
Sesampainya di rumah pa guru , pa guru pun mulai menjelaskan apa yang akan dia latih ke Jintan
"Hei Jin kau harus tahu dahulu apa yang akan ku ajarkan pada mu, ilmu bela diri ini bernama Pencak Silat Sharaf!" ucap Pa Guru sambil memasang kuda kuda nya
"Pencak silat sharaf! apa itu pa guru?" balas Jintan sambil mengikuti gerakannya
"Pencak Silat Sharaf merupakan sebuah bentuk Silat yang benar-benar agresif yang mengutamakan pengajaran penerapan militer, disatukan kedalam sebuah pembelajaran ramping. Aliran ini akan sangat memberatkan mu dalam pertarungan tangan kosong, pisau, senjata api, gulat kode kesatria tradisional yang disebut ,Futawa. terdapat juga pelatihan pengembangan tubuh mirip chi kung untuk membantu pengembangan bentuk tubuh tepat untuk pertarungan jarak dekat , untuk menyerang secara efisien ke titik saraf musuh mu" ucap pa guru sambil melakukan gerakan yang lain
"Ha pengajaran militer apa aku akan benar benar di latih sangat keras guru" jawab jintan dengan raut muka kaget terus mengikuti gerakan pa guru
"Ya kalau kau mau melindungi orang lain kau harus bisa melewati batas mu jadi sekarang ulangi terus gerakan ku yang barusan sampai kau mahir" ucap pa guru sambil memperhatikan Jintan
"Ah siap pa guru" jawab Jintan sambil melanjutkan latihannya
Sementara itu Acha melihat Jintan dari kejauhan sambil menyiapkan minuman untuk ke dua pria tersebut .
Jintan pun terus melakukan latihan tersebut, bukan hanya teknik yang di ajarkan pa guru kepada nya tetapi juga fisik jintan pun di bentuk oleh nya
"Ingat kau harus terus belatih di rumah di mana pun kau berada kau mengerti " ucap pa guru
"Siap pa guru" jawab Jintan dengan penuh keringat di tubuh nya
Jintan pun terus berlatih di mana pun dia berada sesuai permintaan guru nya.
di rumah.
"Oi apa kau tak lelah jin" ucap Ultram
"Tidak aku harus terus berlatih ,lagian aku yang capai bukannya kau" jawab Jintan sambil melanjutkan latihan nya.
di tempat kerjanya
"Hy na apa yang dilakukan bocah bodoh itu?" tanya Tony kepada Chana yang berada di samping nya sambil memperhatikan Jintan
"Ohh katanya dia sedang berlatih bela diri gurunya menyuruhnya untuk latihan terus di mana pun dia berada " jawab Chana sambil menoleh ke arah Tony
"Apa perlu aku tes sekarang hasil latihannya" ucap Tony sambil melangkah ke arah Jintan
"Ahh tidak tunggu!! aku rasa mau dia latihan sebanyak apa pun dia pasti akan babak belur kalau berhadapan dengan anda " jawab Chana sambil memberhentikan Tony
"Hahahha itu sudah pasti" ucap Tony sambil menunjukkan tangan berlemaknya kepada Chana.
di sekolah.
"Hy apa yang dilakukan anak itu " ucap beberapa murid di sekolah
"Jin kau tidak perlu melakukan ini di sekolah juga Jin" ucap Acha yang berada di belakang Jintan
"Aku harus melakukan ini ,aku sudah barzanj pada ayah mu, untuk melindungi mu juga" jawab Jintan sambil melanjutkan latihan nya
"Ahh Jin " tersipu malu Acha dengan mata berlinang dengan tangan menutup mulutnya.
Jintan terus melakukan latihan nya terus hingga ber bulan-bulan , hingga suatu malam saat Jintan pulang dari rumah guru nya sehabis latihan di melihat seekor morbus sedang menghancurkan kendaraan para penduduk kota , morbus dengan tubuh sebesar tiga meter menyerupai batu dengan mata kecil tanpa adanya mulut.
"apa itu morbus "
"Ha tepat sekali sekarang waktunya menunjukkan hasil latihanku" jawab Jintan dengan penuh percaya diri
" itu nefrolitiasis dia lawan yang sulit seluruh tubuh nya amat sangat keras mustahil kita menang kalau hanya asal menyerang saja"
"Lalu bagaimana kita bisa menang" tanya Jintan
"di bagian bawah tulang rusuk, di sisi kanan kiri punggung itu adalah area terlemah dia serangan mu akan sangat efektif bila menyerang bagian itu"
"Hmm tampak nya cukup sulit tetapi makin sulit itu makin bagus untuk melihat hasil latihanku , ARMOR, Iron Guns" ucap Jinta sambil mengeluarkan armor di tubuh nya mengeluarkan senjata api mirip meriam
"Apa armor norak ini lagi yang kau keluarkan "
"Berisik" jawab Jintan
"Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrruar drrrrrruarrr" Jintan menembak ke arah sisi kiri tulang punggung nefrolitiasis tersebut namun nefrolitiasis berhasil menghalau nya
"Sial dengan mata sekecil itu dia bahkan bisa tahu arah serangan ku ternyata kita memang harus face to face dengannya ,sword" ucap Jintan sambil mengganti senjatanya dengan sebuah pedang
"Ayo maju sini morbus brengs*k" ucap Jintan sambil berlari ke arah nefrolitiasis itu
Meski bertubuh besar nefrolitiasis cukup cepat hingga Jintan cukup sulit menyerang bagian terlemah nefrolitiasis itu
"Sial sial sial mengapa seakan monster ini tahu semua gerakan ku" ucap Jintan dengan kesal
"kau harus tenang cobalah untuk mengalihkan pandangan nya "
"Cihh seakan mudah saja , lagia bagaimana cara mengalihkan pandangan nya " jawab Jintan
Nefrolitiasis terus mencoba menyerang jintan namun berkat latihan dia selama ini dia berhasil menghindar
"Aku beruntung sudah latihan andai tidak mungkin sekarang aku sudah ada di kamar mayat" ucap Jintan sambil terus bertahan
"awas "
Jintan pun menahan nya dengan pedang nya hingga hancur jintan pun terpental cukup jauh
"Sial apaan itu yang terbang barusan ke arah ku?, ha lengan!!" Jintan pun melihat lengan nefrolitiasis itu di samping nya
"Apa morbus brengs*k itu sudah gila melepas lengan nya " jintan terkaget saat dia melihat kembali ke arah nefrolitiasis itu lengannya pun beregenerasi kembali
"Kampr*t apa apaan itu curang banget" ucap jintan sambil terkaget
Nefrolitiasis itu melempar terus lengan nya jintan terus menghindar tetapi lengan itu selalu beregenerasi sangat cepat hingga serangan itu tidak ada habis-habis nya
"Hy ram apa-apaan itu " tanya Jintan kepada Ultram sambil terus menghindar
"ha aku lupa bilang ya hehee bagian lengan ,kaki kepalanya akan cepat beregenerasi jadi mengalahkan nya memang hanya bisa menyerang bagian sisi kiri atau kanan punggung nefrolitiasis "
"Sialan kau Ram"
Jintan pun terus menghindar sambil memikirkan rencana apa yang harus dia buat untuk mendekati nefrolitiasis mengakihkan pandangan nya,
"SHILD" Jintan pun mengeluarkan perisai dalam tubuhnya lalu menangkis serangan lengan dari nefrolitiasis itu Jintan pun perlahan lahan maju mendekati nefrolitiasis itu lalu ketika menurut Jintan posisi nya sudah cukup dia melemparkan perisai itu ke arah matanya nefrolitiasis itu, lalu ketika padangan nefrolitiasis itu ter alihkan,
Jintan maju ke punggung nefrolitiasis itu lalu Jintan mengucapkan "KURAMBIAK" dia mengeluarkan dua senjata di tangan nya berukuran kecil melengkung lalu menyerang bagian kiri kanan di punggung nefrolitiasis senjata itu pun menusuk nefrolitiasis lalu "MEMANJANGLAH" senjata itu memanjang hingga menembus bagian depan nefrolitiasis lalu jintan pun melebarkan tangan nya kekedua sisi hingga nefrolitiasis itu terbelah menjadi dua lalu nefrolitiasis itu berubah menjadi debu yang arti nya kemenangan untuk Jintan.