
Regantara langsung membukakan pintu tak kala bel berbunyi, hingga terlihatlah Lila bersama Kevin yang datang. ia langsung mempersilahkan masuk, tapi tatapan Kevin langsung tertuju ada tangan Regantara yang di balut perban.
"Oh Lila, kamu disini?" tanya Citra dengan tersenyum.
"Sore Tan. seharian Alea nggak ada kabar jadinya aku kesini karena khawatir." kata Lila.
"Ya memang ada sedikit masalah. Tadi malam hampir kemalingan." kata Citra yang membuat keduanya terkejut.
"Jangan bilang kalau tangan Lo juga karena itu?" kata Kevin dengan menebak.
"Cuman luka kecil doang. gue malah nggak mikirin keselamatan gue sama sekali Vin. Pikiran gue cuman satu waktu itu, ada istri dan anak gue di dalam." kata Regantara yang membuat Kevin menepuk bahunya saja.
"Terus Alea gimana Rey?" tanya Lila.
"Dia syok dan bersyukurnya nggak terjadi apa-apa sama kandunganku." jawab Regantara
"Syukurlah kalau begitu. sekarang dimana Alea?" tanya Lila yang baru saja sadar jika ia belum melihat Alea sama sekali.
"Di kamar lagi istirahat." jawab Regantara.
"Gue boleh kesana nggak?" tanya Lila.
"Hmm...tapi kalau Alea lagi tidur nggak usah bangunin, gue takut kalau dia kaget lagi." kata Regantara yang di angguki Lila.
Seperti pesan Regantara tadi, Lila membuka pintu kamar Alea dengan perlahan-lahan. Alea yang saat itu sedang duduk sambil melihat-lihat buku pun menoleh dan langsung tersenyum senang ketika melihat siapa yang datang.
"Al!!!" seru Lila dengan bersemangatnya dan langsung berlari memeluk gadis itu.
"gimana keadaan Lo? Regantara bilang Lo syok banget ya." kata Lila
"Ya gimana nggak syok, coba Lo bayangin aja, Lo liat Kevin berdarah-darah tepat di depan mata Lo." kata Alea.
"Iya juga sih. Tapi kok bisa gimana ceritanya?" tanya Lila penasaran.
"Seharusnya kalau dia nggak maksa keluar, mungkin ya nggak akan terjadi hal kaya gini. Dia tuh ngeyel Lil, udah gue bilangin, karena kan sebelum itu kita sempet meriksa cctv dan si maling itu pakai senjata tajam." kata Alea
"Tapi nggak ada hal lain lagi kan selain Regantara yang luka tangannya?" tanya Lila.
"Ya bersyukurnya sih nggak ada Lil, gue malah takut kalau tangannya si Rey putus." kata Alea yang membuat Lila menatap dengan aneh.
"Ngaco Lo ah kalau ngomong." kata Lila.
"Lo bayangin aja kalau pegang pisau tajam terus di teken gini...mana darahnya banyak banget yang keluar. Lo tau kan kalau gue takut sama darah." kata Alea.
"Gentle juga Regantara ya hahaha. Lo tau nggak dia bilang apa tadi? Katanya dia nggak mikirin keselamatannya, dia cuman mikirin kalian berdua aja. Ciaaaaahhhh hahaha seneng kan Lo." kata Lila dengan menggoda Alea .
"Apaan sih, itu udah kewajiban dia kali ngelindungin gue. Gue kan istrinya." kata Alea dengan memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"hahaha udah sih biasa aja gue tau kalau Lo cinta bener sama Regantara." kata Lila
"Ya rencananya setelah lulus kita bakalan nikah." jawab Lila.
"Tapi sekarang kalian udah ada ikatan kan?" tanya Alea.
"Ya udah lah, dia sendiri yang datang dan bilang ke bokap nyokap." jawab lila.
"Reaksi orang tua Lo gimana?" tanya Alea penasaran.
"Kaget lah. Kevin dapet pukulan dari papa hahaha kalau nggak gue pisah udah babak belur tuh anak. Tapi ya pada akhirnya mereka ngertiin posisi gue sama Kevin setelah gue bantu jelasin. dan ya akhirnya gini. Gue juga berusaha Nerima keadaan gue yang sekarang tanpa banyak menuntut aja." kata Lila yang membuat Alea tersenyum.
"Gitu dong, ini baru sahabat gue. Lo udah ngerasain morning sick blm sih? atau ngidam gitu?" tanya Alea penasaran.
"Lah ini sebelum gue kesini gue mampir ke toko buah kali Al beli pisang hahaha. Lo mau pisang nggak?" kata Lila.
"Serius Lo? beneran boleh gue minta? Nanti nanges lagi." kata Alea.
"Ck Lo ya... Udah tunggu sini aja gue ambilin." kata Lila dengan beranjak keluar.
_____
Malam harinya di rumah Alea tampak seperti biasa, hanya saja masih ada sedikit ketakutan pada diri gadis itu tentang kejadian kemarin. Saat ini Regantara tengah berada di ruang kerjanya dan terlihat begitu serius karena perusahaan yang dia kelola sekarang tiba-tiba saja mengalami masalah. Mungkin sudah sekitar 3 karyawan yang dia marahi habis-habisan karena masalah itu, seperti sekarang ini.
"Aku mempekerjakan kau bukan hanya untuk tidur saja. Kalau masalah seperti ini saja tidak bisa kau atasi lebih baik kau keluar dari perusahaan ku, aku tidak butuh orang yang tidak cekatan seperti kau!!!" bentak Regantara dengan marahnya dan kembali memeriksa beberapa dokumen yang di kirim sekretarisnya.
Tiba-tiba ada panggilan dari ayahnya yang membuat dia langsung mengangkat dan beranjak begitu saja sambil membawa kemejanya tadi.
"Siallll!!!!" umpatnya dengan kesal.
Sebelum pergi, ia ke kamar Alea dulu untuk berpamitan dengannya, tapi di lihatnya gadis itu sudah tertidur dengan pulasnya sehingga membuat Regantara hanya menatapnya saja dan pergi
Ia menuju ke perusahaannya dengan kecepatan tinggi. Kondisi jalan yang lumayan ramai mengingat masih jam 8 malam membuat ia tak menurunkan kecepatannya.
Beberapa saat kemudian, kini sampailah ia di perusahaan dan terlihat jika mobil ayahnya juga ada di sana. Ia masuk dengan berlari dan menuju ke ruangan ayahnya. sampai di sana, terlihat beberapa pria yang duduk dengan menundukkan kepalanya saja sementara Erlangga mengumpat serapahi mereka.
"Mereka mata-mata perusahaan dia. besok kau ke perusahaan cabang yang ada di kota J, pastikan semuanya terselesaikan, papa tidak mau kalau sampai projek yang akan kita buat malah mereka yang mendapatkannya." kata Erlangga.
"Saham kita mengalami penurunan drastis pa, Angga sedang memeriksanya lagi." kata Regantara.
pintu terbuka dan menampak seorang pria dengan membawa beberapa lembar kertas dan di berikan pada Erlangga. Pria itu menandatangani kemudian memberikannya pada ketiga pria yang menjadi tersangka penghianat perusahaannya.
"Pak, saya mohon jangan pecat saya pak." ucap seorang pria dengan memohon pada Erlangga.
"Ini adalah resiko yang harus kau tanggung setelah apa yang kau perbuat. sekarang keluar dari ruanganku!!!" bentak Erlangga yang membuat Regantara langsung menariknya dengan kasar.
Sisi Regantara yang lainnya pun kini terlihat, ia akan menjadi begitu keras dan kasar pada orang yang memang tidak pantas ia berikan sikap lembutnya sekalipun itu orang yang usianya jauh di atasnya. Sikap tegas dan pemberani inilah yang membuat para karyawannya takut jika berhadapan dengannya apalagi membuat masalah dengannya.