
Selasa sore yang damai, Semua murid melakukan aktivitas mereka masing-masing, terkecuali para Dewan yang melakukan pekerjaan mereka.
"Adria kenapa kamu membawa buku sebanyak itu, seharusnya kamu meminta bantuan kepada orang lain, atau menggunakan sihirmu." ujar Fabian yang berpapasan dengan ku di lorong Academy.
"Ah, ini semua bukan apa-apa!" ujarku.
Tanpa sadar kedua tangannya mengambil semua buku yang aku bawa, sesaat aku merasa tidak nyaman. Tapi senyumannya mengatakan semua akan baik-baik saja, aku tak mengerti apa yang pria dihadapan ku ini pikirkan.
"Seharusnya seorang gadis tidak membawa benda yang berat, ini tugas seorang pria, jadi biarkan aku yang membawanya." ucapnya membuat diriku merasa tenang.
*Author said"Tenang apa senang^∆^"
"Maaf, atas dasar apa kau membantuku." tanyaku.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu, bukankah sudah tugasku membantu seorang teman." jelasnya.
Aku hanya mengangguk pelan, seakan aku merasa bermimpi bisa seperti ini, karena sejak aku kecil aku hanya sendirian, bahkan disaat aku sekolah di Academy tingkat kedua di Aria. Aku sama sekali belum pernah memiliki seorang teman, sejak kecil aku hanya sendirian, tanpa tahu bagaimana rasanya memiliki seorang teman, bahkan sampai sekarang terkadang aku merasa canggung disaat ada seseorang di dekatku atau apapun itu. Aku hanya memiliki satu orang teman, tapi itu sudah lama sekali, disaat aku masih kecil, mungkin sekitar dua belas atau tiga belas tahun lalu.
"Sebenarnya kau ingin membawa ini kemana?"
"Adria apa kau mendengarkan ku" ujar Fabian.
"Eh, maaf. Aku akan membawa buku-buku itu keruang Dewan Keamanan, lalu buku lainnya ke ruang Dewan Sihir." Balasku.
"Syukurlah, aku bisa menemani dirimu ke sarang Mahluk menyebalkan seperti mereka." ucap Fabian pelan.
"Eh?" "Apa maksudmu?" tanyaku.
"Bukankah kamu akan masuk ke sarang Harimau? Kalau aku tidak pergi bersamamu mungkin saja para Harimau lapar itu akan memangsamu tanpa kau sadari." ujarnya yang membuat diriku Bingung.
"Jadi, maksudmu apa?"
"Adria, kamu ternyata polos yah." ujarnya kemudian ia tertawa kecil.
"Yah Kau tahu, Dewan Keamanan sangat tidak menyukai kita semua, lalu mereka selalu berlindung dari perkataan mereka."
"Oh, itu." "Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi. Senior menyuruhku untuk mengantarkan itu keruangan mereka."ujarku.
"Kalau Adria berurusan dengan pengganggu itu, bilang saja padaku, aku akan membalasnya." ujarnya.
"Aku tidak suka pertikaian, seperti anak kecil, lagi pula aku cukup dekat dengan Emely, dia anak yang baik." balasku.
"Emely? Siapa gadis itu?" tanyanya heran.
"Teman sebangku yang duduk di sisi kiriku."
"Ternyata putri dari Kekaisaran Devillia bisa berteman dengan gadis biasa, aku cukup kaget mendengarnya." ujarnya yang di tambah tawa kecilnya yang khas.
"Kalau menurut dirimu hal itu menggelikan, tetaplah tertawa sampai kau puas." Tegasku.
"Adria gadis yang sangat lucu yah, pasti dirimu memiliki banyak pria yang menggemari dirimu."
"Aku bukan Kak Naomi, aku juga aneh, menyebalkan, kaku, dan tatapan mataku seolah-olah ingin menambah musuh." jelasku.
"Kata siapa, buktinya aku suka."
"Apa yang kau katakan tadi, maaf telingaku kurang mendengarkannya, bisakah kamu berbicara lebih keras lagi."
"Tidak bukan apa-apa, lebih baik kita masuk kedalam, kita sudah Sampai." ujarnya yang berhenti di depan pintu Dewan Keamanan.
Aku pun mengetuk pintunya perlahan.
"Permisi, ini aku Adria dan Fabian ingin memberikan beberapa buku." Ucapku.
Samar sama aku mendengar beberapa orang membicarakan kami didalam sana.
"Baiklah silahkan masuk kedalam." ujar Crish yang membukakan pintu.
"Terimakasih."balas kami berdua.
"Letakan buku buku itu di Rak buku yang berada di dekat jendela itu, lalu pergilah secepatnya." ujar Val yang tengah duduk di kursinya sambil menunjuk kearah lemari di depannya tanpa melihat kami.
"Huh" dengus Fabian pasrah.
"Terimakasih sudah mau mengantarkan buku buku itu." ucap Kak Naomi lembut.
"Bukan apa-apa, aku hanya membantu Adria tadi." ujar Fabian.
Kami berdua mendekati Rak buku yang dikatakan Kak Val, aku mengangkat satu persatu buku yang Fabian Pegang dan memasukan kedalamnya.
"Bukankah seharusnya Illan yang mengantarkan semua buku buku itu, kenapa jadi Adria yang mengantarkannya." bisik seorang gadis berambut coklat gelap yang duduk di sebelah Crish.
"Entahlah, aku tidak perduli. Asalkan pria itu tak membuat kakakku kesulitan karenanya." balas Crish.
Val baru tersadar akan kehadiranku, ia pun beranjak dari kursinya mendekati diriku yang ada di depannya.
"Maaf Lady Adria, karena aku bersikap tidak sopan di depan anda." ucapnya memberikan hormat padaku.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku adalah adik kelas mu. Tidak perlu terlalu formal." balasku.
"Tapi, mau bagaimana pun juga, Lady adalah salah satu keluarga Kekaisaran, dan saya adalah salah satu Rakyat Kekaisaran Devillia." balasnya.
"Tapi bukankah kita sama-sama berasal dari Ras Demon. Di Academy Kedudukan tidaklah penting bukan." jelasku.
"Maafkan saya Lady." ujarnya.
Aku tersenyum sesaat "Tidak perlu minta maaf."
"Ekhem, Val. Kerjakan tugasmu terlebih dahulu." ujar Freya di belakangnya.
"Kau ini mengganggu saja." balasnya.
Aku lihat, Naomi menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bawahannya yang sangat acak.
"Baiklah, kami izin pamit." ucapku.
Kaki pun keluar lalu pergi ke tempat berikutnya.
"Aku baru ingat kalau Terdapat dua Demon disana." ujar Fabian.
"Kak Val sangat lucu bukan" ujarku yang diselingi tawa kecil.
"Ya dia sangat lucu dan juga aneh."
"Tapi bukankah karenanya mereka berhenti membicarakan tentang hal buruk."
"Benar juga, tapi kalau aku pikir-pikir disana Hanya ada beberapa anggota, Dimana yang lainnya."
"Pastinya berpatroli. Mereka tidak seperti kita yang hanya bermalas-malasan."
"Fabian, ujian Semester Pertama itu kapan?" tanyaku.
"Entahlah, mungkin akhir tahun ini." balasnya
"Saat liburan nanti, aku ingin bertemu dengan Ayahku, akhir akhir ini Ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya, lalu Kakakku juga sama, aku hanya bermain dengan Asistenku.
"Kalau aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan Ayahku, dia juga sangat sibuk. Jadi aku sangat tidak menyukai dirinya." Ucapnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Yah, dia hanyalah seorang Ilmuwan gila yang hanya melakukan Penelitian untuk Kekaisaran Elgia, orang itu sangat gila bukan!"
"Ayahku sangat sibuk, bahkan dialah yang menjaga Kekaisaran Devillia selama ini, tapi aku sangat menyayangi dirinya, karena sejak kecil apapun yang aku inginkan dia selalu menyempatkan waktunya untuk pergi ketempat yang aku mau, dan memberikan apapun." balasku.
"Ayahmu, bukankah Grand Duke Eelvia terdahulu sudah lama tidak ada."
"Eh, itu. Bagaimana yah."
"Aku kelepasan berbicara, kenapa aku Samapi lupa seperti ini." batinku.
"Tenanglah, aku hanya bercanda, aku juga sudah tahu sejak lama kok." ujarnya.
"Lalu, bagaimana dengan kakakmu?" tanyanya.
"Entahlah, Kak Xander dia sangat membatasi semua hal yang aku inginkan, sangat berbeda dengan Ayah, makanya aku tidak menyukai dirinya, tapi aku sangat menyayangi Kakak, karena dia sangat memperdulikan diriku, seperti adiknya sendiri. Padahal dia..."
Fabian memotong perkataan ku. "Bukankah kau memang adiknya."
"Eh, aku salah lagi yah."
"Tuh kan, Adria itu gadis yang sangat lucu, makanya aku suka."
"Apa maksudmu dengan kata suka?" tanyaku.
"Benarkah?" "Aku rasa kau berbohong, aku juga tak pernah menyangka, seorang Flavian murid paling Genius di Angkatan kita bisa berbicara hal yang seperti itu, aku kira kau hanya seorang pria yang masih kecil namun pikirannya sangatlah dewasa."
"Apa kau melihat diriku seperti itu?"
"Iya, bukankah kau menolak untuk menjadi Wakil ketua, sama halnya dengan Kak Illan yang menolak menjadi Ketua Dewan Sihir."
"Kau tahu, karena dirimu aku harus menangani segala macam hal yang sangat menyebalkan, sampai harus membuang mana milikku sia sia." kesalku
"Jadi kau marah padaku karena hal itu?"
"Bisa dibilang seperti itu, namun sudah terlanjur, jangan jangan kau nanti menjadi dalang kerusuhan di Academy, sama seperti yang Kak Illan lakukan. Tak mengerjakan tugas-tugasnya." ujarku.
"Apa kamu pernah melihat aku tidak mengerjakan tugas selama ini?" tanyanya.
"Bahkan, semua tugas Kak Illan aku yang mengerjakannya." ucapnya.
"Benar juga." ucapku sambil memegang daguku.
"Aku juga ingin bersantai seperti mereka." ujarku
"Bagaimana setelah mengantarkan buku buku ini, kita peegi ketaman, bukankah kamu sangat menyukai Mawar putih?"
"Baiklah" balasku.
"Kamu mau permen?" tanyaku sambil menyodorkan sebungkus permen kecil.
"Aku mau, tapi aku tidak bisa memakannya. Nanti saja bagaimana?"
"Baiklah, sekarang kita belok ke kanan, didepan sana adalah ruangan Dewan Siswa." ucapku.
Kami pun sampai didalamnya, kemudian pintu yang ada di hadapan kami terbuka begitu saja, dan keluar Flor dan Greage, yang tengah berkelahi di hadapan kami.
Fabian menatap mereka dengan wajah yang sangat pasrah.
"Hadeh, lagi yah." ucapnya pelan.
Flor pun sadar akan kehadiranku.
"Naomi, kau akhirnya datang, aku sudah menunggu dirimu." ucapnya riang.
Lalu Flor mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Kau tahu, Kak Austin sepertinya sangat ingin bertemu dengan dirimu." Bisik nya, membuat pipiku memerah.
"Baiklah ayo masuk kedalam, kita minum teh dulu." ujarnya yang kemudian menarik tanganku dan kami pun masuk kedalam, sementara Fabian mengikuti di belakang.
"Adria, kenapa kau datang kesini?" tanya Austin kepadaku dari mejanya.
"Ah, itu. Kami mengantarkan Buku buku ini." ucapku.
Kemudian Austin beranjak dari kursinya dan mendekati diriku.
Ia mengambil buku yang aku pegang. "Biarkan aku yang menaruh semua bukunya." ujarnya.
"Tidak perlu, biar aku saja."
"Seorang wanita terhormat tidak seharusnya mengangkat benda yang berat."
"Perkataannya sama seperti Fabian." "Aku curiga Fabian berguru padanya." batinku.
"Kalau semua bukunya, lalu bagaimana dengan buku Yanga da di tanganku." Ucap Fabian pelan.
"Kau bisa menaruhnya sendiri." ucap Flor.
"Menyebalkan." batin Fabian.
Fabian pun menaruh bukunya sendirian.
"Baiklah, urusan kami disini sudah selesai, Adria, ayo kita pergi sekarang." ajak Fabian.
"Tunggu sebentar." balasku.
Aku lihat kebelakang, dan seperti Kak Austin sedikit kesal karena aku bersama dengan Fabian, sejujurnya aku takut dia marah padaku.
Kami pun pergi dari sana, menuju taman Academy, setelah selesai mengantarkan Buku buku itu.
"Baiklah, sekarang apa yang Adria inginkan?"
"Entahlah, aku hanya ingin bersantai, aku lelah dengan semua pekerjaan ini, huh." balasku
"Disini sangat ramai, lalu mereka semua sangat menikmati waktu mereka, tidak seperti kita yang harus berurusan dengan buku, kertas, dan pena." "Membosankan." keluhku.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita beli Eskrim, sepertinya disaat senja akan terasa enak!" ajaknya.
"Boleh, yuk ke kantin lalu kesini lagi." balasku.
Kami pergi ke kantin yang berada di samping kanan taman, suasana di sana sangat ramai, bahkan ada beberapa yang bertengkar, namun sedang dipisahkan oleh para Dewan keamanan, Emely salah satunya.
"Kekanak-kanakan." ucapku.
"Adria mau rasa apa?" tanyanya.
"Vanila, coklat, dan greentea." ucapku.
"Aku yang traktir yah." tawarnya.
"Aku punya uang kok, aku aja boleh?"
"Aku tidak suka di traktir, apalagi sama seorang gadis kecil seperti dirimu."
"Aku sudah besar tahu."
"Sudahlah, ini makan hati hati, jangan sampai terjatuh." ucapnya sambil memberikan semangkuk Eskrim kepadaku.
"Terimakasih." ucapku.
"Kau ini sangat lucu, sekarang kita kembali ke taman." ajaknya.
"Aku sudah mendapatkan Eskrim ku." ujarnya sambil menunjukkan Semangkuk Eskrim ditangannya.
Kami pun bercengkrama sepanjang sore, dan saat sore hari hampir berakhir, kami berpisah dan pergi ke Asrama masing-masing.
Dan hari ini memang benar-benar luar biasa bagiku, aku sangat bahagia. Terutama bisa berbicara terbuka kepadanya, dan hampir saja aku kelepasan.
Hari ini pun selesai aku jalani tinggal menunggu waktunya ujian di tengah musim salju akhir tahun nanti.
Aku hanya sedikit takut, tentang Ayah. Kalau ada beberapa orang yang mengetahui Rahasiaku aku takut, karena dua orang sudah mengetahuinya, aku takut kalau karena rahasia itu bocor.
Saat sampai di Asrama, aku secepatnya naik ke lantai atas, kamarku berada di lantai ke dua Asrama ini, di asrama para siswi pun banyak yang bercengkrama di koridornya, sangat menyenangkan bagiku. Tapi aku tidak ada waktu seperti itu, selesai mandi aku harus belajar, karena selesai sekolah aku dan para Dewan lainnya mengerjakan semua tugas.
Saat aku melihat di kejauhan, beberapa Dewan Siswa senior tengah menangani masalah di Asrama ini, itu sudah tugas mereka, lalu aku pun berjalan mendekati mereka.
"Permisi, apa ada yang bisa aku bantu?" tawarku.
"Tidak perlu, kami bisa sendirian, lebih baik kamu melakukan apa yang ingin kamu lakukan, kau terlihat kelelahan." ujar Kak Moana padaku.
"Itu benar, aku tidak mau merepotkan dirimu." sambung Kak Liz yang tengah membawa sekotak penuh Ramuan.
"Baiklah, kalau ada perlu katakan saja padaku." balasku.
"Terimakasih Adria, istirahatlah dan ini untukmu." ucap Kak Moana dan memberikan sebotol Ramuan berwarna biru tua padaku.
"Ini untuk apa, tidak perlu." balasku.
"Ambil saja, ini sebagai ucapan terimakasih kami karena selama dua Minggu kamu membantu semua tugas kami di Asrama." ucapnya.
"Eh, Terimakasih." balasku.
"Sama sama, jangan lupa istirahat yang cukup." ucap mereka berdua dan pergi menuruni anak tangga.
"Adria, besok sore temui aku di taman." ucap seseorang dari belakangku.
Aku pun melihat kebelakang, Ternyata Kak Tracy dan Laila.
"Eh, baiklah. Aku akan ingat itu, memang kenapa?"
"Umm, aku bosan sendirian jadi temani aku."ucapnya
" Aku juga, apa kau bisa membantuku?" Tanya Laila padaku.
"Eh!" Kataku kaget.