
"Kayaknya ada orang yang nggak suka sama gue deh." kata Alea.
"Nanti kita cari tahu. sekarang gue antar Lo pulang dulu." kata Regantara yang membuat Alea menoleh.
"Kok gitu??" ucap Alea dengan protes
"Terus Lo mau masuk kelas dengan baju Lo kaya gini? Nggak. Lo tetep harus pulang." kata Regantara.
"Ya nggak mau lah gila kali." kata Alea
"Yaudah makannya nurut sama gue." kata Regantara dengan mengacak-acak
"Gue mau ke rumah mami." kata Alea yang di angguki oleh Regantara.
Kini setelah mendapatkan izin dari wali kelas Alea dan juga kepala sekolah, Regantara mengantarkan Alea menuju rumah mertuanya. melihat kedatangan Alea yang masih memakai seragam sekolah tentu saja membuat bingung Citra apalagi di antar oleh Regantara sendiri.
"Loh Al, kamu kenapa? tumben sekali kesini jam segini" tanya Citra dengan khawatirnya
"Ada masalah sedikit ma. Ku nitip istri aku ya ma." kata Regantara.
"Oh iya iya. kamu mau ke sekolah lagi?" tanya Citra yang di angguki Citra.
"Yaudah hati-hati ya. nggak minum dulu Rey?" tanya Citra.
"Nanti aja lah ma. Baik-baik di rumah." kata Regantara dengan menatap Alea kemudian langsung berlalu pergi begitu saja
"Ada masalah di sekolah?" tanya Citra yang membuat Alea menunjukkan seragamnya yang tadi basah.
"seharusnya kamu itu juga pakai kain biar nggak rembes. Udah tau lagi hamil juga. nanti mami beliin pompa asi deh." kata Citra.
"Udah lah, tadi Lila yang beliin." ujar Alea.
"Lila tau kamu udah nikah?" tanya Citra.
"Tau lah mi. aku ganti baju dulu ya." kata Alea yang di angguki ibunya.
"Sayang, abis ini kamu sibuk nggak?" kata Citra.
"Nggak mi, kenapa?" tanya Alea.
"Kita ke baby shop mau?" kata Citra yang membuat Alea berbinar dan langsung buru-buru berganti baju.
Kini mereka tengah menuju ke Baby Shop dengan di antar sopir. Citra memperhatikan anaknya yang sekarang juga lebih baik dari pada sebelumnya. ia mengelus tangan anaknya dengan tersenyum kecil.
"Gimana kandungan kamu sehat kan?" tanya Citra
"Sehat mi. Tapi menurut mami perut aku besar nggak sih? Seharusnya di usia kehamilan aku sekarang kan udah keliatan buncit apalagi kalau aku pake seragam sekolah." kata Alea
"Memang ada yang kaya gitu sayang. Tapi juga kebanyakan perutnya besar. Yang penting kan kamu sama anak kamu sehat sehat aja nggak papa. Semoga lahiran nanti lancar." kata Citra yang membuat Alea tersenyum saja.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sampai di tempat tujuan. dengan mata berbinar-binar, Alea langsung masuk dan melihat lihat isinya. Berbagai macam perlengkapan bayi ada di sana, tapi tatapannya langsung tertuju pada sebuah sepatu bayi bewarna coklat yang terlihat sangat lucu di matanya.
Citra juga mencari semua keperluan yang akan di gunakan untuk lahiran anaknya nanti. Berbagi pakaian bayi lucu-lucu pun kini sudah memenuhi keranjang yang di gunakan Alea. Hingga kini 2 troli besar pun sudah terisi penuh.
"Al, ini??" tanya Citra dengan memegang sepatu bayi yang pertama kali Alea pilih.
"Hehehe iya mi lucu.'' ujar Alea dengan tersenyum kecil.
"Berapa harganya ma?" tanya Alea penasaran.
"Makasih ya mbak." kata Citra kemudian mereka keluar dengan 2 troli besar.
"Ke rumah saya ya pak." Kata Alea.
"Baik non." jawab sopir.
"Kalau suami kamu lagi kerja kamu nggak takut di rumah sendirian?" tanya Citra.
"Nggak lah. Aman kok mi tenang aja." jawab Alea
"Setidaknya kamu punya satu mbak Al. Mami khawatir kalau kalau sendirian di rumah sebesar ini." kata Citra
"Nanti Al pikir-pikir lagi deh mi, kayaknya juga lebih gitu." kata Alea
"Kabarin mami ya." kata Citra yang di angguki oleh Alea.
.
.
.
Pukul 2 malam, entah kenapa perut Alea merasa tidak enak. entah posisi apapun tidak membuat ia nyaman. Regantara yang sadar pun juga ikut bangun, walaupun sebenarnya ia sangat mengantuk.
"Kenapa Al?" tanya Regantara dengan menguap.
"Nggak nyaman perut gue." jawab Alea yang membuat Regantara langsung mengelusnya dengan lembut
"Mau gue buatin susu? Atau Lo mau makan?" tanya Regantara.
"Gue mau susu aja deh." kata Alea.
"Yaudah Lo tunggu ya gue buatin sebentar.'' kata Regantara dengan menguap dan beranjak.
Regantara menuju dapur dan mulai membuat susu untuk istrinya sementara Alea yang merasa Regantara agak lama akhirnya memilih untuk menyusul Regantara.
"Kok turun?" tanya Regantara dengan terkejutnya ketika melihat Alea sudah di belakangnya.
"udah jadi?" tanya Alea.
"Bentar.... nih minum, habisin, setelah ini tidur, gue ngantuk ya." kata Regantara yang di angguki Alea.
Belum habis susunya, tiba-tiba saja listrik mati yang membuat keduanya terkejut tapi dengan segera Regantara menyalakan Flashlight di hp nya. Bertepatan dengan itu terdengar Samar-samar seperti ada yang tengah melakukan sesuatu di pintu rumah mereka.
"Lo ke atas dulu biar gue periksa." kata Regantara tapi Alea menghentikannya tapi dengan segera Regantara melihat seseorang yang tidak di kenal di depan pintunya seperti tengah berusaha untuk membukanya tapi tidak bisa.
"Jangan-jangan maling Rey??"tanya Alea yang mulai takut dan Regantara menyadari itu.
"Nggak ada apa-apa kok, Lo naik aja ya gue mau periksa ke depan." kata Regantara.
"Nggak usah. gue takut kalau itu beneran maling. Lo liat tadi kan dia bawa benda tajam." kata Alea dengan memegang tangan Regantara.
"Cuman penglihatan Lo doang kali. udah ya naik duluan pintunya di kunci." kata Regantara yang semakin membuat Alea takut.
Regantara berjalan menuju pintu depan dan berdiri cukup lama, hingga suara itu sudah tidak ada. Ia yang sangat penasaran pun tidak bisa untuk tidak membuka pintunya. Tapi saat ia membuka pintu sebuah pisau tajam langsung di layangkan oleh orang tadi yang berusaha membuka pintunya.
Alea yang melihat itupun langsung berteriak dengan kencangnya karena syok dan panik. Sementara Regantara yang reflek pun tangannya menahan pisau itu untuk tidak melukai tubuhnya, tapi nyatanya ia malah memegangnya dengan erat pisau itu hingga darahnya kini menetes di lantai. Ia langsung mendorong orang itu dan menjauhkannya dari pintu agar tidak masuk.
Teriakan lantang Alea pun sampai di pos satpam yang menjaga perumahan itu dan langsung berlari di ikuti beberapa pemuda yang tengah melakukan ronda.
"Masuk!!! kunci pintunya!!!" teriak Regantara dengan mendorong dan beberapa kali menendang orang itu.
"Tolong!!!!!!!! Tolong!!!!!!" teriak Alea tanpa memperdulikannya perkataan Regantara.
Satpam datang bersama beberapa pemuda dan langsung meringkus pelaku yang sudah melukai Regantara. Alea sendiri saking syoknya sampai ia seperti sudah tidak mempunyai tenaga sama sekali. ia terduduk lemas di lantai sambil menangisi Regantara.
Bagaimana tidak syok, pemandangan di depan matanya sendiri, saat Regantara menghalangi pelaku agar tidak masuk ke rumah dengan darah yang sudah keluar dari tangannya.
setelah pelaku berhasil di amankan, ia langsung menghampiri Alea dan menenangkannya. Wajah pucat nya membuat Regantara benar-benar khawatir. ia tidak memikirkan bagaimana dirinya karena saat ini dan saat ia menghalangi pelaku, pikirannya hanya satu, di dalam ada istri dan calon buah hatinya yang harus ia jaga dan lindungi.