Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
Permulaan.




Pagi yang indah burung-burung berkicau dengan merdunya, Tumbuhan basah oleh embun pagi yang menyejukkan, Seorang gadis berambut hitam kelam, dengan matanya yang bagaikan Ruby, Terbangun dari tidur nyenyak nya, Setelah beberapa menit menyegarkan diri, ia pun selesai dan keluar kamarnya dengan gaun berwarna putih kebiruan dan rompi berwarna biru tua yang dihiasi sulaman mawar putih di gaunnya.


Kemudian beberapa langkah dari gadis itu, seorang pria berusia 58 tahun, memakai jas pelayan dengan rambutnya yang hitam legam diselingi rambut yang mulai memutih, warna matanya berwarna hijau cerah, tingginya sekitar 178cm. Datang mendekatinya lalu memberikan salam pada gadis itu.


"Selamat pagi Nona" sapanya. "Makanan sebentar lagi siap, nona tunggu oleh Tuan di ruangannya" Ucap pria itu.


Lalu pria itu membungkuk sedikit, memberikan hormat pada gadis itu.


"Baiklah, Aku akan segera kesana." balas gadis itu, "Terimakasih sir Ed" Ucapnya dengan lembut.


Gadis itu tersenyum manis.


~ Ruang Kerja ~


Aku pun pergi ke sebuah ruangan yang terdapat di tengah Rumah ini tepat di lantai tiga di sebelah kamar Kakakku, sebuah pintu berwarna coklat emas tepat dihadapan ku, aku pun membuka pintu tersebut dengan rasa bimbang, ruangan itu terbuka. Didalamnya terdapat beberapa rak buku yang besar berwarna coklat gelap, serta buku-buku yang lumayan banyak jumlahnya, diantaranya sudah cukup usang, dan berbagai macam Pedang yang terdapat di sisi dinding, semua pedang itu berada di dalam sebuah etalase kaca yang sangat terawat dan mewah, di tengah ruangan terlihat seorang pria tengah duduk di meja yang berada di tengah-tengah ruangan, Rambutnya berwarna Hitam, panjang di bawah telinga, matanya semerah darah, wajahnya terlihat sangat muda dan sangat rupawan, ia terlihat sangat tegas dan berwibawa. Pria itu sedang mengerjakan sesuatu di mejanya yang penuh beberapa tumpukan kertas, serta beberapa surat di sampingnya, lalu buku-buku yang lumayan tebal. Pria itu ialah Kakakku Seorang Grande Duke yang menguasai Aria, Wilayah Timur kekaisaran Devillia, Grande Duke Xander Clifford la Elvia.


Kemudian aku mendekat perlahan. "Ada perlu apa kakak memanggilku?" Tanyaku.


"Aku ingin membicarakan tentang sekolahmu" Jelasnya tanpa melihat kearahku ia fokus terhadap kertas-kertas di mejanya.


"Sekolah?" ucapku heran.


"Lalu aku akan melanjutkan dimana tanyaku lalu duduk di kursi yang ada di depannya.


"Academy Filladevila," Jawab pria itu sembari menulis di atas kertas putih dengan pena bulu Gagak berwarna hitam.


"Berarti aku harus berteman dengan para Manusia baj*ngan itu?" "kenapa aku harus bersekolah di sana!" "Bukankah seharusnya kita tidak berbaur dengan mereka, Tapi kenapa kakak akan mendaftarkan diriku di sekolah seperti itu!" Teriakku.


"Huh" dengusnya "Dengar hanya itu satu satunya Sekolah terbaik, jadi aku akan mendaftarkan dirimu di sana, lagipula kau harus menyelidiki sesuatu" jelasnya.


"Ya, baiklah"


"Aku tahu kita punya masalah tentang itu. Tapi aku harap kau akan baik-baik saja di sana, besok kita akan ke ibukota, ada beberapa hal yang harus aku urus!"


"Baik-baik saja, apa Kakak sekarang tidak memikirkan perasaanku, lebih baik aku tidak melanjutkan sekolahku, daripada harus hidup bersama Mahkluk tak berguna seperti mereka!" teriakku


" Aku sama skali tidak mengerti!" teriaku. "aku tak tahu apa-apa, kenapa kakak langsung memutuskan hal itu! Bukankah kakak tahu aku membenci mereka semua" Teriaku sembari memukul meja dengan kerasnya.


"Braaakkk"


Meja itu sedikit bergetar, benda-benda diatasnya ikut bergetar bahkan ada beberapa kertas yang berterbangan.


Aku langsung beranjak dari kursi dan berlari keluar dari ruangan ini.


Kemudian kakak mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tatapan tajam, kemudian ia pun berkata padaku sesaat, Aku yang mendengar cukup terkejut dan bergegas pergi menuju pintu.


***


Aku pun beranjak dari kursiku selesai menyantap sarapanku lalu pergi ke kamarku bersama kak Serena, seorang wanita yang berumur 19 tahun, ia memiliki rambut Merah kecoklatan, matanya bagaikan topaz yang bersinar, wajahnya sangat lembut nan anggun, ia merupakan pelayan pribadiku, ia berbeda dari pelayan lainnya karena memiliki kekuatan tingkat rank A+, Ia juga merupakan Guruku dalam Sihir dan Berpedang.


"Di Dunia ini bukan hanya aku yang hidup tapi orang lain juga, dan aku tak seharusnya Hidup sesuai dengan keinginanku, Karena masing Mahluk hidup memiliki hak dan kewajiban tersendiri yang harus mereka Tanggung"


Sesampainya di kamarku, aku dan kak Serena duduk di atas kasurku lalu membuka sebuah buku berwarna biru tua sampulnya terdapat gambar Kastil Devillia, Kastil tempat Kaisar Demon berada, ia membawa buku itu sedari tadi Dan menceritakan isi dari buku tersebut. Aku hanya mendengarkan sambil memakan cemilan yang ia bawa, selesai bercerita ia pun mulai mengajariku tentang segala sesuatu yang ia ketahui tentang sihir, ia juga mengajarkan beberapa trik kecil tentang sihir, aku pun meniru yang ia lakukan sepenuhnya.


Aku terus berlatih dengannya sampai aku mempelajari sihir baru yang sangat kuat. Entahlah, aku baru menyadari bahwa aku sangat ahli dengan itu semua seakan-akan aku memang sudah terlahir dengan kekuatan yang sangat hebat yang berbeda dari orang lain.


Aku menguasai beberapa sihir, dan juga seni bela diri kekaisaran.


Serena pamit dan keluar dari kamarku menuju kantor kakak, aku menghempaskan tubuhku ke kasur yang lembut, dan kemudian aku tertidur di atasnya, Saat aku tertidur tiba tiba aku bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat gelap tempat itu seketika tertutup oleh kabut putih yang cukup tebal. Aku berjalan perlahan kemudian cahaya yang sangat terang menerangi tempat itu sampai membuat mataku silau.


Aku perlahan mendekati cahaya itu, Cahaya itu juga perlahan membawaku kedalam Sebuah peperangan yang tengah berlangsung, korban dimana mana, darah berceceran, mayat mayat bergelimpangan, aku miris sekali melihat hal itu, lalu aku lihat dua orang pria yang memakai Armor yang berbeda dari yang lainya bertarung sangat sengit di atas langit, mereka saling mengeluarkan sihir yang sangat kuat, sihir yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Pertarungan kedua orang itu membuat diriku gemetar dan merinding walaupun hanya melihatnya saja, aku merasa bahwa yang aku rasakan saat ini sangatlah nyata, Hujan panah yang berasal dari gunung Neria bertebaran diamana mana, suara Pedang yang beradu, serta suara ringkihan Kuda yang tengah melaju, semua itu sangat jelas, aku mendengar semuanya, bahkan aura dari Mana serta Qi seseorang terasa sangat mencekam. Aku hampir gila karena ini. Aku tak bisa bergerak sedikit pun, Aku tak bisa melakukan apapun, Aku hanya bisa melihat, semua itu terjadi begitu saja padaku bukan karena rasa takutku. Aku tak tahu apa yang tengah terjadi saat ini, dan entah kenapa aku bisa ada di situasi seperti ini.


Langit tampak Semerah Darah, petir dan Guntur yang menggelar memecah kebisingan. Hujan turun dengan derasnya, peperangan yang tak kunjung berhenti sedetikpun, rasa ketakutan yang aku rasakan, Semua Aura, Mana, serta Qi, yang Sangat kuat seakan menembus tulang dan dagingku. Aku melihat kearah belakangku ada beberapa orang yang memakai Armor serba gelap menghabisi lawan dengan skali serang, Mereka menusuk, mencakar, dan menebas lawan tanpa ampun, serta mencabik cabik tanpa rasa Empati. Sampai lawan mereka jatuh dan Mati begitu saja, kemudian seorang pria berambut Emas, dengan matanya yang seperti Topaz terang, memakai Armor berwarna Silver mendekati mereka sambil membawa pedang yang telah ternodai oleh darah, lalu ia mengarahkan pedang itu kearah orang-orang yang memakai Armor Gelap.


Aku lihat pria itu berkata sesuatu namun aku tak dapat mendengar apa yang ia katakan, Kemudian orang-orang dengan armor gelap tadi mendekati pria itu salah satu dari mereka yang memiliki rambut hitam kelam, panjang sebahu yang diikat, meneriakkan sesuatu yang tak bisa aku dengar kan, dan mereka pun bertarung satu lawan lima, Pertarungan yang tak seimbang bagiku, tapi pria itu mampu mengimbangi ke Lima orang itu sendirian.


Kemudian aku terbangun dari tidurku, dan mendapati diriku yang tengah tertidur di atas kasur. Tubuhku mengeluarkan keringat dingin, seakan-akan diriku memang benar-benar berada di Arena peperangan itu, Aku bangun dari tidur ku dan melihat jam yang menunjukkan pukul 13:05.


" Permisi Nona, Apa saya boleh masuk?" Tanyanya lembut.


"Masuklah..." Balasku datar.


Kak Serena masuk dan membawakan nampan yang terdapat Semangkuk Sup dan Segelas Jus appel di atasnya, Ia mendekati diriku dan menaruh nampan itu di kasurku.


"Nona, maafkan saya karna tidak membawa makanan secepatnya, saya harap nona makan dan setelah itu belajar."


" Ya tidak mengapa, Terimakasih karena sudah membawakan makanan untukku"


" ... Maaf saya ingin bertanya. Apakah benar besok nona dan Tuan akan pergi ke ibukota?


"Apakah nona akan baik baik saja jika nona sendirian pasti Tuan akan pergi menjalankan sebuah misi bukan. Nona pasti akan di tinggal sendirian." Ucapnya khawatir


"Tenanglah, jika kakak akan pergi aku akan mengikutinya, Jadi aku tak akan sendirian" Kataku.


"Ah, baiklah, sepertinya saya terlalu khawatir" ujar Serena.


"Padahal Misi kakak juga sangat berbahaya." ujarku dalam hati.


Aku teringat tentang mimpi tadi, aku ingin menceritakannya pada Kak Serena, Tapi sepertinya lebih baik aku diam saja, Aku tak tahu bagaimana nanti tanggapan Kak Serena saat aku menceritakan tentang Mimpiku tadi. Jadi lebih baik aku diam saja dari pada membuatnya Khawatir dan berfikir yang aneh.


"Nanti Kak Serena Siapkan Bajuku dan beberapa buku untuk besok pergi, Kak Xander punya Rumah di ibukota bukan, kapan terakhir kali aku kesana?" Tanyaku sembari memasukkan sesendok Sup kedalam mulutku.


"Keluarga Eelvia memang memiliki Rumah di ibukota. Rumahnya sangat besar, tapi Saya tak terlalu mengingat dengan jelas, Karena saya belum pernah kesana"


"Keluarga Eelvia juga sangat berpengaruh sejak lama dalam Kekaisaran, Grande Duke Eelvia merupakan Orang yang membantu menyelamatkan Kekaisaran pada Saat perang sekitar 5 Abad Silam" sambungnya.


"Benarkah, sampai seperti itu" aku kembali memasukkan sesendok sup kedalam mulutku, dan mengunyahnya.


"Baiklah saya akan pergi, saya harap nona tetap rajin belajar, bulan depan akan mulai masuk Academy, aku tak ingin Nona tidak dapat masuk kedalam Academy itu"


"Memang sejak kapan aku tidak dapat masuk Academy manapun, kalau kakak memperbolehkan diriku, mungkin aku sudah mendaftarkan diriku di Academy Kekaisaran" gerutuku.


Kemudian Kak Serena keluar dari kamarku dan membawa Bekas makan ku tadi, sementara aku melanjutkan kegiatan dengan membaca beberapa buku dan menyiapkan sesuatu untuk besok, Aku melupakan satu hal. Seharusnya aku menanyakan tentang Academy itu pada Kak Serena, tapi aku melupakannya. aku tak tahu lagi, sekarang hidupku terasa membosankan, aku harap hidupku bisa berubah tidak seperti ini selamanya. Mungkin, saat aku di Academy akan ada sesuatu yang menarik dan pastinya aku akan bertemu dengan orang-orang baru, dan orang-orang itu berbeda dengan diriku. Daripada aku pusing memikirkannya, lebih baik aku terus berlatih dan nanti sore aku akan Sparing dengan Kakak, Aku lelah dengan itu semua. Akan kah diriku bisa melewati ini semua, Dunia ini sangat kacau, Terlebih lagi dengan peperangan Yanga ada di mimpiku, Sebenarnya itu apa. Kenapa banyak Misteri dihidupku ini, dan mimpi itu sepertinya memang nyata, apa mungkin mimpi itu masa lalu yang berkaitan dengan diriku.


"Sebuah misi ya, Apakah harus aku yang melakukan Sebuah misi Seperti itu, Apa sesuatu yang tak seperti itu " Gerutuku.


Sore Harinya~


Senja pun datang, ini waktunya untukku berlatih pedang bersama Kak Serena dan Kakakku di halaman belakang, Aku sudah menyiapkan semuanya, Aku mengenakan gaun khusus berlatih yang dibuat khusus untuku, yang terbuat dari kain pilihan yang berhias sulaman mawar yang terbuat dari benang emas, gaun ini di desain khusus oleh desainer ternama La Begonia, desainer terkenal yang ada di Dunia, gaun berwarna putih dengan perpaduan emas dan biru tua yang panjang di atas lutut, memudahkan diriku bergerak. Dihiasi oleh simbol keluarga Eelvia di sisi kiri dadanya, Aku secepatnya pergi menuju halaman belakang, seperti yang sudah ada di pikiranku. Mereka berdua sudah berada di sana, Kak Xander tengah duduk di Paviliun kecil yang dikelilingi mawar putih, sedangkan Kak Serena tengah berdiri memegang pedang kayu di tangan kanannya. Ia berdiri di depan Paviliun kecil tempat Kak Xander duduk.


"Kalian sudah ada disini" gumam ku


"Aku ingin menggunakan pedang sungguhan, aku bosan hanya dengan pedang kayu seperti ini" Ucapku dan kemudian aku mengeluarkan Sebuah pedang Yang tertutup oleh sarung menggunakan Sihir ruang.


" ...Maaf saya tidak bisa, Saya Khawatir nona akan terluka" ujar Serena.


"Aku bisa beregenerasi" "Jadi jangan Khawatir akan hal itu" ujarku sambil melepaskan Pedang dari sarungnya, Lalu aku mengarahkan pedang itu dihadapan ku dan membalutnya dengan mana.


"Kau fikir kau mampu melakukannya! Kau itu masih anak-anak, seharusnya berlatih sewajarnya, dan berhenti membuang manamu sia-sia" Ucap Kak Xander yang tengah berjalan mendekati diriku.


Sebelum ia mendekati diriku, Aku melompat dan mengarahkan pedangku padanya, Tapi serangan ku mampu di Patahkan olehnya, Kak Xander pun mengambil pedangku dan menyimpan di dalam Sihirnya.


Aku hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa.


"......"


"Butuh 10.000 tahun lagi untuk mengalahkan diriku lebih baik kau Fokus dengan Latihanmu. Bulan depan kau akan memulai Sekolahmu jadi aku harap kau Fokus dan tidak bermain main, ini demi kebaikanmu juga" ucap Xander yang kemudian Mengacak-acak rambutku, Dan kemudian pergi begitu saja menuju Paviliun kecil tadi.


"Aku pasti akan melampaui dirimu suatu saat nanti" Batinku.


Aku sadar aku egois, aku tidak bisa mengendalikan diriku dan terkadang ingin skali menjadi jauh lebih kuat dari Kakak, Karena ia Orang Terkuat Di Kekaisaran Demonia, Mungkin suatu hari nanti aku yang akan melampauinya, aku menyerah berdebat dengannya dan mulai berlatih dengan Kak Serena.