
Semalam baby Mey benar-benar sangat anteng dan tidak rewel sama sekali. Alea dan ibunya tidur di kamar yang sama sementara Regantara tidur sendirian. Yah walaupun dalam hatinya pria itu protes tapi tetap saja ia tidak bisa membantah karena bagaimanapun anaknya tetap akan di nomor satukan apapun kondisinya.
Pagi ini Alea melakukan aktivitasnya seperti biasanya. Baby Mey sendiri tengah di jemur di balkon kamarnya oleh Citra.
"Pagi mbak." kata Alea yang baru saja ke dapur.
"Pagi non. gimana baby Mey tadi malam rewel nggk?" tanya Siti
"Enggak mbak, anteng banget sih. mbak masak apa?" tanya Alea.
"Ada ayam goreng, sayur asam dan tempe goreng. gimana suka nggak? Atau kalau nggak non aja yang rikues mau masak apa. Oh ya saya masakin sayuran ijo buat non biar ASI lancar terus.'' kata Siti yang membuat Alea mengangguk saja
"Iya deh mbak makasih." kata Alea
"Pagi sayang." kata Regantara yang juga sudah di meja makan kemudian memeluk Alea .
"Sayang." panggil Regantara dengan duduk sementara Alea tengah mengambil piring.
"Apa?" tanya Alea dengan herannya
"Tadi malam rewel nggak?" tanya Regantara.
"Nggak dong. Anak siapa dulu." kata Alea
"Anak ku dong." ujar Regantara.
"mama dimana?" tanya Regantara.
"Lagi jemur baby Mey di atas." jawab Alea.
Setelah acara sarapan selesai, kini keduanya pun berangkat sekolah, tak lupa, mereka juga berpamitan dengan bayi mungil itu. untuk sekarang, yang menjaga baby Mey saat keduanya sekolah adalah Citra, mengingat baby sister yang akan mengurus baby Mey akan datang besok.
"Kamu kenapa sih?" tanya Alea dengan herannya karena raut wajah Regantara yang terlihat di tekuk.
"Sampai kapan aku tidur sendirian?" tanya Regantara.
"Baru juga semalaman heh." kata Alea dengan tidak habis pikirnya karena ternyata alasan wajah pria itu di tekuk karena itu.
"Aku nggak suka tidur sendirian loh." kata Regantara.
"Ya gimana, masa mami suruh jagain sendiri, nggak enak lah aku Rey. Cuman beberapa hari doang." kata Alea.
"Tapi tetep aja lah." ujar Regantara.
"Itu anak kamu loh bulan orang lain." kata Alea.
"Iya tahu. Tapi tetep aja dia mau merampas kamu dari aku." kata Regantara yang membuat Alea melotot.
"Rey....dia masih kecil belum bisa ngapa-ngapain, jadi ya wajar lah kalau aku merhatiin dia, baby Mey itu masih bayi. Kamu cemburu sama anak kamu sendiri?", tanya Alea yang benar-benar tidak habis pikir.
"Tau lah." kata Regantara.
"Astaga...." ucap Alea dengan menggelengkan kepalanya saja
Sampai di sekolah pun, Regantara juga langsung turun begitu saja, sepertinya pria itu benar-benar kesal pada Alea. Antara kesal dan ingin tertawa, tapi Alea tetap mengejar Regantara.
"Ck pasangan itu kenapa lagi???" gumam Kevin.
"Rey!!!" panggil Kevin yang membuat Regantara menoleh.
"Nanti ada rapat OSIS." kata Regantara kemudian berlalu pergi
"Lahhh gimana sih." ujar Kevin dengan bingungnya karena memang itu yang ingin dia katakan pada Regantara.
"Rey!!!" panggil Alea dengan berlari mengejar Regantara
"Akhhhh..." tiba-tiba saja Alea tersandung dan tersungkur membuat Regantara langsung berlari menghampirinya .
"Kamu nggak papa? Mangkanya jangan lari-lari." kata Regantara dengan khawatirnya.
"Masih marah?" tanya Alea dengan tersenyum kecil
"Udah ayo berdiri." kata Regantara dengan menatap malas.
"Seriusan, masih marah nggak?" tanya Alea
Benar saja, pria itu mengantar Alea sampai depan kelasnya. Beberapa pasang mata juga memperhatikan keduanya tapi tak di hiraukan oleh mereka.
"Rey, gue mau bicara sama Lo." kata Pricilla yang tiba-tiba saja menarik tangan Regantara dan hal itu terlihat oleh Alea tapi gadis itu hanya diam melihat saja
"Apa sih? Ngapain? Mau ngomong apa? Ngomong di sini." kata Regantara yang terlihat tidak suka
"Ikut gue." kata Pricilla dengan seriusnya sehingga membuat Regantara juga penasaran dan mau tak mau akhirnya menuruti permintaan Pricilla.
"Lo bisa jelasin ini nggak? Kenapa gue lihat Alea keluar dari ruang persalinan? Dan di sini ada Lo juga, dan orangtua Lo maybe?" kata Pricilla dengan menunjukkan foto yang dia ambil saat Alea akan di pindahkan ke ruang rawat setelah selesai operasi.
"Harus banget gue jawab?" tanya Regantara dengan dinginnya.
"Harus. Lo nggak bisa kaya gini dong Rey. sekarang gue mau Lo jelasin ke gue." kata Pricilla.
"Nggak ada yang perlu di jelasin, kita nggak sedeket itu. Udahlah kalau nggak ada urusan penting lagi gue mau ke kelas." kata Regantara
"Soal Alea hamil anak Lo, semuanya emang bener kan?" tanya Pricilla yang membuat Regantara berhenti dan menoleh.
"Apa urusannya sih sama Lo?" tanya Regantara.
"Lo jelasin semua ke gue atau gue bikin semua anak-anak tau kalau ternyata ketua OSIS sekolah ini ternyata diam-diam udah punya hubungan yang nggak seharusnya siswa SMA lakuin." kata Pricilla dengan nada mengancam.
"Terserah Lo. kalau Lo mau bilang, ya silahkan, gue nggak ngelarang Lo, tapi jangan sampai gue tau kalau Alea kenapa-kenapa gara-gara Lo. Lo tau gue nggak akan tinggal diem kan." kata Regantara dengan menekankan kata-katanya.
Mendengar jawaban itu membuat Pricilla semakin yakin jika dugaannya memang benar. walaupun ancaman itu bukan sungguhan, tapi ia masih belum mantap dengan jawaban yang di berikan Regantara.
"Oke kalau itu mau Lo." kata Pricilla dengan pergi
Karena ada rapat anggota OSIS, jadi Regantara akan pulang telat. Ia memaksa Alea agar gadis itu pulang bersama Lila, karena ia tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi. Gilang yang selaku pelaku utama dalam insiden penculikan Alea sudah di dalam penjara karena laporan yang di buat Erlangga, ayah Regantara.
Rapat OSIS berjalan dengan lancarnya. beberapa akan di gelar untuk acara perpisahan kelas 12. Sebentar lagi ujian nasional akan segera di adakan jadi semua siswa, khususnya kelas 12 benar-benar harus belajar dengan keras.
"Tugas gue disini cuman ngarahin Lo aja Ki. Lo sebagai ketua OSIS baru, harus bisa ngasih contoh yang baik dan harus tegas." kata Regantara
"Iya kak, mohon bimbingannya." kata Zaki.
"Kalau Lo butuh bantuan, gue bisa bantu Lo kalau nggak Kevin juga bisa, jadi jangan sungkan." kata Regantara.
"Rey, ibu mau bicara sama kamu. Ke ruang BK sekarang." kata Bu Wulan yang membuat Regantara mengikutinya.
"Kamu tahu masalah akhir-akhir ini di sekolah kita?" tanya Bu Wulan pada Regantara.
"Mengenai siswa yang masih tidak taat aturan atau soal saya?" tanya Regantara yang sudah tahu.
"Ibu banyak sekali mendapatkan laporan tentang kamu sama Alea siswa kelas 12 B. kalian beneran pacaran?" tanya Bu Wulan.
"Ya bener." jawab Regantara.
"Sejauh apa hubungan kalian? Ibu nggak mau kali sekolah ini akan di cap buruk gara-gara masalah ini Rey, jadi ibu mohon jawab dengan jujur." kata Bu Wulan
"Apa bener Alea hamil anak kamu?" tanya Bu Wulan dengan wajah seriusnya.
"Kenapa ibu malah tanya saya? Kenapa nggak tanya langsung aja ke orangnya langsung?" tanya Regantara.
"Ibu tanya sama kamu " kata Bu Wulan.
"Kalau pacar saya hamil anak saya nggak salah dong Bu, maaf bukan pacar, lebih tepatnya istri." kata Regantara yang membuat Bu Wulan bingung.
"Maksud kamu apa Rey? Jangan mempermainkan ibu, ibu sedang serius." kata Bu Wulan
"Saya serius Bu, Alea istri saya, saya sudah menikahinya dan gosip kalau Alea hamil anak saya, semua itu emang bener, tapi saya nggak mau bikin satu sekolah heboh, jadi saya cuman ngasih tahu ibu aja. ibu bisa tanya kepala sekolah, beliau datang kok di acara akad saya sama istri saya." kata Regantara membuat Bu Wulan benar-benar syok, antara percaya dan tidak percaya.
"Kalau sudah tidak ada yang di tanyakan lagi, saya permisi Bu." ujar Regantara.
Setelah Regantara pergi, Bu Wulan langsung mendatangi ruang kepsek dengan nada paniknya. kepsek yang melihat itupun tampak terheran-heran.
"Pak...pak...Rey sudah cerita semuanya sama saya, jadi bener?" tanya Bu Wulan yang membuat kepsek bingung.
"Ada apa? Apanya yang bener? dateng-dateng bukannya assalamualaikum, permisi, ini malah nanya yang nggak jelas. Kenapa kenapa? duduk dulu Bu." kata kepsek.
"Regantara sama Alea udah nikah? Dan bapak sendiri yang jadi saksinya?" tanya Bu Wulan
"Oohh jadi dia sendiri yang ngasih tahu kamu Bu? Ya semuanya betul, dan saya harap, ibu bisa merahasiakan ini sampai mereka lulus, ibu nggak lupa kan kalau ayah Regantara donatur tetap sekolah ini. Saya mohon, ibu bisa bijak dalam menyikapinya." kata kepala sekolah