
Jintan terus memperhatikan si pemilik warung dari kejauhan hingga saat malam hari, Jintan yang merasa aneh melihat pengunjung yang berkunjung ke warung makan tersebut dengan cepat kembali keluar dari warung makan tersebut.
"mengapa orang-orang itu cepat sekali makannya ya ?" ujar Jintan yang keheranan.
"Jin lebih baik kau priksa ke dalam warung makan itu , aku merasa ada yang aneh!" jawab Ultram.
Jintan pun mencoba memasuki warung makan tersebut , Jintan tak menemukan si pemilik warung itu di sana .
"Sialan apa dia tahu kalau aku sedang memperhatikan dia ? " ujar Jintan.
"Jin lebih baik kita pergih ketempan paman nya ben siapa tahu pria itu sudah mulai melancarkan aksinya !" balas Ultram.
Jintan pun mulai mengambil ponsel dari sakunya menelpon Benjamin untuk menanyakan di mana keberadaannya.
"Halo ben apa kau tahu dimna keberadaan paman mu?" tanya Jintan kepada Benjamin.
"Huu dia baru saja berkunjung kemari , memang nya ada apa?" balas Benjamin.
"Ahh tidak aku hanya ingin bertemu dengan Paman mu ada yang ingin aku tanyakan ke dia !" mengeles Jintan.
"kalau kau mau bertemu dengan nya coba saja kau pergih ke rumahnya ,dekat pantai cendani yang jaraknya tidak jauh dari tempat penginapan kita" ucap Benjamin.
"Baiklah kalau begitu" balas Jintan.
"Hey tunggu Jin ini sudah malam kau jangan keluyuran sendirian lagi kau belum pulih, lagi pula kita kan mau ke festival yang ada di kota ini Jin" ucap Benjamin.
"Tenang saja aku tak akan lama ko ,Nanti juga aku akan susul kalian ke festival itu jadi kaloan pergih duluan saja ke sana , Aku tutup ya telponnya dahh " balas Jintan sambil mematikan panggilan telepon mereka.
Jintan pun memberhentikan taksi menuju ke rumah Pamannya Benjamin.
Sementara itu Pamannya Benjamin baru saja sampai di rumahnya, Pamannya Benjamin merasa keheranan karena rumahnya terasa sunyi tak seperti biasanya.
"Sayang apa kau ada di rumah" ucap Paman Benjamin sambil mencari istrinya.
Sesampainya di ruang tamu alangkah kagetnya Pamannya Benjamin melihat anak putri kecilnya sedang terikat dengan mulut di tutup lakban di atas sofa ruangan itu , terlihat sosok pria yang berdiri di samping istri anaknya.
"Oi kau apa yang kau lakukan kepada anak istriku?" bertanya Paman Benjamain kepada pria itu.
"Ohh sang ayah rupanya sudah pulang" ucap Pria itu.
"Kau kan !".
Ucap Pamanya Benjamin yang mengenali orang tersebut yang merupakan si pemilik warung yang anak istrinya tewas karena tertabrak olehnya.
" Ternyata kau masih mengingatku rupanya " ucap si pemilik warung kepada pamannya Benjamin yang terkejut melihatnya.
"Hei anak istri ku tidak ada urusan dengan mu jadi tolong lepaskan mereka aku mohon" ucap memohon pamannya Benjamin.
"Hm anak istri ku juga tidak ada urusan dengan mu, tetapi kau membunuh mereka!" balas Pemilik warung sambil mengubah tangannya menjadi tangan ergotisme.
Pamannya Benjamin pun terkejut melihat tangan si pemilik warung berubah itu makin membuatnya khawatir tentang keselamatan anak istrinya.
"Aku aku mohon bebaskan mereka !!" ucap Paman Benjamin sambil bersujud di hadapan si Pemilik Warung.
"Tentu aku akan membebaskan meraka kau jangan khawatir, Aku akan membebaskan mereka dari orang keji seperti mu dengan mengirim mereka dengan api suci ku ini , Holy Fire".
Ucap Pemilik Warung sambil mulai mengeluarkan api dari tangan kanan ergotisme nya.
"hmmm ayhhhh" ucap tangis putri Pamannya Benjamin melihat tangan si Pemilik Warung mengeluarkan api.
Saat Pemilik Warung mulai mengarahkan tangan kanan ergotisme nya yang sudah di selimuti api itu tiba-tiba terdengar suara dari ruangan sebelah.
"Glass Blow"
Pemilik Warung pun menoleh ke arah kata-kata itu berasal saat dia menoleh dia melihat sesuatu melayang ke arahnya menyerupai kepalan tangan manusia yang yang ukurannya tiga kali lebih besar dari kepalan tangan manusia normal.
Kepalan tangan manusia itu pun mengenai tepat wajah si Pemilik Warung hancur seperti kaca yang pecah, Pemilik Warung pun sampai terpental cukup jauh hingga menghancurkan pintu kaca besar di ruangan itu , lalu si pemilik warung pun terjatuh tenggelam ke kolam renang di luar ruangan itu.
"Kalian tidak apa-apa , syukur lah aku berhasil tepat waktu" ucap Jintan yang sudah menggunakan armornya kepada Pamannya Benjamin.
"Kau kan Madollsman kan?" ucap bertanya Pamannya Benjamin kepada orang yang dia anggap sebagai Madollsman.
"Cepat bawa pergih keluarga mu , kaget dengan armorku nya nanti saja" balas Jintan.
"Ahh tetapi armormu terlihat keren ko!" ucap kembali Pamannya Benjamin.
"Ah ilah ,,Udah buru sana bawa keluargamu" ucap Jintan sedikit kesal.
Pamannya Benjamin pun membawa pergih anak istrinya dari tempat itu kini jintan pun menuju ke arah kolam renang tempat si Pemilik Warung terhempaskan oeh serangannya.
"Apa kau sudah mati Pak?" ucap Jintan sambil melangkah kan kakinya ke arah kolam renang itu.
Tak lama kemudian tiba-tiba air di kolam renang itu mendidih mengeluarkan uap yang tebal hingga pandangan Jintan sedikit terhalangi.
"Hy bocah!! bukankah sudah ku bilang kemarin jika kau mengganggu ke adilan ku lagi kau akan mati!, Apa karena kemarin aku mengampuni nyawamu kau jadi berpikir kalau kata-kata ku kepadamu itu cuma omong kosong ha?".
Ucap Pemilik Warung dari dalam kolam yang airnya mulai surut karena menguap.
"Jika aku tak menghentikan keadilan sesat mu itu! , Sama saja aku seperti mati Pak ,jadi menghadapi mu adalah pilihan yang lebih baik jika bisa mengalahkan mu atau bahkan menyadarkan mu ,maka aku kembali hidup seperti biasanya".
Ucap jintan sambil mencoba menoleh ke bawah kolam renang itu.
" Kata-kata mu selalu terdengar sombong bocah".
Ucap Pemilik Warung dengan terbang dari bawah kolam itu.
"Sial dia keren sekali!".
Ucap Jintan yang melihat si Pemilik Warung terbang dia atas kepalanya dengan kedua kaki Ergotisme nya yang mengeluarkan api seperti roket.
"Hay Jin Ergotisme di dalam tubuh Pria itu nampaknya hampir sedikit lagi menguasai sepenuhnya tubuh pria itu , Kita harus membunuh pria itu Jin sebelum terlambat ! ".
Ucap Ultram yang melihat tubuh si Pemilik Warung ,yang hampir sepunuhnya menyerupai bentuk Ergotisme hanya menyisakan dada sebelah kiri kepala pemilik warung itu saja yang masih seperti tubuh manusia.
"Shild , Kurambiak" .
Jintan mengeluarkan Prisai di tangan kirinya senjata kecilnya di tangan kanannya.
"Apa kau sudah siap mati kali ini bocah ?" .
Ucap Pemilik Warung itu sambil melihat ke arah Jintan yang berada di bawah nya.
"Harusnya kata-kata itu milik ku Pak , karena kali ini aku yang akan membunuh mu!".
Ucap Jintan dengan tubuh tegap nya pandangan tajamnya ke arah si Pemilik Warung.