
Rringgggg Rringggg Rringggggg
"Huaaa iya-iya aku sudah bangun"
Suara dari jam beker yang membangunkan Jintan di pagi hari ini.
"Huu sudah saatnya aku pergih kerja ya"
Ucap Jintan yang menatap malas ke arah jam beker nya yang sudah menunjukkan bahwa dia harus siap-siap untuk pergih bekerja di kedai kopi Tony
"Hy pagi chana, pagi juga Pak tua"
Ucap Jintan kepada Chana Tony yang sedang berada mempersiapkan kedainya untuk di buka
"Pagi Jintan"
Balas Chana dengan senyuman yang ada di bibir tipisnya
"Haa siapa yang kau bilang Pak tua haa , lagian sudah jam berapa ini ha ?"
Ucap tony dengan matanya yang melotot ke arah Jintan
"Hehe maaf kan aku Pak hari ini banyak pekerjaan rumah yang harus ku selesai kan"
Balas mengelak Jintan agar tony tidak memarahinya lebih jauh
Hari itu pun Jintan jalani seperti biasanya bekerja sebagai pelayan di kedai kopi, hingga sore hari
Tringgs
Jintan menoleh ke arah pintu kedai yang terbuka nampaknya datang seorang pengunjung saat meraka bersiap untuk menutup kedai itu
"Huu pria ini selalu datang saat kita mau tutup"
Jintan menghela nafasnya ketika tahu ada pelanggan yang datang saat dia hendak siap untuk pulang
"Selamat datang"
Ucap Chan menyambut kedatangan pelanggan itu
"Anu pesanan seperti biasanya ya"
Balas Pelanggan itu memesan menu seperti biasa dia pesan di kedai ini
"Tentu silakan tunggu"
Ujar Chana yang sudah tahu apa yang pelanggan itu maksud
"Jin ini tolong antarkan"
Ucap Chana kepada Jintan sambil memberikannya pesanan pelanggan itu kepada Jintan
"Baik lah"
Jintan pun berjalan ke pelanggan itu untuk mengantarkan pesanan nya
"Permisi maaf membuat anda menunggu"
Ujar Jintan sambil menaruh pesanan Pelanggan itu di mejanya
"Iya terima kasih"
Balas Pelanggan itu dengan tatapan kosong nya
"Hm pria ini kalau aku perhatikan dia selalu memakai Hoodie sarung tangan terus apa dia tidak kepanasan ya memakai itu semua"
Gumam Jintan di dalam hatinya yang menanyakan mengapa Pelanggan tersebut selalu mengenakan hoodie sarung tangan setiap datang ke kedai kopi Tony
tetapi Jintan pun tidak mengambil pusing soal itu lalu dia kembali ke tempat nya meninggalkan Pelanggan itu
"Hai kalian jangan pulang dahulu sampai pelanggan itu selesai"
Ucap Tony kepada merek berdua yang tampak ingin segera pulang kerumah mereka
"Uhh hay Pak apa kau tahu siapa pelanggan itu dia selalu datang saat kita hendak tutup"
Ucap Jintan bertanya kepada Tony sambil memalingkan wajahnya ke arah Pelanggan itu
"entah lah aku juga tidak tahu siapa dia , Soalnya dia sangat pendiam si"
Balas Tony sambil menyibukan dirinya dengan mencuci piring
Trakkkkk
Saat mereka bertiga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka , Tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari arah Pelanggan itu
"Hu apa itu"
Ucap Jintan yang tekejut mendengar suara itu
Ujar Chana yang berteriak memanggil Jintan Tony
Jintan Tony pun berlari ke arah suara Chana yang memanggil mereka melihat si Pelanggan sedang kejang-kejang di bawah mejanya
"Hay tuan anda tidak apa-apa"
"Erngggggg"
Jintan yang mencoba menyadarkan Pelanggan itu yang sedang Kejang-kejang lalu terdengar suara erangan dari Pelanggan itu
"Hu apa dia mengerang kepadaku"
Ujar Jintan yang terkejut mendengar suara erangan dari pelanggan itu
Taklama kemudian pelanggan itu pun berhenti dari kejang-kejang nya dia pun mulai tersadar kembali
"Tuan apa anda tidak apa-apa"
Ucap bertanya Jintan kepada Pelanggan itu yang baru saja tersadar
"Ahh iya aku baik-baik saja maaf sudah membuat kalian khawatir"
Balas pria itu sambil membersihkan air liurnya yang keluar dari mulut nya dengan bagian bawah hoodie nya
saat pria itu mengelap air liurnya dengan hoodie yang dia pakai mereka bertiga terkejut melihat tubuh pria itu diselimuti bulu-bulu yang tebal menyerupai bulu hewan
tetapi mereka bertiga berusaha untuk menahan perasaan terkejutnya untuk menjaga perasaan Pelanggan tersebut.
"Tuan apa kau mau kami antar ke rumah mu"
Ucap Tony kepada pelanggan itu yang baru saja berdiri
"terima kasih tetapi itu tidak perlu, kalau begitu saya permisi dahulu ya maaf jika saya sudah merepotkan kalian bertiga"
Ucap Pelanggan itu sambil pergih dari kedai kopi Tony
"Sungguh mengejutkan orang itu ya , bulu-bulu di tubuhnya pantas saja dia selalu memakai hoodie sarung tangan"
Ucap Chana sambil melihat Pelanggan itu yang meninggal kedai kopi
Setelah Pelanggan itu pergih merekapun menutup kedai kopi mereka Jintan Chana pun beranjak pulang dari sana
" Pelanggan yang tadi keliahatan kasian ya Ram aku yakin kehidupan nya sangat berat dengan kondisi tubuh seperti itu"
Ucap Jintan kepada Ultram setelah berpisah dari Chana yang sudah sampai di rumahnya duluan
"Ya kau benar tetapi aku sedikit khawatir dengan orang itu , aku takut dia berubah menjadi morbus"
"Hm kalau dia berubah menjadi morbus membahayakan para penduduk aku harus siap menghadapinya"
Balas Jintan sambil menuruskan pejalanan nya ke apartemen nya
Sesampai nya di rumah Jinta merebahkan tubuhnya di atas kasurnya lalu dia memainkan poselnya
"Hu ada yang sedang live di outsgram nih"
Ujar Jintan yang melihat ponselnya
"Sial apa-apaan ini "
Jintan pun terkejut saat melihat video live yang sedang di tontonnya sedang menyiarkan bahwa terdapat morbus yang sedang menyerang para penduduk.
"Ayo Ram kita bergegas ke sana"
Ucap Jintan sambil berlari je tempat siaran yang sedang iya tonton itu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya
"Armor" Jintan mengeluarkan armornya saat hampir sampai di tempat tujuannya
Namun sayangnya Jintan telat sampai di sana dia hanya melihat lima mayat pemuda, Termasuk si perekam video live tadi dengan keadaan seperti tercabik-cabik oleh binatang buas
"Apa ini sunggung perbuatan dari morbus ,tetapi ini terlihat seperti serangan binatang buas"
Ucap Jintan yang keheranan melihat kondisi mayat itu
Saat Jintan mencoba melihat para mayat pemuda itu ,Jintan melihat salah satu mayat memegang sebuah sobekan baju .
"ini seperti sobekan dari hoodie pelanggan kedai tadi"
Ucap Jintan yang mengenali sobekan baju itu
Jintan pun berusaha mencari keberadaan morbus yang baru saja menyerang namun Jintan tidak bisa menemukannya
"Sial ke mana pergihnya morbus itu ya"
Ucap Jintan yang terlihat bingung di mana keberadaan morbus yang menyerang itu
akhirnya Jintan pun menyerah mencari keberadaan morbus itu di tambah banyak penduduk yang melihatnya mengejar dirinya untuk sekadar bertanya atau membuat video di sosial media mereka