Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
Secret Dungeon.




"Tempat ini sangat gelap, apa yang akan kita lakukan?" tanya Illan padaku.


"Masuklah!..." ajak ku


"Ya, kau tahu tempat seperti ini seharusnya di jaga baik-baik, tapi kenapa sangat berdebu dan juga lampunya sangat redup!"


"Huh." "Aku sangat sibuk, dan baru sekarang aku bisa kesini."


"Cepat masuklah."


Illan masuk kedalam dan ber sender di lemari buku di dekat pintu, aku berjalan mendekati meja tua berwarna coklat, yang berukiran dedaunan, di atasnya banyak tumpukan buku dan juga kertas, aku mengambil salah satu kertas yang berada di atasnya.


"Sudah 500 tahun berlalu, tidak ku sangka akan secepat itu." gumamku.


Aku berjalan kearah depan meja itu, lalu membuka lacinya dan mengambil sebuah kotak berwarna coklat gelap yang berukir mawar putih di atasnya, lalu aku pun duduk di kursi yang berada di dekat meja, sesaat aku hanya memegang kotak kecil itu, lalu membukanya dengan hati-hati, kotak terbuka terdapat kunci yang terbuat dari emas murni yang berhias kan permata biru Ruby di bagian kepalanya.


Aku menimang-nimang kunci itu di tanganku, sementara Illan yang sedari tadi berjalan kesana kemari mengamati ruangan yang membuat diriku sedikit risih.


"Illan, dari pada kau melakukan hal yang tidak penting. Lebih baik bantu aku mencari  buku Lady Adrianne Rein!" ujarku.


Illan hanya mengangguk kecil, lalu mencari buku yang aku katakan, sekali lagi aku membuka laci meja dan mencari satu kotak lainnya yang berisi batu milik Lady Azalea.


Adrianne Rein dan Azalea Rein adalah Kakak sepupuku yang mati di tangan para Manusia-manusia yang selalu menganggap diri mereka benar.


"Aku sudah menemukannya, apa yang harus kita lakukan, ini punya Bibi bukan?" ujar Illan.


Buku bersampul coklat tua kemerahan yang berasal kulit hewan, berada di genggaman Illan, aku hanya melihatnya sesaat lalu mencari kotak itu.


"Letakan buku itu di atas meja!"


"Apa yang sedang kau cari?"


"Kotak ibumu, benda itu sangat penting aku harus segera mengembalikannya kepada Baginda Kaisar!"


"Yah, baiklah."


"Aku mulai bosan, aku ingin setelah ini mengambil beberapa buku dan membacanya di kamarku, semua buku yang ada disini sangat Bagus."


"Apa seorang Malaikat seperti dirimu perlu membaca buku-buku Demon?"


"Ayolah, kau berkata seperti itu sama saja menghina ayahku! Bukankah kau sangat patuh padanya, sampai kau disebut dengan Anjing Kaisar." "Ok jangan pikirkan apa yang aku katakan."


"Huh, anak ini kalau saja dia bukan anak kakakku pasti sudah aku habisi!" ucapku geram.


"Kenapa mereka berdua sangat mirip, aku tak pernah berpikir mereka berdua sama-sama memiliki sifat yang menyebalkan seperti ini."


Aku bangkit dari dudukku, dan kemudian membuka laci yang berada di sebelah laci lainnya. Sebuah kotak persegi berwarna merah hati tergeletak didalamnya, aku mengambilnya dan membukanya, sebuah batu Crystal berwarna hijau ada didalamnya, aku segera mengambil kotak coklat tadi dan memasukan kunci yang emas yang aku pegang di tangan kirik ku.


"Kau mau kemana?" tanya Illan yang melihatku menjauh dari meja.


"Ikut saja, lalu ambil beberapa buku yang kau perlukan, di bagian belakang masih ada beberapa buku yang cocok untukmu."


"Baiklah, Terimakasih." balasnya dengan wajah yang bersemangat.


Aku keluar dari ruangan itu, sementara Illan masih sibuk mencari beberapa buku dan memasukan semua itu kedalam sihirnya.


Setelah beberapa saat, ia keluar dari sana. Aku yang tengah bersandar di dinding, mendekatinya yang sudah siap untuk keluar dari Lorong ini.


"Cepatlah, aku sangat bosan."


"Kau ini sangat cerewet, sebenarnya dari mana cerewet mu berasal.!"


"Apa mungkin kau lupa, kalau ibu sangat berisik, apalagi saat aku dan Adria membuat kekacauan." "Sejujurnya aku sangat merindukan saat-saat itu."


Aku hanya menunduk mendengar ucapannya tentang kakak, bagaimana pun juga aku sebagai adiknya juga sangat merindukannya, dia sudah seperti ibuku sendiri.


"Xander! Kau juga merindukan Ibu bukan, seandainya kejadian itu tak pernah terjadi, pasti Aku dan Adria bisa memeluknya dan kami bisa mendengarkan Omelan nya itu. Ayah juga tak akan seperti saat ini, aku tahu Ayah pasti sangat kesepian."


Illan melanjutkan ocehannya, "Saat itu Adria masih berusia satu setengah tahun, dan aku berusia tiga tahun. Adria selalu membuat masalah, bahkan pernah menghilang lalu kau datang dan membawanya pulang."


"Aku kesal, tapi mau bagaimana lagi, takdir mengatakan Ibu harus pergi meninggalkan kita semua."


"Xander, ayo kita kembali ke atas!"


"Ah, baiklah."


Kami kembali keatas tanpa berkata apapun, aku mengambil bola Cristal berukuran kecil di saku dalam Jas ku, lalu menghubungi Adria dan Selena yang tengah berada di suatu tempat di Cylia.


"Kakak, ada apa?" Sahut Adria dari dalam kereta kuda, wajahnya sangat ceria. Wajah Adria dan Selena terlihat di Hologram yang di keluarkan bola Crystal, wajahnya sangat mirip dengan Kakakku, aku tak mampu berkata-kata saat melihatnya.


"Ah kau memanggil Adria."


"Kak Illan, kalian ada dimana? Kenapa sangat gelap?"


"Rahasia, anak kecil seperti dirimu lebih baik diam!"


"Jangan menyembunyikan sesuatu dari ku, jadi urusan kalian sudah selesai, kami akan kesana sebentar lagi. Aku sudah menyuruh kusir kembali ketempat kalian."


"Adria sangat baik"


"Kenapa Kak Xander diam saja, apa dia salah makan atau apa?"


"Yah entahlah, sini bolanya."


Aku memberikan Bola itu kepada Illan, aku tak tahu harus membicarakan apa pada Adria, kami berjalan menuju tangga, dan segera keluar dari sana, Illan masih berbicara dengan Adria dari tadi.


Lalu kami pun keluar dari tempat pandai besi itu, aku lihat jalan sekitar, dari arah kiri ku kereta sudah sampai. Illan mematikan Bola itu dan melihat kerah Adria yang tengah melambaikan tangannya.


Di dalam kereta kuda ada lima buah tas belanja berukuran besar, aku hanya menggelengkan kepalaku sesaat melihat tas tas itu. Kami mendekati kereta dan masuk kedalamnya, wajah Adria sangat bahagia kala itu, tak seperti biasanya yang selalu murung.


"Adria untuk apa semua tas itu?"


"Aku membeli beberapa pakaian dan teh, serta beberapa pernak pernik untuk temanku." jawabnya riang.


"Huh." aku hanya bisa diam melihat mereka berdua.


Selena hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka, aku pun mengambil sebuah buku yang terletak di atas Laci Kereta.


Di sepanjang perjalanan merek bertiga membicarakan kegiatan Adria dan Illan di Academy, aku hanya mendengarkan.




Akhirnya kami sampai, jam tanganku menunjukkan pukul 15:36, yang berarti sudah hampir 5 jam kami pergi keluar, Selena membawakan beberapa tasku didalam sihirnya, aku hanya membawa satu, dan satunya di bawa oleh Kak Illan untuk dirinya sendiri, yah aku membelikannya beberapa pakaian dan juga perhiasan.



Wajah nya terlihat sangat bahagia, sementara Kak Xander hanya duduk ia tak bergeming sama sekali, katanya ia harus pergi ke suatu tempat, aku hanya mengiyakan perkataannya. Kami bertiga masuk kedalam Academy, sementara Kak Xander pergi dengan kereta kudanya.



Kami berpisah dengan Kak Illan, ia pergi ke arah kanan menuju Asramanya, sementara aku dan Kak Selena pergi menuju Asramaku.



Saat kami berada di halaman Asrama Putri seniorku terlihat menunggu diriku, mereka duduk di kursi yang berada di lantai satu di dekat tangga. Aku melambaikan tangan kananku mereka membalasnya. Kak Naomi juga ikut bersama mereka.



Kaku berlari kearah mereka semua, dan berhenti di depan mereka. Mereka terlihat sangat bahagia, yah karena mereka di berikan uang saku dan beberapa pakaian baru oleh orang tau mereka, mereka sangat riang.



"Adria, dari mana saja Kau ini, kami sudah menunggu, kenapa tidak menghubungi kami?" ujar Kak Prissy, yang lain hanya tertawa kecil.



"Maaf!"



"Baiklah, bagaimana kalau kita mandi bersama di shauna Asrama, kita harus beristirahat sejenak." ujar Kak Tracy yang tengah duduk di samping Kak Naomi.



"Ya, aku akan meletakan belanjaan dulu, setelah itu baru kita pergi."



Aku melirik Kak Selena yang tengah berbicara dengan Kak Liz mereka terlihat sangat Akrab.



"Kak, mau ikut? Kak Xander pasti lama kembali kesini, mungkin besok!"



"Tunggu, tapi apa boleh?"



"Tidak ada yang melarang, kalian setuju bukan." sahut Kak Naomi.



"Malam ini kakak menginap di kamarku Bagaimana, kasurku kan cukup besar untuk kita berdua!"



"Baiklah, kalau Nona berkata seperti itu."



Seniorku tertawa kecil melihat tingkah kak Selena yang sedikit kikuk, bagaimana pun juga, ini kali pertamanya bersama Mahluk Ras lain.



~~~ Shauna Asrama ~~~



Shauna Asrama putri berada di bagian belakang Asrama, tempat ini sangat Aman dan juga terbuka. Namun, ditutupi oleh Atap kaca, jadi kita masih bisa melihat langit yang indah. Dibelakang Shauna merupakan Shauna Asrama pria, mereka sangat berisik sampai terdengar hingga Shauna Wanita. Yah bisa dibilang Asrama pria dan wanita bersebelahan.



Kami disana langsung melepaskan pakaian kami dan merendamkan diri di dalam kolam air panas berbentuk lingkaran yang cukup besar, aku menyenderkan tubuhku di bebatuan kecil yang mengelilingi kolam, Kak Tracy menenggelamkan diri dan kembali lagi kepermukaan, sementara Kak Selena bercengkrama dengan Kak Naomi dan Kak Liz, Laila yang berada didekat ku hanya diam menundukkan tubuhnya ia sibuk mengatur rambut putih panjangnya menutupi dada miliknya, Aku hanya diam melihat mereka, Kak Prissy yang baru sampai langsung menceburkan dirinya ke kolam membuat cipratan yang cukup besar,  sisanya mereka juga menenggelamkan diri dan melakukan hal lain.




"Yah, entahlah kita kan selalu sibuk. Bagaimana bisa kita kesini, sedangkan hanya sampai jam 5 sore tempat ini bukannya!" balasku, aku pun menenggelamkan kepalaku dan hanya menyisakan mataku saja.



"Aduuuhhh" keluhku, Kak Tracy memukul kepalaku.



Aku kembali ke permukaan, lalu melihat sisi kiri ku melihat Kak Prissy tertawa kecil karena tingkahku.



"Adria, apa yang kamu lakukan saat berkeliling?"



"Ah, aku hanya makan dan belanja!"



"Makan? Belanja?"



"Ya, aku makan di Restoran yang menghidangkan Makanan Laut, aku lupa namanya, lain kali aku akan mengajak kakak!"



"Makanan laut? Apa maksudmu Cylia Heaven! Bukankah tempat itu sangat mahal, ada yang bilang harga satu porsi makanan bisa membuat satu desa kenyang!"



"Yah, begitulah." balasku.



"Kau ini, kau Bangsawan bisa bisanya memiliki uang sebanyak itu, enak ya jadi Bangsawan."



"Tidak sepenuhnya"



"Apa maksudmu?"



"Yah, mau bagaimana lagi, sejujurnya Bangsawan memiliki banyak sekali masalah, walaupun kami memiliki uang yang banyak. Tetap saja masalah pun sangat banyak...



"Contohnya, perebutan kekuasaan, perekonomian wilayah yang di kuasai, dan sebagainya."



"Benarkah? Aku selalu berfikir para Bangsawan hanya hidup bermewah-mewah...



"Aku selalu melihat mereka berpesta, makan makanan mewah, pergi kemana saja."



"Tapi aku tidak seperti mereka, yah mau bagaimana pun juga Kakakku merupakan Kesatria yang tunduk dan menyerahkan dirinya kepada Baginda Kaisar."



Prissylia diam sejenak, ia berfikir di dalam kepalanya, "ah ternyata aku salah!"



Aku hanya mengangguk pelan, lalu menenggelamkan kepalaku sepenuhnya didalam kolam.



Suara bising dari pemandian air panas Pria terdengar sampai kemari, suara langkah kaki yang teramat berisik.



Lalu suara teriakan Kak Illan dan Kurtis membuat kami yang mendengarnya geram. Kak Prissy yang berada di sebelahku tak tahan mendengar mereka semua, ia berdiri dari duduknya.



"Hey, apakah kalian bisa diam!, aku tahu kalian sudah lama tidak mandi tapi setidaknya diam lah, kami disini terganggu!" teriaknya geram.



Suara mereka dari sebrang sana menghilang, kak Prissy duduk kembali di kolam.



"Apa kau bilang, Bukankah kau juga tidak pernah mandi, Prissy sangat


menganggu." Balas Illan dari Sana.



"Huh!..."



"Seharusnya kau lihat dirimu sendiri dasar payah, apakah kau tidak tahu Naomi juga ada disini bersama kami, dia sangat terganggu dengan suaramu yang menjengkelkan."



"Itu benar, dasar tak tahu malu." balas Liz yang duduk ditengah antara Naomi dan Serena.



Naomi hanya diam, ia tidak tahu apa yang teman temannya pikirkan tentang dirinya dan Illan.



"Ah, kalian semua berisik aku kesini karena ingin ketenangan dan bersantai kenapa kalian semua membuat onar, kalau aku senior kalian aku akan memberikan hukuman sebulan penuh." teriakku.



Semua orang melihat diriku, Para pria di sebrang sana menertawakan diriku, lalu Kak Serena ikut tertawa kecil. Tiba tiba suasananya pecah oleh tawa, aku malu atas apa yang aku katakan. Aku kembali menenggelamkan kepalaku seutuhnya.



"Yah, baiklah sepertinya kita harus kembali ke kamar masing-masing, sebentar lagi mentari akan digantikan oleh rembulan." ujar Kak Serena.



Semua mengangguk setuju, aku beranjak dari kolam itu dan segera mengambil handuk di sampingku, aku mengganti pakaian dan kami segera pergi ke kamar masing-masing. Aku dan kak Serena berdua menyusuri lorong Asrama lantai dua



"Nona, saya senang dan bersyukur. Nona yang sekarang jauh berbeda," ujar Serena.



"Apa maksudmu?"



"Maksud saya, sekarang nona memiliki banyak teman dan juga Senior yang baik, Nona juga terlihat lebih bersemangat dibandingkan dua bukan lalu sebelum Nona ada disini."



Aku tersenyum padanya, "Yah, begitulah."



"Nona juga jauh lebih dewasa dibandingkan dulu."



"Kakak!"



Kami tertawa kecil, aku pun langsung bergegas berlari menuju kamar, sementara kak Serena mengikuti dibelakang.



\*\*\* Kamarku \*\*\*



Aku mengganti pakaian ku dengan piyama tidur berwarna biru polos yang terbuat dari sutra, setelah selesai aku menghempaskan tubuhku ke kasur, sementara Kak Serena menyiapkan makan malam untuk kami berdua, aku hanya menunggu sembari membaca beberapa buku tentang Qi yang diberikan Kak Prissy beberapa hari lalu, aku bangkit dari tidurku, dan menuju meja, aku letakan buku itu diatasnya dan pergi menuju jendela yang terletak di sisi kirinya, lalu membuka tirai berwarna perak polos yang menutupi jendela besar itu, langit malam yang teramat indah berada di hadapanku, dengan 3 buah bulan berbeda bentuk dan warna, serta ribuan milyar bintang yang menghiasi langit malam.



Serena keluar dari dapur sembari membawa nampan yang berisi daging ayam yang ia panggang lalu meletakkannya di atas meja makan, kamarku cukup besar, dan terdiri dari Kasur yang berada di sisi kanan, dapur dan kamar mandi yang bersebelahan, serta ruang makan yang ada di depan nya, meja belajar dan meja rias ku berada di sisi kasurku, lalu lemari pakaian yang berada di sisis lain tempat tidur.



Aku berjalan ke arah dapur dan mengambil dua buah piring, serta alat makan, kak Serena kembali ke dapur dan mengambil Panci yang berisi nasi yang sudah masak. Kami meletakkannya di atas meja.



"Kita makan sekarang, aku akan mencuci kedua tanganku terlebih dulu, Kak Serena tolong buat kan aku secangkir teh dan ambilkan beberapa Camilan di laci dapur."



Kak Serena hanya mengangguk tanda mengerti, aku pergi menuju toilet dan mencuci kedua tanganku dengan sabun di wastafel.



Kami pun makan bersama di temani suasana malam yang amat terang, perasaan yang sangat aku rindukan.



![](contribute/fiction/7055300/markdown/43907148/1685955023472.jpg)