
"Heh, Lo pacaran sama Regantara?" tanya Pricilla yang tiba-tiba saja menghentikan Alea di koridor sekolah
"kenapa?" tanya Alea.
"Ya jawab aja pertanyaan gue, Lo pacaran kan sama Rey?" tanya Pricilla lagi.
"Enggak." jawab Alea.
"Cih, Lo pikir gue percaya gitu?" kata Pricilla.
"Yaudah kalau percaya gue pacaran sama Rey." kata Alea.
"Lo lama-lama ngeselin ya. Gue tanya baik-baik sama Lo." kata Pricilla
"Ya emang gue nggak pacaran sama Rey, terus gue harus jawab apa lagi? serba salah deh heran. Kalau Lo suka sama Regantara yaudah bilang aja sama dia, ngapain pake cara kayak gini." kata Alea.
"Heh, Lo jangan kurang ajar ya sama gue, mentang-mentang sekarang Lo deket sama Regantara terus Lo udh ngerasa kalau Lo udah jadi yang paling wah gitu di sekolah ini?" kata Pricilla dengan mendorong Alea
"Apaan sih Lo." seru Alea dengan kesalnya.
"Nggak usah sok jadi orang ya." kata Pricilla.
"Lo sebenarnya ada masalah apa sih sama gue?" tanya Alea yang sudah kesal
"Lo jangan sok cantik deh jadi cewe, Lo pikir Regantara mau sama Lo, heh sadar diri, ngaca!!!" kata Pricilla.
Mendengar hal itu hanya membuat Alea tersenyum kecil saja karena menurutnya perkataan Pricilla benar-benar sangat lucu. Bagaimana mungkin Regantara tidak mau dengannya sementara hampir tiap hari mereka berkeringat bersama
"Lo yakin Regantara nggak mau sama gue?" tanya Alea .
"Yakin lah. " kata Pricilla dengan percaya dirinya yang membuat Alea tersenyum kecil saja.
"Oh yaudah kalau gitu." kata Alea kemudian bermaksud ingin meninggalkan Pricilla tapi justru gadis itu mendorong Alea hingga membuat Alea tersungkur di lantai.
"Pricilla!!!!" sebuah suara membuat Pricilla menoleh dan terkejut melihat Regantara yang tengah berjalan ke arahnya kemudian membantu Alea untuk berdiri.
"Lo nggak papa?" tanya Regantara dengan khawatirnya pasalnya Alea seperti tengah menahan sakit karena memegangi perutnya beberapa kali.
"Rey...." ucap Pricilla tapi Regantara menatapnya dengan tatapan tajam dan dinginnya.
"Lo ada masalah apa sih sebenarnya? gue bakal bilang satu kali dan gue harap setelah ini Lo nggak usah ganggu Alea lagi. Lo mau tau gue pacaran atau nggak sama alea? Dengerin gue baik-baik, gue sama Alea pacaran dan hubungan kita udah lebih dari itu." kata Regantara dengan menekankan kata-katanya yang membuat Pricilla terdiam saja
"Gue nggak percaya." kata Pricilla yang membuat Regantara langsung menarik tengkuk Alea dan mencium bibir gadis itu dengan lembutnya di depan Pricilla sehingga membuat Pricilla benar-benar syok di buatnya.
"Udah kan, ini yang Lo mau." kata Regantara dengan mengusap bibir Alea yang basah. wajah Alea sendiri sudah memerah menahan malu.
"Ayo sayang." kata Regantara dengan menggenggam tangan Alea sembari meninggalkan Pricilla yang masih syok.
"Hahhh??? Seriusan?? Gila kali tuh orang, aaakhhhh mata gue ternodai." kata Pricilla dengan berteriak seperti orang gila.
"Kenapa Lo gitu sih??" tanya Alea dengan berdecak kesal pada Regantara.
"Percaya sama gue, kalau nggak kaya gitu, dia bakalan ganggu Lo terus." kata Regantara.
"Ya tapi nggak di sekolah juga Rey. Gimana kalau ada yang liat selain Pricilla." kata Alea.
"Udahlah tenang aja, tinggal kita bilang aja." ujar Regantara
"Tapi perut Lo gimana? Baik-baik aja kan?", tanya Regantara.
"Hmm iya tadi nyeri dikit tapi sekarang udah nggak." jawab Alea.
"Syukur deh kalau kaya gitu." ujar Regantara dengan menghela nafasnya lega.
"Sayang." ucap Regantara yang membuat Alea berhenti.
"Ahh gatel lah gue denger Lo manggil kaya gitu." kata Alea dengan berjalan lebih dulu sehingga membuat Regantara berdecak saja.
"Tungguin bentar gue mau ngomong. Lagian kenapa sih Lo nggak mau gue panggil sayang hah." kata Regantara dengan merangkul Alea
"Ya rasanya aneh aja gitu dengernya. nggak ah nggak mau gue." kata Alea.
"Sayang..." ucap Regantara yang sengaja ingin menggoda Alea
"Ahhh apaan sih Rey.." kata Alea dengan kesalnya sambil mendorong Regantara.
"Sayang kok marah." kata Regantara.
"Gue marah beneran ya kalau Lo terus manggil kaya gitu." kata Alea.
"Enggak!!!" jawab Alea dengan pergi meninggalkan Regantara.
"Ekhemmm, Rey...ini sekolah ya." kata pak kepsek yang membuat Regantara menoleh dan tersenyum canggung saja
"Ya pak." jawab Regantara dengan tersenyum kemudian mengejar Alea.
"Anak jaman sekarang ya. Udah baik mereka udah nikah." kata kepsek dengan menggelengkan kepalanya saja
Alea tiba-tiba saja berhenti yang membuat Regantara juga merasa heran tapi penasaran, apalagi ketika gadis itu terlihat seperti tengah menguping sesuatu secara sembunyi-sembunyi.
"Apa?" tanya Regantara dengan berada di belakang Alea dan melihat apa yang sedang gadis itu lihat.
"Lo kan temennya Kevin kan?" tanya Alea.
"Hmm terus?" tanya Regantara.
"Mereka kenapa sih? gue liat beberapa hari ini kok ada yang aneh ya sama mereka." kata Alea
"Aneh gimana? Biasa aja tuh." timpal Regantara.
"Lo aja yang nggak ngerti. Iya gue perhatiin mereka kayak ada sesuatu gitu deh. Sssttt gue mau cari tahu tapi Lo diem aja kalau mau ikut jangan berisik." kata Alea.
"Perasaan dari tadi gue nggak ada ngomong apa-apa." batin Regantara tapi hanya mengiyakan saja.
"Vin, please deh.." kata Lila dengan frustasinya.
"Ya mau gimana lagi, gua juga nggak tau kejadiannya bakal kaya gini." kata Kevin dengan menatap Lila yang sudah berkaca-kaca.
"Gue bakal tanggung jawab, Lo tenang aja." kata Kevin yang membuat Lila hanya menatapnya saja.
"Lo pikir jadi orang tua di usia yang muda kayak gini gampang apa, masa depan gue masih panjang Vin, Lo juga punya masa depan dan impian kan. Lagian Lo ngapain sih sok-sokan bawa gue pergi. kalau Lo nggak bawa gue pasti kejadiannya nggak bakal kayak gini." kata Lila.
"Lo milih sama gue atau sama orang asing yang nggak Lo kenal? Ya walaupun gue kaya gini tapi seenggaknya Lo tau gue di sekolah kayak gimana kan. Dan Lo pikir gue bakal ngebiarin Lo gitu aja?" kata Kevin yang membuat Lila hanya terdiam saja tapi sepertinya gadis itu benar-benar tertekan.
"Sekarang Lo maunya kaya gimana?" tanya Kevin dengan pasrah saja
"Hidup gue masih panjang dan masih banyak hal-hal yang belum gue coba." kata Lila.
"Maksud Lo, Lo mau gugurin kandungan Lo?" tanya Kevin yang membuat Lila mengangguk sementara di balik dinding ada Regantara dan Alea yang menguping pembicaraan mereka.
Ya tentu saja mereka terkejut terlebih lagi karena mengetahui jika Lila tengah hamil dan ayah dari anak itu adalah Kevin, yang mana keduanya tidak ada hubungan apapun ataupun hanya sekedar dekat saja tidak.
"Lo yakin dengan keputusan Lo? Lila, gue mau tanggung jawab dan gue harap Lo nggak terlalu buru-buru ngambil keputusan untuk ini. aborsi bukan satu-satunya jalan yang harus Lo lakuin. Lo mau ngerasa bersalah seumur hidup? Dia nggak salah dan nggak pernah milih buat ada di dunia ini, yang salah gue dan gue bakal tanggung jawab sepenuhnya sama Lo." kata Kevin dengan memegang tangan Lila sementara gadis itu sudah mengeluarkan air matanya.
"Nggak segampang itu Vin." ucap Lila dengan menghapus air matanya dengan kasar.
"Ya tapi gimana lagi...gue jadi serba salah kalau Lo kayak gini." kata Kevin dengan mengacak-acak rambutnya.
"Gue tau yang terbaik buat gue." kata lila dengan menatap Kevin kemudian pergi begitu saja.
"Aasshhhh sial!!!! Lila!!!" teriak Kevin dengan mengejar Lila.
"Dengerin gue dulu!!" seru Kevin yang membuat Lila berhenti.
"Apalagi sih." kata Lila.
"Lo nggak harus kaya gini. Percaya sama gue, gue bakal tanggung jawab. kalau Lo minta gue buat bilang sama orang tua Lo, gue siap. Tapi Lo jangan ngambil jalan ini, gue mohon." kata Kevin.
"Nggak bisa Vin, ini jalan satu-satunya." kata Lila dengan melepaskan tangan Kevin.
"Lila!!!" teriak Kevin dengan frustasinya.
"Emang mereka pacaran?" tanya Regantara pada Alea.
"Emang mereka pacaran?" tanya Alea pada tembok.
"Kenapa Lo ngomong sama tembok? Gue nanya." kata Regantara.
"Kalau Lo nanya gue, terus gue nanya siapa? Gue nggak tau lah, dan setahu gue mereka nggak pernah ada hubungan apapun. Tapi kok???" ucap Alea dengan menatap Regantara.
"Lila kan temen Lo, emang nggak pernah cerita sama Lo?" tanya Regantara.
"Nggak pernah. Kalau cerita sama gue, ngapain gue repot-repot jadi penguntit." jawab Alea dengan kesalnya.
"Iya juga sih." ujar Regantara yang mendapatkan pukulan telak dari Alea.