
Di tengah-tengah Halaman bagian dalam Academy para siswa dari seluruh angkatan mengerumuni sesuatu sejak beberapa menit lalu, sebuah pertengkaran antara dua orang siswa laki-laki menimbulkan keributan yang cukup menghebohkan, beberapa Siswa telah melerai mereka. Namun sayangnya pertengkaran itu tak terelakan lagi, beberapa Siswa lainnya hanya melihat tanpa berbuat apapun, lalu beberapa menit kemudian Naomi berjalan menembus kerumunan dibelakangnya Austin yang mengikutinya dibelakang, lalu di susul Sebastian. Ketiga Ketua itu melihat kedua adik kelasnya yang bertengkar, salah satunya telah kalah dan ia bersandar di dinding Aula dengan beberapa luka yang cukup banyak, sementara yang satunya berdiri dengan beberapa luka dan goresan, pakaian mereka berdua terlihat lusuh akibat perkelahian mereka.
Sebastian memijat dahinya, ia menggelengkan kepalanya sesaat, sementara Naomi melihat mereka dengan tatapan kesal.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa kalian bisa bertengkar seperti ini?" tanya Austin pada mereka berdua.
Mereka berdua hanya menatap Austin, Seorang yang tengah bersandar pada dinding menatap Austin dengan tatapan memohon, sementara yang tengah berdiri menatap Austin dengan tatapan penuh amarah.
"Itu, Rakyat jelata seperti dirinya berani menghina diriku yang Seorang Bangsawan, tentu saja aku kesal, aku tidak terima dia memperlakukan diriku tanpa rasa hormat." ujar pria yang bersandar di dinding sembari menunjuk kearah lawannya yang tengah berdiri, ia memiliki tinggi yang melebihi lawannya, rambutnya berwarna kuning gelap, dan matanya biru tua.
"Apa kau bilang, Seorang sampah seperti dirimu menginginkan diriku menghormati seonggok sampah!" "Kau pikir aku yang seorang rakyat jelata hanyalah setitik debu yang tak berguna, bukankah kau yang lebih dulu menghina aku dan teman-temanku!" balas seorang yang tengah berdiri, rambutnya pendek sebahu berwarna putih, matanya berwarna merah cerah, namanya Aiden Gregory, Murid kelas A.
"Huh baiklah, kalian berdua sekarang juga ikut kami!" "Aku tak ingin mendengar bantahan!" ujar Naomi lembut, namun nada perkataannya penuh dengan kekesalan.
"Tapi, Senior aku tidak salah, bajingan ini yang salah!"
Naomi mengeluarkan Auranya yang teramat kuat sehingga membuat semua orang disekitarnya merinding ketakutan, kecuali Austin dan Sebastian, "Ikuti kami sekarang juga!" ujar Naomi.
"Yah, dasar Mahluk lemah selalu saja meributkan soal Kasta!" celetuk Karael yang berada di tengah-tengah kerumunan.
"Semuanya bubar, lakukan kegiatan kalian masing-masing!" Teriak Sebastian, kemudian semua Siswa pergi.
Kedua orang itu mengikuti Mereka bertiga.
***
"Baru saja kita liburan, lalu keributan pun datang." ujar Fabian yang tengah bersandar di dinding ruangan.
Ruangan ini merupakan ruangan khusus tempat persidangan ketiga Dewan, biasanya mereka melakukan rapat di tempat ini, dan sekarang tempat ini akan dipakai untuk melakukan sidang kedua orang yang membuat onar pagi ini.
Seluruh Anggota Dewan berkumpul tak terkecuali Illan yang biasanya pergi entah kemana.
Adria tengah duduk di kursinya, sementara Illan duduk disebelahnya. Para Dewan lainnya juga berada di tempat ini, Liz yang tengah asik bermain dengan botol Elixir nya, Moana, Tracy dan Prissy yang tengah mengobrol, lalu adik junior mereka yang berbicara satu sama lain, Val dan Zephyr saling berbicara satu sama lain, sedari tadi mereka mengejek Illan. Namun Illan tak mempedulikan hal itu. Chris tengah bermain dengan sihirnya sendiri, sementara Laila hanya diam seperti biasanya.
Tak lama kemudian pintu terbuka, Naomi dan keempat lainnya masuk kedalam, raut wajah seisi ruangan mendadak dingin, tatapan mereka Seolah kesal dengan perbuatan kedua orang itu. Mereka berkumpul disini karena permasalahan yang kedua orang itu perbuat menyangkut soal Kasta, yang bahkan itu merupakan hal yang tabu di Academy.
Mereka bertiga duduk ditempatnya masing-masing, sementara dua orang itu hanya diam di depan pintu, tatapan seisi ruangan tertuju pada mereka bertiga dengan tatapan dingin.
8 Anggota Dewan Siswa, 7 Anggota Dewan Keamanan, dan 9 Anggota Dewan Sihir. Mereka berada diruang ini.
"Huh!" "Aku harap hal ini tak akan terjadi lagi kedepannya, aku tahu kalian pasti kelelahan, tapi mau bagaimana lagi, mereka berdua telah melakukan kesalahan yang harus kita selesaikan!" ujar Naomi membuka percakapan.
"Jadi, Namamu Dav Yonathan Igram, Aku tak percaya kau bisa membuat keributan seperti ini, Huh!... " ujar Austin.
"Dengar ini! Yang pertama, kau sudah melibatkan nama keluargamu. Yang kedua, kau membuat perselisihan antara kau dan Aidan. Ketiga, Kau Bernai beraninya menginginkan kau dihormati orang lain, bahkan dirimu saja enggan menghormati orang lain." lanjut Sebastian dengan nada datar.
Dav hanya diam, ia menundukkan kepalanya. Sementara Aidan masih dengan tatapan penuh Amarah.
"Kemudian Aidan, aku tahu kau merasa ditindas, kesalahan yang kau perbuat pun juga sama dengan Davis, seharusnya kau tidak membalasnya, walaupun perbuatannya memang sangat seperti sampah, jadi aku tak tahu apa yang harus kita lakukan untuk kalian!" lanjut Naomi.
"Kalian duduklah, ambil kursi yang ada didekat pintu." ujar Austin.
"Apa semua manusia memiliki sifat yang sembrono, aku lelah dengan hal ini." gerutu Illan.
"Kekuasaan, Kehormatan. Dua hal itu tak di butuhkan di tempat ini. Jika kau menginginkan Kekuasaan ditempat ini, maka cobalah menjadi yang terkuat bahkan dapat melampaui kami semua, kalau kau ingin dihormati maka hormati temanmu, kau pikir ini tempat Kekuasaan Ayahmu!" lanjut Illan. "Padahal hanya anak dari seorang Baron, beraninya dia melakukan hal sesampah itu." gerutunya lagi.
Dav hanya diam menundukkan kepalanya, tanpa berkata sedikitpun.
"Maaf kan perbuatan yang aku lakukan, tapi setidaknya aku butuh keadilan dari kalian!" ujar Aidan.
"Baiklah, aku akan menyerahkan keputusan ini kepada yang lainnya, aku sudah lelah." ujar Naomi, wajahnya terlihat kesal dan kelelahan, wajar saja dia selalu melakukan pekerjaannya mengurus segala macam laporan tentang Masalah-masalah yang terdapat di Academy.
"Aku akan mendengarkan pendapat kalian, bicaralah!" tegas Naomi.
Naomi perlahan menatap satu persatu para Anggota Dewan yang berada di sana. Mereka semua enggan untuk berbicara sepatah, karena mereka sudah sangat lelah dengan kejadian akhir akhir ini.
"Aidan Bicaralah!" ujarnya lagi.
Aidan perlahan menatap satu persatu orang-orang dihadapannya dengan tatapan yang penuh hati-hati.
Aidan pun mulai berbicara, "Aku tahu aku disini bukanlah orang yang penting, tapi setidaknya aku hanya ingin para Bangsawan tidak berpikir bahwa mereka selalu di atas kami, selama ini kami selalu di rendahkan oleh mereka!"
"Benar, aku juga merasakan hal yang sama!" celetuk Prissy, semua orang langsung menatap dirinya.
"Prissy, diam lah." bisik Illan.
"Jadi maksudmu, selama ini kalian selalu di rendahkan oleh kaum Bangsawan, kenapa kau tidak memberi tahu kami?" ujar Flor tanpa berpikir lagi.
"Itu... Itu karena mereka selalu mengancam. Aku tidak tahu harus berbuat apa, lalu hari ini aku benar-benar sudah muak dengan perilaku yang dia lakukan, makanya aku menyerangnya!"
Sebastian memijat kepalanya sesaat, kemudian kembali ke posisi awal, Illan menatap Dav dengan tatapan kesal, Illan tidak menyukai seorang Bangsawan yang congkak, itu sebabnya ia sangat mengawasi Austin yang seorang penerus Duke Lavles.
"Aku juga sama seperti dirimu, aku juga bukan berasal dari Kaum Bangsawan, dan para Anggota Dewan tidak semuanya Bangsawan. Kalian seharusnya berpikir terlebih dahulu, dan terutama jangan menggunakan Kekerasan selain dalam pertandingan, dan jangan menggunakan Kekuasaan yang tak berarti, apalagi kau hanya seorang Bangsawan tingkat Baron!" ujar Zephyr dengan nada yang penuh dengan kekesalan.
"Siapa saja yang bersangkutan dengan penindasan selama ini, kenapa aku baru tahu sekarang tentang kejadian ini. Huh...!" ujar Naomi.
Seluruh Anggota Dewan yang berasal dari Kaum Bangsawan terdiam, kecuali Illan dan Naomi, sisanya tak berani angkat bicara. Yang akhirnya permasalahan ini yang menyelesaikan sepenuhnya ialah para Dewan yang berasal dari Rakyat biasa. Sesekali Ciel Angkat bicara, dan Adria yang memberikan beberapa kesimpulan. Sebastian sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka.
"Adria, jadi apa yang kau dapatkan dari kejadian ini untuk menyelesaikan masalahnya!?" tanya Illan dengan nada datar.
"Aku... Mungkin kita harus menegaskan kepada mereka agar lebih berpikir kedepannya sebelum melakukan sesuatu, dan satu lagi kita kumpulkan semua orang yang terlibat selama beberapa bulan ini, karena kalau kita biarkan mereka mungkin akan seterusnya seperti ini, jangan sampai para Profesor tahu, karena akan memperburuk keadaan." tegasnya.
"Aku setuju, mungkin kita harus memberikan mereka beberapa hukuman, dan untuk mereka berdua yang membuat kekacauan saat ini, kita harus memberikan hukuman yang setimpal, Biarkan Dev mendapatkan hukuman yang lebih berat dari Aidan!" lanjut Ciel dengan nada datarnya, wajahnya tidak memberikan Ekspresi apapun.
"Bagaimana Naomi?" tanya Liz
Naomi menghirup napasnya, "Baiklah aku setuju, Aidan Selama sebulan kau harus membantu para Anggota Dewan tanpa terkecuali! Lalu Dev aku ingin kau memberikan pertanggungjawaban atas perbuatan yang kau lakukan terhadap semua teman-teman mu, mulai dari kerusakan yang kau perbuat, luka yang mereka dapatkan dari perbuatan kalian, dan segalanya yang berkaitan dengan perbuatan mu, dan yang terakhir kau juga harus membantu para Dewan selama beberapa bulan kedepannya." Tegas Naomi, kini gadis itu mulai tenang.
Aidan dan Dav, tak mampu berkata apapun lagi, Aura yang memenuhi Ruangan ini membuat mereka berdua menjadi merasa kecil, para Anggota Dewan itu tak tanggung-tanggung mengeluarkan seluruh Aura mereka untuk mengintimidasi. (Bisa dibilang perilaku mereka sangat kejam, karena mereka sedang dalam keadaan kesal, dan juga lelah. Jadi mereka semua mengeluarkan Aura mereka sepenuhnya).
Naomi menggeleng pasrah, "Jika kalian pikir tentang masalah yang kalian perbuat merupakan Kesalahan kecil, kalian keliru akan hal itu. Aku hampir muak dengan tingkah kalian semua, entah apa yang aku harus lakukan di masa depan!" ujar Naomi, Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah, kita bubarkan. Beberapa saat lagi akan masuk. Aku akan memenangkan diriku beberapa menit." Lanjutnya.
Seisi ruangan hanya terdiam, lalu mereka keluar satu persatu, Adria menatap Aidan dengan tatapan Iba. Ia tahu bahwa Para Bangsawan dari Ras manapun selalu merasa dirinya berkuasa, itulah masalah yang ada disini, Adria menggelengkan kepalanya, lalu ia melangkah menuju pintu.
***
Materi Summoning
Kelas pemanggilan di penuhi Siswa-siswi yang hendak mempelajari bagaimana caranya memanggil Hewan Sihir mereka, Kelas ini di ajarkan oleh seorang Profesor muda yang baru berusia 23 tahun, yang berasal dari kalangan Rakyat biasa. Prof. Wincent Melbourne. Seorang pria Alumni Academy Filladevila yang merupakan salah satu dari Tiga orang berbakat di Angkatannya.
Wajah lembut yang bersahabat, kulitnya kuning Langsat sangat manis, tingginya 179cm, Rambutnya yang panjang dibawah bahu Berwarna hijau muda yang di kuncir. ia memiliki mata berwarna Hijau bagaikan Permata Zamrud. Tubuhnya yang ramping terlihat sangat sempurna dengan penampilannya yang lembut, beberapa Siswa perempuan menyukai Profesor yang berasal dari Ras Elf ini.
Prof. Win, itu panggilan yang di tunjukkan para siswa padanya, ia juga memiliki julukan tersendiri. "The Greatest Summoner".
Flor, Adria, dan juga Emely, mengikuti pelajaran ini. Kelas ini lebih di Dominasi oleh Siswa perempuan, hal yang wajar.
Derap langkahnya memasuki ruang kelasnya, dari matanya terlihat dia sangat bersungguh-sungguh dalam melakukan kewajibannya. Ia melangkah masuk kedalam kelas yang sudah di penuhi oleh murid-muridnya yang berjumlah 50 orang. Ial meletakkan beberapa buku di tangannya di atas meja, kemudian ia menuju ketengah tengah.
"Selamat Siang semuanya, setelah aku ajarkan materi tentang Summon, aku akan mengajarkan kalian praktek pemanggilan Hewan Sihir. Aku membutuhkan beberapa Siswa yang berbakat untuk melakukan Prakteknya." tukasnya dengan lantang.
Seisi kelas hanya terdiam, namun di dalam hati mereka, mereka sudah tidak sabar mempelajari. Sihir baru yang akan mereka lakukan. Tatapan mata mereka berbinar-binar, senyuman terukir di wajah mereka.
Prof Win, melangkah ke depan, "Baiklah, seperti yang sebelumnya aku ajarkan pada kalian. Pertama seorang Summoner harus membuat Kontrak dengan Hewan yang di panggil dengan cara membuat lingkaran sihir. Lalu yang kedua menggabungkan perasaan dan pemikiran disaat yang bersamaan, usahakan agar dalam keadaan tenang, yang ketiga kuat kan dalam jiwa dan diri kalian, bahwa kalian bisa melakukannya. Yang terakhir, keluarkan sihir semampu kalian, maka Hewan sihir akan ada dihadapan kalian." jelasnya.
Kemudian Prof Win mengapa para Siswa-siswi satu persatu, tatapan matanya terhenti kepada Flor yang duduk di sampingku.