Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
S Grade.




Aku pun sudah tiba dikelas bersama Kak Illan, ia memegang tangan ku sedari tadi dan ia juga masuk kedalam kelas serta mengantarkan diriku ketempat duduk


Aku duduk di barisan kedua tepat di tengah² Aku duduk bersama Anggota dewan lainya, di kiriku Ia merupakan Dewan Keamanan, di kananku ia merupakan Dewan Siswa... Bisa dibilang kelas ini Isinya hanya Anggota Dewan.


Beberapa Siswi yang tengah mengobrol menatap kami berdua, entah apa yang mereka pikirkan, aku tidak terlalu memperdulikannya... Tapi setahuku ada 3 orang pria yang sangat populer di Academy ini, Illan mendapat diurutan ke2, yang pertama Austin, dan yang ke3 sudah pasti Sebastian... Diantara mereka ber2 hanya Illan yang tidak terlalu dingin sementara dua lainya tidak sama sekali perduli pada wanita, Austin tidak perduli dengan wanita dan sifatnya cukup dingin, sementara Sebastian lebih memilih Mempelajari Sihir dan Berpedang bahkan ia yang paling kuat diantara lainnya walaupun Illan mampu menandinginya, kalau Illan, ia sangat perduli dengan siapapun, tapi terkadang ia suka kelewat batas, dan itu yang membuatnya populer...


*Bayangin di deketin 3 orang ganteng:D kalau gitu aku juga mau:3 apalagi sama Illan>< dah manis ganteng, baik pula... Sayangnya Ras Campuran:]


"Kak, Makasih yah... Jadi ngerepotin" ucapku


" Tenanglah, lagi pula aku yang salah, jangan pikir kan apapun, lalu kejadian yang tadi di Arena, semua perkataan ku pasti membuatmu bingung, aku Minta maaf akan hal itu, seharusnya aku diam saja" ucapnya


" Aku baik² aja, lagi pula kakak sudah menyembuhkan diriku" balasku


" Kalau begitu aku akan kembali kekelas,


15 menit lagi Bell berbunyi..." Ucapnya...


" Baiklah dan Terimakasih..." Balasku...


Kemudian Illan pun pergi meninggalkan kelas...


" Kau Adria bukan... " Ucap Seorang wanita berambut Keemasan lurus panjang sebahu yang dikuncir kuda, matanya berwarna hijau cerah, Ia memakai Seragam Berwarna Perak, Telinganya Runcing, Ia sepertinya Ras Elf atau Dryad...


" Kenalkan aku Florence Sylvianee, panggil Kau Flor" ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku...


Aku pun membalas tangannya...


"Aku Adria Regina, Salak kenal" balasku


Lalu ia duduk di sampingku, kemudian Kurtis, Tania, Dan Fabian masuk kedalam kelas... Mereka mendekati mejaku...


" Adria...  Apa kau baik² saja, kami sangat menghawatirkan dirimu, tadi kami ingin melihatmu, tapi di larang oleh Kak Prissy dan yang lainnya... Maaf yah" ucap Kurtis...


Kemudian Suara Tawa yang amat kencang keluar dari mulut Florence.


" Ahahahahahhahaha... Aku baru melihat Seorang Pangeran Elf meminta maaf pada seorang gadis, sebenarnya apa yang terjadi padamu Yang mulia" Ucap Flor.


" Diam Flor, kau fikir aku ini seperti apa" Balas Kurtis.


" Kalau aku fikir kau hanya seorang pangeran payah yang hanya mengandalkan kekuatanmu saja, dan slalu berharap bahwa hanya dirimu yang terkuat" ucapnya kearah Kurtis.


" Berani² nya kau seperti itu... Lagi pula aku tidak perduli dengan statusku, aku akan menganggap diriku sama seperti yang lainnya" Balasnya.


" Apakah kalian bisa bertengkar nanti saja, Sepertinya Adria masih tidak enak badan, lebih baik kalian diam" Ucap Flavian menyadarkan kedua Elf tersebut.


" Maaf" ucap kedua Elf Toxic itu.


" Aku baik² saja lihat kan, Lagi pula itu akan menjadi hal biasa bagiku untuk kedepannya." Ucapku menenangkan mereka.


" Baiklah, duduk ketempat kalian masing-masing," Ucap Flavian dan kemudian pergi ketempat duduknya yang ada di belakangku.


" Adria, a--- aku maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apapun" ucap Tiana ketakutan.


" Tenanglah lagi pula aku baik² saja" jawabku dengan senyuman kecil.


" Baiklah, terimakasih" ucapnya lagi.


Kemudian ia pun duduk ketempat nya


Setelah semuanya telah duduk di tempatnya masing² seorang gadis berambut Hitam pendek sebahu masuk kedalam kelas, ia mengenakan Pakaian Hitam, pakaian yang di Khususkan untuk Dewan Keamanan... Ia berlari dengan tergesa-gesa... Sambil membawa tasnya yang berbentuk bulat, berwarna hitam.


Kemudian ia duduk di sebelah kiri ku.


" Maafkan aku, sepertinya aku sedikit terlambat... aku sangat sibuk hati ini, harus membereskan kekacauan yang terjadi..." Jelasnya.


Kami berdua melihat kearahnya, beberapa keringat membasahi wajahnya, lalu aku berikan sapu tanganku padanya.


" Ini pakailah untuk menyeka keringatmu." Ucapku.


" Tidak perlu repot-repot, terimakasih, Ohya, Aku Emilia Aramitta..." Ucapnya.


" Aku Adria Regina" ucapku.


" Aku Florence Sylvianee" aku adik dari Kurtis Sylvester yang payah itu..." Ucapnya


" Tunggu adik, kau adik Curt" ucapku heran...


" Iya, kau kaget yahKami sepupu... dan karena itu nama kami sama, artinya Hutan... Aku sudah lama mengenal dirinya, bahkan kami lahir di bulan yang sama...


" Ja--- di--- kau adalah Seorang Putri Elf... " Ucap Emily


"Aku tidak menyangka itu... " Gumam Emily sambil memegang roknya.....


" Aku duduk diantara para bangsawan, apa ini benar² bukan mimpi atau Ilusi" ucapnya...


" Memang bukan, ini kenyataan, memang kenapa kalau duduk dengan kami," balas Flor.....


" Bukan apa apa, aku hanya tidak percaya saja" ucapnya ragu...


Kemudian Bell tanda masuk berbunyi, Seorang wanita berambut Cokelat masuk kedalam kelas, ia mengenakan kemeja putih dan Rok Hitam... Serta sepatu Hitam polos, wajahnya sangat lembut dan manis, matanya berwarna cokelat terang, sorot matanya seakan membawa kesejukan, kemudian wanita itu duduk di kursi guru dan menaruh buku² yang sedari tadi ia pegang


" Baiklah, karena ini hari pertama kalian... jadi aku tidak akan memberikan pelajaran, tetapi akan ada perkenalan, Sebelumnya pasti ada yang belum mengenal saya, Nama Saya Eleine Mollies" Ucap Bu Eleine dengan lembut


" Apa ada pertanyaan" Tanyanya kemudian ia berdiri dan berjalan kearah depan, "Baiklah kalau begitu Perkenalan diri kalian masing masing" jelasnya...


Kemudian seorang siswa laki-laki yang duduk di belakang Fabian berdiri dari kursinya. Siswa itu memiliki Mata berwarna Biru


" pagi semua, Aku Karael, Aku berasal dari sky palace, tugasku hanya satu yaitu membasmi para Iblis agar menghasilkan dadi dunia ini" tegasnya sambil menatap adria tajam seakan meledek adria dengan perkataannya


Aku sontak marah dengan perkataannya, lalu aku berdiri dan menggebrak meja dengan sangat keras sampai seisi kelas menatap diriku, terlebih lagi dia teman baruku itu, sementara Kurtis melihatku kebingungan


" apa kau bilang, membasmi kami apa kau gila atau otakmu sudah hilang begitu saja, aku tahu kau itu seorang Malaikat, tapi kenapa Kau ingin membasmi para Iblis yang tak bersalah" Balas ku yang terbalut Amarah


" Tapi, itu memang tugasku membasmi para Iblis, jadi jangan salahkan aku, seluruh dunia tahu bahwa Bangsamu merupakan Bangsa paling bengis dan kejam yang haus akan kekuasaan" Ucapnya lagi


" Bengis? Kejam? Haus Kekuasaan? Apa kau benar-benar gila, atau mungkin kau tidak ingat sejarah 6 abadi silam, bagaimana kejam dan bengis nya kalian, menghancurkan Kekaisaran kami, sampai kami harus pindah ke Benua Tartarus, tempat yang lebih jauh dari Aragona"


" Leluhur ku tak pernah melakukan hal seperti yang kau katakan, mungkin saja kalian lah yang mengubah Sejarah, atau mungkin kau lupa Nona, dengan Kelakuan Putri Adrianna Rein, yang menggoda salah satu leluhur ku "


" Menggoda tch, Mungkin kau yang memang tidak mengetahui sejarah Tuan, dengar Aku Adria Rein, aku tahu secara detail bagaimana kejadiannya, dan bagaimana Bengis dan Kejamnya kalian Menyiksa dan menyebarkan Rumor tidak jelas kepada Lady Adrianna, sampai ia di cap sebagai pengkhianat Ras Iblis"


"dan sampai sekarang entah dimana ia berada, semua kalian para malaikat, dan Tuhan tidak pernah menyuruh kalian untuk melakukan hal keji seperti itu, Lady Adrianna yang aku tahu ialah seorang putri yang sangat baik, yaang rela mengorbankan dirinya demi orang yang ia cintai, yaitu Seorang arcAngel Lucius, tapi apa yang kalian lakukan, Menyiksanya, memfitnah, dan menghancurkan hubungan mereka, sampai sampai Tuan Lucius merelakan kedua bola matanya agar Lady Adrianna dapat melihat kembali"


" Kisah cinta yang Tragis bukan, tapi kalian ubah begitu saja, dan membuat Lady Adrianna Terfitnah oleh kalian, namun aku tidak membenci kalian, karena ArcAngel Gabriel selalu datang kepadaku setiap ia senggang, dan menceritakan apa yang ia ketahui, aku sangat dekat dengannya, aku juga sudah memafkan kalian, lagi pula itu merupakan kejadian 600 tahun lalu"


Semua orang terdiam, terutama Karael yang kehabisan Kata-kata, aku duduk di kursiku dan diam bltanpa mengatakan kata apapun


"Baiklah, Adria ibu tahu tentang apa yang kau rasakan, ibu harap kau bisa tenang, dan Untuk Karael kau harus mengerti posisimu disini, nanti saat pulang sekolah kalian berdua datanglah Keruangan Dewan Keamanan, Trimakasih" Ucap Bu Eleina dengan lembut namun mengancam


Kelas pun di penuhi keheningan, semua orang diam tanpa suara, kami semua menundukkan tanpa berkata apapun


" Baiklah kalian semua dipersilahkan melanjutkan perkenalannya"


Kelas pun kembali dimulai dengan beberapa perkenalan, dan akhirnya jam istrlirah6 pun tiba, aku dan teman temanku kembali ke ruang Dewan sopir bersama-sama


" Adria, tadi sebenarnya apa yang terjadi" ucap Kurtis


" bukan apa apa"


" Adria, maaf maafkan kakaku" Laila memohon sambil memegang tanganku


"Huh, tenanglah aku baik baik saja, lagi pula itu hal wajar" balas ku dengan senyum


"Aku tak pernah mengira seorang gadis yang terlihat lembut dan cantik bisa bisanya mendadak menjadi tegas seperti itu" ucap Kurtis


"Kak Naomi, dia berasal dari ras apa" tanyaku


" Ras Demon, dia lahir di Aria"


"Aku sejak kecil sudah lama di Aria, tapi baru mengetahui hal ini" Ucapku


" ya sudahlah, lebih baik kita secepatnya ke ruang Dewan, apa kalian mau di marahin Kak Sebastian" ucap Kurtis yang membuat kami ketakutan


Kami pun bergegas kesana dengan cepat menggunakan Portal yang aku buat


"Fuhh, sampai juga Trimakasih Adria" ucap Kurtis


"Ya, sama sama" balas ku


"Adria, aku dengar kau akan pergi keruangan Dewan Keamanan, aku ingin menitipkan satu hal padamu, sampai salamku pada Lady Naomi, katakan aku merindukan dirinya" Ucap iklan yang tengah duduk di kursi, kemudian Tracy menjitak kepalanya sangat keras


" sudah cukup, Naomi butuh Privacy, jangan kau rayu dia terus, lalu bagimana dengan Adria"


"Adria adalah adiku, bukannya sudah wajar kalau aku mengatakan hal seperti itu padanya"


"Adik, apa maksudnya" tanyaku dalam hati


"Huh, baiklah lupakan itu" pasrah Tracy


"Masalah apa yang kau lakukan, sampai di suruh kesana" Ucap Sebastian membuat diriku kaget


" ah, itu bukan apa apa" balas ku


"Kalau kau membuat masalah aku tidak akan segan untuk menghukum dirimu" Ancam nya


"Apa kau tidak bisa bersikap lembut pada seorang gadis, ingat dia Adiku, kalau kau menyentuh Adria sedikit saja, akujuga tidak akan segan menghabisi dirimu, karna hanya aku saja yang bisa menyakiti dirinya" Ancam Illan dengan Aura membunuhnya serta tatapannya yang seakan ingin memangsa Sebastian


"Maaf, kak Illan aku masih tidak mengerti sebenarnya apa yang kau katakan, aku adikmu? "


"Suatu hari aku akan menjelaskan semuanya" Balasnya


"Umm, baiklah"


"Mungkin Kak Illan hanya menganggap diriku sebagai adiknya, Huh, tidak mungkin Seorang malaikat seperti dirinya benar-benar Kakakku"


"Adria, jangan dengarkan apa yang Illan katakan oke" Ucap Prissy menepuk pundaku yang membuat diriku tersentak


"Ah, iya kak" balas ku


"Kita akan memulai rapatnya sekarang" Ucap Sebastian


Kami pun Makan siang sambil membicarakan untuk kedepannya dan rapat kami pun berakhir beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi, lalu Illan mendekati diriku yang ingin kembali ke kelas bersama Kurtis dan yang lainnya


"Adria, aku mohon, aku benar-benar ingin bertemu dengan Naomi, aku akan ikut denganmu kesana" Mohon nya


"Tapi, baiklah aku akan kesana bersama Kakak" balas ku Pasrah


"Sebenarnya apa hubungan mereka berdua, atau mereka saling mencintai" FikiranKu penuh dengan Pertanyaan


"Trimakasih, aku akan menemani dirimu ke kelas" balasnya


"Sebenarnya kak Illan suka atau kalian saling mencintai, soalnya Kakak terlihat senang saat ada yang membicarakan tentang Kak Naomi" Ucap Fabian tanpa berfikir lagi


"Itu, ya beberapa abad lalu kami saling mencintai, namun sayangnya sesuatu terjadi dan yah kami terpisah" balas Illan


"Apa kau berkhayal, Beberapa abad lalu, kalau begitu pasti umurmu sudah lebih dari 17 tahun" ucap Kurtis


"Apa kau bisa menghormati Seniormu" Tegas ku dan langsung menjewer telinga Kurtis


"Aaaauu, sakit bisa gak lepas"


"Huh... Lain kali jangan melakukan hal yang tidak sopan, lagi pula aku percaya kok, mungkin saja di antara kalian berdua ber Reinkarnasi"


"Reinkarnasi, mana mungkin" gumam Kurtis


"Kalian aku mohon berhenti mengatakan hal yang membuat diriku kebingungan" ucap Laila dengan suaranya yang lembut


Semua pun terdiam dan kami melanjutkan perjalanan kek kelas tanpa berbicara


"Adria apa kau baik baik saja, aku tau apa yang sedang kau fikirkan, dan jika waktunya sudah tepat aku akan memberi tahu semuanya" Bisik Illan di telingaku


Beberapa menit kemudian kami pun sampai dikelas, kak Illan mengantarkan aku ke kursiku


"Kalau ada yang ingin menyakiti dirimu katakan kepada-Ku, jangan Sungkan untuk mengatakannya" ucapnya sambil mengusap rambutku


" Baiklah " balas ku singkat


Ia pun pergi begitu saja, dan arahnya bersebrangan dengan arah tangga yang menuju lantai 2


Beberapa menit kemudian Bu Eleina masuk kedalam kelas, ia menaruh buku bukunya, dan berdiri di tengah-tengah kelas...


"Sekarang kalian semua akan berkeliling Academy yang akan di pandu Oleh Ketiga Dewan, jadi Ibu harap kalian mengikuti mereka dan tidak membantah apa yang mereka katakan" ucapnya


"Baiklah untuk para Dewan silahkan masuk kedalam" ucapnya


Kemudian 3 Siswa perwakilan dari ketiga Anggota dewan masuk kedalam kelas, sementara itu bu Eleina hendak bergegas keluar.


"Baiklah ibu akan keluar, untuk selanjutnya kalian akan di teman ketiga Dewan, Trimakasih semua" ujarnya


Kemudian ia pun keluar membawa tas dan bukunya.


" Jadi sekarang kita akan di temani Ketiga Dewan untuk berkeliling, aku tak percaya ini. Walaupun mereka kuat dan Tampan tapi tetap saja, kau tahu itu bukan apa yang aku maksud " bisik salah satu siswa dikelas


"Ya, aku tahu tapi bukankah nanti disaat kita berkeliling mereka akan mengajarkan kita sesuatu, atau apapun itu" ujar salah satunya


"Kau lihat gadis yang ditengah itu sangat cantik dan lembut, tapi kenapa ia menjadi ketua dari Dewan Keamanan, bukankah seharusnya ia menjadi anggota Dewan Siswa, dia sangat manis, aku ingin mendapatkannya" ujar seorang Siswa yang duduk di pojok belakang


"Perhatikan ucapanmu itu, apa kau tak pernah berfikir seberapa kuat gadis yang ada di hadapanmu itu" ujar seorang Siswi di sampingnya


"Kalian diam, nanti mereka bisa marah" ujar siswi disamping mereka dengan lembut


Pada jam kedua ini kelas benar-benar Bising, seperti sebuah pasar yang tengah melakukan kegiatan jual beli dan tawar menawar, bahkan pasar jauh lebih senyap dari pada kelas ini. Ketiga ketua Dewan tengah berdiri di depan kelas, memperhatikan setiap sudut kelas dan para siswa yang tak henti hentinya berbicara tak karuan.


Sementara itu Adria seperti kehilangan nyawanya, ia terlihat sangat lemas skali karena kelas yang sangat bising, Adria menempelkan kepalanya di meja, sementara teman di sampingnya sibuk melakukan aktifitas mereka. Salah satu dari Dewan terlihat sangat geram terhadap kebisingan yang disebabkan oleh adik kelas mereka. Kemudian ia seperti akan menerkam semua adik kelasnya, dengan tatapan matanya yang tajam bagaikan elang yang tengah mengincar mangsanya. Kemudian ia pun berbicara dengan Gadis yang berada sampingnya.


"Nao, aku ingin segera memarahi mereka, kau lihat sendiri bukan mereka seperti anak yang tak pernah di ajarkan Sopan santun dan Tata Krama, Naomi cepatlah" Ujar pria yang memakai Seragam Biru tua dengan nada kesal


"Huh, baiklah, kau tenangkan saja dirimu terlebih dahulu, aku yang akan menyelesaikan ini, bagaimana Austin" Ujar gadis Seragam hitam tersebut


"Ya, terserah kalian saja" Balas Pria berambut keperakan tanpa menoleh sedikitpun.


Tiba-tiba Aura mengintimidasi yang amat kuat memenuhi kelas dengan sendirinya. Aura yang mampu membuat siapa saja terdiam kaku, tak ada yang mampu bergerak sedikitpun Aura yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sangat kuat, Seisi kelas tak dapat bergerak sedikitpun, tubuh mereka seakan kaku tak berdaya, kulit mereka seakan beku begitu saja, hawa yang sangat pekat seakan menembus lapisan kulit mereka tanpa sebab. Perlahan suasana menjadi seram bahkan membuat mereka merinding ketakutan, kelas pun langsung menjadi senyap begitu saja. Sementara Adria yang sedari tadi bagaikan mayat hidup, mengangkat kepalanya menghadap ke depan dan mendapati ketiga Seniornya yang tengah berdiri didepan kelas, wajah Adria kini menjadi pucat, kulitnya merinding ketakutan, Iris matanya mengecil, ia benar-benar melihat Kakak kelasnya yang berbeda 1 atau 2 tahun dengannya memiliki Aura yang sangat kuat, bahkan Aura ini melebihi Aura yang di lepaskan oleh Xander sang kesatria terkuat di dunia. Seorang gadis di depannya itu memang memiliki Aura yang sangat tidak biasa, namun Aura ini terasa sangat familiar bagi Adria sendiri, Aura yang hanya dimiliki oleh Seorang ArcDemon tingkat satu. Aura yang di miliki Oleh Naomi Esttele Ketua dari Dewan Keamanan. Adria seketika tercekat atas apa yang ia lihat dan rasakan.


"Bagaimana bisa dia sekuat itu, aku tak mampu bergerak sedikitpun, siapa sebenarnya gadis yang ada di hadapan kami ini" Gumam Adria heran dalam hati


Setelah kelas benar-benar senyap Naomi pun mulai berbicara di hadapan mereka. Sementara Kedua ketua lainnya hanya diam mengikuti perintah Naomi.


"Huh" desahnya pasrah


"Akhirnya kalian semua diam, seharusnya sedari tadi kalian diam mematung seperti ini, apa kalian tidak tahu seberapa kesalnya kami terhadap kalian, bayangkan kalian ini merupakan Murid Paling Genius tahun ini, tapi lihat ulah kalian, Berbicara disaat Senior kalian ada dihadapan kalian" Ucap Naomi lembut


"Sebenarnya bisa saja aku memasukkan kalian di dalam daftarku untuk di hukum sore ini, tapi sayangnya ini hari pertama jadi aku tidak memberikan hukuman kepada siapapun" Ancam Naomi dengan Lembut


"Jadi hari ini kami bertiga akan menemani kalian berkeliling, aku harap kalian diam, dan bertanya yang sewajarnya" Ucap Austin datar namun mengancam


"Aku fikir kalian tidak tahu tugas Trinity Council bukan, maka Kami akan memberi tahu kalian secara rinci, Kami harap kalian mencatatnya dalam buku" Ujar Sebastian