Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
S Grade Ⅱ




"Terdapat Dewan di Academy, yang di sebut dengan Trinity Council, Tugas masing-masing Dewan itu berbeda-beda, terutama Dewan siswa yang bertugas mengatur jalanya Aktifitas di Academy, segala kegiatan kami yang mengatur dan mengawasinya, mulai dari Aktifitas belajar, Ujian, Festival, Perlombaan, kami yang Urus, jadi aku harap kalian mengerti" jelas Austin dengan tatapannya yang dingin, berbeda sekali saat dia bersama dengan Adria.


"Dewan Keamanan yang bertugas mengamati segala tindakan dan perilaku Siswa-siswi Academy ini, apabila terdapat Siswa atau Siswi yang melanggar maka kami tidak akan segan untuk menghukum, jadi bagi Siswa-siswi yang melanggar peraturan Academy akan berhadapan dengan kami" Tegas Naomi dengan tatapannya yang tajam, dibalik tubuhnya yang kecil, serta wajahnya yang manis ia merupakan sosok yang sangat tegas serta memiliki kekuatan di atas Sebastian dan Austin.


"Mungkin di antara kalian keberadaan Dewan Sihir tidak terlalu penting dan mengganggu, tugas kami sebenarnya mengawasi keamanan Academy agar orang asing tidak sembarangan merusak dan menganggu Ketertiban Academy, selain itu kami juga melakukan pengecekan tingkat kekuatan masing-masing Siswa setiap sebulan sekali, kami juga yang menggantikan guru di saat mereka tidak ada" ucap Sebastian datar.


Kemudian Naoki tersenyum manis "Aku bosan terlalu lama disini, lebih baik kita segera berkeliling" ujar Naomi


"Siapa diantara kalian yang bisa melakukan Sihir portal dari kelas ini ke depan gedung Academy" tanya Naomi lembut


Seketika seisi kelas tercengang dengan pertanyaan yang dikeluarkan Seniornya itu, mereka sama sekali tak bisa berkata apapun, sementara itu Adria tak perduli dengan keadaan kelas saat ini, ia lebih memilih hanyut dalam Imanjinasinya sendiri. Sementara Sebastian menatap Adria, ia berharap Adria mau menggunakan kekuatannya itu di depan seisi kelas, beberapa detik kemudian Kurtis tanpa rasa takut mengangkat tangan kanannya keatas.


"Anu, Mungkin Lady Adria bisa melakukannya" ujarnya.


Seisi kelas langsung menatap Adria dan Kurtis secara bergantian, Sebastian menepuk dahinya pasrah, dan menggelengkan kepalanya, Naomi melihat kearah Adria yang tengah melamun ia memperhatikan Adria dengan teliti, sementara Austin menatap Adria lekat lekat, seperti tak ingin kehilangan apa yang ada di hadapannya.


*kalau Illan tau mungkin dah di hajar nih Austin >∆<


Kemudian Adria pun tersadar seisi kelas melihatnya, ia melihat sekeliling kelas yang menatapnya penuh keheranan, serta ketiga seniornya yang ada di depan melihatnya semakin membuat Adria kebingungan.


"Kenapa tiba-tiba mereka melihatku seperti ini" batin Adria.


"Huh, Kurtis apa yang kau katakan tadi" tanya Sebastian.


"Aku rasa Lady Adria dapat melakukannya" ujarnya.


"Tunggu dulu, apa maksudmu dengan melakukannya, aku tak mengerti sama sekali" Bisik Adria kepada Kurtis yang duduk tepat di depannya itu.


"Huh, sesuai firasat ku, kau pasti tak mendengarkan dan sibuk melamun" Ucap Flor yang duduk di sampingnya.


"Adria bagaimana dengan mu, apakah kau bisa membuat Portal untuk sampai kedepan gedung Academy?" tanya Flor.


"Yah aku bisa, memangnya untuk apa?" tanya Adria polos.


Flor menepuk dahinya "huh, Kak Naomi sedang mencari seseorang yang bisa membuat portal, lalu sibodoh di depanmu itu malah menyebutkan namamu, sebaiknya kau melakukannya karena Ketiga Senior kita sedang kesal" Jelas Flor.


"Baiklah, aku akan melakukannya, tapi aku tak menjamin aku bisa membuat Portal itu" Tegas Adria kepada Seisi kelas.


Ketiga Seniornya itu pun melihat Adria dengan tatapan yang berbeda.


"Siapa sebenarnya Adria ini, apa mungkin ia bisa melakukannya, Portal merupakan sihir tingkat tinggi dan tidak sembarangan orang yang mampu membuatnya" batin Naomi.


Sebastian menyilangkan tanganya di depan dan bersender kepada papan tulis di belakangnya.


"Aku tak menyangka Adria akan memberanikan dirinya seperti itu, tapi aku ingin lihat seberapa besar kemampuan keluarga Kekaisaran Devillia!" ujar Sebastian


"Lady Adria tak seperti dulu, sekarang ia sudah seberani ini, padahal dulu ia hanya seorang gadis kecil yang selalu takut sendirian, dan berlari kearahku saat aku tiba ke Kastilnya." gumam Austin sembari mengingat masa lalunya.


Sebastian yang hanya diam saja sedari tadi berjalan mendekati Naomi yang tengah kebingungan, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinganya, Naomi pun menganggukan kepalanya tanda mengerti apa yang disampaikan Sebastian, kemudian Naomi pun mulai mendekati Meja yang Adria dan kedua temanya tempati.


"Baiklah, Adria silahkan maju ke depan, dan buatlah Portal menuju Halaman depan Academy, kau bisa melakukannya bukan" ucap Naomi lembut.


Adria hanya membalasnya dengan anggukan dan senyumanmu kecil kemudian ia bersama Naomi berjalan ke depan setelah sampai di depan kemudian ketiga seniornya itu menjauh dari Adria, Adria pun mulai merapalkan Mantranya.


Adria pun mengarahkan tangan kanannya kedepan dan membuka telapak tangannya


"Gerbang agung yang memberikan kami jalan, antarkan kami ketempat yang kami inginkan. Datanglah kehadapan ku!" serunya


Setelah ia selesai membacakan mantra seisi kelas dipenuhi Aura yang sangat kuat, Aura yang dimiliki Adria sendiri yang memenuhi ruangan, perlahan kabut berwarna putih dan hitam membebtuk suatu pusaran di depan Adria, dan perlahan muncul sebuah cahaya berwarna biru tua, dan munculah sebuah gerbang yang cukup besar berwarna hitam, dihiasi bunga Mawar berwarna putih, serta Naga berwarna Hitam dan Putih di bagian atasnya, ditengahnya terdapat portal berwarna biru tua yang tidak terlalu transparan, Di hadapan Siswa-siswi kelas S itu kini berdiri jelas sebuah Gerbang yang sangat besar dan mewah, sebuah sihir tingkat tinggi yang tak sembarangan dapat dikuasai bahkan Ras Demon sekalipun.


"Tak ku sangka ia bisa membuat portal yang seperti itu, dan terlihat jelas bahwa portal itu ia panggil bukan ia yang membuatnya." Gumam Naomi penuh tanda tanya.


*Perbedaan Gerbang yang dibuat dengan gerbang yang dipanggil memiliki perbedaan yang sangat berbeda, karena proses pemanggilan gerbang berarti seseorang telah melakukan kontrak dengan gerbang tersebut. Dalam dunia ini Gerbang sihir merupakan sebuah wujud dari Mahkluk Mistik tertentu, dan gerbang yang di panggil Adria merupakan gerbang yang merupakan jelmaan dari Naga Yin dan Yang.


"Bukan sudah kubilang percayakan saja padanya" ujar Sebastian yang tengah bersender di dinding kelas


"Baiklah, Portal nya sudah siap, tapi aku tidak yakin kalian semua bisa masuk kedalamnya" ujar Adria


"Kau tahu, ini kusebut dengan Hellgate, aku harap kalian berhati-hati saat masuk kedalamnya" ujar Adria dengan senyum liciknya


"Baiklah, kita akan masuk kedalamnya" Tegas Austin.


"Maaf, tapi apakah kalian gila menyuruh kami untuk masuk kedalam portal yang anak iblis ini buat, bentuknya saja sudah jelas terutama bunga mawar putih yang mengelilingi gate itu" bantah Karael.


"Bisakah kau bersikap sopan saat ada senior di hadapanmu" ancam Sebastian dengan Aura mengintimidasi miliknya


"Kalau kau tak ingin mengikuti peraturan kami, kami tidak perduli apa kau fikir hanya Adria yang seorang iblis disini, Aku dan Naomi juga sama seperti Adria" jelas Austin


Karael tak mampu berkata apapun, sementara Adria merasa memenangkan hari ini.


"Berhentilah berdebat, aku sudah muak dengan kelas ini, benar-benar tidak ada sopan santun, jelas ini benar-benar kelas yang bermasalah" omel Sebastian.


"Baiklah kalian semua buat dia barisan" ujar Naomi.


Semuanya perlahan membuat barisan, mulai dari depan hingga kebelakang. Sementara Adria dan ketiga Seniornya menunggu hingga semuanya masuk kedalam Portal.


Naomi mendekati Adria dan menepuk pundak kanannya dengan lembut.


"Adria kerja bagus." ujarnya lalu tersenyum manis


"Terimakasih!"


Setelah semuanya masuk, mereka berempat ikut masuk kedalam portal.


***


Sang mentari mulai naik ketempat nya, angin perlahan meniup pepohonan membuat suasana menjadi sejuk, awan  terbang di atas langit karna dorongan angin siang, semua orang yang sudah sampai terkejut dengan kejadian ini, mereka semua menatap Adria seakan tak percaya apa yang tengah mereka alami.


"Baiklah, aku ingin kalian mengikuti arahan kami, buat barisan yang rapi jangan sampai ada yang berkelahi ataupun berdebat" ujar Austin.


"Baik Senior" ucap mereka bersama-sama


"Setiap wakil dari Dewan kami mohon untuk di samping kami" ujar Sebastian


Kemudian aku dan kedua orang lainnya mengikuti perintah yang kak Sebast katakan, Kami bertiga berdiri di samping masing-masing ketua kami, Wakil dari Dewan Keamanan adalah seorang Vampire Bangsawan, Rambutnya biru gelap sebahu yang di sisi kirinya di kepang dan di beri jepitan berbentuk mawar merah, matanya berwarna hitam pekat yang mengintimidasi, tingginya sekitar 160 cm, kulitnya pucat sekali. Ia adalah Ciel Ingram, Seorang gadis tunggal yang merupakan Putri Mahkota Ras Vampire, ia memiliki skill yang sangat kuat yaitu Blood Glasses, ia mampu mengubah darah menjadi kaca yang sangat tajam dan mematikan, biasanya ia menggunakan darah lawannya, ia juga suka menyiksa lawannya sampai lawannya tak bisa bergerak lagi, tapi yang lebih parah terkadang ia membuat lawannya mati.


Kemudian wakil dari Dewan Siswa, merupakan seorang pria berkulit kecoklatan, rambut panjangnya yang berwarna hitam di ikat menggunakan tali berwarna coklat menyisakan poninya yang panjang yang berada di depan telinganya, wajahnya yang tirus membuat dirinya tampak sangat menawan, serta tulang hidungnya yang mancung, matanya yang tajam berwarna Hazel seperti mata Elang, tubuhnya yang bidang sangat telihat jelas dengan usianya yang masih belia. Tingginya hampir sama dengan Austin. Ia adalah Seorang ArcBeast  yang memiliki kekuatan di atas rata-rata, pemimpin Ras Beast selanjutnya, Liam Hemthevar. sseorang pria yang sudah berada di tingkat ke 4 pada saat ia masih berusia 6 tahun. Seseorang yang harus aku awasi.


Sedangkan wakil dari Dewan sihir merupakan seorang gadis berambut hitam kelam yang di sanggul dan dikepang dan dililitkan di Sanggulnya, matanya berwarna merah bagaikan Ruby, kulitnya kuning langsat, seorang gadis yang sudah mendapatkan gelar Swordmaster di usianya yang mulai beranjak remaja,


namun ia tidak bisa mengendalikan kekuatan besar yang di milikinya, yah itu aku. Adria Rein yang berasal dari keluarga Grand Duke Eelvia.


Semua orang menatap kami dengan rasa kagum, mereka tidak dapat berkata sepatah katapun, para siswi yang mengidolakan ketiga pria tampan di depan mereka, tak henti hentinya menatap mereka bertiga, sementara para Siswa nya melihat Kak Naomi yang tengah berdiri di hadapan mereka, tidak ada yang melihat diriku dan Ciel, karena aku merupakan gadis pendiam namun bar-bar, sementara Ciel sangat cuek dan memiliki tatapan serta Aura dingin. Perlahan aku ciut berdiri di samping mereka, kak Sebastian yang sedari tadi mengawasi diriku, membuatku terganggu.


"Baiklah, aku minta perhatiannya. Mereka bertiga memiliki posisi yang sama dengan kami, jadi aku harap kalian mematuhi perkataan mereka bertiga" tegas Austin dengan tatapan dinginnya


Austin memberi tanda pada Naomi untuk segera pergi ke tempat selanjutnya, Naomi mengangguk tanda faham.


"Baiklah, kita akan pergi ke Arena" ucap Naomi lembut.


Kami semua pun berjalan menuju Arena yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 25km, tidak ada yang membantah kali ini mereka menurut, aku lihat Laila yang terlihat kebingungan di barisan belakang. Setelah beberapa menit kami pun sampai di Arena, dan mendapati murid dari kelas lainnya sudah sampai, bersama dengan beberapa Dewan lainya, kak Illan melambaikan tangannya ke arah kami, aku hanya membalasnya dengan senyuman, aku juga bingung kenapa mereka bertiga Sebastian, Austin, dan juga Naomi tidak menyuruh diriku untuk membuat portal sampai kesini, apa yang mereka fikirkan. Sementara itu Kakak kelas kami yang lainnya telah sampai dan duduk di kursi yang berjejer melingkar di atas Arena.


Austin menepuk tangannya beberapa kali dengan sangat kencang, "baiklah kalian semua fokus" ujarnya


kemudian ia memberi tanda, lalu Para Dewan yang baru maju ke depan dan berbaris membentuk Banjar, sementara aku berdiri di samping kak Sebastian, Ciel dan Liam pun sama, sementara itu para Dewan senior membantu mengatur siswa lainya, Murid tahun ketiga juga hadir disini, tatapan mereka seperti meremehkan kami, aku hanya diam melihat sekeliling.


"Aku ingin kalian semua menunjukan kekuatan kalian masing-masing, kita akan disini sampai kalian semua selesai, jadi tunjukan kekuatan terkuat kalian, untuk kelas B, A, dan S, jangan terlalu bangga dengan kekuatan yang kalian miliki, dan untuk kelas C, jangan malu dan ragu dengan kekuatan kalian sendiri dan juga jangan iri dengan kemampuan yang dimiliki kelas lain. Apa kalian Faham" Tegas Austin


"Baiklah di mulai dari kelas S terlebih dahulu Dewan senior kalian yang akan mengamankan Arena ini apabila terjadi sesuatu yang membahayakan" ujar Naomi menenangkan.


"Masing-masing kelas maju 5 orang sekaligus agar tidak membuang waktu" tegas Sebastian.


***


Sementara para Dewan lainnya yang tengah mengawasi Illan dan Prissy sibuk membahas hal yang tidak penting,


"Tak kusangka Sebastian bisa bersikap seperti itu di depan banyak orang" bisik Illan ketelinga prissy, kemudian mereka tertawa kecil bersama.


"Kau ini, benar juga kemarin saat penyambutan dia sangat canggung" balas Prissy.


"Ekhem" ujar liz membuat mereka berdua menatapnya.


"Lihatlah sepertinya adiknya kesal" ujar Prissy.


"Apa kalian bisa tenang" ujar seorang pria berambut Emas di samping Illan


"Kau ini selalu saja tak punya selera Humor Ernestine" ejek Illan 


"Seharusnya kau merasa malu, karna kau merupakan Murid terbaik di Academy!" balas pria yang di sebut Ernest


Tiba-tiba Rex muncul rambut birunya kini diikat Ponitail dan menyisakan poninya yang panjang, ia menepuk pundak Ernest cukup kencang.


*Rex dan Ernest merupakan anggota Dewan siswa, Rex muncul pada Chapter Filladevia


"Sob kau jangan terlalu di anggap serius, Austin yang dingin saja bisa di ajak bercanda" ujarnya


"Rex kau dari mana saja" tanya Illan


"Biasalah, mencari gadis yang cocok untukku, Aku lihat banyak sekali murid baru yang sangat manis" balasnya


"Terserah dirimu, yang terpenting kau tidak dekat dengan Naomi, kalau mau melakukan itu mungkin nyawanu sudah aku pindahkan ke Neraka" balas Illan


"Kau masih mengejar Naomi, apa kau sudah gila! Masih banyak wanita cantik disini"


"Tapi tidak ada wanita yang sebaik dan selembut Naomi"


"Kau benar juga"


"Illan apa kau tahu, Austin menyukai Adria."


"Ya aku tahu, dan aku tidak menyukai dia dekat dengan Adria."


"Kenapa?" "kau menyukai Adria juga, bukannya Adria juga menyukai Austin"


"Yak aku tidak perduli, Adria adalah adiku, jadi aku perduli!"


"Kalian bahas tentang Adria, lihat sebentar lagi dia akan menunjukkan kemampuannya" ujar Prissy tanpa menoleh kearah mereka sedikitpun


Mereka bertiga melihat Adria yang akan menunjukan kekuatannya, sementara posisi Adria sekarang.


***


"Adria Rein silahkan tunjukan Kemampuan yang paling kau kuasai kami sudah memasang Pelindung, lepaskan saja semua Auramu!" ucap Austin


"Baiklah" balasku aku pun maju kedepan mereka, dan mulai mengeluarkan semua Auraku.


Perlahan aku melepaskan Auraku, Aura tipis perlahan memenuhi Arena beberapa detik kemudian Aura tipis menjadi Aura yang tebal dan pekat, berwarna Merah gelap rasa dingin dan suram memenuhi Arena, perlahan membuat semua orang yang hadir merinding, di antara mereka bahkan ada yang tidak menyangka, bahwa gadis seperti diriku memiliki Aura yang kuat seperti ini, terutama para murid tahun ketiga, yang sedari tadi memandang murid baru dengan sinis.


"Tapi kak, aku takut kehilangan kendali, aku takut membahayakan mereka." ujarku


"Tenanglah aku yang akan bertanggung jawab." ucap Kak Illan tiba-tiba berada di sampingku.


Aku pun mulai mengeluarkan kekuatan terbesarku, Aku sekarang tahu apa tujuan mereka melakukan hal ini, mereka mengajarkan kita agar dapat mengontrol kekuatan yang paling terbesar yang dimiliki masing-masing.


"Darkness Area" Ucapku, perlahan seisi Arena menjadi gelap, Arena seakan tertutup oleh Kegelapan yang sangat kuat, Arena kini tertutup Oleh kekuatan sihirku, dulu Aku pernah menggunakannya, namun sayangnya aku gagal dan membuat Aria tertutup kegelapan selama beberapa jam dan Ayahku lah yang membuat seperti semula dengan sihirnya dan membuat Aria seperti sekarang, Aku cukup Trauma dengan Skill ini.


*Darkness Area, merupakan sihir Khas yang dimiliki Keluarga Kekaisaran Devillia. Namun, tidak semua keluarga Kekaisaran dapat mengendalikan kekuatan ini, karena memiliki pengaruh yang sangat kuat, efeknya dapat melumpuhkan lawan dalam jangkauan Areanya, sampai membuat lawan tak mampu berkutik sehingga memudahkan untuk menyerang.


"Sangat gelap, Sihir ini seperti Skill yang Illan miliki, aku pernah terperangkap dalam sihirnya tahun lalu" ujar salah satu dari murid tahun ke dua.


"Benar sangat gelap, seperti sedang listrik mati" balas yang lainya.


Kemudian Illan perlahan mendekati diriku "Adria apakah kau sudah bisa melepas sihirnya" ujarnya


"Baiklah akan ku coba" balasku


Kemudian aku pun perlahan menghilangkan efek dari sihir itu, namun sayangnya aku tak mampu melepas sepenuhnya


"Adria tenanglah, lalu fokus dengan tujuanmu untuk melepaskan sihirnya" ujar Illan lembut


Aku pun fokus untuk menghilangkan sihir itu, perlahan-lahan sihir itu mulai menghilang, aku tahu sepenuhnya bukan karena diriku tapi karena Kak Illan yang membantu.


Kemudian suasan6 kembali seperti semula, kini Arena kembali diterangi mentari yang memancaekan panasnya.


"Adria, sekarang kau sudah dapat mengendalikan sihirmu, Aku harap kau bisa lebih baik dari sebelumnya" ujar Austin lalu memberikan senyumnya


"Trimakasih" balasku


"Lihatlah Austin tersenyum, bukankah aneh seorang pria yang dijuluki sebagai Frozen Duke tiba tiba tersenyum kepada seorang gadis" ejek Illan yang membuat beberapa Dewan senior tertawa, hal itu jelas membuat Austin kesal.


"Ekhem, baiklah Adria kembali ketempatmu" ujar Austin yang tidak perduli dengan ejekan Illan.


"Illan sebaiknya kau lakukan tugasmu" ujar Sebastian yang berada di samping ku


"Baiklah selanjutnya" ujar Naomi.


Kurtis maju ke depan, dan ia menunjukkan kekuatan sihirnya


" Torre delle piante" ucap Kurtis sambil menggerakkan kedua tangannya ke depan, kemudian sebuah tumbuhan muncul dari bawah tanah, semakin lama semakin tinggi, disetiap batangnya terdapat daun yang besar dan lebar namun batangnya penuh dengan diri yang mengandung racun,di ujungnya terdapat bunga besar yang memiliki banyak sekali kelopak yang memiliki warna Galaxy yang indah, ditengahnya terdapat bola yang bersinar terang.


"Apa seperti ini sudah cukup? " tanya Kurtis


"Ya, sudah cukup" balas Naomi lembut


Kurtis kembali kebelakang, kemudian Fabian yang menujukan kemampuannya


Ia berjalan ke depan dan berdiri beberapa langkah di depan Austin, kemudian Ia mengeluarkan sebuah Greamore dengan sihir ruang waktu. Sebuah Greamore berwarna Biru gelap yang di segel dengan ukiran dari perak murni, ditengah Greamore tersebut terdapat Berlian Black Diamond.


Greamore Fabian melayang tepat di hadapannya, kemudian terbuka dengan sendirinya, Fabian pun mulai mengeluarkan sihirnya.


" Mist of death"


perlahan arena tertutup kabut kelabu yang berisi racun yang sangat mematikan, suasana perlahan menjadi suram, Arena perlahan bagaikan hutan kematian yang berada di Hutan Hitam, untungnya seluruh Arena ini telah terlindungi, kalau tidak mungkin saja saat ini sudah terjadi kematian massal, aku merasa sedikit sesak walaupun penghalang sudah terpasang.


"Kau boleh melepas sihirmu" ujar Illan yang berada di samping Fabian


Kemudian Fabian melepas sihirnya kabut itu pun menghilang pandangan kembali terlihat jelas, lalu Fabian kembali ketempatnya, beberapa jam kemudian akhirnya selesai, kami semua kembali ke Asrama masing-masing, sementara Aku dan Karael harus pergi menuju Ruang Dewan Keamanan dan berhadapan dengan kak Naomi serta anggota Dewan Keamanan yang sangat menyeramkan.