
Setelah Prof. Win. Mengajarkan kami semua cara memanggil Hewan sihir, kami semua melakukan apa yang dia ajarkan, aku mencoba fokus dan merapal kan mantranya, seketika energi di sekeliling ku berubah, aura berwarna biru gelap menyelimuti diriku, setelah itu seekor kucing hitam, dengan mata biru ada di atas mejaku.
Aku tersenyum, "Aku berhasil!" seruku.
Prof. Win. melihat kearahku, "Adria, apa kamu tahu Hewan sihir macam apa yang telah kau panggil?" tanyanya.
Aku menggeleng," Saya tidak tahu Prof.
Tiba-tiba suara keras datang dari arah belakang, "Boom!" serentak seisi kelas menoleh kearah kursi belakang, kami melihat Kurtis yang tengah di temani Harimau yang cukup besar di belakangnya, aku baru sadar Kurtis mengikuti kelas ini!.
Aku mendekat kearahnya.
"Eee... Apa ini!?" seru Kurtis menatap Hewan Sihir yang ia Panggil.
Semua orang menatapnya tak percaya, salah satunya itu aku, walaupun aku mengetahui Kurtis memang memiliki Bakat terpendam yang luar biasa. Namun, agaknya Kurtis tak pernah memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Aku mendekatinya perlahan, "Kau sangat luar biasa Kurt! Aku kagum padamu!" ucapku sembari memberikan Ibu jari padanya.
Harimau miliknya terlihat sangat berwibawa dan mempesona, aku tak tahu apa yang harus aku katakan padanya, Kedua mata Kurt menatap Harimau nya tak percaya, aku mengangguk padanya berusaha meyakinkan dirinya.
Kemudian Flora berdiri di belakangku, "Wow! Aku tak percaya Pangeran kita berhasil, ia memanggil Hewan Sihir tingkat tinggi, untuk kali ini aku akan menganggap dirimu pantas untuk menjadi seorang Putra Mahkota!" seru Flor.
Wajah Flor tampak berkaca-kaca tak percaya, sama halnya dengan Kurtis, aku hanya bisa terdiam melihat kedua Saudara itu.
"Adria! Mana kucing hitam milikmu?" tanya Flor.
"Itu, Kucingku sedang tertidur." ucapku sambil menunjukkan Kucing Sihir milikku yang berada di dekapanku.
Flor mengelusnya dengan lembut, kemudian Kucing itu terbangun, dan mencakar Tangannya. Aku hanya bisa menahan tawaku.
"Aaaw, sakit! Apa kucing milikmu memiliki dendam pribadi terhadapku?" ucap Flor terkejut.
Aku terkekeh pelan, "Entahlah, mungkin kau terlalu meremehkan seorang Pangeran Elf kita!"
"Kau membelanya!" setelah berkata seperti itu, Flor kembali duduk di mejanya.
Prof. Win. mendekati Kurtis yang masih kebingungan. "Tuan muda, Hewan yang anda panggil merupakan Hewan Sihir yang menjaga hutan, ini sangat cocok untuk anda, terlebih Hewan ini juga merupakan satu dari lima Hewan sihir yang menguasai Element,"
Kurtis masih terpaku di tempatnya, ia masih tak percaya apa yang terjadi, "Jadi, aku berhasil! Terimakasih Prof," ucap Kurtis sambil membungkuk.
"Pencapaian tuan muda sangat luar biasa, temui saya siang ini di ruangan saya!" pinta Prof. Win. Semangat.
Kurtis terlihat kebingungan, ia menggaruk kepalanya, "Baiklah, tapi..." ucapnya ragu.
Flor mendekat di samping Kurtis kemudian ia berbisik, semua orang melihatnya.
"Yah baiklah, aku akan ke ruangan Profesor nanti!" setelah meyakinkan dirinya, Kurtis menatap Flor, sementara Flor memberikan kedipan mata untuknya.
Aku kemudian berbalik menuju mejaku, begitu juga dengan yang lain.
Sejujurnya aku penasaran dengan apa yang terjadi, terlebih Profesor yang tiba-tiba mengajak Kurtis ke ruangannya. Sungguh, sebenarnya apa yang telah terjadi.
Atau, ada yang di rahasiakan oleh para Elf, apa itu. Tapi sepertinya orang asing seperti diriku tak pantas mengetahuinya.
"Adria, apa yang sedang kami pikirkan!?" ucap Flor menyadarkan lamunanku.
"Eh!... iya!"
"Adria, berhenti melamun. Sepertinya kucing hitam milikmu ingin sesuatu!"
"Mungkin, aku akan ke kamar setelah ini!"
Beberapa jam kemudian jam pelajaran telah usai, aku kembali ke Asrama, di perjalanan tak sengaja aku mendengar suara ribut-ribut, entah apa yang terjadi, aku yang penasaran mendekati arah datangnya suara, suara-suara itu semakin keras, sampai bentakan kasar yang keluar dari mulut orang itu.
Aku mengintip di balik pepohonan, kemudian aku duduk di dahan pohon untuk bersembunyi, tanpa aku sangka Kak Ernestein tengah membentak Kurtis, sementara Kurtis hanya terdiam, ia terlihat tak peduli.
Apa yang terjadi di antara dua orang Sepupu itu? pikirku, aku hanya melihat dari atas pohon, aku cukup penasaran, walaupun hal ini tak seharusnya aku ketahui!
Tiba-tiba Kak Ernestein mental kearah pohon yang tengah aku singgahi, seakan tatapannya mengarah padaku, entah kenapa aku bergidik ketakutan. Kemudian Kak Ernestein pergi meninggalkan Kurtis yang masih berdiri mematung, Kurtis hanya bergeming di sana, aku ingin mengakhirinya, mungkin itu hak yang baik.
Aku turun dengan melompat, setelah aku berada di atas tanah, Aura yang sangat kuat tiba-tiba berada di belakangku, aku tidak familiar dengan Aura ini, aku berbalik dan mendapati Kak Ernestein yang tengah berdiri menatapku, dari sorot matanya sudah jelas ia terlihat kesal.
"Tuan putri, apa yang anda lakukan di tempat seperti ini?" ucapnya membuat diriku gemetar.
Aku hanya terdiam menundukkan kepalaku, perlahan aku mengumpulkan keberanian untuk mengahadapi pria di hadapanku ini.
"Entahlah, aku hanya lewat saja!"
"Benarkah?" alis kirinya terangkat, kedua matanya melihatku penuh selidik. "Aku tak pernah berpikir bahwa seorang tuan Putri dari Kekaisaran Devillia suka menguping pembicaraan orang, Tsk..." ia memalingkan wajahnya kemudian kembali menatapku.
Aura miliknya masih saja ia keluarkan, aku hanya bisa diam tak bergeming.
"Anu... Maaf!" ucapku ketakutan.
"Ah, baiklah aku sedang sibuk, dengar ini jangan pernah mencampuri urusan orang lain!" ancamnya
Kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan diriku. Aku mengalihkan kepalaku kebelakang, ingin mencari tahu apa Kurtis masih ada di sana!.
"Apa yang Ernestein katakan padamu!?" ucap Kurtis yang tiba-tiba berada di sampingku.
"Bukan hal yang penting!
"Omong-omong, apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu!"
Kedua mata Kurtis terlihat penuh dengan kekesalan, "ah maaf, sepertinya aku... " ucapku.
"Bukan apa-apa, lagi pula seorang Elf seperti diriku pantas menerima hal seperti itu!"
"Apa maksudmu?"
Kurtis hanya tersenyum kecut, matanya terlihat berair. "Entahlah, apa bisa aku bercerita kepadamu?" ucap Kurtis suaranya sedikit tersendat.
Aku hanya mengangguk, "Boleh, apa mau aku traktir sesuatu untuk membuat mu tenang?"
Tatapan matanya terlihat kosong sekarang, aku hanya bisa membantu Kurtis sedikit, Kurtis mengangguk dan kemudian tersenyum padaku.
"Baiklah, belikan aku sesuatu yang sangat mahal! Bahkan paling Mahal dan Mewah yang ada di Kantin!" ucapnya riang seakan Kurtis murung tadi sudah menghilang.
"Yah baiklah," aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Sesampainya di kantin Academy aku langsung memesan dua buah Spesial Cake dan satu Flower Tea, sepertinya aku harus berhemat kedepannya, tapi sesekali mentraktir teman bukannya hal buruk bukan.
"Adria, kau sangat menyukai teh ya!"
"Begitulah, secangkir teh mempunyai Filosofinya tersendiri. Bagiku!"
Kurtis memasukan sesendok Kue kedalam mulutnya, "Kalau begitu, apa aku bisa cerita sekarang?"
"Yah baiklah, terserah dirimu!"
Kemudian Kurtis mulai bercerita, ia bercerita tentang masalah yang ada di dalam Keluarga Kerajaan Elf, aku mendengarkan semua ucapannya, sesekali aku memberikan saranku padanya.
"Jadi begitulah, aku gak tahu harus bagaimana!" ucap Kurtis.
Aku melihat sekeliling, "Kurt, kau harus berjuang bagaimana pun caranya, menjadi Seorang Pangeran memang harus terlibat dalam urusan politik!
Kurtis menatapku kebingungan, "Eh apa maksudmu?"
"Entahlah, yang pasti aku ingin kau tetap berusaha mempertahankan posisimu sebagai seorang Putra Mahkota! Aku yakin kau pasti bisa, walaupun sebagian Elf memihak pada Ernestein keparat itu!"
"Adria, kau terlalu berlebihan, "
"Maaf, aku hanya kesal! Akan aku laporkan pria keparat itu pada Ayahku kalau macam-macam," ucapku sambil menghentakkan sendok di atas meja.
Kurtis melihat diriku dengan tatapan heran, aku langsung salah Tingkah karena malu.
"Eh, maaf!"
"Kau tidak perlu minta maaf, aku pikir itu hal yang lucu!
"Bagaimana kalau kita kembali ke ruang Dewan sihir?"
Aku mengangguk. "Tentu!"
Setelah itu kami pergi meninggalkan Kantin menuju Ruang Dewan, kami berbincang-bincang sepanjang jalan, aku bersyukur bisa melihat sisi lain dari Kurtis, walaupun terkadang ia merupakan Elf yang sangat usil, tapi dia memiliki sisi yang tak pernah ia tunjukkan.
Sesampainya di sana, aku langsung duduk di meja kerjaku, aku langsung pusing melihat tumpukan kertas yang ada di atasnya, aku lihat Kak Illan tengah berbicara dengan seseorang lewat Kristal penghubung, tak lama ia mendekat ke mejaku dan duduk di samping.
"Adria ... Ayah menghubungi ku, ia ingin berbicara denganmu!" ucapnya.
Ayah?, "Yah baiklah..."
Entah kenapa tiba-tiba saja air perlahan keluar dari balik kelopak mataku, mataku benar-benar berair, tak lama air itu jatuh membasahi pipiku, aku tak bisa menahannya sedikitpun.
"Ayahanda, ini aku Adria!" ucapku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya jauh di dalam Kastil Kekaisaran.
"Iya, Kenapa Ayah tak pernah menjenguk diriku, aku sangat rindu Ayah, aku tahu Ayah sibuk, tapi setidaknya luangkan waktumu untuk Anak-anakmu!" setelah berkata seperti itu air mataku semakin bertambah deras, aku sangat rindu Ayahku, sudah lama kita tak pernah bertemu karena kesibukannya di Kekaisaran.
"Maaf, Ayah akan datang ke Cylia! lalu bagaimana dengan Kalung yang Xander berikan padamu!" ucapnya
Aku teringat sebuah Kalung yang Kak Xander berikan, Kalung berwarna biru cerah, aku memegangnya yang terletak di leherku, "Ah... Aku memakainya! Jangan Khawatir aku akan menjaganya dengan baik!"
"Mungkin Ayah akan meluangkan waktu di saat Pesta Kenaikan kelas, atau saat libur nanti Adria bisa mengunjungi Ayah!"
"Benarkah!" seruku tanpa melihat sekeliling, aku hanya melihat Kak Illan yang terlihat seakan ingin menangis.
"Ayah, apa aku boleh bertemu?" ucap Kak Illan.
"Tentu saja, kau Juga Anakku Constantine!"
"Aku di panggil Illan sekarang Ayah!" ucap Kak Illan menahan air matanya.
Entah kenapa tiba-tiba saja suasana didalam ruangan ini berubah, ketenangan yang ada beberapa menit lalu sekarang dipenuhi tangisan ku, aku mengusap air mata di pipiku, sementara Kak Illan memeluk diriku, entah apa yang lain pikirkan, aku tak tahu!.
"Ayah menunggu kalian, maafkan Ayah kalian yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, tanpa meluangkan waktu untuk kalian berdua!" ucap Ayah semakin membuat diriku larut dalam tangisan, aku berusaha sebisaku agar tangisanku tak didengar oleh Ayah.
"Tepati janjimu, aku tak ingin seperti ini, setelah kehilangan ibu aku merasa kehilangan segalanya, terutama Ayah yang terlalu larut dalam Pekerjaan Ayah!"
"Adria, Illan! Ayah pasti akan menepati Janji untuk bersama kalian! Ayah janji!"
"Baiklah, kami juga sedang sibuk, bukan Ayah saja! Kami tidak bisa terlalu lama berbicara dengan seorang Ayah yang kesibukannya jauh lebih parah dari kami berdua!" ucap Kak Illan, aku tahu ia bercanda.
"Kami akan mengunjungi Ayah, pasti!" ucapku, kemudian sambungan tertutup, setelah selesai, aku menangis tersedu-sedu di pelukan Kakakku, semua orang yang ada di dalam ruangan hanya terdiam melihat kedua saudara yang tengah menangis setelah mendengar suara Ayah mereka.
❖❖❖
Keesokan harinya, aku beserta anggota Dewan lainnya mulai menghiasi Ruang Dewan Sihir dengan segala hiasan tumbuhan, beberapa macam Kue yang di buat Kak Tracy dan Kak Prissy, menghiasi meja panjang yang sering kami gunakan untuk berdiskusi.
Semuanya mendapatkan bagiannya, Aku dan Laila merapikan meja kerja, Sementara Ketiga Senior kami (Sebastian, Illan, dan Flavian) yang menghias Ruangan, sedari tadi Kakakku dengan Kak Flavian bertengkar memperdebatkan hal yang tak penting sehingga membuat Kak Sebastian Jengkel.
Beberapa pasang lampion Khas Ras Elf menghiasi Langit-langit, dedaunan hijau, biru, serta kuning, merambat pada tiang dan dinding ruangan, Aroma bunga Lily yang berada di atas meja memenuhi setiap sudut.
Kak Illan melihat Kak Sebastian di bawah dari atas tangga, "Apakah mereka masih lama?"
"Entahlah,"
"Apa kita akan melakukan ini tanpa anggota dewan lainnya, akan lebih menyenangkan apabila kita mengajak mereka!" ucap Kak Prissy sambil menata Meja."
"Aku sudah mengajak mereka, tapi katanya mereka sibuk!" ucapku.
Mata Illan membelalak, "Kau mengajak mereka!? Adria, kita hanya memiliki sedikit cemilan, dan mengajak kedua Dewan itu, apa yang kau pikirkan!"
"Aku hanya mencoba berbuat baik, apa salahnya?"
Kak Illan menepuk keningnya, "Seorang Iblis mana ada yang berbuat kebaikan!"
"Ada!" balasku.
"Siapa?" tanyanya sambil menggantung Lentera di Langit-langit.
"Aku!" ucapku dengan jari telunjuk mengarah pada diriku.
"Terserah,"
Kak Prissy menggelengkan kepalanya, "Kalian selalu saja,"
Kemudian pintu terbuka, Kak Austin berserta anggotanya masuk kedalam.
"Apa yang kalian lakukan disini dasar bedebah sialan!" teriak Illan kesal.
"Aku di undang Adria!" jawab Austin ketus.
Illan segera turun dari tangga, menghampiri Austin yang berada di dekat pintu.
"Apa yang kau pikirkan, ini Acara kami, orang asing seperti dirimu tak sepantasnya disini!"
Kak Austin mengacuhkannya kemudian berjalan mendekati diriku, "Apa Adria baik-baik saja memiliki seorang Kakak yang gila seperti Pria itu!?" ucap Kak Austin padaku dengan nada meledek.
"Eh! Yah walaupun dia memang memiliki wajah yang tampan dan juga Murid terkuat dan berbakat di Academy ini, sampai-sampai Baginda Kaisar ingin segera dirinya menjadi Kaisar, tetap saja ia merupakan seorang Kakak yang paling terburuk, bahkan tak pernah kembali selama 10 tahun lamanya!" ucapku ikut memanasi Kakakku.
"Adria, apa yang kau katakan, ah... dasar kalian semua sama saja!"
"Lalu apa bedanya dengan dirimu yang menyukai Naomi?" ucap Kak Zephyr yang tiba-tiba masuk kedalam.
"Dan satu bajingan lagi datang ketempat ini!" kutuknya.
"Aku datang bersama dengan Naomi dan Chris!" ucapnya sambil menunjuk pada mereka berdua yang ada di belakang nya.
"Sepertinya akan ada perang yang begitu hebat hari ini!" bisik Prissy ditelinga Tracy.
"Kakak!" ucap Chris melambaikan tangannya pada Tracy.
"Ada apa? Apa kau kehabisan Kue, disini kami punya banyak dan baru matang, aku yang membuatnya, dan satu spesial untukmu!" balas Tracy, kemudian mengambil sepotong kue untuk adiknya itu.
Semuanya berubah menjadi bising, di penuhi oleh orang-orang yang berdebat dan lainnya, aku menikmati saat-saat ini, tak seperti biasanya yang tampak hening dan Sunyi, kami hanya tinggal menunggu Fabian dan Kurtis untuk datang.