lepasin istri Lo tapi gue punya syarat."
"Nggak!!!! Rey, jangan dengerin omongan dia!!!" teriak Alea.
"Diam!!!!!" bentak Gilang yang membuat Regantara marah.
Tanpa sepengetahuan Gilang, ternyata Regantara melacak lokasi dari hp yang sedang Gilang pakai, dan kini ia sudah sampai di depan tempat Alea di sekap oleh pria itu.
Gilang adalah rekan bisnis perusahaan Regantara yang usianya tak beda jauh dari Regantara, sebuah kesalahpahaman kecil membuat Gilang benar-benar membenci Regantara dan bahkan sudah berulang kali ingin menjatuhkan perusahaan itu tapi sampai sekarang belum bisa.
Dengan masih memakai pakaian kerja lengkap, ia pun turun dari mobil dan langsung berlari ke dalam, tapi ia memastikan keadaan di dalam lebih dulu.